Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Kepanikan Ray


__ADS_3

Viona menyimpan segala macam perhiasan, surat rumah dan tanah yang menjadi mas kawinnya di atas dokumen surat perjanjian. Dia juga menyimpan ponsel yang Ray belikan, Viona juga menyimpan kartu debit yang juga di berikan oleh Ray. Dia hanya membawa beberapa baju di dalam tas ransel dan juga uang sebesar sepuluh juta untuk keperluan dirinya. Tidak ada apapun yang Viona bawa dari rumah itu, hanya uang yang memang nantinya akan ia butuhkan.


Viona menghela nafas berat tertunduk sedih. "Kamu harus kuat Vio, jangan pernah berharap apapun dari pernikahan ini. Sekarang kamu harus pergi dan hidup berdua dengan calon anakmu kelak." Viona memperhatikan kamar Ray dan ia pun perlahan mundur sambil menjinjing tas ranselnya. Tangannya menggapai gagang pintu dan menutup kamar itu.


Viona melangkah meninggalkan rumah dengan hati yang terluka dan langkah yang terasa berat. Pas di depan gerbang, ia melihat mobil mertuanya berhenti. Turunlah Miranda dan berjalan angkuh.


"Kebetulan sekali bertemu denganmu. Saya peringatkan padamu untuk menjauhi Raymond dan keluarga kita! Kau tidak di butuhkan lagi karena Ray sudah bahagia bersama istri dan calon anaknya. Sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!" Miranda menunjuk arah ke luar gerbang meminta Viona pergi.


Viona tersenyum ramah, "Nyonya tenang saja, aku akan pergi dari sini sebelum Nyonya menyuruhku. Dan untuk kehamilan Elena, aku ucapkan selamat. Aku sadar diri kalau aku bukanlah orang yang tepat untuk berdampingan dengan putra Anda. Cuman, kalau boleh aku berkata, aku sungguh mencintai putra Anda, dan tolong sampaikan maaf ku kepada Ray karena kehadiranku sudah membuat kekacauan dalam rumahtangga. Kalau begitu aku pamit dulu nyonya," ujar Viona tidak terlihat sedih ataupun marah. Malah dia berkata begitu lembut. Dan Viona juga mengulurkan tangannya menggapai tangan Miranda lalu menciumnya sebagai bakti dia terhadap mertuanya.


"Maafkan aku sudah membuat Mama marah dan juga maafkan aku karena aku masuk ke dalam kehidupan kalian. Semoga dengan tidak adanya aku dalam hidup kalian, keluarga kalian akan selalu bahagia. Aku minta maaf, maaf." Dengan tulus Viona meminta maaf kepada Miranda.


Perlakuan Viona membuat Miranda tertegun karena baru pertama kalinya ada orang yang mencium tangannya penuh hormat. Bahkan Ray dan Elena pun tidak pernah melakukan ini padanya.


Viona melepaskan tangan dan menatap Miranda sambil tersenyum manis nan tulus. "Jaga diri Mama dan jangan lupa untuk tetap makan makanan sehat. Aku pergi dulu." Viona pun melangkah keluar gerbang dan ia masuk ke dalam taksi online yang sebelumnya telah ia pesan lewat ponsel tapi ponselnya tidak di bawa untuk tidak meninggalkan jejak.


Miranda memperhatikan Viona hingga mobil itu melaju meninggalkan tempat. "Kenapa aku merasa kehilangan? Ada apa dengan ku?" Miranda merasa ada yang berbeda. "Ah tidak, harusnya aku senang wanita miskin itu pergi dari kehidupan Ray dan kami."


*****


Ray memperhatikan Elena sudah tertidur pulas. Ia mengusap wajahnya secara kasar karena kesal wanita itu minta ini itu dan dia harus melakukan apa pun demi Elena. Anehnya, bukan senang karena Elena selalu bilang demi anaknya, Ray justru merasa kesal dan malah berpikir kalau Elena sedang ngidam yang di buat-buat. Tapi demi menjaga emosi istrinya, Ray mengikuti apa mau Elena.


Setelah Elena tidur, Ray keluar kamar dan mencari ponselnya karena ia ingin memesan makanan lewat salah satu aplikasi. Ray ke ruangan keluarga dan mengambil ponselnya yang mati dan sedang di cas. Ia pun menekan tombol power hingga ponselnya menyala.

__ADS_1


Setelah ponselnya menyala, banyak sekali panggilan wa tak terjawab dan juga banyak pesan masuk. Seketika Ray terpaku melihat siapa yang menghubunginya.


Deg ....


"Viona!" Seketika ia tertegun menyadari kesalahannya karena tidak memberikan kabar selama tiga hari dan tidak menemui Viona.


Ray membuka setiap pesan yang Viona kirimkan dan hatinya mendadak risau.


( Ray, kamu kemana? Kok ponselnya tidak aktif? Apa kamu akan pulang kesini? )


( Jangan lupa makan dan tidur tepat waktu ya, Rey. Jaga kesehatanmu, aku menunggumu di rumah. )


( Raymond, apa kamu akan pulang? Aku tunggu kamu pulang ya, aku sudah memasak makanan kesukaan kamu. )


( Ray, ini sudah tiga hari kamu tidak ada kabar. Telpon atau pesan pun tidak ada. Pasti kamu sedang sibuk bekerja ya, kamu bilang sedang banyak kerjaan. )


( Ray, maaf kalau selama ini aku mengganggu mu. Mungkin ini pesan terakhir yang aku kirim untuk kamu. Aku pergi, Ray. )


Deg ....


"Pesan terakhir, pergi? Pergi kemana? Tidak, apa jangan-jangan terjadi sesuatu kepada Viona?" Ray panik dan ia segera berlari keluar rumah hingga ia menubruk tubuh mamanya.


"Astaga Raymond! Kau itu kenapa sih?"

__ADS_1


Raymond tidak mendengarkan, ia malah masuk ke dalam mobil dengan tergesa dan cepat-cepat pergi dari sana menuju rumah yang Viona tinggali.


"Raymond, kau mau kemana!" pekik Miranda merasa heran dan aneh melihat Ray yang tergesa.


*****


Di dalam mobil, Ray tidak tenang. Ia melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi supaya cepat sampai. "Viona, kamu jangan aneh-aneh. Maafkan aku, Vi. Aku sempat melupakanmu, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengabaikan mu, Vi." Mata Ray memerah menahan tangis saking takutnya Viona pergi.


Setibanya di depan rumah, Ray segera turun dan berlari masuk. "Viona, kamu dimana, Vi? Aku pulang, Viona." pekik Raymond sambil membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci.


Namun, rumah terlihat sangat rapi, bersih, dan juga sepi. Raymond berlari ke dapur, "Viona." Tidak ada siapapun di dapur dan juga di kamar belakang tidak ada.


Ray kembali berlari menyusuri setiap tempat yang ada di lantai bawah, sepi itulah yang Ray rasakan. "Viona jangan main-main, kamu dimana Viona?" pekik Ray menegang kepalanya sangat panik tidak menemukan Viona dimana-mana. Ia mendongak dan lantai atas belum ia periksa. Ray langsung saja berlari menaiki anak tangga mencari keberadaan Viona di setiap tempat yang ada di lantai atas. Hanya satu tempat yang belum Ray lihat, kamar dia yang satu bulan ini menjadi kamar mereka.


"Viona!" ujar Ray saat membuka pintu kamar. Tidak ada siapapun di sana. Ray sudah kebingungan dan sudah terlihat kacau. Dia melangkah masuk dengan langkah lesu dan jantung berdebar kencang.


Mata Ray memperhatikan sekitar dan ia baru kembali setelah tiga hari tidak pulang. Dia duduk lesu di tepi ranjang. "Viona, kamu dimana?" gumam Ray takut sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi. Matanya menelisik penjuru tempat dan netra matanya melihat setumpuk barang di atas meja lampu tidur.


Deg ....


Seketika Rey mematung, tangannya cepat-cepat mengambilnya dan ia terpaku pada kenyataan.


"Tidak, ini tidak mungkin!"

__ADS_1


******



__ADS_2