
,Siapa yang bisa menebak takdir, bahkan untuk kejadian 1 jam kedepan saja kita tidak akan bisa tau apa yang terjadi. Begitupula dengan Della ia tidak pernah menyangka bahkan dalam pikiran liarnya sekalipun jika akan ditinggalkan oleh Yuda secepat ini. Awalnya ia tidak menghiraukan perkataan dari pelayan dirumah Yuda, ia berpikir jika itu hanya omong kosong belaka.
Tapi sekarang ia berada tepat disamping makam baru bertuliskan nama Yuda Argantara, tidak ada lagi alasan untuknya tidak percaya bukan.
Della terduduk dengan lesu, memandang makam itu dengan pandangan pilu, di genggamnya tanah yang masih basah itu dan seketika tangisnya pecah. Ia meraung di samping makam, hatinya seperti diremas dan itu menyakitkan, otaknya mulia memutar memori kejadian demi kejadian yang dia alami bersama Yuda.
"Hei, sayang kamu kok tega banget sama aku, kamu ninggalin aku dengan rasa bersalah yang begitu besar, kamu kenapa ninggalin kenangan ini sih?,dan harusnya kamu ajak aku waktu mau pergi, yang paling nyakitin kamu tau, kamu gak pamit sama aku. Jahat banget kamu".
"Tapi terlepas dari semua itu, nyatanya aku yang paling jahat, aku jahat karena tidak tau rasa sakit yang sedang kamu tahan, dan penderitaan apa yang lagi kamu hadapi".
"Hei udah dulu ya, aku pamit, tapi asal kamu tau rasanya masih kayak mimpi dan aku harap ini emang mimpi".
Della bangkit dari jongkoknya kemudian mengusap batu nisan Yuda dengan sayang, setelahnya ia bergegas pergi dari area makam tersebut dengan wajah pias dan tatapan yang kosong.
Setelah kepergian Della , seorang pemuda dengan usia yang hampir sama dengan Della muncul dari area persembunyiannya. Pria itu berjalan dengan langkah pasti menuju makam yang sama dengan yang Della singgahi.
"Hai bro".
"Gue harap Lo yang tenang disana, sorry untuk akhir akhir ini, dan terimakasih juga karena udah izinin gue baut dapatin Della"
__ADS_1
"Oh ya, Lo tenang aja, gue pastiin dia bakal bahagia sama gue, Yud gue pamit ya, dan thanks buat selama ini, walaupun gue jarang ngomong ini ,tapi gue bangga perang jadi teman Lo, gue pergi Yud".
Bian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat peristirahatan terakhir dari seorang Yuda Argantara. Ia pergi membawa segala rasa bersalah dan beban di dadanya. Rasanya lumayan menyakitkan ditinggalkan dalam keadaan mereka sedang tidak baik baik saja.
Hari ini Della kembali terduduk dibawah kasur mewah apartemen nya, ia duduk dengan pandangan yang kosong, tidak mengijinkan siapapun untuk datang menemuinya, sudah terhitung satu Minggu Yuda pergi, dan satu Minggu ini pula ia selalu melamun,terkadang ia bahkan ingin pergi menyusul Yuda dengan cara memotong pergelangan tangannya, tapi sepertinya tuhan masih menyayangi dirinya, semua hal yang ia lakukan untuk menyusul Yuda seakan terkendala, dan gagal total.
Teringat sesuatu Della bangkit dari duduknya, bergegas mencari surat yang ia temukan di kamar Yuda satu Minggu yang lalu, dengan perlahan dibukanya tulisan tangan itu, diresapi nya tiap kata demi kata yang tertuang disana, kembali dadanya kian terasa sesak, ia tidak tau rasanya akan semenyakitkan ini. Kenapa harus Yuda, kenapa bukan dirinya saja, atau mungkin nanti dia pun akan menyusul dengan alasan yang sama.
Air mata kembali menetes dari matanya yang sudah membengkak, ia remas surat itu, dan membawanya ke dalam pelukannya. Della merasa tidak berguna baik sebagai sahabat ataupun sebagai kekasih, sekaligus merasa miris dengan dua sahabatnya yang lain, kenapa kedua orang itupun tidak ada yang memberitahukan dirinya.
"Toko....tokk...tok..
Dari luar terdengar suara pintu yang diketok dengan tidak sabaran, Della sudah tidak punya suara untuk menyahut jadi dibiarkannya saja orang tersebut.
Della tetap tak menyahut, ia benci dengan dirinya sendiri, tapi ia lebih membenci keadaan saat ini.
Diluar apartemen, Bian masih mencoba membujuk Della, lama tak mendapat jawaban ia minta kunci cadangan unit ini, dan masuk menerobos, saat memasuki kamar yang ditempati oleh Della ia bisa melihat gadis itu duduk terdiam dengan sebuah surat ditangannya. Bian mendekat dan langsung membawa Della kedalam pelukannya, rasanya menyebalkan saat melihat Della begitu terpuruk saat kehilangan Yuda.
"Hei gak papa ya, ada aku, kamu gak sendirian"
__ADS_1
Della balas memeluk Bian erat mencoba mencari kenyamanan, tak menjawab ucapan Bian, tapi Della tentu bersukur memiliki seorang sahabat seperti Bian.
"Dia pergi Bi, dia ninggalin gue, sakit, rasanya disini sakit banget".
Della menunjukk tetap kearah hatinya, rasanya memang sangat menyakitkan, mungkin untuk menghilangkan rasa sakit itu butuh waktu yang tidak sebentar.
"Hei gue tau, tapi Lo harus bangkit, Yuda pasti gak suka liat Lo kayak gini, udah ya uda cukup satu Minggu ini ngiring diri sendiri, sekarang saatnya buat bangkit lagi".
Bian mengangkat wajah Della agar menatap wajahnya, ditatap nya mata sembab itu, dan dihapusnya air mata yang masih tersisa, dai menatap Della dengan tatapan lembut, dan juga disana terlihat dengan jelas kasih sayang yang begitu besar.
"Sekarang gue sendiri, gue gak punya siapa siapa lagi, gue harus gimana Bi, gimana?".
Lesuh Della, inilah salah satu konsekuensi yang harus dirinya tanggung, selama ini dia terllau bergantung pada Yuda, ia mempercayakan segalanya pada Yuda, seperti kehidupannya sudah ada ditangan Yuda tanpa terkecuali, dan sekarang saat Yuda pergi, Della seperti kehilangan pegangan dalam hidupnya, takut dirinya sungguh sakit untuk menghadapi dunia yang sebenarnya, dunia yang dulunya akan sellau di hadapinya bersama Yuda sekarang harus ia hadapi sendiri. Sekarang siapa yang akan menjadi penuntun dalam kehidupan perjalanan Della, jujur rasanya saat ini ia begitu ketakutan.
"Ada gue, Lo gak bakal sendirian, disini ada gue, gue yang bakal jadi penuntun tiap kegelapan hidup Lo, dan gue juga yang bakal jadi tempat pegangan kehidupan yang akan Lo lakuin berikutnya, sama gue yang akan jadi tempat Lo bergantung sekarang, gue Dell, selama Lo ikut aturan gue, gue bakal jadiin Lo prioritas kehidupan gue, bahkan diatas hidup gue sendiri"
Ujar Bian dengan mantap, Della yang mendengar itu hanya bisa terdiam tidak percaya, tapi juga lumayan lega, setidaknya sekarang ada Bian yang akan selalu bersama dirinya, dan Yuda, akan tetap menjadi tokoh paporit didalam ceritanya. Bukan hanya tokoh utama, Yuda juga akan menjadi satu satunya tokoh yang selalu ada di setiap langkah Della selanjutnya.
Lima belas menit terjadi keheningan, Bian melihat kearah Della yang berada di pelukannya, ternyata tidur, dengan hati hati Bian mengangkat Della ke atas kasur, di selimuti nya, dan kemudian ditatapnya wajah damai Della saat tertidur, diambilnya juga surat yang sedari tadi dipegang oleh Della, kemudian di letakan di atas meja samping kasur.
__ADS_1
Bian membelai rambut Della, kemudian berlanjut ke wajah, dan raut wajahnya yang tadi lembut berubah menjadi dingin dan juga datar.
"Selamat datang dikehidupan yang sebenarnya babe, kali ini kamu akan tau dunia yang sebenarnya, tapi jika kamu patuh kamu akan menjadi orang paling bahagia, tidur nyenyak cantik, karena setelah ini kamu akan mendapatkan banyak kejutan".