Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Tolong Aku


__ADS_3

Di malam yang sunyi, dua mobil hitam saling kejar mengejar. Viona yang mengenakan mobil hitam Pajero berusaha tenang, meski dirinya khawatir. Tangannya berkeringat dingin sesekali menggigit sedikit kukunya. Dalam hati terus berdoa agar mereka yang ada di belakangnya tidak mengikuti lagi. Dia menoleh kebelakang dan matanya terbelalak melihat mobil tadi berusaha menyelip dia.


Viona semakin menambah kecepatan mobilnya karena tidak mau tertangkap lagi. Tadi, Ronald maupun Natalie sempat menghalangi dia pergi, karena tidak mau di tangkap dan di jual lagi, maka Viona berbuat kasar kepada Natalie maupun Ronald. Sehingga ia berhasil lari dari mereka dan sekarang malah di kejar oleh Louis dan anak buahnya.


Mobil yang di belakang juga tidak mau kalah, mereka menambahkan kecepatannya guna menghadang mobil Viona.


"Cepat serempet mobil itu! Halangi bagian depannya!" titah Louis menatap fokus mobil depan.


"Baik, Bos."


Ggroooom ... Wuuushhh ....


Mobil yang di tumpangi Louis bertambah kencang dan mencoba menyalip mobil Pajero.


Viona kalah cepat, mereka berhasil menyalip dan menghalangi laju kendaraannya. Ia terkejut dan segera mengerem agar tidak menabrak.


Ckiiiit ....


"Mereka turun, apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mau di tangkap oleh mereka. Aku tidak mau." Dalam diamnya, Viona mencoba mencari cara agar kabur dari mereka.


Suara gedoran keras membuat orang yang ada di dalam bertambah tegang dan ketakutan.


"Keluar kau!" bentak sang Louis sambil menggedor kaca mobil.


"Gimana ini?" Viona panik, dan ia semakin gugup enggan tertangkap lagi.


"Hei, kau, cepat keluar atau ku pecahkan kacanya!" bentak sang Louis yang masih terus menggedor kaca mobil.


"Aku tidak mau! Pasti kalian akan menangkap ku lagi."


Karena tidak di buka juga, Louis meminta Beni memecahkan kacanya.


"Pecahkan kaca mobilnya, Beni!"


"Baik, Bos."


Beni mencoba memecahkan kacanya menggunakan sikut, pria itu terus berusaha. Di saat mereka fokus memecahkan kaca, Viona membuka pintunya dan berlalari secepat kilat.


"Hei, jangan kabur!" pekik Louis melihat pergerakan Viona. "Ayo kejar!"


Lagi-lagi Viona di kejar oleh tiga orang pria. Namun, karena minimnya penglihatan jalan, kaki Viona tidak sengaja tersandung batu. Ia terjatuh terduduk di aspal.


"Hahaha, mau lari kemana lagi kau, nona? Kemanapun dirimu pergi tidak bisa lari jauh."


Grep ....


Tangan Viona di cekal dan di paksa berdiri.

__ADS_1


"Lepaskan! Perasaan aku gak punya masalah sama kalian. Kenapa kalian tega mau menjual ku, hah?" bentak Viona sesaat setelah ia berdiri dan tangannya memberontak.


"Kebanyakan ngomong, pokoknya sekarang kau harus kembali pada Tuan Adit!" sentak Louis.


"Kenapa harus aku? Cari saja yang lain, aku tidak mau!"


"Diam!!" bentak Louis, "Ayo bawa!" Dan Louis melangkah duluan, lalu di susul oleh Beni dan Beno yang mencekal tangan Viona agar tidak lari lagi.


"Aku tidak mau ikut kalian! Lepaskan aku!" pekik Viona terus memberontak. "Tolong ... siapapun tolong aku!" Dia juga berteriak meminta tolong, berharap ada orang baik mau menolongnya.


Dari jauh, mobil sedan putih melaju melewati jalanan yang Viona lewati juga.


"Pak, sepertinya gadis itu ingin di culik." Seorang sopir memperhatikan dari jauh pergerakan Viona.


Orang yang duduk di bagian belakang langsung menatap lurus ke depan, ia juga memperhatikan bagaimana Viona mencoba memberontak.


"Kita berhenti di sana. Sepertinya dari situ dalam masalah."


"Baik, Pak." Lalu, sopirnya memberhentikan kendaraan itu di pinggir jalan. Mereka berdua turun dan mendekati.


"Ada apa ini?" tanya pria bertubuh tinggi dengan setelan jas yang masih menempel di badannya.


Louis maupun Viona menoleh, dan ini kesempatan Viona untuk meminta tolong pada pria yang mungkin saja seumuran dengan Ronald.


"Lepaskan aku!" sentak Viona. Lalu, menggigit tangan Beno dan menendang lagi milik Beni. Ia berlari ke arah yang sedang memperhatikannya.


Viona berlindung di balik tubuh kekar dua pria yang di yakini majikan dan sopirnya.


"Pak, tolong saya, mereka mau menculik ku dan mau menjual ku, Pak." pinta Viona ketakutan seraya menunjuk Louis. Pria itu menoleh memandangi wajah ketakutan yang Viona tunjukkan. Ia kembali menatap Louis dan dua pria yang ada di belakangnya.


"Kalian jangan ikut campur, minggir!" pinta Louis hendak mendekati Viona. Tapi lagi-lagi Pria di hadapan Viona menghalangi.


"Kenapa kalian memaksa anak orang untuk ikut dengan kalian?"


"Ayolah Tuan, jangan ikut campur. Saya tidak memaksa dia, justru dia yang mencoba kabur dari saya." Louis masih berusaha tenang meski tangannya gatal ingin mengambil Viona dari belakang tubuh pria gagah dan masih muda di usianya.


"Aku kabur karena kalian mau menjual ku. Aku tidak mau itu!" sahut Viona membela diri sendiri, karena memang itu kenyataannya.


"Hei, orangtuamu yang sudah menyerahkan mu pada saya atas utang yang ia miliki. Jadi kau harus menuruti semua perintahku. Kembali kesini!"


"Pak, tolong aku. Selamatkan aku dari mucikari itu. Aku tidak mau di jadikan pelacur olehnya. Aku tidak mau melayani hidung belang. Aku mohon, Pak. Selamat kan aku, hiks hiks hiks." Viona sangat berharap orang ini mau membantunya. Tidak ada harapan lagi selain minta bantuan kepada dia. Jika orang ini tidak mau membantunya, maka nasibnya akan berakhir di rumah bordir.


Sopir yang ada di samping Viona menatap iba melihat kekacauan gadis itu. Apalagi tangisannya begitu pilu seakan menusuk relung hati tak tega membiarkannya sendiri.


"Viona saya bilang kembali!" sentak Louis, "Beni, Beno, seret dia kembali!"


"Tunggu!" pria berjas itu mengangkat tangannya meminta stop pada tindakan yang akan dilakukan pada anak buah Louis.

__ADS_1


"Kau bilang gadis ini di jual orangtuanya?" tanya dia menatap tajam Louis.


"Iya, dan daya tidak akan membiarkan dia pergi."


"Kalau begitu, saya yang akan membelinya."


Deg ....


Viona terhenyak mendengar perkataan pria berkarisma ini. Dia kembali di buat tercengang atas tawaran itu. Membeli, satu kata yang sering kali ia dengar saat ini.


"Pak ..."


Pria itu menatap Viona. Tatapan teduh terlihat sebuah ketulusan tetapi juga sulit diartikan.


"Saya akan membebaskan mu dari mucikari itu. Apa kau mau setiap waktu melayani pria hidung belang?"


Viona menggelengkan kepalanya dan air matanya menetes begitu saja. Ia paling tidak menginginkan hal itu terjadi, tidak mau."


"Dia sudah ada yang mau membeli," balas Louis mulai luluh ketika mendengar nama uang.


"Apa dia sudah membayarnya? Jika belum, maka saya akan membayar dia sekarang juga, bagaimana?" lagi-lagi pria itu memberikan penawaran yang menggiurkan di telinga Louis. Berhubung Adit belum memberikan uangnya, maka Louis akan mencoba meminta dulu uang pada pria ini.


"Baiklah, tapi saya minta uangnya sekarang juga. Lima milyar harga untuk gadis itu, bagaimana?"


"Baik, saya menerimanya." Tanpa pikir panjang dan tanpa banyak kata, pria itu mengambil ponselnya dan meminta no rekening Louis. "Sebutkan!"


Louis melotot, ini tidaklah main-main. Dan dia secepatnya menyebutkan sederet angka yang di yakini no rekening dia. Pun dengan Viona yang juga tidak menyangka dirinya kembali di hargai lima milyar.


Tring ....


Dan notifikasi pun masuk, dengan segera Louis melihat ponselnya. Dia tercengang melihat sederet nol banyak.


"Kau boleh membawa gadis itu pergi. Beno, Beni, kita pergi!"


"Tunggu!" tapi langkah Louis terhenti lagi.


"Siapa nama dia?" tanya pria itu pada Viona yang sedang mematung memikirkan nasibnya lagi.


"Lo-Louis. Mucikari di club malam xxx."


"Louis, besok pagi kau akan mendapatkan kejutan."


"Maksud kau?"


*****


__ADS_1


__ADS_2