Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Khawatir


__ADS_3

Panik itulah yang Ray sedang rasakan saat ini. Tubuhnya gemetar melihat darah terus mengalir dari kepalanya Viona. Cepat-cepat Ray membopong tubuh Viona.


"Kenapa kau bodoh malah menjadikan dirimu sendiri perisai ku kalau sudah begini kau yang terluka, Viona!" sentak Ray masih bisa memarahi Viona tapi wajahnya terlihat panik.


Viona tersenyum, "aku tidak apa-apa, Ray. Ini hanya luka kecil saja. Aku tidak mungkin membiarkanmu terluka karena ku tahu papa dan mama mu pasti akan sangat mengkhawatirkan ku. Aku pun melakukan ini bukan karena ingin menyelamatkan mu, tapi karena aku berpikir lebih baik tiada daripada hidup tak ada yang peduli." Pikiran Viona pada saat itu memang seperti ini. Ia menjadikan dirinya sebagai pelindung karena ia tahu jika preman tadi akan memukul kepala, dan jika itu kena, Viona ingin mati saja.


"Tapi sayangnya aku tidak mati, sssttt ...." Viona meringis sembari memegang kepalanya menahan agar darahnya tidak keluar.


Ray terhenyak, ia pikir Viona melindunginya karena memang mengkhawatirkan dia dan ingin menyelesaikannya, tapi rupanya pikiran Ray salah.


"Bodoh, kau wanita bodoh yang aku kenal." Meski kaget, ia justru semakin kaget melihat Viona meringis. Ia segera mendudukkan Viona di jok, dan mencari sesuatu untuk mengikat kepala Viona di bagian yang terluka.


"Ray, kepalaku pusing," lirih Vio merasakan lemah dan juga pusing. Mungkin ini di akibatkan dari banyaknya darah yang ke luar.


Ray menatap nanar dan ia membuka kemejanya menyisakan kaos warna putih. Lalu, Ray melipatkan bajunya hingga membentuk sebuah lipatan panjang.


"Sini kepalamu!" perlahan Ray melilitkan kemejanya ke kepala yang terluka dan berharap darahnya berhenti ke luar. Viona pasrah dan rasanya ia sudah tidak kuat lagi menahan dingin di tubuhnya dan juga rasa pusing yang ia rasa.


"Dingin," lirih Viona begitu pelan dengan wajah semakin pucat. Ray cepat-cepat masuk dan ia segera menjalankan mobilnya dalam keadaan panik dan sesekali melirik Viona yang ternyata sudah memejamkan mata.


"Viona bangun! Kau jangan mati dulu, Vio." Tangan kiri Ray menepuk pipi Viona. Dingin, itulah yang ia rasakan saat kulit tangannya memegang pipi Viona. Tak ada jawaban dari Vio, Ray bertambah panik dan semakin cepat menjalankan mobilnya.


"Vio jangan mati dulu, aku belum menghukum mu karena sudah membuat ku panik." Lirih Ray sambil membelokkan mobilnya.


Setelah beberapa saat kemudian, dia telah sampai di rumah sakit. Ray turun dan segera membopong tubuh Viona. Dia berlari berteriak memanggil dokter.

__ADS_1


"Dokter ... Dokter, tolong istri saya, Dok!" pekik Ray sangatlah panik.


Dan Suster yang ada di sana segera berlari mengambil brangkar. "Baringkan di sini, Tuan."


Ray pun mengangguk dan perlahan membaringkan tubuhnya Viona. Dan ia menggenggam tangan Viona kemudian mereka berlari mendorong brangkar nya ke ruangan ICU.


Setibanya di sana, "maaf, Tuan. Anda tunggu di sini saja. Anda di larang masuk!" kata suster mencegah Ray yang hendak ikut masuk ke dalam.


"Baik, Suster. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya." Bahkan, kedua kalinya Ray menyebut Viona istri saking panik tidak terkendali.


"Akan kami usahakan, Tuan." Suster itupun menutup pintu ICU membiarkan Ray sendirian di ruang tunggu.


Pria itu berjalan lesu ke dekat kursi dan terduduk lesu. "Dia sudah menolongku, Tuhan selamatkan dia."


Ray mengucap wajahnya secara kasar dan mendongak menyenderkan kepalanya ke dinding seraya mata terpejam. Ia juga tidak memperdulikan keadaan dia yang berlumur darah. Yang ada di benaknya saat ini adalah keadaan Viona baik-baik saja.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?'


"Luka di kepalanya cukup besar dan juga habis tujuh jahitan. Keadaan tubuhnya pun saat ini sangat lemah. Dari pemeriksaan ia belum makan apapun sehingga membuatnya tak sadarkan diri, dan juga darah yang keluar begitu banyak dan mungkin juga membuatnya pusing. Itulah sebabnya istri Anda pingsan." Saat dokter memeriksa keadaan Viona, gadis itu memang tidak sadarkan diri. Dari sana lah dokter memastikan apa yang menurutnya benar.


Ray menghela nafas berat. "Tapi sekarang dia baik-baik saja, 'kan?"


"Baik-baik saja. Istri Anda sedang istirahat dan kami akan memindahkannya ke ruangan rawat inap. Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter nya pun pamit undur diri meninggalkan Ray.


Ray sedikit lega Viona sudah di tangani, dan dia menunggu suster memindahkan Viona ke ruang inap.

__ADS_1


*****


Setelah memindahkan Viona ke tempat yang berbeda, Ray masih setia diam di sana melihat keadaan Viona. Wajahnya tidak sepucat tadi dan tubuhnya pun tidak sedingin tadi.


Ray duduk di dekat Viona dan menyenderkan punggungnya ke kursi seraya melipatkan kedua tangannya di dada. Banyak kata ingin Ray ucapkan, dan juga tak sabar menunggu gadis itu sadar.


Hingga beberapa menit kemudian, Viona mulai mengerjapkan mata dan perlahan membuka matanya. Posisi tidurnya menyamping dengan bantal menghalangi di bagian punggung. Kenapa begitu, karena luka jahitan di kepalanya masih basah dan tidak boleh terkena tekanan atau benturan apapun sebelum kering. Tidurpun harus menyamping dulu atau tengkurap. Begitu kata dokter.


"Vi, kau sadar?" Ray mencondongkan tubuhnya dan melipat tangannya di ranjang pasien. Hingga kini mereka berdekatan.


Viona langsung menatap Ray, "kau di sini? Apa aku mimpi? Apa aku sudah mati?" pertanyaan apa itu? Viona malah menyangka dirinya sudah mati.


Tuk ....


Ray menyentil kening Viona sehingga Viona meringis mengusap keningnya. "Sakit tahu," rengek Viona mengerucutkan bibirnya.


"Dasar otak bodoh, ini nyata dan kau masih di dunia nyata." Lalu Ray berdiri, "berhubung kau sudah sadar, aku pulang dulu."


"Ya sudah pulang sana, lagian aku tidak memerlukan dirimu di sini." Dengan ketusnya Viona membalas sembari mencoba bangun dan duduk tegak. Matanya pun ia edarkan. "Rumah sakit, dia membawaku ke sini."


"Aku akan pulang sebentar dan berganti pakaian dulu. Lalu kembali lagi ke sini."


*****


"Hahaha akhirnya aku bisa mengusir wanita ja Lang itu. Enak saja dia mau menguasai putra dan suamiku. Dia pikir dia siapa? Ratu yang harus di hormati? Ck, tidak akan ku biarkan. Hmmm ... sekarang lebih baik jalan-jalan, shopping, dan ke salon." Miranda begitu girang tidak ada yang bisa menyaingi dia. Sampai kapanpun dirinya tidak akan membiarkan orang lain masuk kedalam kehidupan mereka selain derajatnya sama dengan keluarga suaminya. Kaya harus dengan orang kaya lagi dan orang miskin tidak akan ia biarkan masuk.

__ADS_1


Miranda pun hendak keluar karena hujannya sudah reda. Dia hendak masuk mobil tapi mobil yang di kendarai Ray masuk dan menghalangi jalannya. Dia memperhatikan putranya turun dari mobil. Namun, Miranda terbelalak melihat kaos putih Ray banyak darah.


"Raymond kau kenapa?"


__ADS_2