
"bukk...bukk......."
Yuda Argantara, berada dalam pilihan sulit saat ini, memilih melepaskan namun ia merasakan kesakitan, atau melepaskan namun menyakiti pula.
Ia punya pilihan mempertahankan Della dalam kehidupannya namun dengan resiko melihat kesakitan yang tiada tanding nantinya, atau melepaskan namun ia harus siap melihat kekasih atau bisa dikatakan mantannya itu bersama dengan yang lain. Tidak ia tidak bodoh, ia bahkan tau jika saat ini Della dan juga Bian sedang terlibat dalam perjodohan namun belum jua mendapatkan kesepakatan dua pihak.
"Sorry, Del, gue sayang sama Lo, tapi sama gue justru akan lebih nyakitin buat Lo". Monolog Yuda .
Selepas kepergian Della tadi , ia pun memilih pergi mencari tempat untuk mencari kenyamanan guna melampiaskan segala emosi yang tertahan. Melihat Della tadi menangis rasanya ia ingin mendekat dan memeluk mantan pacarnya itu.
Jika kalian bertanya apakah ia masih mencintai Della?, maka jawabnya ia, bahkan sampo nafas penghabisan kelak, terlepas dari apa yang terjadi hari ini ia hanya ingin yang terbaik untuk Della. Tak pernah bisa Yuda banyangkan jika seandainya kelak penyakitnya kian menggerogoti tubuhnya, dan pada akhirnya ia akan pergi meninggalkan Della serta teman teman yang lain.
"Gak harus gini Yud". itu suara Verel yang datang entah darimana. Tak tega rasanya melihat teman yang selama ini terlihat kuat dan juga tetap berdiri kokoh walau dilanda masalah. Kini harus rapuh , ditambah dengan beredarnya rumor hari ini.
"Terus gimana, gue harus libatin dia dalam masalah gak berujung ini, atau mungkin buat dia hancur nantinya, JAWAB ANJING, GUE HARUS GIMANA". Verel terdiam tak berkutik. Ia bingung harus bersikap bagaimana. Disatu sisi ia tak ingin Yuda hancur, namun disisi lain ia juga tak ingin Della hancur dikemudian hari.
"Gak gitu Yud, tapi apa Lo gak mikir jika nanti pada akhirnya Della tau di akhir, dan ia akan sehancur apa?". Tanya Verel, ia hanya ingin yang terbaik untuk kedua orang yang penting dalam kehidupannya ini.
"Lo gak ngerti, jadi gak usah ceramahin gue, dan gue juga cuman mau bilang kalo gue keluar dari geng Tiger". Entah Yuda sadar apa yang baru saja ia katakan, namun yang pasti sejak saat ini kehidupannya sudah pasti akan berubah.
__ADS_1
Melepaskan kekasih, dan kini juga melepaskan orang orang yang sudah bersama dengan dirinya selama kurang lebih dari tiga tahun ini. Namun untuk saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan, terlepas dari apapun yang kelak akan terjadi intinya ia sudah berniat baik bukan.
"Lo egois tau gak, Lo cuman mikirin diri Lo sendiri, tanpa tau apa yang orang lain saat ini rasakan." Pecah sudah emosi yang sedari tadi ditahan oleh Verel. Mendengar perkataan Yuda yang kian mengaco, ia tau apa yang saat ini sahabatnya hadapi memang tidak mudah, namun terlepas dari semua itu apa tidak ada cara lain.
"Iya gue tau, trus Lo mau apa?".tantang Yuda kian mendekat pada Verel. Jarak mereka bahkan kini hanya beberapa langkah. Yuda bisa melihat jika saat ini Verel sedang menatap waspada pada dirinya.
"Lo mau apa?".
"Gak ada, cuman mau bilang jangan terlalu ikut campur urusan orang". Ucap Yuda rendah. Ia kemudian berjalan dengan menabrakkan bahunya pada Verel dengan keras. Dapat ia lihat jika Verel sedang menggeram marah padanya.
"Lo egois tau gak, semoga Lo bahagia ya". teriak Verel saat berbalik saat dirasa Yuda belum berjalan terlalu jauh.
Sementara itu, Bian dan Della sedang berada ditempat teduh, dan lumayan memanjakan mata, setelah tadi acara curhat curhatan mereka berakhir, Bian mengajak Della ketempat yang katanya merupakan tempat rahasia dari seorang Bian Wijaya. Bukit. Ya saat ini mereka sedang berada di bukit, dengan hamparan hutan yang lumayan luas, ditambah hari kini sudah mulai sore, senja kini sudah terbit, memperlihatkan keindahannya walau sebentar.
Nyatanya bahagia itu sederhana ya, hanya dengan melihat senja yang terbit menunjukkan keindahan menenangkan hati dan juga memanjakan mata yang melihatnya. Benar memang sebelum kita mencintai orang lain ada baiknya kita mencintai diri terlebih dahulu, Della jadi teringat salah satu quotes yang dari seorang leader grup terkenal dari negara ginseng yang sedang populer saat ini yaitu Kim Namjoon dari BTS, jika tak salah begini kata katanya.
"Hidup memang seharusnya sangat ironis dan tidak stabil, dan pada usia remaja dan dua puluhan, kita seperti terus menerus meragukan diri kita sendiri. Terkadang kita ingin hidup, terkadang kita ingin mati. Hal ini berubah dari hari ke hari, atau bahkan jam demi jam. Jadi musik dan artis untuk penyembuhan adalah semacam slogan besar termasuk semua slogan yang kami miliki. Kami ingin berbicara tentang apa yang ada di dalamnya dan kami ingin membantu teman-teman kami di dunia.”
Memang benar bukan jika kini bahkan dalam hitungan menit saja sesuatu bisa terjadi, lantas apa yang harus ditakutkan.
__ADS_1
"Gimana, udah lebih tenang kan?". Tanya Bian menatap wajah Della yang sedang tertutup, sepertinya gadis ini sedang menikmati angin yang berhembus.
"Lumayan makasih Bi, dan soal hal yang semalam gue minta maaf". ucap Della mengingat kejadain yang baru baru saja terjadi diantara mereka.
"Santai Dell, ingat kayak sama siapa aja".
Sahut Bian enteng. Ia menarik tubuh Della untuk masuk kedalam pelukannya, membuat Della merasakan kenyamanan yang selalu ia dapatkan dari Bian selama ini pelukan dari sosok seorang Abang hal yang tidak ia dapatkan dari Aksa.
"Gue beruntung bisa kenal kalian semua, dan semoga aja kalian tidak terpengaruh sama gosip yang sedang beredar".
Menatap Bian dengan pandangan kagum, Della merasa jika kelak orang yang berhasil menjadi kekasih dari seorang Bian sangatlah beruntung, udah good looking, good rekening, dan juga good attitude, apal lagi coba yang kurang. Tapi seperti biasanya jika tidak ada yang sempurna, begitupun dengan seorang Bian, Della hanya tidak tau jika Bian menyimpan banyak rahasia, dan tentu saja jiwa lain dalam dirinya.
"Siapapun yang nanti dapatin kamu, pasti dia jadi cewek paling beruntung". ungkap Della jujur.
"Termasuk kamu?", Tanya Bian menatap Della dengan pandangan sulit diartikan.
"Ya termasuk aku, Bi, In the next life I want to be your owner". Della tidak menyadari jika kata katanya baru saja membuat Bian berharap.
"Bahkan dikehidupan saat ini pun kamu tetap jadi pemilik ku Dell", batin Bian menatap Della dalam. Ia hanya memastikan jika ia memang perlu berjuang, dan jawaban yang baru saja keluar dari mulut Della dapat ia artikan, jika memang ia memang harus jadi pemilik dari gadis ini, baik itu dulu, Sekarang, ataupun nanti.
__ADS_1