
"Hai apa kabar?, Aku datang lagi hari ini?". Sapa Della.
"Kamu tau hari ini berat banget, ternyata benar ya kata kamu, support sistem terbaik itu ya cuman diri sendiri". Della mengelus batu nisan yang ada didepannya itu.
Tempat ini adalah pelarian Della selama beberapa tahun ini, saat ia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Andai saja Yuda masih ada mungkin sekarang cerita ini akan berbeda, Della mencintai Yuda, sangat malah , jika boleh jujur bahkan cinta nya pada Yuda tidak ada artinya jika dibandingkan dengan Bian.
Orang yang berada disebelah kalian, saat dalam kondisi paling buruk, orang yang menemani segala proses kalian mulai dari jatuh bangun, tentu saja orang seperti itu tidak akan mudah jika dilupakan begitu saja. Akan selalu ada tempat tersendiri untuk Yuda dalam hati Della.
"Kamu tau, Yud, pada akhirnya semua kembali seperti semula, papa kembali nampar aku sama seperti dulu, rasanya kali ini sakitnya jauh lebih peri, bukan hanya di fisik tapi fisikis aku juga.
"Yang lebih parah adalah, Bian ,sahabat kita dulu atau sekarang yang menjadi suami aku , dia nyuruh aku buat gugurin anak yang bahkan usianya baru dua Minggu, jahat banget kan Yud, aku saja bahkan tidak percaya semua ini bisa terjadi rasanya tidak menyangka saja". Della terus menceritakan kisah hidup yang di lalui nya pada Yuda, tidak akan ada jawaban memang tapi yang jelas saat ini beban dihatinya jauh lebih berkurang.
"Lo kenapa?". Suara yang sudah lama dia tidak dengar mengangetkan Della, mendongkak, Della melihat salah satu sahabat nya berdiri dengan gagah di belakang nya, orang yang juga menjadi saksi masa remaja nya.
"Verel". Panggil Della masih tidak percaya, hilang kontak selama beberapa tahun dan sekarang datang dengan seenak jidat, apa yang lebih mengesalkan dari itu semua.
"Yoi, gue come back Dell, senang kan Lo".Verel masih sama suka bercanda, dan Della bersukur untuk itu.
"Ngapain balik si Lo, dunia udah bagus kalo Lo gak ada" ,Canda Della akan tetapi dia bergerak memeluk pria itu.
"Sok banget Lo, tapi gak papa aku mah Santi orang'nya". Verel pun membalas pelukan satu satunya sahabat wanita yang ia miliki.
"Hmm, Lo ngobrol aja duku sama Yuda, gue tungguin disana". Tunjuk Della pada kursi yang tersedia di sebrang makam.
"Okay, tunggu gue ya beb, gue laporan dulu sama pak bos". Verel mendorong Della dengan pelan, membuat perempuan itu mendengus kesal, tapi tak urung mengikuti juga.
"Hai pak bos, gue udah balik ini, gak kerasa ya Lo udah selama itu gak sama kita, Lo tau sekarang gue udah raih mimpi gue, sekarang orang orang udah kenal Verel, orang yang dulunya gak dianggap ini nyatanya sudah bisa berdiri diatas kakinya sendiri, thanks ya buat selama ini, buat bimbingan dan untuk kehadiran Lo dalam melengkapi perjalanan kehidupan gue, BTS gue harap sekarang Lo udah bahagia disana, ah harus, gue pamit ya, perempuan ke cintaan Lo lagi nunggu gue tuh, mukanya gak berubah saat marah masih jelek kaya bebek". Setelah mengatakan itu Verel bangkit dan ikut menyusul Della yang tidak jauh dari tempatnya.
"Udah, kan, btw gue nginap ya dirumah Lo". Putus Della seenak jidat, dan tentu saja Verel hanya bisa mendengus kesal tapi lagi lagi tidak bisa berbuat apapun.
"Okay nanti kita harus cerita cerita". Setuju Verel, merangkul Della menuju mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh.
Rumah sakit.
Jam sudah menunjukkan waktu perjanjian antara Bian dan Della, pemuda itu sudah lebih dulu datang, menunggu kedatangan istri yang membuat dirinya burung uringan sejak semalam. Bian sudah memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang akan membuat wanita itu mau kembali padanya, dan juga sudah mempersiapkan segala hal kedepan nya.
"Brukkk".
Bian yang tidak tau apa apa tersungkur akibat pukulan dadakan dari depannya, hendak mengumpat namun terhenti karena tau siapa yang datang.
__ADS_1
"Lo itu anjing banget tau, kalo gak mau Yaudah biarin gue aja yang jaga". Bian hanya diam melihat kemarahan sahabat yang sudah lama tidak ia lihat ini.
"Lo gak tau apa apa Rel, jadi mending Lo minggir". Verel jelas tidak terima, Della sudah menceritakan semuanya, rasanya saat itu ingin dirinya langsung keluar dan membunuh Bian. Tapi untung saja pikirannya masih waras.
"Ok, kalo gitu jelasin". Tuntut Verel.
"Rahim Della itu lemah, kemungkinan selamat nya kecil, dan gue gak mau Della kenapa napa". Bian terlihat prustasi, ditekan sana sini.
"Dan gue gak mau kehilangan dia, jadi Della tolong ya kamu ngertiin aku". Bian mendekat pada Della yang tadi berdiri di samping Verel.
"Gak mas, apa pun yang terjadi aku akan tetap ngelahirin dia, jadi tolong aku cuman butuh suport kamu". Putus Della setelah sadar dari keterkejutannya.
"Tapi kemungkinan nya kecil sayang".
"Tenang aja aku akan baik baik aja". Della mencoba menenangkan Bian, jika tau dari awal mungkin masalahnya tidak akan serumit ini.
"Okay, tapi saat kamu kenapa napa nanti, aku gak bisa janji untuk gak nyusul kamu".
"Lebay banget Lo, btw kangen gak Lo sama gue". Verel ikut bergabung dengan Bian dan Della yang sedang berpelukan.
"Kaga, dan apaan Lo, jauh jauh dari istri gue". Bian mendorong Verel untuk menjauh dari istrinya.
Biarlah kali ini Bian mengalah, semoga saja apa yang sudah dia ambil ini tidak akan membuat menyesal dikemudian hari.
Waktu terus berjalan, tak terasa kandungan Della sudah menginjak 9 bulan, membuat Bian menjadi ketar ketir sendiri, takut dan juga senang secara bersamaan, ya Bian mulai bisa menerima anak yang saat ini Della kandung.
Selama kehamilan Della ini ada beberapa keuntungan yang Bian dapat, seperti misal saat Della ngidam di peluk oleh dirinya selama satu hari pull, dan juga tidak mau jauh jauh darinya. Tapi tentu saja ada kerugian juga, seperti misal saat Della minta makan mangga muda jam 2 dini hari, yang lebih gilanya adalah Della ingin dia mencuri mangga yang ada di depan sekolah mereka dulu, bisa bayangkan betapa frustasi nya Bian. Ingin rasanya Bian berteriak kesal saat itu, tapi kembali lagi seorang Bian tidak akan mungkin bisa menolak permintaan istrinya itu.
"Nanti kalo aku kenapa napa, kamu janji jaga dia dengan baik ya mas". Della sedang bersandar di dada Bian, saat ini mereka sedang tiduran di kasur king size milik kedua nya.
"Kamu gak akan kenapa napa Dell, kamu uda janji sama aku". Sahut Bian tidak suka dengan perkataan Della, tapi jujur ia juga gelisah bahkan sejak saat kandung Della sudah memasuki usia 9 bulan.
"Aku gak tau, tapi perasaan aku gak enak mas". Cerita Della tak bohong, jujur ia memang gelisah, apalagi saat mimpi itu datang menghampiri dirinya hampir tiap hari dalam satu Minggu ini.
"Semua akan baik baik aja, percaya sama aku". Bian mengeratkan pelukannya pada Della, tuhan tolong kali ini biarkan dia bahagia.
"Kamu tau, hampir satu Minggu ini aku mimpi hal yang sama". Bian menatap Della dengan tatapan bertanya, kenapa bsia seperti itu, dan jujur Bian malah kian gelisah.
"Mimpi apa?".
__ADS_1
"Aku mimpi ketemu Yuda, terus dia selalu bilang sebentar lagi kita akan ketemu Dell, kamu yang sabar ya, itu katanya". Bian menegang mendengar perkataan Della, apa maksud dari mimpi itu, sekarang ketakutan Della malah menjadi dua kali lipat.
"Dell janji sama aku, apapun yang terjadi kamu harus berjuang, untuk aku dan juga calon anak kita". Pinta Bian dengan sungguh sungguh.
"Aku berusaha semampu aku ya". Jawab Della.
"Tolong jangan minta Della untuk ikut sama Lo secepat ini Yud, gue gak siap kehilangan dia'. Batin Bian dengan sedih.
Tak lagi ada percakapan, mereka berdua hening, sibuk dengan dunia masing masing.
Aukhhh
Della meringis memegang perutnya, Bian yang mendengar itu menatap panik kearah istrinya
"Hei kenapa, kamu kenapa, yaampun tuhan kamu mau lahiran Dell". Bian panik sendiri tidak tau harus berbuat apa, ditambah melihat Della yang kesakitan membuat nya tidak bisa berpikir jernih.
"Sakit Mas". Lirih Della dengan tangan yang memegang perut.
"Sabar sayang, sekarang kita kerumah sakit ya, tolong bertahan ". Bian dengan cepat menggendong Della dan membawanya ke rumah sakit.
"Mbok Ida, tolong bawa perlengkapan Della kerumah sakit, sama jangan lama". Suruh Bian pada mbok Ida, yang juga terlihat panik melihat Della yang sedang kesakitan.
"Baik tuan". Angguk mbok Ida langsung melaksanakan perintah tuannya.
Bian masih bisa mendengar itu, namun tidak lagi peduli, yang saat ini menjadi prioritas utama nya adalah Della , dia harus cepat sampai kerumah sakit, tak sanggup melihat istri yang begitu ia cintai terlihat menahan sakit.
"Sakit, Bi, sakit banget".racau Della yang kian membuat Bian tak karuan, panik lebih mendominasi Bian sekarang.
Apalagi mendengar perkataan Della selanjutnya membuat jantung Bian seakan berhenti berdetak.
"Bi, itu Yuda mas dia datang, ganteng banget, aku mau ikut dia, dia udah datang".racau Della kian gak jelas.
Bian menangis untuk pertama kalinya, tak sanggup lagi mendengar perkataan Della, ia membawa Della kedalam pelukannya.
"Sayang hei kamu harus bertahan, ingat kamu udah janji". Bian tetap berusaha membuat Della fokus pada nya.
"Cepat sialan, Lo kenapa lama banget bawa mobilnya". Murka Bian pada supir yang membawa mobil terlalu pelan menurut nya.
"Bian, Yuda, makin dekat, sekarang dia mau pegang tangan aku, lepas tangan kamu Bi, nanti dia cemburu". Della malah kian tak jelas, Bian yang sudah tak lagi tau apa uang harus di lakukan hanya bisa diam dan menangis pilu.
__ADS_1
"Ahh sakit banget''