Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Keputusan Viona


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Cafe.


"Informasi apa yang kau dapatkan dari pencarian selama tiga bulan ini?" tanya Bram kepada pria yang ia sewa untuk menyelidiki Elena.


"Ini, Tuan. Semuanya lengkap di sana." Pria itu memberikan sebuah amplop coklat yang entah apa isinya.


"Apa ini?" tanya Bram lagi sambil mengambil amplopnya dan penasaran dengan isinya.


"Itu data mengenai menantu Anda, Elena. Nona Elena ternyata sering menghabiskan malam dengan rekan-rekan atasannya agar karir dia melambung tinggi. Nona Elena juga memiliki sisi gelap, yaitu tidak menyukai pria.


Deg ....


"Maksud kamu?" Bram terhenyak mendengar perkataan orang suruhannya. Dia juga mengeluarkan semua isi yang ada di dalam amplop dan melihat setiap potret kebersamaan Elena bersama beberapa pria terlihat mesra tapi raut wajahnya seakan jijik. Potret tersebut menunjukkan Elena masuk ke dalam kamar hotel di tempat berbeda dan juga dengan pria yang berbeda juga.


"Maaf, Tuan. Nona Elena seorang lesbi. Dia memiliki hubungan dengan banyak pria hanya untuk menjerat para petinggi demi kelancaran karirnya sebagai model. Nona Elena menikahi putra Anda hanya untuk menjaga reputasinya sebagai model atas skandal yang dia buat. Dia memanfaatkan cinta putra Anda untuk kepentingan pribadi dan tentunya untuk menutupi perilaku nona Elena yang menyimpang. Dan satu lagi, Tuan." Pria itu menjeda sebentar ucapannya menghirup udara.


Bram menunggu kelanjutannya dan ia menatap pria yang sedang duduk di hadapannya. "Apa?"


"Nona Elena mandul karena rahimnya sudah di angkat sejak tiga tahun yang lalu akibat kanker rahim yang dialaminya."


"Ya Tuhan, sedetail itu dia menipuku dan keluarga ku? Brengsek wanita itu. Lalu siapa kekasih Elena yang sekarang?" tanya Bram begitu murka mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


"Maaf Tuan, orang itu adalah asisten nya sendiri. Nona Cristin. Mereka sama-sama penyuka sesama jenis dari sejak mereka kecil. Karena kemungkinan, mereka di besarkan dari lingkungan yang juga penyuka sesama."


"Shiit ... kecolongan. Bisa-bisanya Raymond terkecoh dan malah mencintai wanita seperti itu. Pantas saja saya melihat kejanggalan dalam diri Elena. Ternyata inilah penyebabnya." Bram di buat geram atas tindakan Elena.


"Dan untuk kecelakaan yang terjadi?" Bram menanyakan tentang kecelakaan mobilnya yang di kendarai oleh karyawannya sendiri.


"Menurut Cctv yang ada di sekitar, mobil yang berlawanan arah begitu kencang menjalankan kendaraannya dan sengaja menabrakkannya ke kendaraan milik Anda. Menurut pengakuan sopir truk itu, dia di perintahkan oleh seseorang yang ingin mencelakai Anda."

__ADS_1


"Siapa orang itu? Berani sekali ingin melenyapkan ku." Bram geram.


"Menurut informasi yang saya dapat, orang itu adalah menantu Anda, Nona Elena." Pria sewaan Bram berkata serius tanpa keraguan dan ia juga menunjukan bukti-buktinya dan juga sebuah rekaman pengakuan dari orang-orang yang terlibat.


Rahang Bram mengeras dengan sorot mata merah penuh amarah. "Elena, kau keterlaluan!"


*****


Kediaman Bram.


Elena begitu manja kepada Raymond dan ia gunakan kesempatan ini untuk menyuruh Ray.


"Aku mau kamu kupaskan jeruk itu! Bijinya pisahkan!" pinta Elena sambil kakinya selonjoran di atas kursi.


Ray menghela nafas panjang, ia kesal karena dari tadi Elena manjanya berlebihan.


"Kenapa tidak kamu saja yang melakukannya, Elena? Aku capek dari tadi terus di suruh ini itu." Ray kesal dan menyimpan kasar jeruknya ke piring.


"Eh, bukan begitu maksudku." Ray panik dan ia mencoba menenangkan Elena.


"Ada apa sih berisik banget?" tanya Miranda sudah terlihat rapi hendak mau pergi.


"Ray jahat, Mah. Dia tidak mau menuruti keinginan calon anaknya hiks hiks, padahal itu keinginan anaknya bukan aku," tutur Elena mengadu.


"Ray, kamu harus peka terhadap istrimu. Semua ibu hamil memang sering sensitif dan sering menginginkan hal apapun karena bawaan bayinya. Kamu sebagai calon ayah harus siaga menjaga dan mengayomi istrimu. Turuti semua keinginan ibu hamil!" Miranda menekankan setiap katanya agar sang putra mengerti.


Ray menghela nafas, "iya, Mah."


"Kau jaga Elena, Mama mau keluar sebentar. Mau cari susu buat ibu hamil." Miranda pun berlalu pergi setelah mendapatkan anggukan dari Ray.

__ADS_1


"Tuh, kamu dengar 'kan?" ujar Elena protes.


"Iya, maaf."


*****


Kediaman Viona.


Wanita berstatus istri kedua itu hanya bisa terdiam termenung dengan derai air matanya membasahi wajah cantiknya. Ia tak menyangka kalau suaminya sedang berbahagia dan melupakan dirinya.


"Apa aku begitu tidak berarti baginya? Tak ada pesan ataupun sambungan telpon yang ku terima dari dia. Apa pernikahan enam bulan ini akan beneran berakhir sesuai isi perjanjian. Kalau istri pertama Ray hamil maka Ray akan mengakhiri pernikahan siri mereka." Viona menunduk menutupi wajahnya menangis tersedu-sedu.


Hatinya sakit menghadapi kenyataan kalau ia harus berpisah juga. Matanya memperhatikan kamar Ray yang akhir-akhir ini menjadi saksi kebersamaan mereka berdua. Tercipta banyak kenangan di kamar itu hingga ia menyerahkan segalanya untuk Raymond. Cinta, tubuh, kepercayaan, kesetiaan, dan seluruh jiwa raga ia serahkan untuk Ray. Namun, apa yang terjadi saat ini di luar dugaannya. Ternyata Ray tak sedikitpun memperdulikannya.


Viona berdiri memperhatikan lemari pakaian milik Ray, ia selalu ingin di dekat Ray dan ingin menghirup aroma suaminya hanya bisa menatap nanar pakaian Ray yang tersusun rapi. Tangan meraba setiap baju yang tergantung hingga matanya menemukan sebuah dokumen.


Viona tertegun, ia tahu dokumen itu isinya apa. Surat perjanjian pernikahan mereka yang akan berakhir.


"Jika waktu itu tiba, kau harus tandatangani surat perjanjian ini. Dan itu artinya kau harus pergi dari kehidupanku setelah enam bulan dan setelah Elena kembali."


Viona memejamkan mata menahan Isak tangis dengan cara mengigit bibirnya. "*Aku pikir kamu sudah membakar surat ini setelah kamu menyentuhku. Tapi ternyata ini masih tersimpan rapi. Dan itu artinya kamu memang akan menceraikanmu, Ray. Aku yang bodoh begitu percaya pada ucapan mu."


"Aku tidak akan meninggalkan mu, Viona. Kamu milikku dan apa pun yang terjadi kamu akan tetap menjadi istriku. Untuk surat perjanjian itu, aku akan membakarnya dan jika masih ada, itu artinya aku menginginkan berpisah*."


Perkataan manis Ray kembali terngiang di benaknya. Ia tidak sanggup lagi berjuang seorang diri dalam cinta yang ia miliki, tapi hatinya terluka sedalam ini.


Viona menghapus air matanya dan ia mencari sesuatu di laci. Setelah menemukannya, dia menuliskan sesuatu di kertas dan juga Viona menandatangani surat perjanjian itu.


"Berakhir sudah, Ray. Aku akan pergi dari kehidupan mu dan rumah tanggamu. Karena aku sadar, sampai kapanpun aku hanyalah bayangan yang tidak akan menjadi nyata."

__ADS_1


Pergi, Viona memutuskan pergi dan membawa janin yang ia kandung tanpa memberitahukan Ray dulu. Melihat Ray bahagia mengetahui Elena hamil, membuat Ray merasa jika pria itu tidak mungkin menerima dirinya lagi dan anaknya.


Lebih baik pergi daripada tidak di hargai, lebih baik menjauh daripada bertahan penuh kesakitan dan air mata.


__ADS_2