
Tak terasa sudah satu bulan waktu berlalu, sudah satu bulan pula Bian dan Della menyandang gelar sebagai sepasang suami istri, pasangan yang sudah berpacaran lama dan akhirnya menikah itu masih terlihat begitu mesra, tentu saja dengan masih aturan yang dibuat Bian kian mengekang Della, selama satu bulan ini bisa dihitung jari berapa keli Della keluar dari rumah, Bian benar benar mengurung nya, dan tidak membiarkan dirinya keluar jika tidak ada cowok itu.
Cup...cupp...
Salah satu kebiasaan baru Della adalah mencium Bian saat pemuda itu belum bangun dan tentu saja itu merupakan salah satu aturan yang dibuat saat tangannya terkena minyak panas bulan lalu.
"Mas bangun aku mau mandi lengket banget ini". Della mencoba melepaskan tangan Bian yang akan selalu memeluknya saat mereka sedang tidur, apakah pemuda ini benar-benar tidak sadar jika tangannya begitu berat.
"Bentar lagi sayang, mas masih ngantuk". Suara serak khas bangun tidur Bian benar benar begitu menggoda.
"Ishh tapi aku kebelet pengen pipis". Ujar Della dengan sungguh-sungguh, merasa terganggu Bian melepaskan pelukannya dan membiarkan Della bangun serta langsung berlari menuju kamar mandi.
"Huaa segar banget".girang Della setelah mandi dan berganti pakaian, Della yang sudah segar langsung turun untuk makan, biarkan saja Bian asik dengan dunia mimpinya itu.
"Pagi mbok Ida, ada makanan apa kita pagi ini?".tanya Della dengan riang, tak lupa juga dia menyapa para pelayan yang berada dalam jangkauan matanya
"Pagi nyonya, sesuai permintaan nyonya ada ayam bakar sama lobster". Sahut mbok Ida, dengan senyum ramahnya.
Drttt...drt...
Suara ponsel yang berdering mengalihkan pandangan Della , melihat siapa yang menelepon dirinya ia langsung mengangkat nya dengan senyum yang mengembang.
"Halo Abang, apa kabar?,kangen tau"
"Halo juga adek Abang, baik, dan Abang juga kangen banget sama kamu".
"Kapan balik sih bang, kalian kok lama banget perginya kan aku juga mau".
"Besok kita balik ko, jangan lupa jemput ya, mama sama papa titip pesan buat kamu, mereka sibuk banget disini akhir akhir ini perusahaan kita sedang mengalami masalah".
"Oh ya, jangan lupa jaga kesehatan ya bang, aku gak mau kalian sakit, dan besok aku bakal jemput Abang".
"Hmm okay udah dulu ya, kamu baik kan ?,Bian gak jahatin kamu kan ya, kalo ada apa apa jangan lupa kabari Abang".
"Gak abang, Bian baik kok, aku juga baik, dadah Abang hari hati ya disana"
Setelah Aksa mematikan sambungan teleponnya Della langsung meletakkan ponsel miliknya do samping tempat duduknya.
Sekedar info saat ini Aksa dan juga orang tua mereka sedang berada di London, perusahaan mereka yang ada disana sedang mengalami masalah, dan bahkan Della yakin orang tuanya dan juga abangya itu tidak sempat untuk istirahat karena masalah yang terjadi, tapi sayang Della tidak bisa membantu apapun.
__ADS_1
"Jangan sedih atuh nyonya kan bentar lagi abangnya pulang". Hibur mbok Ida yang melihat nyonya nya itu terlihat begitu sedih, selama berada disini Della memang paling dekat dengan mbok Ida yang membuat mereka berdua sering bertukar cerita.
"Hmm iya mbok, oh ya aku makan dulu ya mbok mas Bian kebo banget gak mau bangun padahal aku udah lapar banget''.curhat Della dengan nada yang terdengar jengkel.
Sementara dikamar, Bian yang merasa di sebelahnya tidak ada orang langsung membuka matanya, kosong, ia bangkit dari tidurnya dan langsung bergegas menuju kamar mandi berharap Della sedang mandi , namun sayang Della tak ada ditempat itu, kemudian Bian bergegas menuju closed dan memakai pakaian nya,
"DELLA, SAYANG KAMU DIMANA SIH?"teriak Bian saat menuruni tangga,
"AKU DISINI MAS, KAMU KENAPA SIH"teriak Della tak kalah keras membaut beberapa pelayan hanya bisa melongo melihat pasangan suami istri itu,
"Kamu kok ninggalin aku sih, dan juga kok kamu gak bangunin aku". Kesal Bian setelah mencium Della dia baru duduk dikursi yang berada disebelah Della.
"Tadi tuh aku udah bangunin cuman kamu aja yang kebo". Della menyiapkan makanan yang akan dimakan oleh Bian,
"Cukup?".tanya Della pada Bian, dia mengambil kan ayam bakar untuk menu sarapan Bian, dan juga beberapa sayuran hijau.
"Cukup, makasih sayang".
"Oh ya kamu udah minum belum?".tanya Bian melihat Della yang akan menghabis kan makanan yang berada di piring nya.
"Belum kenapa?".tanya Della balik
"Nih, habis ini kita jalan jalan yok, kayak kencan gitu". Ajak Bian yang langsung disetujui oleh Della, sudah lama juga dia tidak melihat dunia luar.
"Okay kalo gitu aku siap siap dulu ya, gak apa apa kan aku tinggal?". Tanya Della semangat, melihat itu Bian hanya bisa mengangguk dan tersenyum manis melihat kelakuan dari istrinya.
"Tuan sayang banget ya sama nyonya?". Tanya mbok Ida yang sedari tadi menyaksikan kelakuan kedua orang ini.
"Hmm, dia hidup saya mbok, mungkin jika bukan karena dia saya sudah memilih untuk tidak lagi ada didunia ini". Jawab Bian dengan pandangan dalam dan jangan lupakan nada yang lembut itu.
"Nyonya orang yang baik tuan, saya berharap tuan dan nyonya segera diberikan keturunan". Doa mbok Ida dengan tulus.
"Dia orangnya baik mbok, cuman sayang dia terjebak dengan orang seperti saya, dan juga kami mungkin tidak akan pernah punya anak". Bian mengatakan itu dengan nada yang datar, tidak ada emosi namun penuh dengan keyakinan.
Mbok Ida sempat terkejut dengan perkataan tuannya yang tidak ingin mempunyai seorang anak, padahal setaunya nyonya nya itu sangat amat menginginkan hal itu, semoga saja kedepannya kehidupan rumah tangga tuan dan nyonya nya tetap baik baik saja.
"MAS BIAN AYO".teriak Della yang sudah siap dengan acara bersiap siap nya, Bian yang melihat penampilan Della merasa tidak terlalu suka, rok diatas lutut dan juga jaket jeans membuat perempuan itu terlihat seperti anak umuran belasan tahun.

__ADS_1
(Baju yang Della pakai)
Bian terpukau dengan kecantikan istrinya itu, ah menyesal dirinya mengajak Della tadi, entah berapa banyak mata yang akan melihat dan menatap kagum kearah istrinya nanti, tapi tak ingin juga rasanya Bian membuat Della kecewa maka biarlah untuk hari ini saja.
"Ayo mas, kamu lelet banget sih". Kesal Della langsung menarik Bian menuju pintu utama yang akan menghantarkan mereka menuju mobil Bian.
"Kita gak usah pergi ya". Ucap Bian tiba tiba yang membuat Della menatap Bian dengan pandangan tidak percaya.
"Kamu tega, aku udah dandan Lo kamu malu ya jalan sama aku?,Yaudah deh aku masuk lagi aja, mungkin kamu takut kali ya dihina karena jalan sama orang jelek". Ucap Della dengan lesu, hendak masuk kembali kedalam rumah, saat akan berbalik tangannya dicekal oleh Bian dan pemuda itu langsung menyerang bibirnya dengan brutal.
Ha....ha...ha..
Della mencoba menormalkan nafasnya yang tidak beraturan, di tatapnya Bian dengan pandangan tidak mengerti dan juga sedikit lesu, tapi entah kenapa Della merasa tatapan Bian saat ini menyiratkan kemarahan dan dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya ia sedikit takut.
"Dengar baik baik Fredella Kusuma, aku gak pernah malu ajak kamu kemana pun, kamu juga cantik cantik banget malahan, satu lagi kamu pikir aku orang yang akan tergoda hanya karena kecantikan seseorang , gak Dell aku gak semurah itu, aku cinta sama kamu banget malah, alasan aku gak mau ajak kamu keluar terlalu sering adalah aku gak bisa nahan diri saat orang orang natap kamu penuh minat, aku gak mau apa yang udah jadi milik ku di nikmati oleh orang lain, aku gak suka berbagi dan terbagi, satu kali lagi aku dengar kamu rendahin diri kamu sendiri jangan harap kamu bisa jalan satu Minggu , ngerti sayang".
Bian menarik Della kedalam pelukannya, rasanya dia ingin marah saat wanita nya ini berpikir begitu buruk tentang nya, bahkan jika Della mau dia akan membawa Della kemana pun asal bersama dengan dirinya, dia hanya tak ingin Della dilihat oleh musuh dan juga pria pria dilaran sana.
"Hiksss maaf, gak bakal gitu lagi".Della terisak dalam pelukan Bian, tak tau harus apa dia sudah salah menilai Bian, tapi jika kalian jadi Della pun kalian akan berpikir begitu,yang namanya perempuan itu bukankah identik dengan overthingking mungkin sudah kodratnya kali ya.
"Ya jangan ulangin lagi, ya aku merasa gak becus buat kamu bahagia saat kamu nangis kaya gini". Bian menghapus air mata Della yang berjatuhan dengan deras,
"Udah dong jangan nangis lagi, kan mau jalan jalan". Hibur Bian yang diangguki oleh Della.
"Air matanya gak mau berhenti hikss".racau Della yang membuat Bian tersenyum tipis melihat kelucuan wanitanya ini.
"Nakal ya air matanya?".tanya Bian iseng.
"Hmmm iya, nanti kamu harus hukum dia karena gak mau berhenti". Sahut Della.
"Okay, sekarang kita jalan jalan ya my queen". Bian menuntun Della yang air matanya masih tidak mau berhenti menuju mobil sport miliknya, kemudian ia masuk dan memakaikan sabuk pengaman pada Della baru mereka bergegas keluar dari area istana milik mereka.
"Kita mau ke mana dulu ni?". Tanya Bian saat mereka sudah berada di jalan raya, hari ini Bian memutuskan untuk libur sejenak dari acara kerjanya, dia ingin menghabiskan waktunya full satu harian bersama dengan sang istri.
"Gimana kalo kita ke SMA kita dulu".usul Della dengan riang, jujur ia rindu suasana sekolah itu atau mungkin pada kenangannya.
Bian terdiam sesaat ,jujur ia tidak terlalu suka usil Della yang ini sebab biar bagaimanapun sekolah itu menyimpan banyak kenangan antara Della dan juga Yuda, Bian tidak mau Della mengingat semua hal yang bisa membuat perempuan itu sedih dan mengingat lagi pemuda itu.
"Kalo gak mau juga gak apa apa kok". ujar Della merasa tidak enak.
__ADS_1
"Kita kesana".putus Bian mutlak.