FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
JALAN JALAN


__ADS_3

Kita kesana".putus Bian mutlak.


Disinilah mereka sekarang SMA DIRGANTARA, tempat yang menjadi saksi perjalanan masa remaja mereka, tidak banyak yang berubah dari tempat ini, kecuali beberapa gedung baru yang kian membuat sekolah ini terlihat mewah.


Bian dan Della berjalan mengelilingi sekolah yang begitu amat berarti bagi mereka atau mungkin kenangan yang tidak akan bisa mereka lupakan.


Della menghentikan langkahnya di tempat lapangan basket, disana banyak anak-anak sekolah yang sedang menggarap lapangan tersebut, bermain dan bersaing dengan begitu serius.


"Mereka hebat banget ya Mas". Ucap Della tanpa mengalihkan perhatian nya dari remaja yang sedang sibuk dengan bola basket tersebut.


"Hm tapi masih hebatan aku kan?". Iseng Bian menggoda Della, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Della membuat beberapa pasang mata menatap mereka dengan penasaran. Akan tetapi yang namanya Bian dia malah abai akan hal itu. Dia malah kian mengeratkan pelukannya saat melihat mata remaja yang menatap istrinya dengan pandangan kagum.


"Huh mana ada dulu juga kan kamu masih kala sama Yuda". Sahut Della tanpa sadar, raut wajahnya seketika berubah merasa menyesal saat menyinggung hal yang bersangkutan dengan topik yang begitu sensitif itu.


"Maaf". Della menatap Della dengan raut wajah bersalah, tapi jujur dia hanya reflek tadi.


"Hmm, Santi tapi tolong jangan diulangi lagi, atau kamu mungkin gak akan nyangka dengan apa yang bakal aku lakuin". Balas Bian mengelus lembut rambut Della.


Brukk....


Saat sedang asik dengan suasana sekolah, sebuah bola hampir saja mengenai kepala Della jika saja Bian tidak dengan cepat mengahalau bola tersebut.


"Maaf kak, saya tidak sengaja sekali lagi maaf ya ka". Pemuda yang menggunakan baju basket kebanggaan sekolah SMA Dirgantara datang menghampiri mereka, dia tidak tau jika lemparan nya akan meleset dan mengenai perempuan cantik yang sedari tadi menjadi fokus hampir seluruh penghuni sekolah ini.


"Kalo gak bisa main basket ya gak usah".sarkas Bian menatap pemuda itu tajam dan juga remeh.


"Gak usah gitu juga kali bang, yang namanya kecelakaan kan gak ada yang tau". Bantah remaja yang tidak terima dengan perkataan Bian, dia kan juga tidak menginginkan hal ini terjadi tapi yang namanya kecelakaan siapa yang tau coba, lagian ini adiknya juga tidak kenapa napa kenapa abangnya malah sewot banget.


"Lah kok nyolot, Lo gak tau gue siapa?". Tanya Bian tidak terima, dia merasa cukup jengkel dengan orang didepannya ini.


"Gak tau, lagian gue juga gak peduli, gak usah songong ya". Balas orang itu menatap Bian dengan remeh,yang membuat Bian kian mengeraskan rahangnya.


"Mas Bi, udah gak usah diladeni dia mungkin gak sengaja tadi". Della membuka suara setelah sedari tadi hanya diam, Della takut Bian akan membuat keributan disini.

__ADS_1


"Gak bisa Dell, anak ini harus dikasih pelajaran dia terlalu songong". Bantah Bian melepaskan tangan Della yang sedari tadi berada dalam lengannya.


"Gak mas, aku gak mau kamu kenapa napa, kita pergi aja yok". Della menarik tangan Bian yang saat ini diyakini nya sedang sangat emosi.


"Gila berani banget Lo Zo, Lo gak takut kena masalah?,jangan bilang Lo gak tau mereka siapa?". Tanya salah satu teman pria yang dipanggil Zo tersebut setelah Della dan Bian berlalu meninggalkan lapangan basket.


"Gak tuh, memang siapa sih tu orang, gayanya sok banget". Sahut Zo menatap punggung Della dan Bian dengan pandangan tajam, merasa belum puas harga dirinya merasa direndahkan saat pemuda yang luamayan tampan itu bisa mengintimidasi dirinya.


"Gila men, cewek tadi itu anak dari pemilik sekolah ini, trus yang cowok itu pemilik perusahaan yang saat ini berada diposisi ketiga di negara ini, perusahaan Wijaya jangan bilang Lo gak tau". Temannya menjelaskan dengan nada yang semangat, tidak habis pikir jika Zo tidak mengenal kedua orang itu, pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan nya dan menjadi trending topic di negara ini.


"Hah jangan gila Lo, gak mungkin lah orang mereka kayak masih muda gitu, palingan juga cowok itu kakaknya cewek tadi". Bantah zo merasa tidak mungkin.


Walau sebenarnya dia cukup gentar dengan informasi yang dikatakan oleh temannya, tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakui hal itu. Jika seandainya info itu benar maka artinya nama keluarganya belum ada apa apanya dengan pemuda itu, atau bahkan mungkin tidak ada artinya.


"Gila batu banget Lo, kalo gak percaya coba cari nama Bian Wijaya, pasti foto cowok tadi yang muncul, gue ini fans mereka berdua tau, kagum banget gue sama dua orang tadi". Rio teman dari Zo senyum senyum sendiri menceritakan tentang idolanya, tadi ia juga lumayan kaget dengan kedatangan dua orang itu, hendak minta foto dan tanda tangan tapi Zo sudah lebih dulu membuat masalah.


Zo yang merasa penasaran pergi ke pinggir lapangan mencari ponselnya, dan mengetik nama Bian Wijaya, seketika foto pemuda yang tadi dia ajak berdebat langsung keluar, bahkan lengkap dengan beberapa informasi mengenai prestasi dari pemuda itu, dan juga mengenai siapa cewek yang sedari tadi bersama dengan nya.


Zo seketika merasa bodoh, harus nya tadi dia tidak segegabah itu, sekarang nasi sudah menjadi bubur, yang terpenting nanti saat ia bertemu dengan kedua orang itu, zo harus meminta maaf.


"Temanin gue cari mereka, sekarang". Ajak atau mungkin lebih tepatnya paksa Zo. Daripada mendapat masalah, zo yakin Bian bukan orang baik yang akan melepaskan seseorang yang membuat pria itu kesal begitu saja.


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya kantin, Bian yang masih kesal menatap Della dengan jengkel, tidak terlalu suka dengan tindakan Della yang membawanya pergi begitu saja, Bian harus nya tadi bisa memberikan pelajaran pada pemuda songong tadi, Bian berjanji akan membuat pria itu beserta keluarga nya hancur lebur.


"Kamu ngapain sih tadi narik aku, harus nya kamu biarin aja aku hancurin muka songong milik pemuda itu". Ungkap Bian mengungkapkan kekesalannya pada wanita yang ada didepannya.


"Aku cuman gak mau emosi mengendalikan kamu, yang pada akhirnya kamu nyesel nantinya". Della mencoba berkata se lembut mungkin, mencoba tidak melukai ego pria yang ada didepannya.


"Ishh, aku lagi emosi banget tau sekarang, kamu wajib ngilangin emosi aku". Bian menatap Della dengan tatapan yang dalam, membuat wanita yang ditatap sedemikian rupa itu mengerutkan dahinya bingung.


"Hah , kok aku?, terus caranya gimana?".tanya Della bingung. Lagipula yang m membuat masalah kan Bian dan anak kecil tadi, kenapa yang bertanggung jawab malah dia. Aneh aneh aja orang ini.


"Iya, kan yang narik aku kamu". Bian mendekat pada Della, yang tadinya dia duduk di kursi depan Della, kini berpindah menjadi di samping wanita itu.

__ADS_1


"Ish, gimana sih kok jadi aku". Della mendengus kecil. Tapi tak urung ia juga menatap Bian yang juga sedang menatap dirinya lembut.


"Hmm, mudah kok kamu cuman tinggal cium aku". Bian tersenyum tipis kearah Della, tidak mengalihkan pandangannya sedetikpun sampai membuat Della bersemu merah.


"Gak mau ah, malu ini kan ruang terbuka". Elak Della dengan menatap kondisi kantin yang sejujurnya saat ini terlihat sepi. Tapi tetap saja rasanya masih terasa aneh, gila saja, walaupun Della lumayan lama tinggal di luar negri tapi dia masih terlalu menghargai budaya dari negara ini.


Cup


"Lama, sekarang aku udah gak marah". Bian bisa melihat wajah Della yang bersemu merah, jujur itu sangat cantik sekali, Bian jadi merasa ingin pulang dan menghabisi Della sampai pagi.


"Malu". Cicit Della dengan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Bian, ia tidak tau harus bagaimana Bian memang selalu bisa membuat jantung nya berdetak dengan kencang di dalam sana.


"Gemes benget sih". Ujar Bian mencium lembut rambut Della.


"OMG, romantis banget". Pekik kumpulan bebarapa gadis yang sedari tadi melihat keromantisan kedua dua makhluk manusia itu. Mereka menatap dua makhluk itu dengan pandangan kagum.


"Mereka kenapa?". Tanya Della menatap heran kumpulan orang-orang yang menatap mereka dengan pandangan yang cukup mengherankan.


"Gak tau, mungkin heran melihat keromantisan kita kali".pede Bian dengan menyugarkan rambutnya ke belakang, membuat kumpulan perempuan itu kian histeris.


"Sok ganteng banget si". Kesal Della dengan menyenggol tubuh Bian sengaja, ia mendelik tidak suka pada Bian dengan cara memandang Bian sinis.


"Aku tetap setia kok yang, jangan takut". Tengil Bian menatap Della dengan tatapan yang menggoda.


Della memeluk Bian dengan manja, sesekali dia juga mencium pipi Bian membuat para kerumuman perempuan itu menjadi kian berdecak kesal, Della yang melihat itu melebarkan senyumnya dengan sengaja dia menjulurkan lidahnya pada kumpulan cewek itu.


"Rasain tuh, ini tuh punya gue, gak boleh ada yang ngambil". Dumel Della mencium bibir Bian sekilas, bergelayut manja pada lengan pemuda itu, dan memeluknya dengan begitu posesif.


Bian yang melihat itu hanya bisa tersenyum geli, bahkan tanpa seperti itu pun Bian akan tetap menjadi milik dari Della, kumpulan cewek itu tidak ada apa apanya dengan Della yang begitu sempurna untuk Bian.


"Pokoknya kalo ada yang goda kamu, kamu harus nunjukin foto aku yang jadi wallpaper ponsel kamu". Della mengambil ponsel Bian, menjadikan fotonya yang sebelumnya sendiri kini berubah menjadi berdua dengan Bian yang mencium pipinya gemas menjadi wallpaper ponsel itu.


"Sayang banget ya sama aku?". Tanya Bian geli, dia membiarkan ponselnya di otak atik oleh Della, sebab pada dasarnya apa yang menjadi miliknya adalah milik Della, dan segala sesuatu yang menjadi miliknya tidak akan ia bagi pada orang yang mana pun kecuali orang itu berharga, seperti Della.

__ADS_1


"Are you happy?".


__ADS_2