Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Permintaan pertama dari Raymond


__ADS_3

Raymond melemparkan mangkuk berisi mie itu hingga pecah.


Prang ....


Viona tersentak kaget hingga menutup kedua telinganya.


"Makanan apa ini? Kau mau meracuniku dengan makanan kuning panjang itu? Bisa kah kau membuatkan makanan yang lebih layak untukku? Aku tidak suka makanan orang miskin itu!" sentak Ray menekankan setiap kata dan melototkan matanya.


Viona menunduk tidak berani menatap Ray. Sentakan Ray membuat ia takut tak enggan menatapnya. "Tapi, hanya ada makanan itu yang ada. Tidak ada apapun di dapur selain mie instan."


Yang di katakan Viona memang benar, kalau dari segi makanan tidak ada bahan masakan yang harus di masak. Tapi kalau sisa kue dari acara tadi pagi masih ada. Sedangkan yang di minta Ray adalah makanan yang di masak. Jadi apapun yang ada di dapur akan Viona masak sesuai yang di inginkan.


"Hanya itu? Kau yang bodoh tidak berinisiatif mencarikan ku makanan layak. Bisa 'kan kau membeli makanan di luar jika tidak ada makanan yang lain di rumah? Sekarang saya tidak mau tahu, kau harus mencarikan makanan untukku. Sekarang juga!" pinta Ray begitu menggema memarahi Viona.


Ia kembali duduk dengan kaki di naikkan ke atas meja sambil memegangi ponselnya. Namun, Viona bergeming. Masih berdiri di tempat tanpa melakukan pergerakan apapun.


Ray mendongak, "ngapain masih di situ? Buruan cari makanan yang enak buat ku!"


"Tapi uangnya?"


Ray mencebik, "ck, pakai uang mu sendiri. Dan jangan meminta padaku!" enggan sekali Ray memberikan uang kepada Viona.


"Kalau tidak ada uangnya mau membelinya pakai apa? Aku juga tidak punya uang," balas Viona memberanikan diri berkata panjang lebar. Mana mungkin ia keluar tanpa membawa uang sepeserpun. Kalau ada apa-apa dan mau beli apapun bagaimana? 'Kan gak mungkin membeli makanan menggunakan daun.


"Dasar miskin! Pokoknya aku tidak mau mau, kau harus tetap membelikan sesuatu untukku! Pergi cari makanan, sana!" Ray menendang kaki Viona secara perlahan.


Viona menghela nafas berat, ia pun bergegas pergi dari hadapan Ray. Namun, baru saja hendak melangkah, suara seseorang mengalihkan mereka.


"Ray, mama datang membawakan makanan untuk mu. Pasti kamu tidak bisa makan sembarangan bukan?" ucap Miranda sambil masuk ke dalam rumah membawa satu paper bag berisi makanan.

__ADS_1


"Mama tahu saja jika Ray belum makan, di sini tidak ada makanan dan dia juga tidak memasak sesuatu. Masa Ray yang kaya raya ini dikasih makan mie instan? Gak etis banget." Raymond mengeluhkan tentang hari ini kepada Miranda. Sekalian juga dia menyindir tentang Viona.


"Hei, kau. Hidangkan semua makanan ini untuk anakku! Sekarang juga!" ujar Miranda.


"Tapi kata Ray aku di suruh membeli sesuatu. Jadi Tante saja yang menyiapkan makanannya." Berani sekali Viona berkata seperti itu kepada mertuanya. Malah, wajahnya pun terlihat polos tidak memiliki rasa bersalah.


"Apa! Kau menyuruhku yang menyiapkan semuanya? Enak saja. Saya bukan pembantu, tapi kau yang harusnya menyiapkan makanan ini!" sentak Miranda bertolak pinggang.


Viona sih sebenarnya mau, tapi ia kembali menetapkan Ray. "Apa membeli makanannya tidak jadi? Padahal aku mau membelikan kamu makanan yang enak."


"Tidak! Saya tidak jadi memesan makanan dari kamu. Takutnya kau malah mencampurkan racun sianida ke dalam makanan yang akan ku konsumsi." Tolak Ray sambil membuka bungkus paper bag nya.


"Ya sudah, berarti aku juga tidak jadi pergi keluar," ucap Viona mencoba bersikap seperti yang seringkali ia lakukan, seakan tidak ada beban dalam hidupnya.


Dia hendak kembali masuk ke arah kamarnya, tapi di cegah oleh Miranda.


"Iya, tunggu sebentar." Dengan hati yang ikhlas dan mencoba sabar menghadapi sikap Ray maupun mertuanya, Viona melangkah ke dapur mengambilkan piring.


Lalu, ia kembali lagi setelah mengambilnya. "Ini piring yang kalian minta," ucap Viona sambil menyimpan beberapa piring ke atas meja.


Ray terbelalak mengetahui Viona membawa setengah lusin piring. "Hei, kau mau prasmanan menyiapkan piring sampai setengah lusin begitu? Masa gini aja tidak tahu, kita hanya berdua jadi hanya butuh dua piring." Ray tidak habis pikir pada kelakuan Viona. Ia menggeleng-gelengkan kepala saking kesalnya.


"Ya, mana tahu kalian membutuhkan banyak piring lagi. Jadi aku sekalian membawa setengah lusin saja biar tidak bolak-balik ke dapur hanya untuk mengambil sebuah piring." Tatapan Viona terlihat polos dan begitu tidak merasa bersalah.


Ray menggeram menahan kesal, bisa-bisanya wanita yang kini sudah resmi menjadi istri keduanya itu terus saja membalas perkataan mereka.


"Hei, kenapa sedari tadi kau terus melawan kami?" sentak Ray berdiri dari duduknya. Ia menoleh menatap tajam Viona dengan kesal yang yang menguasai jiwa.


"Aku tidak melawan mu. Hanya membalas perkataanmu saja," balas Viona yang juga sama-sama menatap Ray.

__ADS_1


"Itu sama saja kau melawan kita. Daripada kau ada di sini hanya membuatku sakit mata, mending kau enyah dari sini!" ujar Miranda ikut kesal.


"Enyah kemana?" tanya Viona keheranan.


Ray geram, tak segan dia menarik tangan Viona dan membawanya ke bagian belakang dapur. Viona hanya diam mengikuti, percuma berkata lagi karena sesungguhnya ia malas berdebat panjang lebar.


Ray mengakibatkan Viona, tapi gadis itu malah menarik baju Ray dan Ray ikut ke tarik olehnya.


Karena genggam tangan Eliza di baju Ray begitu kuat, Ray sampai ikutan melangkah maju ke depan. Kakinya tidak sengaja tersandung sesuatu dan membuat mereka terjatuh dengan Viona berada di bawah Ray.


"Aakhh ..."


Bruuuk!


Kedua orang itu saling tertegun kala bibir Ray mengecup pipi Viona. Keduanya terbelalak hingga suara lengkingan ibunya Viona menggelegar.


"Raymond!" pekik Miranda menarik kerah Raymond hingga pria itu mendongak atas dan cepat-cepat berdiri menghindari Viona.


Dan, Miranda juga mencengkram kuat dagu Viona di saat gadis itu hendak bangun. "Camkan baik-baik, kau tidak akan mudah mendapatkan Raymond. Kau itu miskin dan tidak tahu asal usulnya dari mana. Seharusnya wanita miskin seperti mu memang wajib berasa di tempat sampah!" pekik Miranda melepaskan cengkeramannya.


"Kalau kalian tidak suka wanita sampah sepertiku, aku tidak akan mudah memasuk ke dalam kehidupan mewah kalian kalau bukan karena terpaksa." Viona mencoba mungkinlah dirinya lagi.


"Terpaksa karena uang? Ck, picik sekali kau. Saya yakin kau suamiku begitu gagah menjadikanmu istrinya Raymond, dan malah memberikan rumah serta perhiasan mewah. Di bayar berapa kamu sama suami saya sampai harus menerima pernikahan ini? Pastinya kau ingin harta 'bukan?" sahut Miranda kesal.


Deg ....


*****


__ADS_1


__ADS_2