
Malam berganti hari dan hari pun berganti hari, Viona mencoba tetap bersikap biasa saja meski ia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia takut bertemu Ray dan entah kenapa enggan menatap atau bertemu dengan pria itu. Rasa takutnya lebih mendominan dibandingkan rasa yang ia rasakan.
Viona memasak lebih awal, dan setelah selesai menyiapkan ia cepat-cepat kembali masuk ke kamarnya.
Ray pun turun dengan setelan kerjanya. Namun, matanya mencari sosok yang selama beberapa hari ini membuatnya sulit memejamkan mata dan masih terbayang bagaimana rasa yang tercipta diantara mereka. Ray juga bingung kenapa akhir-akhir Viona tidak bisa di temui padahal dalam atap yang sama.
"Masakannya sudah siap, tapi Viona kemana?" gumam Ray melihat makanan sudah terhidang di atas meja. "Apa dia masih marah padaku?" sambungnya sambil menarik kursi makan dan mendudukkan bokongnya.
Rasanya ada yang kurang tat kala makan sendirian. Waktu yang biasan makan bersama dan kadang bercanda, kini mendadak sepi dan terasa tidak nyaman. Ray hanya memakan dua sendok makan saja, ia tidak berselera makan mengingat Viona enggan menemuinya.
Lalu, dengan lesu Ray berdiri meninggalkan meja makan. Pria itu pun beranjak pergi dari sana, tapi pikirannya selalu tertuju pada Viona. Ada rasa yang tak biasa yang ia rasakan.
Ray menghelakan nafas panjang, ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya. "Papa, aku harus menanyakan kepada papa kenapa papa membeli Viona. Ada apa sebenarnya?" gumam Ray segera melajukan kendaraannya menuju kantor. Bahkan, setiap bekerja pun pikirannya selalu terbayang pada Viona dan Viona.
Viona mendengar suara mobil Ray sudah pergi, dia pun segera berlari mengintip suaminya. "Ray, aku belum siap bertemu kamu lagi. Aku masih takut, Ray. Aku takut perasaanku bertambah besar di saat kamu hanya mencintai istrimu seorang. Lebih baik aku menghindar dan biarlah ku tanggung sendiri apa yang terjadi kemarin malam. Meskipun aku tidak rela kau mengambilnya secara paksa, tapi aku sadar kalau kau adalah suamiku." Viona segera menghapus air matanya dan hendak masuk lagi.
Namun, langkahnya kembali terhenti ketika suara mobil berhenti di pekarangan rumahnya. Viona melihat siapa yang datang, dan rupanya mertuanya beserta seorang wanita cantik dengan pakaian yang begitu ngetat pas di tubuhnya.
"Siapa orang yang bersama mama mertua?" gumam Viona dalam hati memperhatikan betapa cantiknya penampilan wanita itu.
"Hei, miskin kemarilah!" Miranda meminta Viona mendekatinya. Dan Viona pun menurut saja. Dia berjalan mendekati mertuanya, "iya."
"Bawakan semua barang-barang milik Elena ke kamarnya Raymond! Sekarang juga!" ujar Miranda membuat Viona mematung penuh tanda tanya. Apalagi mendengar nama Elena membuat jantung Viona seketika tiba-tiba berhenti.
"Elena! Nama istrinya Ray. Apa mungkin?" Viona menatap wanita yang ada di samping mertusnya, dan ia memikirkan jika wanita itu adalah Elena.
__ADS_1
"Hei, ngapain kau masih bengong? Buruan bawa barang-barang ku masuk!" sentak wanita bernama Elena menatap tidak suka pada Viona.
"Ah, iya." Meski Viona penasaran, tapi ia tidak banyak tanya dan segera menurunkan barang-barang Elena.
"Ayo sayang, kita masuk. Pasti kamu lelah setelah melakukan perjalanan. Kamu mau istirahat dulu atau mau makan dulu?" tanya Miranda begitu ramah dan merangkul pundak menantu kesayangannya.
"Sebenarnya aku lelah, Mah. Tapi perutku lapar sekali. Makan saja dulu. Oh iya, Ray pasti sedang bekerja, aku minta jangan kasih tahu dia dulu, ya. Aku mau buat kejutan atas kedatangan ku." Mereka berdua berjalan masuk tapi pembicaraan mereka masih bisa dengar oleh Viona.
Viona masih berdiri menyaksikan wanita yang suaminya cintai pulang. Seketika ia merasa sesak dan ingin menangis mengetahui pernikahan mereka pasti akan secepatnya berakhir.
"Ray, dia sudah kembali. Apa kau akan meninggalkanku setelah apa yang terjadi? Kenapa rasanya aku tidak rela kamu meninggalkanku?" gumam Viona sembari menurunkan koper dan menunduk menariknya masuk ke dalam.
Setibanya di dalam, Viona berhenti.
Miranda maupun Elena mengerutkan keningnya. "Bawa masuk ke kamarnya Raymond! Kau tuli? Saya tadi bilang langsung bawa ke kamarnya Raymond!" kata Miranda menggeram kesal.
"Siapa sih dia, Mah? Apa dia pembantu Raymond? Kok tumben-tumbenan Ray menyewa pembantu wanita muda?" Elena menatap sinis dan tidak suka ada wanita yang ia nilai begitu cantik.
"Ini loh, orang ketiga dalam rumahtangga kalian. Tapi kamu tenang saja, Ray tidak akan pernah menyukai wanita miskin ini. Dia hanya akan tetap mencintaimu, buktinya sampai saat ini Ray tidur terpisah dan menjadikannya pembantunya."
"Jadi dia wanita yang menjadi istri sirinya Raymond?" Elena terbelalak terkejut mengetahui wanita ini madunya. Dia tidak menyangka kalau wanita itu sangatlah cantik dan terlihat masih muda. Dia yang seusia Ray kalah cantik.
Viona mengabaikan pembicaraan mereka dan memilih membawa koper ke dalam kamar suaminya. Setibanya di dalam, Viona menyimpan kopernya dan memperhatikan setiap sudut ruangan yang sering di gunakan oleh suaminya.
"Bahkan aku belum pernah masuk kesini dan ini baru pertama kalinya aku masuk kamar kamu. Ray, kenapa rasanya aku tidak rela kamu berbagi kamar dengan dia? Apa aku egois ingin memilikimu seutuhnya? Tapi aku harus tahu diri kalau kamu akan sulit ku gapai." Helaan nafas berat keluar dari mulut Viona.
__ADS_1
*****
Sedangkan di kantor, Ray tergesa menuju ruangan papanya.
"Pah!" Tanpa mengetuk pintu dulu, Raymond langsung membuka pintu. Bram yang tengah serius dengan kerjaannya mendongak.
"Ray, ada apa?"
Raymond masuk dan langsung duduk di hadapannya papanya. "Ray ingin menanyakan tentang Viona." Dia langsung to the poin tanpa basa-basi.
"Viona? Ada dengan dia?" Bram melepaskan kacamatanya dan serius menatap Ray.
"Apa tujuan papa menikahkan Ray dengan Viona? Dan papa kenal dengannya dari mana? Tolong jawab yang jujur, Pah!" tanya Ray menatap bapaknya penuh permohonan agar orang yang ada di hadapannya ini memberitahu segalanya.
"Jadi kau ingin tahu?" Ray mengangguk.
Bram pun mulai serius, "Papa bertemu Fiona di jalan tanpa sengaja. Gadis itu ketakutan sedang dipaksa oleh dua orang pria bertubuh besar masuk ke dalam mobilnya. Saat papa turun dan menanyakan apa yang terjadi, ternyata Viona sedang berusaha kabur dari seorang mucikari. Viona bilang, dia dijual oleh keluarganya dan akan dijadikan sebagai wanita malam."
Deg ....
Ray tertegun, "di jual?"
"Papa membeli Fiona seharga beli 5 miliar demi membebaskan dia dari jerat mucikari yang mungkin saja akan membuat hidup Viona hancur. Dan kenapa papa menikahkan mu dengannya? Karena papa yakin jika dia wanita terbaik untukmu. Papa hanya berharap kau dan Viona saling menyukai dan mempertahankan pernikahan kalian. Papa hanya ingin yang terbaik untukmu, Ray. Viona gadis baik-baik. Dia seorang yatim piatu dan tidak memiliki sanak saudara lagi. Papa melihat dia kembali teringat pada adikmu. Papa kembali teringat adikmu yang nekat bunuh diri karena adikmu mengalami pelecehan. Dan itu tidak ingin lagi terjadi pada gadis malang itu. Tolong lindungi dia dari orang-orang yang ingin menyakitinya, Ray."
Ray mematung.
__ADS_1