
Mata Viona mengerjap saat sinar matahari mulai mengintip ke jendela kamar. Dia terkejut ada tangan kekar memeluk pinggangnya. Viona menoleh kebelakang, ia terkejut ada Raymond di sana dan lupa tentang semalam.
"Kenapa dia ada di sini?" gumam Viona mengingat-ingatnya lagi. Setelah ingat barulah hatinya lega karena itu ternyata Raymond masih menjadi suaminya sendiri.
Perlahan Viona memutar tubuhnya berbalik menghadap sang suami. "Bisa-bisanya aku lupa kejadian semalam." Viona terkekeh sambil memandangi wajah tampan Raymond. Tak pernah ia terbayangkan bisa kembali bersama Raymond.
"Selamat pagi Viona sayang," ucap Raymond mengejutkan Viona yang tengah menikmati pemandangan nyata di depan mata.
"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Viona kaget sedikit menjauhkan wajahnya dari Raymond. Wajahnya pun terlihat merah merona.
"Sejak kamu memperhatikan wajah tampanku. Terpesona, ya?" kata Raymond percaya diri dan mengerlingkan mata menggoda Viona.
Viona memalingkan wajahnya merasa malu karena ketahuan. "Ti-tidak, aku tidak memperhatikanmu," ucap Viona mengelak.
"Sudahlah, mengaku saja karena kamu tidak pandai berbohong. Aku tahu kalau kamu itu sangat mengagumi ketampanan ku dan pastinya kamu juga sangat mencintaiku, 'kan?" Raymond menatap wajah sang Viona.
"Hei, percaya diri sekali kaku ini. Aku ti ..."
Cup ....
Raymond tiba-tiba mengecup bibir Viona untuk membungkam mulut istrinya.
Viona terbelalak dan mendorong dada Raymond agar menjauh darinya. "Kenapa kamu mencium ku?"
__ADS_1
"Karena kamu candu ku dan aku mencintaimu." Raymond kembali menarik tengkuk Viona dan mengecup bibirnya lagi. Kali ini bukan kecupan lagi, Ray sudah mulai me ***** bibir istrinya bahkan sudah menyesapnya.
Viona yang awalnya menolak perlahan ikut menikmati. Mereka sama-sama tidak peduli keadaan mereka yang baru saja bangun tidur. Raymond mengukung tubuh istrinya dan ia kembali memberikan kecupan lu matan, hi sapan, dan rangsangan supaya istrinya terbuai.
Viona memejamkan mata menikmati setiap cumbuan dari suami halalnya. Suara de sahan pun keluar dari bibir mungil Viona di kala tangan sang suami meremas lembut gundukan kenyal miliknya.
Tangan Raymond melepaskan satu persatu kancing baju yang Viona kenakan dan memperlihatkan dua gundukan yang masih terbalut brA.
Ia juga menyusupkan wajahnya keceruk leher
Viona memberikan tanda merah keunguan di sana dan menghirup aroma wangi yang ada di dalam tubuh Viona. Tangannya mulai melepaskan pengait brA kemudian ia membuangnya ke sembarang arah.
Raymond menurunkan ciumannya kesalah satu gundukan tersebut dan mulai nakal mengu lum, men jilat, neng hisap pucuk kemerah-merahan. Tangan satunya me remas lembut gundukan yang satunya lagi dan me milin pucuknya.
Raymond mendongak tersenyum simpul. "Aku akan melakukanya sayang." Raymond semakin semangat untuk melakukan penyatuan yang ia rindukan sejak lama. Ia pun menekuk lebar-lebar lutut Amel mengarahkan miliknya ke tempat yang semestinya.
Perlahan Ray mulai menyatukan kedua milik mereka. Viona menggigit bibirnya dan mencengkram bahu sang suami di kala milik Raymond yang besar terbenam sempurna. Ia masih merasakan sakit meski dirinya sudah tidak lagi perawan.
Raymond mencium kembali bibir Viona dan mulai memaju mundurkan miliknya. Awalnya pelan lama kelamaan semakin cepat. Pelepasan pertama pun keluar berbarengan.
*****
"Sayang, bangun!" bisik Raymond perlahan membangunkan Viona dan sesekali mengusap pipi wanita yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Raymond tersenyum merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Kini wanita yang sedang ia tatap sudah menjadi miliknya lagi secara utuh. Kerinduannya terhadap diri Viona sudah terobati. "Bangun dulu, Yuk. Kamu harus makan, sayang." Ray kembali berusaha membangunkan Viona.
Viona merasa tidurnya terganggu, perlahan ia membuka mata dan mengucek-ngucek matanya. Viona sampai senyum-senyum sendiri melihat lelaki tampan itu sudah adalah Raymond. "Tampan sekali kamu, Ray. Apa aku mimpi melihat kamu di sini? Tadi aku bermimpi kamu menyentuhku." Viona kembali tidak mengingat kejadian tadi. Wajahnya merona.
Raymond tersenyum menggelengkan kepalanya. "Bangun, sayang! Kamu tidak mimpi, aku memang sudah menyentuhmu."
"Hah!" Viona memekik. Dia langsung melihat tubuhnya di balik selimut dan ternyata tidak menggunakan apa pun. Malu, Viona sangat malu sampai ia menutup wajahnya menggunakan selimut.
"Aku sudah menyiapkan air hangat supaya tubuhmu lebih relaks." Tanpa aba-aba, Raymond menggendong tubuh Viona.
"Akhh." pekiknya terkejut.
"Habisnya kaki lama, ini udah siang dan anak kita butuh asupan makanan. Pun dengan kamu yang juga harus segera makan, sayang." Raymond menurunkan tubuh Viona secara perlahan.
"Mau aku mandikan, hmmm?"
"Tidak, tidak, aku bisa sendiri! Sekarang kamu tunggu aku di luar ya! Please!" Viona memohon karena dia masih malu berada dalam kamar mandi berduaan meski sudah menjadi suami istri juga.
"Oke, sayang. Jangan lama!" Raymond mengecup singkat bibir istrinya dan berlalu pergi meninggalkan Viona dalam kamar mandi. Ia tidak mungkin berada di sana karena bisa saja akan terjadi sesuatu yang membuatnya lama.
Pagi ini, mereka mengawali harinya dengan keromantisan sebagai awal kisah baru yang akan mereka lewati bersama.
__ADS_1