
Saat ini Della sedang berada diruang operasi, Bian dengan setia mendampingi sang istri, meski rasa takut dan gelisah masih menguasai hati, tapi Bian harus dan wajib untuk ada disamping sang istri.
"Hei, kamu yang kuat ya, jangan ngomong yang aneh aneh lagi". Bian membelai wajah Della yang terlihat menahan sakit, dihapusnya keringat yang membanjiri wajah sang istri.
Tadi Bian sudah kalang kabut saat Della berbicara hal hal yang membuat jantung nya ingin berhenti saat itu juga. Beruntung saat ditangani oleh dokter kesadaran Della yang tadi hanya seperempat kini sudah kembali menjadi seratus persen, meski resiko nya dia harus menahan sakit yang luar biasa.
"Sakit banget mas, aku gak nyangka ternyata melahirkan sesakit ini, tapi Makasih udah buat aku jadi wanita yang sesungguhnya". Napas Della tersengal senggal, rasa mulas dalam perut nya sungguh sangat menyiksa, tapi dibalik semua itu Della malah tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya.
"Hei, ada aku, kalo kamu sakit lampiaskan sama aku, kamu boleh gigit atau cakar aku". Bian memberikan tangan kanannya untuk Della genggam, saat ini pembukaan Della masih kurang satu lagi, dan kenapa harus selama ini, saat ini yang ada diotak Bian adalah jika perjuangan melahirkan ternyata semenyakitkan ini kenapa masih saja ada orang tua atau bahkan ibu yang dengan tega menelantarkan anaknya, bahkan yang lebih mirisnya adalah ada beberapa yang dengan tega membuang bayi itu, jika seperti itu bukankah sebaiknya bayi itu tidak pernah hadir saja.
"Kamu pasti kuat, janji sama aku, kamu kuat Della yang aku kenal adalah orang yang begitu kuat, orang yang tidak akan pernah menyerah, kuat ya tolong berjuang sama seperti selama ini kamu berjuang bertahan dalam segala masalah yang kamu hadapi". Bian terus memberikan dorongan semangat, hanya ini yang saat ini Bian bisa lakukan selain memberikan Della pelayanan yang terbaik dia juga harus selalu mensupport Della.
"Maaf bapak ini pembukaannya sudah lengkap, tolong terus dampingi istrinya". Dokter yang baru saja datang, langsung memberikan aba aba, melihat pembukaan yang sudah lengkap dokter wanita itu dengan cepat memberikan perintah pada bawahannya.
"Tolong usahakan agar istri saya tidak merasa sakit". Pinta Bian, untuk pertama kalinya Bian meminta pada orang lain.
"Baik pak, akan kami usahakan". Dokter itu tak bisa menjanjikan apapun untuk orang penting yang ada diruang ini, pemuda yang merupakan pemilik dari rumah sakit ini, terkadang memang ada kalanya uang tidak berarti seperti saat ini contohnya, mau sebanyak apapun uang yang kita miliki kita tetap lah membutuhkan orang lain, dan tentu saja Tuhan pasti nya.
"Ibu, tunggu aba aba dari saya , jika saya belum menyuruh untuk mengejan jangan mengejan ibu, sekarang dalam hitungan ketiga ibu harus mengejan sekuat yang ibu bisa, dan usahakan matanya tetap terbuka ya Bu". Dokter itu memberikan cara cara yang harus dilakukan oleh Della, sesuai dengan peraturan dan aturan yang berlaku, ini semua juga untuk kebaikan pasiennya.
"Hmm". Hanya itu yang bisa Della ucapkan, saat ini didalam perut nya seperti ada sesuatu yang meminta untuk segera dikeluarkan, dan tulang tulang nya seperti patah semua.
"Okay ibu, 1,2, 3. Sekarang mengejan sekuat yang ibu bisa".
"Akhhhhh.......akhh.....". Della mengejan dengan sekuat yang dia bisa, tangan nya menarik kepala Bian hingga beberapa rambut rontok, dan bahkan mulutnya tidak tinggal diam dengan menggigit tangan Bian dengan sekuat tenaga membuat tangan pria itu hingga berdarah.
"Akhhhh.....akhhhhh". Bian tak tahan saat mendengar dan melihat Della yang terlihat begitu kesakitan, ini salah satu hal yang tidak ingin lagi Bian lihat seumur hidup.
Oekk....oek...oekk..
Suara tangisan bayi, membuat Bian menghela nafas lega, dia melihat Della yang terlihat begitu lemas, diciumnya wanita itu dengan sayang, air matanya tak bisa dibendung, ketakutan yang selama ini dia takutkan akhirnya berlalu, setelah ini Bian hanya ingin dalam kehidupan mereka hanya ada senyum dan tidak lagi ada tangis.
__ADS_1
"Kamu berhasil, sayang kamu hebat, terimaksih karena sudah bertahan sayang". Bian tak berhenti mencium kening dan bibir Della secara bergantian, mengungkapkan rasa sukur atas keajaiban ini.
"Kamu harus selalu jaga, dan cintai anak kita kayak kamu jaga dan cinta sama aku selama ini". Della menggenggam tangan hangat Bian, tubuh dan tenaganya terkuras habis, saat ini Della merasa butuh istirahat yang cukup lama.
"Hmm, akan aku coba, apapun demi kamu". Bian akan mengalah, melihat perjuangan sang istri untuk melahirkan keturunan Wijaya yaitu anaknya sendiri membuat Bian sadar untuk kali ini dia tidak lah boleh egois toh ini juga untuk kebahagian sang pujaan hati.
"Ini pak anaknya, laki laki tampan seperti ayahnya". Suster yang tadi ikut membantu persalinan Della datang dan memberikan putra dari keluarga Wijaya itu pada sang ayah.
Melihat putranya Bian seakan melihat seseorang yang sangat amat ia kenal, mata yang begitu tajam khas orang itu, dan juga rahang serta hidung yang sangat mirip dengan orang itu, dulu dia pernah melihat foto saat orang itu masih bayi, dan sekarang dia seperti sedang melihat foto copy dari orang itu.
"Ini Della, kamu harus lihat anak kita, persis kaya Yuda saat dia masih kecil dulu". Bian membaringkan sang putra di samping Della.
Mendengar itu, Della merasa tidak percaya, tapi mau tak mau iapun mengakui hal itu apalagi saat melihat tatapan itu, tatapan yang sama seperti saat dulu Yuda menatap dirinya, namun sekarang tatapan itu masih terlihat abu abu, mungkin karena anak ini masih kecil.
"Iya, dia ganteng banget". Ungkap Della, dia membelai pipi sang putra dengan lembut.
" Mas, jaga dia ya, aku mau istirahat dulu, aku capek banget". Della berujar dengan nada yang begitu lemah, menandakan dia memang benar-benar begitu lemah.
"Iya, kamu istirahat aja, serahin semua sama aku". Sahut Bian yang berpikir jika Della hanya sedang butuh waktu untuk tidur sebentar.
"DOKTER, DOKTER". Dengan panik Bian berteriak memanggil dokter yang tadi menangani istrinya.
" Ada yang bisa saya bantu pak?". Tanya dokter yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Periksa istri saya, dan jika sampai terjadi sesuatu kamu yang akan menerima akibatnya". Ancam Bian tidak tau tempat.
"Akan kami usahakan yang terbaik pak, kami harap bapak bisa keluar lebih dulu". Bian menatap tajam wanita yang berani mengusir dirinya, mana mau dia meninggalkan istrinya sendiri disini.
"Maaf pak, tapi semakin bapak menurut maka semakin cepat pula kami akan menangani istri anda". Sang dokter tidak lagi mengindahkan jika yang saat ini dia suruh dan perintah adalah pemilik dari rumah sakit yang saat ini menjadi tempat dimana ia bekerja.
Mau tak mau Bian pun akhirnya menurut, dengan cepat ia keluar tak lupa juga membawa bayi yang tadi berada disamping Della dalam gendongannya.
__ADS_1
Diluar sudah ada Aksa, orang tua Della, ayah dan Widi ibu tirinya, dan yang tak lupa ada Verel yang menunggu dengan harap harap cemas sedari tadi.
"Oh tuhan, ini cucu ku, tampan sekali, lihatlah hidung yang begitu mancung ini". Heboh Celine mengambil alih cucunya dari gendongan Bian.
"Gimana keadaan Della ?". Tanya Verel yang juga diangguki oleh orang orang yang berada di tempat ini.
"Adek gue baik baik aja kan?". Tanya Aksa menimpali pertanyaan Verel
"Dia kuat, pasti akan baik baik saja". Dirga menimpali dengan nada yang begitu yakin.
"Aku gak tau, tiba tiba Della tidur, dan jantung nya berdetak dengan sangat pelan". Ungkap Bian setelah sedari tadi hanya diam dan menunduk.
"Kamu Jangan gila Bian, katakan anak saya tidak akan kenapa napa". Amuk Dirga , tangannya sekarang berada di kerah baju Bian
"Jangan egois, kamu pikir anak saya tidak sedih, apalagi putranya baru lahir". Aldi dengan cepat menghempaskan tangan Dirga dari kerah baju putranya.
"Aku gak tau om, aku juga bahkan gak tau gimana aku sekarang, rasanya sangat menyesakkan". Bian menatap lantai yang berada didepannya. Tak sanggup melihat orang-orang yang berada disini.
Cklek
Suara pintu yang terbuka, mau tak mau membuat Bian yang tadi menunduk menjadi memfokuskan tatapannya pada dokter yang baru saja keluar.
"Gimana keadaan istri saya?". Tanya Bian tidak sabaran.
"Maaf pak, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi saat ini nyonya Della, mengalami koma diakibatkan oleh pendarahan dan juga rahimnya yang ternyata sangat lemah. Di tambah tadi nyonya melahirkan secara normal".
Ucapan dokter itu membuat siapapun yang berada disana terkejut dan tidak bisa membendung kesedihan mereka, Celine bahkan sudah histeris hampir saja anak kecil yang berada dalam gendongannya menjadi korban, beruntung ada Widi yang dengan sigap mengambil alih.
"Bi". Verel mendekati Bian yang terlihat begitu terluka.
Tak lagi melihat semuanya Bian langsung berlari tak tau arah, yang langsung diikuti oleh Verel dari belakang, Bian berhenti di atap rumah sakit, disana Bian melampiaskan semua yang ada dipikirannya, dia menangis melampiaskan perasaan yang begitu menyesakkan itu.
__ADS_1
"Bi Lo harus kuat, ingat Della pasti bisa sembuh, dia perempuan yang kuat, gue yakin gak lama lagi dia pasti akan kembali sama kita". Verel memberikan semangat untuk sahabat nya ini, meski sejujurnya dia juga terluka akan tetap tentu saja tidak sebanding dengan luka yang Bian alami.
"Gue takut Rel, Lo tau hampir satu Minggu ini Della selalu mimpi Yuda datang buat ajak dia , katanya udah waktunya Della ikut Yuda, gue harus gimana gue gak sanggup". Bian terlihat begitu putus asa.