
Della dan Bian saling m membisu selama dalam perjalanan, setelah insiden yang tidak terlalu menyenangkan tadi mereka menjadi terasa canggung.
"Dell, gue mau ngomong sesuatu sama Lo".
Bian menghentikan mobilnya ditepi jalan, mungkin sudah saatnya ia memberi tahukan apa yang seharusnya Della ketahui. Biarlah kali ini Bian mengalah mungkin ini juga tidak terlalu buruk.
"Apa Bi?".
Della memfokuskan pandangannya pada Bian, cukup penasaran sebenarnya.
"Sebelumnya gue mau minta maaf karena ikut nyembunyiin ini dari Lo,-"
Della menaikkan alisnya bingung, ia menunggu Bian untuk melanjutkan perkataannya.
"Yuda ada do rumah sakit, dan dia terkena penyakit jantung koroner ".
Bian bisa melihat raut wajah tidak percaya dari Della,cewek ini seperti syok, dan mungkin seperti tidak percaya.
"Gila Lo, hal kayak gini gak pantas buat jadi bahan bercandaan Bi, dan gue gak suka itu".
Della masih mencoba berpikiran positif, meskipun hatinya sudah tak lagi tenang.
"Gue serius, dan sekarang mending kita kesana".
Tanpa menunggu jawaban dari Della Bian melajukan kendaraannya menuju rumah sakit tempat Yuda dirawat.
Sedangkan dirumah sakit keadaan sedang genting, entah kenapa saat akan menjalankan operasi, Yuda kian drop, para dokter dan tenaga medis terpaksa harus menunda jalannya operasi.
Jantung pasien pun kian melemah, dan ya tepat pada pukul 21.30 seorang pemuda yang sudah berjuang melawan rasa sakit, sedih dan juga sakitnya menjadi makhluk hidup kini sudah menyerah, ia pergi dan takkan kembali, tugasnya didunia sudah selesai.
"Waktu kematian 21.30"
Ucap sang dokter dengan nada lesu, bertambah satu lagi orang yang mereka saksikan kepergiannya.
Arga yang berada diluar ruangan, jantungnya seperti di cubit, hatinya sakit tanpa bisa ia kendalikan.
__ADS_1
Dokter yang menangani Yuda keluar dari ruangan dengan wajah lesu, Arga yang melihat itu seketika merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Gimana keadaan anak saya?"
Tanya Arga tidak sabaran, tapi melihat wajah dan raut wajah perawat yang berada disana, membaut bahunya seketika melemas
"Maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain, pasien sudah kembali kepangkuan yang maha kuasa".
Ujar sang dokter dengan menepuk bahu Arga.
Seperti tertimpa tangga, Arga jatuh dan tak bisa menahan air mata nya, kenapa tuhan begitu cepat mengambil anaknya, ia bahkan belum sempat memberikan yang terbaik untuk putranya itu, yang lebih sederhana ia belum sempat mengatakan jika ia menyanyangi Yuda.
"Hahhah, gak mungkin jangan bohong kamu, saya bisa aja nuntut anda".
Arga menghempaskan tangan sang dokter dari bahunya, ia berlari masuk kedalam ruangan tempat Yuda berada.
"Bangun, papa janji bakal jadi papa yang terbaik buat kamu, ayo BANGUN, jangan tinggalin papa sendiri".
Arga terus menguncangkan badan tak bernyawa milik Yuda, ini seperti mimpi di siang bolong, Arga bahkan tak pernah kepikiran hal ini akan terjadi, tapi Tuhan mungkin ingin memberi tahunya jika di dunia ini apapun bisa terjadi. Arga menyesal kenapa dulu ia begitu bodoh mengabaikan putranya dan menyanyangi putra orang lain. Ia menyesal kenapa tidak dari dulu ia mencoba dekat dengan anak ini.
Flashback
Yuda kecil datang dengan sebuah piala di tangannya, menghampiri Arga yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya yang begitu menumpuk.
"Pa, liat Yuda juara dua".
Ujar Yuda kecil dengan senyuman khas anak kecil.
"Juara dua?, Apa yang harus dibanggakan dari juara dua, kamu harsunya bisa lebih dari ini, liat adik kamu, contoh dia".
Bukannya mendapat pelukan selamat, Arga malah dengan tega membandingkan Yuda dengan adiknya, dan ia pun pergi begitu saja meninggalkan Yuda dengan raut wajah kecewa.
Ada satu masa lagi, dimana Yuda kecil datang mengadu padanya.
"Pa, tadi Yuda jatuh dari sepeda, terus kakinya luka deh, tapi gak apa apa gak sakit ko".Yuda kecil datang dengan luka yang lumayan di lututnya.
__ADS_1
"Kamu gimana sih gitu aja gak bisa, kamu gak pantas banget jadi keluarga Argantara". Jawab Arga dengan tidak berperasaan.
"Pah, kenapa sih papa sama Mama gak pernah sayang sama aku, kenapa selalu adek yang diperhatikan aku juga mau, pah kenapa?, Apa papa lelah dengar cerita aku yang bahkan satupun gak pernah papa respon, aku juga capek pa, aku juga gak mau dilahirkan kalo cuman gini, mulai sekarang aku gak akan lagi nyusahin papa sama mama, makasih ya buat semuanya."
Yuda yang saat itu baru berusia 14 tahun bisa berkata demikian, tanpa Arga dan istrinya sadari, mulai saat itu mereka telah kehilangan seorang Yuda Argantara, semenjak hari itu Yuda tak lagi pernah bercerita dan mengeluh pada mereka, yang mereka tau hanya tentang keberhasilan keberhasilan yang Yuda raih, tanpa pernah lagi mendengar usaha dibalik semua itu.
Dan bodohnya saat itu Arga hanya menganggap hal itu sebagai omong kosong dari anak remaja yang masih labil, hingga semuanya berubah, ia memang menyuruh orang untuk mengawasi Yuda, tapi Arga tidak tau jika orang itu pun bekerja untuk Yuda.
Flashback off
Arga kian merasa nyeri mengingat semua perlakuan yang ia berikan, sedih , marah dan juga kecewa. Ia kini hanya bisa menyesali apa yang terjadi dan mungkin akan ia ingat hingga ia mati. Ia telah begitu gagal sebagi seorang ayah, dan itu cukup sebagai penyesalan terbesar dalam hidupnya.
"Maaf, maafkan saya, maaf tidak bisa jadi orang tua yang baik untuk kamu, semoga disana kamu mendapatkan apa yang tidak kamu dapatkan di dunia ini"
Arga mencium kening putranya untuk pertama kalinya setelah usia putranya lebih dari 6 tahun, rasanya sesak sekali, dan Arga menangis dengan memeluk erat tubuh Yuda.
Brak...
Arga menoleh pada pintu yang dibuka dengan begitu kencang, disana ia bisa melihat Della dan juga Bian yang berdiri dengan kaki.
"Gak mungkin, ini pasti mimpi, ini mimpi kan Bi, Yuda baik baik aja kan?".
Della meracau dengan air mata yang menetes tanpa bisa ia komando.
"Jangan bercanda Yud, ini gak lucu".
Della maju dan menepuk nepuk pipi yang tak lagi bernyawa itu, pandangan amtanya kosong, dan seperti kehilangan sesuatu dalam jiwanya.
"Bagnun Yud, kamu gak boleh ninggalin aku, nanti aku sama siapa, ayo dong bangun, katanya kita mau ke Korea sama sama, katanya juga mau lanjut sekolah bareng, ayo bangun".
"Hei, liat aku ayo bangun, aku gak punya siapa siapa selain kamu, ayo dong, nanti siapa yang nemanin kau, nanti kalo kau kabur dari rumah, aku sama siapa?, Ayo dong kamu bangun ya, katanya kamu sayang sama aku, ayo buktiin".
Della kian meracau, ia bahkan kini sudah memeluk tubuh Yuda erat, tak ingin berpisah, dan Della sangat yakin ini hanya mimpi.
"Bangun ayo dong, aku gimana nanti, kamu tega ninggalin aku"
__ADS_1