
Sebagai bakti Viona yang pertama, gadis cantik itu menyiapkan makanan untuk Raymond. Ia tahu kalau Ray belum makan dari tadi pagi. Meskipun Ray tidak menyukai keberadaan dia di sisinya, tapi mengenai makanan dan pelayanan istri melayani suami selain dari kontak fisik, Viona dengan ikhlas melakukannya.
Pria yang hendak ia layani pun berjalan ke meja makan. Mata Raymond menatap sebentar ke arah Viona yang sedang fokus menata makanan. Raymond nampak duduk dengan gaya yang terlihat berwibawa.
Mamanya Ray pun kembali ikut bergabung ingin memberikan pelajaran kepada Viona. Ia masih marah atas perlakuan suaminya yang selalu membela gadis itu.
"Mah, tidak pulang? Ray pikir Mama pulang ke rumah utama," ucap Ray heran. Ia pikir mamanya pulang dan tidak ada di sana setelah tadi dari kamarnya. Rupanya masih ada dan ikut bergabung lagi di meja makan.
"Mama tidak akan pulang begitu saja. Ada hal yang ingin mama lakukan di sini." Namun, tatapan Miranda tertuju kepada Viona. Dia pun memperhatikan Gadis itu dari atas hingga bawah. Apa lagi rambut Viona basa membuat Miranda kembali curiga. Dia balik menatap Ray.
"Katanya kau tidak akan menyentuh gadis miskin itu. Tapi nyatanya kau membuat dia mandi keramas," ujar Miranda kesal. Aneh, Baru kali ini ada seorang ibu begitu kepo dan selalu ikut campur urusan anaknya.
"Tidak, Mah. Aku 'kan sudah bilang tidak menyentuh siapapun selain istri yang kucintai," balas Ray. "Meskipun hingga saat ini Ray belum pernah menyentuh Elena," sambung batinnya.
"Tante ..."
"Nyonya, panggil saya Nyonya!" sela Miranda menekankan kaya Nyonya.
"Nyonya tenang saja putra ayahnya tidak mungkin mau menyentuh wanita miskin seperti saya ini. Lagian dia tidak mungkin menyukai saya dan hanya akan tetap menyukai dan berani menyentuh istri pertamanya. Aku juga cukup sadar kalau aku bukanlah wanita yang sepadan bagi putra nyonya. Aku cukup tahu diri akan hal itu."
Viona mengalah menyebut Ibu mertuanya nyonya dan sekalian menegaskan jika memang dirinya bukan wanita sepadan untuk Raymond.
"Baguslah jika kau sadar dengan posisimu."
Ray diam, ia hanya memperhatikan wajah Viona yang terlihat datar tanpa mengeluarkan kata-kata cerewetnya.
__ADS_1
Viona menuangkan makanan ke piring dan memberikannya kepada Raymond. Dia ingin duduk tapi Miranda bersuara, "mau ngapain kau duduk di sini? Ini bukan tempat babu sepertimu. Pelayan hanya boleh makan di belakang saja, itupun tidak boleh mengambil makanan yang ada di sini! Pergi sana!" Miranda mengusir Viona seraya mendorong tubuh Viona.
"Maaf, Nyonya." Tidak ada bantahan apapun selain menuruti perintah Miranda. Meski hati dan pikirannya sedang kacau, Viona tidak melampiaskan kekesalannya kepada mereka. Ia sadar karena apa yang terjadi kepadanya merupakan garis takdir yang harus ia jalani dan tempuh serta ia lewati.
"Tunggu!" kata Raymond memberhentikan langkah Viona. Ray menuangkan nasi, lauk pauk serta sayur ke piring. Hal itu diperhatikan oleh Miranda. Lalu, Ray berdiri ingin memberikan satu piring nasi buat Viona makan.
Tapi, lagi-lagi Miranda bertindak dan segera mengambil piringnya. "Enak saja mau memberikan dia makanan enak ini. Biarkan dia mencari makanannya sendiri dan jangan memakan apa yang ada di sini. Enak banget mau makanan gratis dan lezat. Sudah, pergi sana!" Miranda kembali mendorong punggung Viona sampai gadis itu hendak terjatuh.
"Mah, ini makanan ..."
"Dian kamu, Ray! Buruan makan! Jangan hiraukan wanita miskin ini." sentak Miranda menarik paksa lengan putranya untuk duduk. Padahal, makanan di sana Viona yang masak. Ya, dia memasak karena nasi goreng yang Miranda buat hilang entah kemana. Mungkin saja habis tak tersisa.
Viona menghela nafas berat, ia mencoba bersabar dalam menghadapi keadaan. Ini langkah yang ia ambil, ini keputusan yang ia tentukan, dan ini yang Viona harus alami.
Dengan langkah lesu, Viona kembali ke kamar yang ada di bagian belakang. Dia murung seorang diri di taman belakang tanpa melakukan pergerakan apapun selain melamun memeluk kedua lututnya seraya menatap kolam ikan di depannya.
Dalam lamunan seorang diri, air mata meluncur bebas melewati pipi putihnya. Rasanya sesak dan bingung harus berbuat apa. Bingung kemana lagi ia akan pergi setelah semuanya berakhir.
"Viona!" pekik Miranda dari dalam rumah terus memanggil nama Viona.
Viona tersadar dari lamunannya.
"Viona kau ngapain saja, hah? Kemari kau tuli!"
Viona segera berdiri dan hendak pergi.
__ADS_1
"Viona! Buruan kemari!" pekik Miranda tidak kalah keras dari tadi. Karena tidak kunjung datang juga, Miranda ke belakang mencari Viona. Baru juga berdiri, Miranda sudah ada di dekat Viona dan menarik lengan Viona.
"Dari tadi saya teriak-teriak memanggilmu tapi kau tidak mendengarkan, dasar miskin! Ikut saya!" ujar Miranda tiba-tiba menggenggam tangan Vio.
"Nyonya, aku mau dibawa kemana?" tanya Viona tersentak kaget Miranda menarik paksa tangannya.
Lalu, tubuh Viona dihempaskan ke luar rumah. "Pergi kau dari sini! Saya tidak sudi wanita seperti mu ada di dalam keluarga saya."
Viona yang tersungkur kaget sampai lututnya terbentur keras. Dia menoleh dengan tatapan bingung, "Nyonya mau mengusirku?"
"Iya, kau memang pantas saya usir karena kau adalah duri dalam keluarga kita!" sentak Miranda seraya masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Berhubung suami dan putranya sudah pergi bekerja, ia leluasa memperlakukan Viona dan mengusirnya.
"Nyonya, buka pintunya, Nyonya! Aku harus pergi kemana jika Anda usir? Nyonya." Viona berdiri dan mengetuk pintu berharap ibu dari suaminya mau membuka pintunya.
Miranda kembali membuka pintu dan melemparkan tas berisi beberapa baju. Hanya sedikit tidak banyak agar tidak mencurigakan.
"Pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!"
Blug ....
Miranda menutup keras pintunya setelah melemparkan tas ke tubuhnya Viona.
Viona menangkap tasnya. "Nyonya." Sesak dan bingung kemana ia akan pergi? Lalu dimana dia akan tidur.
"Apa aku harus pergi dari sini? Tapi bagaimana dengan semua utang ku. Tuhan, tolong bantu aku." Viona menengadahkan wajahnya ke atas memejamkan mata seraya menghela nafas.
__ADS_1
Perlahan ia melangkah mundur meninggalkan tempat itu. Jika dia memang di takdirkan bersama keluarga itu, Viona akan kembali ke sana. Namun, yang ia takutkan adalah bertemu lagi dengan keluarga angkatnya atau pun bertemu Louis.