FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
MENIKAH


__ADS_3

Hotel berbintang lima yang merupakan salah satu aset dari seorang Bian Wijaya, saat ini sudah didekorasi sedemikian rupa, dengan dekor yang tidak main main, dan tentu saja mengeluarkan banyak biaya. Tapi Bian tidak mempermasalahkan hal itu, sebab hari ini dia ingin semua nampak sempurna, uang bukan lah masalah untuk Bian, yang penting apapun keinginan calon istri nya bisa terwujud.


Para tamu undangan pun sudah banyak yang hadir, mereka mengundang banyak orang, kira kira ada sekitar 3 ribuan mulai dari kolega,hingga teman sekolah, banyak yang hadir, tentu saja siapa yang mau melewatkan kesempatan datang kepesta ini, selain untuk formalitas tentu saja di pesta ini juga menjadi ajang memperluas kolega bisnis.


Suara musik mangiringi pesta, membuat suasana kian haru, Yuda sudah berdiri didepan pendeta, menunggu sang pujaan hati datang menghampiri, rasanya sungguh gugup melebihi saat mereka tunangan dulu.


"Santai gak usah gugup". Ujar Aldi papanya Bian yang hadir mendampingi.


Rasanya Aldi tidak percaya, putranya yang dulu tidak ia inginkan dan baru berbaikan beberapa waktu, saat ini sudah akan melepas masa lajang dan mempunyai keluarga sendiri, ternyata waktu memang berjalan secepat itu, dan menyesal rasanya kenapa dia tidak menggunakan waktunya dengan baik, sekarang nasi sudah menjadi bubur tidak akan mungkin lagi bisa terulang.


"Hm". Hanya itu tanggapan Bian untuk perkataan ayahnya. Jika boleh jujur sebenarnya Bian belum benar benar memaafkan papanya ini, hanya saja dia tidak ingin memperpanjangnya lagipun papanya punya kontribusi penting dalam perjalanan cintanya.


"Papanya cuman pesan satu, jangan seperti papa, papa harap kamu bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kamu kelak". Aldi memberikan nasehat yang menurutnya harus dan wajib dilaksanakan oleh putra nya ini. Tatapannya masih lurus kedepan tidak sanggup melihat pada putranya.


"Pasti, saya tidak akan seperti anda". Balas Bian menatap sang ayah sekilas, tidak lagi peduli jika seandainya sang ayah merasa tersinggung atas perkataan nya.


Hening, mereka tak lagi bersuara, yang ada hanya suara musik dan juga tamu undangan yang berbincang bincang.


Tak lam setelahnya, Della datang dengan didampingi oleh sang ayah, Della nampak sangat cantik dengan gaun pengantin yang melekat pada tubuh indah nya, Bian rasanya ingin menangis saking tidak percaya, hari ini tiba juga hari yang paling ia tunggu-tunggu selama hidupnya.


"Tolong jaga putri saya, sekarang saya serahkan tanggungjawab Della, termasuk kebahagian nya pada kamu, jangan kecewakan saya". Dirga menyerahkan tangan sang putri yang langsung disambut oleh Bian dengan lembut.


"Pasti om, kebahagian Della adalah prioritas utama saya". Ujar Bian setelah menerima tangan Della, ditatapnya wajah yang juga sedang menatapnya itu.


Setelah itu Dirga dan Aldi turun dari altar, bergabung dengan tamu undangan yang lain.


"Cantik banget sih". Goda Bian menatap Della dengan lekat, tidak bohong Della memang sangat cantik hari ini mungkin karena aura pengantinnya.


"Kamu juga ganteng, aku sampe pangling". Sahut Della dengan wajah merona. Tapi memang Bian nampak jauh lebih tampan hari ini, dan Della tak sanggup membalas tatapan Bian terhadap nya.


"Ananda Bian Wijaya, bersedia kah engkau menerima Ananda Fredella Dirgantara menjadi istrimu, menemaninya dalam keadaan suka dan duka, sakit dan sehat, kaya dan miskin, serta mencintai nya sampai akhir hayat". Pendeta mulai membacakan janji suci.


"Yes I do".jawab Bian dengan tegas.


"Ananda Fredella Dirgantara,bersedia kah engkau menerima Bian Wijaya menjadi suamimu, menemaninya dalam keadaan suka dan duka, sakit dan sehat, kaya dan miskin, serta mencintai nya sampai akhir hayat".


"Yah, saya bersedia". Jawab Della dengan tegas.


"Dengan ini kalian resmi menjadi sepasang suami istri". Lanjut pendeta tersebut. Setelah nya dia membaca beberapa ayat dalam kitab miliknya.


"Silahkan cium pasangan anda".

__ADS_1


Mendengar itu, Bian perlahan mendekat kearah Della, menelusuri wajah istrinya, dan mendekat kan wajahnya pada Della.


"I love you". Ujar Bian sebelum dengan lembut menyatukan dua benda kenyal tersebut.


Tidak ada nafsu didalamnya hanya ada kasih sayang, dan penuh dengan kehati hatian. Della mengalungkan tangannya pada leher Bian, membiarkan orang yang baru menjadi suami nya itu menikmati ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami istri.


"WOY UDAH DONG, LANJUT NANTI AJA". Teriakan itu menghentikan kegiatan Bian, menatap datar pada pelaku yang tidak tau tempat itu, sedangkan Della hanya bisa menyembunyikan wajah merona nya di balik tangan.


"Dasar jomblo". Balas Bian pada Fandi, salah satu anggota geng Tiger dulu, ya Bian memang mengundang mereka, tapi sayang untuk Verel setelah beberapa tahun nyatanya mereka menjadi lost kontek entah apa yang terjadi pada pemuda itu.


"Sakit hati Abang de". Ucap Fandi dengan lebaynya.


Dirga dan Celine duduk berdampingan menyaksikan tawa bahagia dari putri mereka, rasanya ternyata sakit saat harus melepaskan Putri semata wayang untuk menjadi milik orang lain, walaupun mereka baru berbaikan dan dekat selama beberapa tahun ini, tetap saja mengingat Della bukan lagi milik mereka hati ini menjadi sesak, mereka tak lagi bisa sebebas dulu untuk bersama Della, tak lagi bisa melihat Della setiap malam sebelum tidur serta tak lagi bebas membawa putrinya itu untuk liburan bersama.


"Gak kerasa ya pa, anak kita udah besar, sekarang udah punya tanggung jawab sendiri". Celine tidak mengalihkan pandangannya dari Della dan Bian yang sedang asik berfoto didepan sana.


"Iya ma, kenapa dulu kita bisa bodoh banget ya, tapi asal Della bahagia papa juga akan bahagia". Sahut Dirga ikut menatap Della yang sedang asik diganggu oleh temannya.


Dari sini Dirga baru sadar ternyata Della tidak punya teman perempuan, semua teman temannya rata rata adalah lelaki, tapi melihat perlakuan mereka terhadap Della, Dirga tau bahwa Della dijaga dengan begitu baik oleh mereka.


Aksa ikut bergabung dengan teman teman Della, entah sejak kapan pemuda ini mulai dekat dengan geng somplak itu, tapi sudahlah namanya kehidupan selanjutnya siapa yang tau kan.


"Anjir udahlah, cepatan yang lain juga mau salaman". Riko langsung mendorong Fandi agar segera turun dari panggung.


"Biasa aja dong". Sahut Fandi tidak terima.


Bian hanya bisa mengelus dada kasar, menyesal dirinya mengundang orang orang ini, sudah membaut malu, mana makan nya banyak lagi.


Bayangkan saja, dihotel semewah ini para geng Tiger membawa kado berupa peralatan dapur, lengkap, dan jangan lupakan baju yang mereka kenakan, menggunakan sarung guys, iya sarung, udah gitu jalannya pede banget lagi, mereka malah asik menggoda Bian, jika bukan teman mungkin sudah Bian usir sedari tadi.


Banyak ucapan selamat yang Della dan juga Bian terima, tak terasa waktu seakan sudah berjalan dengan begitu cepat.


"Selamat ya sayang, papa sama mama harap kalian hidup bahagia, ingat nanti jika ada masalah selesaikan dengan baik, jangan turuti ego kalian". Pesan Aldi pada anak dan juga mantunya ini.


'iya makasih pa, pasti mohon bimbingannya ya pa". Sambut Della membalas pelukan sang ayah mertua.


"Sama cepat kasih mama cucu". Sambung Widi memeluk Bian sekilas yang bahkan tidak dibalas oleh cowok itu, tapi Widi hanya bisa tersenyum masam.


"Iya mama juga ya, semoga cepat kasih aku adik". Kekeh Della, yang tanpa dia ketahui Bian sudah menatap dirinya dengan tajam.


"Kenapa ?". Tanya Della saat melihat Bian menatap dirinya dengan tajam, Della tidak tau dimana salahnya, gak ada yang salah dengan ucapannya kan.

__ADS_1


"Aku gak suka kamu ngomong gitu jangan diulangi lagi". Peringat Bian pelan, jujur dia tidak suka dengan perkataan Della. Bukan tentang adik, tapi Bian hanya tidak suka Della membahas tentang anak.


"Yang mana?". Tanya Della bingung, dia tidak tau apa salahnya, lantas kenapa Bian berkata demikian.


"Yang ta-".ucapan Bian terhenti karena kedatangan Dirga dan keluarga.


"Papa, Della tadi mau nangis tau"adu Della pada Dirga, ia tersenyum dengan manis, dan memeluk sang ayah dengan erat.


"Loh kenapa?". Tanya Dirga heran, tapi dia tetap membalas pelukan sang putri.


"Gak tau terharu aja tadi, mana Bian ganteng banget". Ucap Yuda, dengan begitu lucunya.


"Hahaj, kocak Lo". Sahut Aksa saat tadi hanya diam menyimak, sungguh rasanya adek nya ini rada gila atau bodoh.


"Ishh diam kenapa" sahut Della yang menatap Aksa dengan kesal.


"Udah udah, sekarang anak mama udah punya suami, tanggung jawab nya juga udah gede, harus lebih baik lagi ya, sekarang kan udah ada Bian, baik baik ya, jangan lupa nurut sama suami". Nasehat Celine mengelus rambut Della.


"Iya mama, pasti". Jawab Della dengan pelan.


"Bian mama titip putri mama ya, tolong jaga dia, dan jangan buat dia sedih ya". Pinta Celine menatap Bian yang berada didekatnya.


"Pasti ma, mama bisa percaya sama Bian". Balas Bian memeluk sang ibu mertua membalas perkataan Celine.


"Bi papa titip putri cengeng papa ya". Ucap Dirga menatap Bian.


''siap pa". Sambut Bian memeluk Durga.


"Jagain si cengeng bro, meskipun dia rada stres tapi gue sayang banget sama dia, tolong bahagiain dia". Ungkap Aksa saat sang ibu dan ayahnya turun lebih dulu, dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk adiknya terlepas dari semua yang terjadi dia dan Della tetap lah terkahir dari darah yang sama.


"Aman bang, Lo bisa andalin gue". Ucap Bian. dengan menepuk pundak Aksa.


"Jangan nakal Lo bocil, dengar kata suami sama jangan cengeng lagi". Ungkap Aksa memeluk Della erat.


"Iya Abang, aman itu mah". Balas Della dengan senyum manis.


Setelah acara yang begitu melelahkan dengan banyaknya tamu undangan, membuat Della menghela nafas, lelah juga rasanya, rasanya dia ingin istirahat saat ini, tidur nyenyak sampai esok hari.


"Are you happy?"., tanya Della menatap Bian yang masih berdiri dengan gagah disamping nya.


"Of course, ini impian aku". Balas Bian mengecup kening Della sejenak.

__ADS_1


__ADS_2