Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Keputusan


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu, selama itu juga Viona merasa senang tinggal di apartemen yang Bram berikan untuknya. Apalagi adanya Bu Marni membuat ia merasa memiliki seorang ibu. Dia yang hendak menyiapkan makan siang pun teralihkan oleh suara bel berbunyi.


"Bi aku buka dulu pintunya, bibi lanjutkan ini saja, ya." pinta Viona menatap bi Marni.


"Iya, non. Siap." Dengan senang hati bi Marni mengikuti perkataan Viona.


Lalu, Viona beranjak ke arah pintu. Ia membuka pintunya dan ternyata yang datang adalah Bramantyo.


"Om, kebetulan sekali datang kesini, aku dan bibi memasak makanan, ayo kita makan bersama." Viona mengajak Bram makan, pria itu tersenyum dan mengangguk.


Mereka pun berlaku ke meja makan.


"Siang, Tuan." bi Marni membungkukkan sedikit kepalanya.


"Siang, bi." Lalu, Bram menggeser kursi dan duduk.


"Ayo, bi. Kita makan bersama."


"Maaf, Non. bibi sudah kenyang. Non sama Tuan saja yang makan, silahkan." Bi Marni mundur dan meninggalkan mereka makan bersama.


Berhubung makanan sudah tersedia, dan Bram menghargai usaha Viona, mereka makan bersama. Setelah selesai, mereka berada di ruang tamu dan juga di temani BI Marni.


"Viona, kedatangan saya kesini ingin memberitahukan sesuatu." Bram terlihat serius.


"Ada apa?" Viona dibuat penasaran, karena tidak biasanya Bram datang ke sana dan masuk ke dalam. Karena biasanya, hanya di luar saja tanpa mau masuk.


"Nak, mungkin ini sedikit mengenai masalah yang kamu hadapi." Nampak Bram menghelakan nafas berat, ia tidak enak harus mengatakan ini. Namun, dia juga tidak bisa membiarkan nya terlalu lama.


Viona masih setia mendengarkan tanpa mau menyela ucapan pria yang sudah baik padanya.


"Berhubung saya sudah membayar seluruh utang mu, maka kali ini saya meminta kamu membayarnya." Dan Bram pun mulai mengungkapkan niatnya.


Deg ....


Viona tertegun mendengar utang di sebut lagi. Itu artinya uang yang di keluarkan adakah sebuah utang yang harus ia bayar. Marni mengusap punggung Viona memberikan kekuatan agar gadis itu tidak kaget.

__ADS_1


"Saya tahu kau pasti kaget karena saya membahas ini lagi. Tapi, Nak, saya meminta mu membayarnya bukan dengan uang lagi." Dengan hati-hati Bram kembali bersuara. Ia memperhatikan raut wajah Viona yang menunduk murung.


Sebenarnya Bram tidak tega harus menggunakan uang itu agar Viona mau menerimanya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan demi bisa membayar seluruh utang yang ku miliki?" Viona tidak bisa lagi berdiam diri. Ia sadar jika tanpa bantuan pria di hadapannya tidak mungkin bisa lari dari mucikari seperti Louis.


Ia juga mengerti harus membayar seluruh uang yang Bram keluarkan demi menebusnya.


"Hanya menikah dengan anak saya, itu yang harus kamu lakukan."


Deg ....


Lagi-lagi Viona tertegun penuh keterkejutan.


"Me-menikah?" Tak pernah terbesit di pikiran Viona akan menikah muda. Tapi, jika mengingat kebaikan Bramantyo membuat Viona berhutang budi. Sudah banyak materi yang Bram berikan untuknya. Selama tinggal di sana tidak pernah sekalipun ia merasa tertekan, sangat menyenangkan.


"Sebagai ganti atas uang yang saya berikan, kamu harus mau menikah dengan anak saya, bagaimana?"


"Maafkan saya, Viona. Saya terpaksa melakukan ini agar kamu tetap berada di dalam pantauan saya."


"Tapi saya butuh jawaban sekarang juga. Jika kamu tidak mau menerima tawaran saya, maka kamu harus membayar uang yang saya keluarkan sebesar lima milyar!" suara Bramantyo terdengar tegas, dia pun mengancam Viona menggunakan uangnya.


Lagi-lagi Viona terhenyak penuh keterkejutan. Jika dia harus membayar uang yang di berikan kepada Louis, harus bayar pakai apa? Kerja pun tidak, punya uang pun tidak. Tapi, jika dia harus mengikuti penawaran dari Bramantyo, dia harus bersedia menikah dengan pria yang tidak ia ketahui siapa laki-laki itu.


"Bagaimana, Viona. Saya tidak banyak waktu lagi. Kau mau terima tawaran saya atau tidak? Jika tidak, terpaksa saya akan memenjarakan mu." Dan Bram kembali memberi ancaman agar Viona bersedia mengikuti tawaran dia.


"O, jangan penjarakan aku. Baiklah, aku akan menerima tawaran Anda," ucap Viona ketakutan masuk penjara. Daripada hidupnya dalam penjara yang seringkali ia lihat di televisi begitu menyeramkan, maka Viona lebih baik menerima tawaran ini.


Bramantyo tersenyum, "baiklah. Secepatnya kamu akan menikah dengan anak saya dan akan tinggal dengan kami."


"Masalah Viona sudah selesai di hadapi, kini giliran dengan Raymond," batin Bramantyo.


*****


Kediaman Bram.

__ADS_1


Raymond terlihat murung karena Elena tidak mau mengikuti perintahnya. Bahkan, istrinya pergi ke luar negeri hanay untuk mengejar impiannya sebagai model internasional.


Hingga suara papanya membuat Ray tersadar dari lamunannya. "Rupanya kau ada di taman, Ray."


Ray menoleh, ia menghelakan nafas. Pikirannya sudah bisa menebak apa yang akan di katakan papanya.


Bramantyo duduk di dekat Ray dan menatap ke depan, melihat ikan-ikan berenang di kolam buatan yang ada di bagian taman belakang rumah.


"Sepertinya kau terlihat murung. Ada apa?"


"Ck, papa jangan banyak tanya. Aku tahu papa tahu masalahku."


"Hmmm, sudah papa bilang jika Elena tidak akan bersedia mengandung anakmu. Malah dia pergi mengejar mimpinya, lalu kau, kau diam termenung sendirian."


"Terus apa mau Papa?"


Yang papa bilang kemarin, menikah dengan wanita pilihan Papa. Jika nanti kamu menyukainya kau bisa mempertahankan dia. Tapi jika tidak, bisa melepaskan dia."


Ray terkejut, itu artinya pernikahan mereka hanya akan bertahan beberapa lama saja. "Maksud Papa Ray bebas bercerai dari ya jika nanti Elena bisa hamil?"


"Terserah denganmu saja. Tapi Papa hanya berharap kau bisa menerima pilihan Papa ini. Dia anak baik, penurut, cantik, dan juga sopan."


"Tapi, hanya enam bulan pernikahan Ray dan dia bertahan. Setelah enam bulan aku akan menceraikannya. Jika dia bisa mengandung sebelum enam bulan Ray akan memperpanjang pernikahan itu sampai melahirkan, tapi tidak bisa maka jangan salahkan Ray melepaskannya." Penawaran pun Ray berikan. Dia tidak mungkin menerima ini semua dengan lapang dada di saat cintanya masih kepada Elena.


"Mana bisa begitu, setidaknya coba dulu sampai kalian benar-benar merasa nyaman." Bram sebenarnya keberatan atas permintaan Ray.


"Itu hanya syarat dariku, Pah. Sampai kapanpun Elena hanya akan menjadi istriku saja. Dan jangan harap dia bisa menggantikan Elena di hatiku. Bukannya Papa hanya menginginkan cucu? Jadi hanya sebatas anak saja."


"Dan selama itu pula aku tidak akan menyentuh wanita itu. Enak saja mau menggantikan posisi Elena dalam segala hal. Hanya Elena yang ku cinta meski dia belum memberikan haknya sebagai istri." Gumam Raymond dalam hati sudah merencanakan semuanya.


"Terserah kau saja. Tapi jangan menyesal jika nanti kau sungguh jatuh cinta padanya."


"Tidak akan!"


*****

__ADS_1



__ADS_2