FREDELLA STORY

FREDELLA STORY
HARI PERTAMA


__ADS_3

Bersama dan akan menghabiskan sisa waktu bersama dengan orang terkasih merupakan impian dari semua orang. Begitu pula dengan Bian, Della menjadi orang yang masuk kedalam rencana masa depannya, hidup bahagia dan tentu tidak akan pernah terpisah.


Pesta yang menghabiskan uang yang tidak sedikit itu nyatanya kini sudah usia, tersisa hanya tinggal kenangan dan akan menjadi sebuah sejarah dalam kehidupan mereka.


Tapi kehidupan yang sebenarnya baru akan bermula, siapa yang mengatakan jika setelah menikah yang ada hanya akan kebahagian?, Nyatanya kehidupan yang sesungguhnya baru akan dimulai saat pernikahan.


Saat ini Bian dan Della sedang berada didalam mobil yang akan membawa mereka ke rumah yang sudah Bian belikan, rumah yang akan menjadi saksi kehidupan mereka selanjutnya.


"Kamu kok gak berhenti senyum sih?". Tanya Della saat melihat suaminya sedari tadi tidak berhenti tersenyum, Della meneliti lagi penampilan Bian sekarang, baju kemeja warna abu abu dan juga celana warna hitam, setelahnya dia menggunakan sepatu senada, membuat penampilan cowok itu terlihat keren dan juga gaul.


"Emang gak boleh?".


Bian bertanya balik, tangan yang tetap memegang tangan Della, dan kepala yang sekarang dia sandarkan di pundak Della, rasanya nyaman, dan seperti nya pundak Della akan menjadi tempat ternyaman untuk nya.


"Hmm, boleh sih, tapi aku malah jadi ngeri sendiri". Balas Della dengan tangan yang mengelus lembut rambut lebat milik Bian, entah bagaimana caranya rambut yang dulu keriting ini kini sudah menjadi kurus dan sangat lebat, dulu Della sangat suka menghina rambut kribo milik Bian namun sekarang entah kemana hilangnya rambut itu.


"Kamu mau liburan kemana?". Bian mencari posisi paling nyaman di pundak Della, sejujurnya Bian tidak punya niatan untuk mengajak Della liburan setelah menikah akan tetapi di pikir pikir lagi dia juga tidak mau egois, tidak mungkin jika mereka tidak liburan kan, apa kata orang nanti terlebih keluarga Della, Bian tidak mau imege nya menjadi jelek di mata keluarga barunya itu.


",Gak usah lah Bee, mending kita dirumah aja ,aku lagi malas banget mau kemana mana". Jawab Della dengan pelan takut Bian marah, tapi mau bagaimana lagi dia memang sedang tidak ingin kemana mana, rasanya malas aja gitu.


"Hah kok gitu, kamu serius?". Bian bangkit dari acara bersandar nya saking kagetnya, ini benaran Della tidak mau liburan, senang banget dia , membayangkan Della menjadi pusat perhatian saja sudah membuat Bian kelimpungan, dan syukurlah sekarang sifat mager Della sedang kambuh.


"Iya, gak papa kan ya?". Della mencoba melihat kearah Bian, takut takut suaminya ini sedang marah, tapi yang dia dapatkan adalah senyum bahagia dari sang suami, mengedipkan matanya bingung Della malah mendapat serangan dari sang suami.


Hmppttt


Dirasa sang istri kehabisan nafas Bian, melepaskan pangutan nya, menatap Della dengan jarak yang begitu dekat, menyatukan kepala mereka hingga dua manusia itu bisa merasakan hembusan nafas masing masing.


Cup


Bian mengecup bibir yang sudah mengembang itu sebelum menjauhkan kepalanya. Rasanya Bian sangat candu dengan apapun yang berhubungan dengan Della, dan tidak ingin berbagi sebab dia juga tidak ingin dibagi.


Della tidak bisa menyembunyikan wajah merona nya, meski bukan yang pertama kali, tapi tetap saja rasanya dia masih sangat malu, ditambah didepan sana ada supir yang sedari tadi berada ditempat yang sama dengan mereka.

__ADS_1


"Malu". Cicit Della menyembunyikan wajahnya dengan cara memeluk Bian, menenggelamkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.


"Gemes banget sih". Bian tidaj bisa untuk tidak tersenyum manis, melihat Della yang begitu menggemaskan ini.


Setelah menempuh perjalanan yang tidak sebentar, kini Bian dan Della sudah tiba di rumah yang layak nya bak istana itu, dengan gaya khas Eropa dan juga taman yang terlihat begitu luas,


"Ini benaran rumah kita?". Tanya Della tidak percaya, rasanya masih begitu menakjubkan jika rumah yang begitu mewah ini akan menjadi tempat mereka tinggal


"Iya, kamu gak suka ya?, kalo gitu kita cari yang lain aja gimana?". Bian menatap Della khawatir, takut jika istrinya ini tidak menyukai tempat yang dia pilih, tapi menurut nya rumah ini memang tidak terlalu besar untuk mereka, dengan kamar yang hanya 9 dan tempat olah-raga, kemudian kolam berenang, dan jangan lupakan ruangan yang sudah di disain sebegitu rupa dengan bioskop, ah kenapa anak buahnya begitu bodoh dalam melilih tempat.


"Gila ini keren banget tau, aku suka" ujar Della dengan riang, tak lagi menghiraukan Bian Della dengan cepat masuk kedalam halaman yang akan mengantarkan dirinya menuju pintu utama.


"Selamat datang nyonya, silahkan masuk". Sambut para pelayan saat Della baru dibukan pintu oleh salah satu pengawal yang berdiri di samping pintu itu.


"Hah". Della cengo melihat ini, kediaman Dirgantara memang indah dan penuh dengan fasilitas tapi tentu tidak sampai seperti ini.


"Hm, lanjutkan pekerjaan kalian". Ujar sebuah suara dari belakang, Della membalikkan badannya dan melihat Bian yang sedang berdiri tidak jauh darinya, Bian mendekat dan menggandeng Della membawanya masuk kedalam rumah tersebut.


"Aku kayak berasa ratu Bi". Ucap Della yang masih agak sulit untuk mencerna semua ini.


Della dan Bian menjelajahi tempat-tempat yang berada diruangan ini, sedari tadi Della tidak berhenti berdecak kagum, setiap interior dalam rumah ini tidak bisa tidak membuat nya berdecak dengan begitu kagum, sementara Bian yang sedari tadi terus bersama Della hanya bisa tersenyum bahagia saat melihat Della yang begitu terlihat terpana.


"Nah ini kamar kita". Ujar Bian saat sudah tiba disebuah ruangan yang jauh lebih mewah dan besar dari ruangan yang lain, dengan kasur king size yang berada ditengah tengah ruangan, dan juga beberapa peralatan seperti sofa, televisi dan juga tentu saja kamar mandi yang berada disana, jangan lupakan juga ruangan yang menjadi tempat untuk menyimpan barang barang berupa baju dan peralatan kecantikan yang lain, Bian menyiapkan nya dengan begitu baik, seakan tidak ada yang tertinggal sedikit pun.


"Aku bakal betah banget sih disini".ungkap Della menelusuri kamar tidur mereka.


"Itu yang aku mau, kamu betah dan gak berpikir pergi". Sahut Bian dengan memeluk Della dari belakang.


Bian membalik tubuh Della, langsung melahap benda kenyal yang sudah menjadi candu nya itu, seakan-akan sudah diliputi oleh gairah yang begitu besar, Bian kalut akan kenikmatan dunia yang begitu membuat nya candu, baju mereka sudah sama acak acakan, entah bagaimana caranya sekarang mereka sudah berada di tempat tidur, dengan Bian yang berada diatas Della.


Drttt....drttt...


Suara dering telepon, menghentikan kegiatan Bian, dengan kesal dia bangkit dari posisi nya dan mencari ponsel yang sedari tadi berada di meja samping tempat tidur dengan kesal Bian meneka tanda hijau diponsel tersebut.

__ADS_1


"Hmm"


"..........."


"Ok, sebentar jangan biarin dia lolos". Geram Bian, dengan rahang yang begitu mengeras.


Bian menatap Della yang menyembunyikan wajahnya dalam selimut, jujur saja saat ini sebenarnya gairah sedang sangat besar dalam dirinya, akan tetapi ada hal yang harus dia kerjakan juga, setelah nya dia juga akan menuntaskan gairahnya.


"Aku pergi bentar ya, kamu jangan kecapean janji gak akan lama". Bian mendekat pada Della, diciuminya kening sang istri lembut,baru setelahnya dia bergegas keluar dari ruangan itu.


"Hati hati, sama jangan lama". Ujar Della dengan nada pelan, tapi Bian masih bisa mendengar suara perempuan itu, Bian melihat kearah Della sejenak memberikan senyum menenangkan pada cewek itu sebelum akhirnya dia pergi dari dalam kamar itu.


Saat sampai diluar kamar, Bian menatap para pelayan dengan nada datar, berhenti dan menatap ketua pelayan yang ada diruangan itu.


"Pastikan istri saya tidak kekurangan apapun, dan jangan biarkan dia kelelahan, jika sampai itu terjadi kalian yang akan menerima akibatnya". Perintah Bian dingin dan tak ingin dibantah.


"Baik tuan, akan saya laksanakan". Jawab pelayan tersebut dengan kepala yang masih menunduk.


"Bima, siapkan mobil kita ke markas". Perintah Bian saat sudah tiba di depan pintu utama rumahnya.


"Baik tuan". Dengan segera Bima menyiapkan mobil, dan membawa tuannya menuju lokasi yang diinginkan. Dalam hati Bima bertanya siapa gerangan yang akan menjadi korban tuannya kali ini, dan orang bodoh mana yang dengan berani beraninya bermain dengan seorang iblis seperti Bian Wijaya.


"Kita sudah sampai tuan".


Tanpa menjawab, Bian langsung masuk kedalam markas, disana para bawahannya menunduk hormat saat sang tuan tiba.


"Dia ada didalam tuan". Ujar Arka memberitahukan keadaan orang yang berani menggagu sang tuan. Orang yang tadi menelpon Bian adalah Arka, salah satu kepercayaan Bian, orang yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk Bian, dan orang yang pernah Bian selamatkan dari kejamnya kehidupan.


"Hmm, kalo ini apa Arka?". Tanya Bian dengan nada yang datar, aura membunuh sudah keluar dari tubuhnya, tidak lagi ada Bian yang tadi bersikap lembut dan manja, yang saat ini hanya ada Bian yang merupakan titisan iblis.


"Juan Raksana, menejer keuangan di perusahaan Wijaya corp, korupsi sebanyak 40 Miliar dan sudah melakukan hal tersebut sejak dua tahun yang lalu, mempunyai seorang putri yang baru saja masuk ke SMA paforit yakni SMA Dirgantara dengan cara curang, yang mana sekolah itu merupakan aset milik nyonya Fredella istri anda". Arka membaca data dari orang yang berada didepannya,


"Dan tambahan istrinya saat ini sedang dalam keadaan mengandung, namun mirisnya dia malah berselingkuh dengan sekretaris di perusahaan anda". Tambah Arka membacakan lagi data tentang Juan Raksana, tak lupa Arka juga memandang orang itu dengan tatapan jijik, bagaimana ada orang yang bersikap begitu rakus.

__ADS_1


"Sejujurnya saya tidak peduli dengan apa yang saat ini dia lakukan berhadap keluarganya, akan tetapi dia sudah berani bermain dengan saya, jadi Arka, menurut peraturan kita hukuman apa yang pantas untuk orang seperti ini?". Tanya Bian dengan nada pura pura polos.


"Menurut peraturan yang saya tau dan pahami orang seperti ini berhak mendapatkan hukuman yang berat tuan, seperti mati dengan cara di sayat sayat, dan dipaksa memakan dagingnya sendiri ". Ucap Arka dengan nada yakin dan mantap.


__ADS_2