Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Rencana Elena


__ADS_3

"Anak itu bukannya pulang ke rumah malah keluyuran gak jelas dengan Elena. Entah kemana mereka pergi, entah apa yang mereka lakukan saat ini, sofa saja Ray tidak terjebak oleh wanita itu. Ingin sekali ku mengungkapkan jika Elena telah berselingkuh, tapi Ray enggan percaya." Bram menggerutu kesal. Ia menerka-nerka apa yang sedang terjadi pada mereka.


"Tidak, Ray tidak boleh jatuh terlalu dalam padanya. Aku harus bertindak," ujar Bram langsung berdiri dari duduknya.


"Pah, mau kemana? Viona baru selesai masak buat bekal makan malam papa dan mama," Viona datang sembari membawa satu rantang makanan yang tadi ia masak buat Raymond. Namun, berhubung Ray tidak ada, iapun membagi makanannya kepada mertuanya.


"Papa harus pergi dulu karena percuma menunggu Raymond di sini jika dia tak kunjung kembali. Oh iya, terima kasih makanannya." Bram tersenyum dan mengambil rantang yang ada di atas meja. "Papa pergi dulu, nanti kalau Raymond pulang kamu suruh dia pulang ke rumah dulu. Dan juga bilang padanya kalau barang-barang Elena sudah di ambil dan di pindahkan ke rumah."


"Baik, Pah. Nanti Vio sampaikan." Meski heran dan bertanya-tanya mengenai apa yang dilakukan, Viona enggan menanyakan. Dia tidak mungkin terlalu ikut campur dalam urusan mereka karena ia takut, semakin dirinya ikut campur semakin ia terjatuh dalam kenyamanan bersama suaminya.


*****


"Bagaimana Ele? Kau berhasil membuat Raymond tertidur?" tanya Cristin, orang yang ternyata menjadi asisten sekaligus kekasihnya Elena. Kedua orang itu berada di dalam satu kamar dan tak jauh dengan kamar hotel yang Elena pesan.


"Tentu saja, sesuai yang kita sepakati sayang. Kita akan melakukan drama ini agar mereka percaya kalau nanti aku akan hamil. Ya, meskipun ku tahu kalau tak akan mungkin bagiku untuk bisa hamil karena rahimku sudah tidak ada dan aku pun tidak mungkin menyukai pria itu."


"Ah, kau memang yang terbaik. Kalau soal hamil, kau bisa pakai bantal, atau apapun itu agar perutmu berubah besar. Untuk anaknya, kamu juga bisa meminta anak dari seorang perempuan yang tidak menginginkan kehadiran anaknya. Dan pastikan anak itu laki-laki agar menjadi penerus keluarga itu. Nah, kalau perlu, kamu juga bisa meminta sebagian harta yang mereka miliki atas keberhasilan kehamilan mu. Bagaimana? Bagus bukan ide ku?"


"Tentu saja sangatlah luar biasa. Karena dari awal, aku menjerat Raymond hanya ingin melambungkan karirku sebagai model dan juga menutupi skandal yang kita perbuat agar tidak ketahuan kalau aku ini sebenarnya tidak suka pria. Sekalipun banyak para pria yang menginginkan tubuhku, semua itu hanya kulakukan demi kelancaran karir yang sedang kujalani. Tapi tetap saja orang yang ku cintai adalah kamu." Elena merebahkan kepalanya di pangkuan Cristin. Mungkin karena dulu terlahir dan di besarkan di tempat orang-orang penyuka sesama, Elena sudah terbiasa dan penyakitnya ini sudah mendarah daging.


"Jangan lama-lama di sini, kau harus kembali lagi ke sama Raymond dan pastikan saat dia bangun kalau ada artinya seolah-olah kalian sudah melakukan hubungan suami istri. Pasti Raymond akan percaya karena dia terlalu mencintaimu, 'kan."


"Ah, kau benar sekali." Lalu, Elena bangun dan duduk kembali. "Kalai begitu aku akan ke sana dulu. 'Kan ku gunakan saran yang kamu miliki demi bisa menguasai semua apa yang mereka miliki." Dan Elena pun berdiri di ikuti oleh Cristin yang juga ikut berdiri mengantarkan Elena ke luar.

__ADS_1


Setibanya di dalam kamar yang berbeda, Elena mengunci pintu dan melihat Raymond yang sedang tertidur pulas akibat minuman yang Elena berikan. Minuman bercampur obat tidur yang Elena berikan untuk menjebak suaminya sendiri demi misi yang akan ia lakukan.


Elena duduk di tepi ranjang menatap wajah Raymond. Ia menelisik setiap pahatan sempurna wajah tampan nan rupawan Raymond. Namun, tak ada sedikitpun dalam hatinya rasa ketertarikan yang ia rasakan kepada Ray.


"Kau tampan, kau pintar, kau kaya, kau juga sempurna, tapi aku tidak menyukaimu, Ray." Elena melepaskan setiap pakaiannya dan berbaring di samping Ray. "Kita akan bangun seolah telah terjadi sesuatu diantara kita." Lalu, Elena memejamkan mata dan tertidur di samping Ray.


*****


Ray mulai mengerjapkan matanya, ia pun membuka mata secara sempurna dan menatap langit-langit kamar. "Bukan di kamar ku," gumam Ray memperhatikan sekitar.


Perutnya terasa berat dan memperhatikan ke samping.


Deg ....


"Apa yang terjadi? Kok aku tidak ingat apapun selain lelah." Ray mendudukkan tubuhnya dan ia juga memperhatikan dirinya. "Tidak pakai baju?" matanya melotot saat tangannya menyibak selimut dan melihat dirinya tanpa sehelai benangpun. "Kapan ini terjadi?" Bingung, itulah yang saat ini Ray rasakan.


Elena pun ikut terbangun, "hmmm, sayang. Kau sudah bangun?" Elena langsung memeluk perut Ray.


"Kenapa kita bisa seperti ini, ya? Kok aku tidak ingat apapun." Ray bertanya seraya tangannya memijat kening yang terasa pening.


"Jadi kau meragukan apa yang kita lakukan?" Elena langsung duduk sambil menarik selimutnya. Wajahnya terlihat merah dan menunjukan kekesalan.


"Aku bukan meragukan, cuman merasa aneh saja."

__ADS_1


"Itu sama saja kau meragukan kegiatan panas kita, Ray. Kau jahat tidak mengingat apa yang terjadi pada kita tadi hiks hiks hiks," ucap Elena menangis agar Ray percaya.


"Eh, bukan begitu. Maaf kalau aku tidak ingat, mungkin karena lelahnya jadi aku tidak mengingatnya." Ray menarik Elena ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkannya.


"Masa sih kita melakukannya?"


*****


Malam telah tiba, tapi hati Viona tetap gelisah kepikiran Raymond terus. Ia yang sedari tadi terbaring di atas kasur gelisah tidak menentu berguling ke sana ke mari.


"Tidurlah Viona, ini sudah malam. Apa yang kamu harapkan dari Raymond, dia tidak akan pulang ke sini. Kau harus ingat jika Ray tidak akan pulang ke sini dan akan menghabiskan waktunya bersama Elena.


Karena tidak bisa tidur, Viona beranjak keluar kamar. Dan si saat melangkah, ia mendengar suara bel berbunyi.


Tong ... tong.


"Itu pasti Raymond." Dengan semangat, Viona sedikit berlari ke arah depan. Ia segera memutar kunci pintu dan membukanya.


Namun, ia tertegun menyadari bahwa orang yang datang bukanlah Raymond.


"Ka-kau!" Viona melotot penuh keterkejutan, dan ia bertanya darimana pria itu mengetahui alamat rumahnya.


Pria itu tersenyum, "hai Viona sayang. Kita bertemu lagi."

__ADS_1


"Mau apa kau datang kesini? Pergi!"


__ADS_2