
Bian Wijaya, anak tunggal dari seorang pengusaha terkaya ke tiga di negri ini, dengan segala sikap ramah dan juga konyolnya , semua orang mungkin tidak akan pernah percaya jika pemuda itu menyimpan banyak rahasia didalam hidupnya.
Hidup tanpa kasih sayang dan perhatian orang tua, membuat seorang Bian mencari pelampiasan diluar rumah, entah mulai usia berapa Bian terbiasa dengan darah, seakan darah adalah hal yang menjadi paporitnya, didalam dirinya tumbuh jiwa kejam yang dia bahkan tidak sadar mulai kapan.
Pada usia 10 tahun pertama kalinya Bian membunuh walaupun itu hanya hewan, saat melihat hewan tersebut tidak lagi bernyawa entah mengapa ada kesenangan tersendiri yang dia dapatkan, lama kelamaan saat dirasa membunuh hewan tidak lagi menyenangkan Bian beralih kepada manusia, tapi untungnya dia tidak akan membunuh sembarangan orang, usia 15 tahun adalah hari pertama dirinya melenyapkan makhluk bernama manusia, saat itu seorang perempuan datang menggangu nya, jika hanya satu hari mungkin Bian masih tahan tapi ini sudah berlangsung selama kurang lebih satu tahun, merasa terganggu Bian pun mengajak perempuan tersebut untuk bertemu disebuah tempat.
"Hai Ian, akhirnya ya, kamu balas cinta aku juga". Bian menatap cewek itu dengan pandangan lembut, mendekat dan memeluk cewek itu dengan lembut.
"Hmm, kamu cantik". Bian mengelus rambut itu kian lembut, membuat cewek tersebut tersenyum manis, akhirnya perjuangan yang ia lakukan selama kurang lebih satu tahun membuahkan hasil juga, pasti besok akan banyak yang iri padanya, bayangkan saja dia yang selama ini dikatakan halu dan juga mimpi kini bisa membuktikan jika dia bisa, sekarang Bian ada bersama nya dan yang penting memeluk nya.
"Kamu juga ganteng, oh ya sekarang kita pacaran kan?, Kalo kamu mau aku janji kan kasih semua yang aku punya buat kamu, tanpa terkecuali". Ucap sang gadis dengan tubuh yang masih memeluk Bian , matanya menatap Bian yang juga sedang menatapnya dengan pandangan datar khas nya, tapi siapa peduli yang penting dia bisa bersama pemuda ini.
"Tanpa terkecuali?". Tanya Bian memastikan, dia mendekatkan wajahnya kearah perempuan tersebut, sang gadis yang diperlakukan demikian wajahnya sudah Semerah tomat, dan jantung yang berdetak tidak beraturan.
"Iya, semuanya", imbuh sang gadis yakin, dan detik selanjutnya wajah yang tadinya berseri kini berubah menjadi pias, pelukannya mengendur, matanya menatap Bian tidak percaya.
"Ka mu" ucap perempuan tersebut dengan terbata, sedangkan Bian hanya menatap hal tersebut dengan pandangan datar, Bian kemudian berjongkok dan menyeringai melihat keadaan sang perempuan yang tidak lagi berdaya.
"Katanya mau ngasih semuanya, so ini yang gue mau". Bian menatap sang gadis sekali lagi sebelum akhirnya pergi dan tidak merasa bersalah.
Perempuan tersebut gugur dalam memperjuangkan cintanya, bukan salahnya jatuh cinta, dia bahkan tidak bisa mengatur hatinya jatuh pada siapa, tapi sayang dirinya mungkin terlalu percaya diri, atau mungkin Bian yang tidak tersentuh, pada akhirnya sang gadis pergi untuk selamanya, meninggalkan dunia, dan meninggalkan cintanya, dikehidupan selanjutnya dia hanya ingin jatuh cinta pada orang yang juga mencintai nya, dia tidak lagi ingin jatuh sendiri.
Keesokan harinya sekolah gempar dengan ditemukannya mayat salah satu penghuni sekolah mereka, tidak ada yang percaya orang yang baru saja tertawa dan bercanda bersama mereka telah pergi dengan cara yang begitu mengenaskan, ada yang terluka, dan ada pula yang tersenyum sebab salah satu orang yang menjadi saingan mereka telah pergi.
Orang tua dari gadis itu mengamuk disekolah, tidak terima putri satu satunya pergi dengan cara yang begitu menyedihkan, sedangkan pihak sekolah yang tidak tau apa apa hanya bisa memberikan kata kata penenang untuk orang tua gadis itu.
Bian?.
__ADS_1
Tentu saja dia juga menyaksikan semua itu, tapi dengan sikap ramah dan juga baik yang selama ini melekat lada dirinya, tidak ada yang tau atau bahkan curiga jika dibalik semua itu adalah ulah dirinya. Dia bersikap santai seakan akan memang tidak ada yang tau, dan ya tidak ada satu orang pun yang mencurigai dirinya, satu pengganggu dalam k hidupnya musnah sudah.
Wakti terus berjalan dan selama satu tahun masa sekolahnya menengah pertama nya, Bian begitu menikmatinya, merasakan kepuasan saat dia membunuh perempuan untuk pertama kalinya satu tahun lalu, membuatnya menjadi candu, Bian malah ingin lebih, dan kegiatan itu berlanjut hingga saat ini, jika kalian bertanya mengapa tidak ada yang curiga , maka jawabannya adalah Kakek dari Bian merupakan mafia paling kejam yang berada di benua Eropa, dengan bantuan sang kakek Bian selalu bisa lolos dari hukum.
Tidak ada yang tau jika dia menyimpan monster dalam dirinya , baik itu orang tuanya, Della, dan bahkan para sahabat nya, menurut kalian kenapa selama ini jalan yang dilalui oleh sahabat sahabat nya begitu mulus, terutama dibidang sindikat senjata yang mereka tekuni?, Tentu saja karena adanya campur tangan dari seorang Bian, meminta sang kakek untuk melindungi mereka, dan tentu saja langsung di sanggupi oleh kakeknya.
Bian tidak pernah punya rencana untuk mengungkapkan dirinya yang sebenarnya, sampai kelak matanya tak lagi terbuka, dan nafasnya sudah berhenti.
Ruang bawah tanah
Bian sedang duduk di kursi yang berada diruangan yang menjadi tempat untuk dirinya melakukan kesenangannya, kali ini Bian memilih sebagai penonton, biarkan anak buahnya yang bersaksi.
Didepannya seorang wanita sedang menjerit kesakitan, dengan tidak berperasaan anak buahnya menyayat nyayat wajah yang menjadi aset berharga bagi wanita , setelah memberikan luka sang pelaku memeras jeruk lemon yang membuat luka tersebut menjadi begitu ngilu, tak sampai disitu kini pelaku malah memotong tangan perempuan tersebut, kemudian beralih pada anggota tubuh yang lain, badan yang tadinya utuh kini sudah tak lagi berbentuk, wajah yang menjadi kebanggaan nya kini sudah hancur lebur, dan tubuh indah itu kini sudah tak lagi bisa dikenali.
"Cukup, sekarang bakar mayatnya". Perintah Bian tak ingin dibantah.
Anak buahnya langsung melaksanakan perintah dari bos mereka, disini Bian dikenal dengan sebutan MR.B pria berhati dingin, kejam dan iblis. Bos mereka ini selalu memasang wajah datar, dan sangat anti akan perempuan, tidak ada yang berani mendekati pemuda ini, jika lun ada pasti tak lama setelahnya akan berakhir seperti wanita yang baru saja mereka eksekusi. Kesalahan wanita ini adalah berani berkata mencintai dan menginginkan boss mereka, tak cukup sampai disitu wanita ini juga ternyata merupakan seorang pecandu, wanita ini cantik mereka akui itu, tapi satu hal boss mereka tidak menyukai wanita. Itu setau mereka.
Suara ponsel mengalihkan perhatian Bian dari yang tadinya menatap datar kobaran api yang menghanguskan mainannya, kini beralih pada benda pipi disaku jasnya.
My girl❤️
Kamu dimana, aku gak boleh masuk sama sekretaris kamu, sini cepatan, atau aku ngambek.:(
Dengan cepat Bian berjalan menuju ruangannya, gadisnya ada disini dan tidak diperbolehkan masuk, entah masalah apa yang sedang sekertaris nya itu perbuat.
"Mbak gak usah ngaku ngaku ya, modelan kayak mba udah banyak datang ke sini". Sekretaris pribadi Bian menatap Della dengan tatapan rendah, dia sudah tau akal busuk dari para perempuan yang datang dan mengaku ngaku sebagai kekasih dari bossnya.
__ADS_1
"Jangan bercanda ya, gue benaran pacarnya Bian". Della balas menatap perempuan ini dengan remeh, lihat saja nanti akan dia beri perhitungan perempuan sok didepannya ini.
"Hala, banyak bacot Lo, sana pergi". Perempuan itu mendorong Della, karena tidak siap dan juga terkejut Della terjatuh dengan makanan yang dia buat juga sudah berserakan dilantai.
Della menatap itu dengan pandangan sayu, usahanya sia sia sudah, padahal untuk membuat makanan tersebut tangannya sampai teriris dan sekarang semuanya hancur berantakan.
"Rasain, makanya gak usah banyak gaya". Imbuh perempuan yang merupakan sekretaris Bian dengan nada remeh, saat Della ingin berdiri perempuan tersebut dengan sengaja menginjak tangan Della menggunakan sepatu hak tinggi miliknya.
"Akhhh sakit". Ringis Della dengan air mata yang mengalir, semenjak dirinya bersama Bian, dan juga hubungannya kembali baik bersama keluarganya Della memilik sikap cengeng dan juga polos. Entahlah terkadang Della juga merindukan sikapnya yang dulu.
Bruk...
Dengan sekali tendangan perempuan itu terjatuh dengan keras menuju lantai, pelakunya adalah Bian, rahangnya mengeras melihat kekasihnya diperlakukan tidak baik oleh bawahannya.
"Pak Bian, saya hanya ingin membuat perempuan ini jera pak, dia mengaku ngaku menjadi kekasih bapak". Adel sang sekretaris berdiri dan mencoba menjelaskan, Adel yakin sebentar lagi perempuan itu pasti akan di seret keluar oleh bossnya, meski sejujurnya Adel cukup heran kenapa bossnya ini menendang dirinya.
"Mulai hari ini kamu saya pecat, dan saya akan pastikan keluarga dan juga semua orang terdekat kamu akan menderita". Desis Bian, dia berjongkok kemudian membantu Della untuk berdiri, melihat Della yang sepertinya enggan berdiri dengan sekali tarikan Della sudah berada dalam gendongan Bian,
Della menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bain, seumur hidupnya Della tidak pernah dipermalukan sedemikian rupa, rasanya dadanya sesak, dia juga malu, dan tentunya sakit hati, ditambah tangan nya juga terasa perih akibat sepatu durjana perempuan itu.
"Raka, kamu urus perempuan ini, pastikan dia dan keluarganya hancur menjadi rata". Orang yang dipanggil Raka tersebut mengangguk kaku, meski cukup bingung dengan hubungan bossnya dan juga wanita tersebut.
"Pak tolong maafkan saya pak". Mohon Adel yang tidak diindahkan oleh Bian, Adel tidak pernah sadar jika ternyata perbuatannya kali ini akan berakibat sedemikian rupa, padahal biasanya juga bossnya tidak pernah protes.
"Ikut saya". Raka menyeret Adel untuk keluar dari perusahaan ini, banyak pasang mata yang menatap penasaran pemandangan tersebut, tapi banyak juga yang tersenyum sinis, pasalnya Adel memang dikenal angkuh dan juga sombong diperusahaan ini.
"Ada lagi yang sakit?". Tanya Bian lembut, dia mengelus-elus tangan yang sudah terikat perban tersebut,
__ADS_1
"Gak ada". Jawab Della pelan, dia menatap Bian dan air matanya langsung mengalir deras, didekapnya pemuda ini dan menumpahkan perasaannya disana.
"Adel bangsat, awas aja Lo". Batin Bian menyeringai.