
Miranda baru sampai di kediaman Ray yang di jadikan mas kawin untuk Viona. Dia yang baru saja sampai berpas-pasan dengan mobil yang di kendarai Ray. Mobil Ray lebih dulu masuk sehingga kendaraan yang ia tumpangi berada di belakang mobil Ray.
"Akhirnya Raymond pulang juga. Aku harus tahu apa dia bersama gadis miskin itu atau tidak?" Miranda segera turun dan sedikit tergesa menghampiri putranya yang hendak turun membuka pintu.
Pas Ray turun, Miranda melotot terkejut melihat wajah putranya babak belur dan juga dengan tubuh terlihat kotor.
"Astaga, Ray. Kamu habis darimana? Wajah mu kenapa? Kenapa bisa babak belur begini? Siapa yang sudah melakukannya padamu, Ray?" sebagai seorang ibu, Miranda terlihat mengkhawatirkan putranya. Dia pun memberondong berbagai macam pertanyaan saking ingin tahu apa yang terjadi kepada Sang putra.
Ray menghindari tangan mamanya yang hendak menyentuh pipinya. "Ray tidak apa-apa, Mah. Ini hanya kecelakaan biasa saat mempertahankan diri dari serangan perampok."
"Perampok? Kok bisa kamu kena begal? Dimana? Pasti kau keluyuran gak jelan mencari wanita miskin itu 'kan?" tuduh Miranda menyalahkan Viona.
Viona yang baru turun dari mobil menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Viona, Mah." Balas Ray melirik Viona. Miranda ikut mengikuti arah pandang mata Raymond.
Seketika dirinya menjadi geram melihat Viona di sana. Dan ia semakin yakin jika apa yang terjadi pada Ray.
"Kau!" Miranda berjalan mendekati Viona dan menarik tangannya. "Saya sudah menyuruhmu pergi dari sini, ja Lang! Pergi dari kehidupan putraku!" sentak Miranda mendorong kasar tubuh Viona.
Tapi Ray menangkapnya. "Apa-apaan sih, Mah. Jangan sembarangan mengusir Viona."
"Kamu membela wanita miskin ini daripada Mama, Ray?" Miranda tak habis pikir putranya mulai terpancing membela Viona.
"Bukan begitu tapi ..."
Plak!
Miranda melayangkan tamparan keras di pipi Viona saking marahnya karena kini putranya mulai membela wanita yang tidak pernah ia sukai.
"Mah!"
Viona sampai memalingkan wajahnya dan pipinya begitu panas. Entah berapa kali dalam waktu dekat menerima tamparan. Ingin rasanya Viona meninggalkan tempat itu dan pergi saja.
__ADS_1
"Pasti kau juga yang sudah membuat putraku kena begal. Kau itu pembawa sial, wanita miskin yang gak jelas asal-usulnya dan seharusnya kau pergi tidak usah kembali." Miranda mendorong lagi bahu Viona, tapi Ray cepat-cepat merangkul pinggang Viona.
Dan Viona sudah menangis meneteskan air mata tanpa suara saking sakitnya merasakan tamparan di pipi.
"Mah sudahlah, jangan buat keributan. Malu sama tetangga."
"Malu kau bilang, seharusnya dia yang malu karena sudah menjadi orang ketiga dalam rumahtangga mu, Raymond. Kau lupa jika dia hanya pe ..."
"Aku tahu kalau aku hanya seorang wanita asing dan duri dalam rumahtangganya Raymond. Tapi jika nyonya tidak menginginkan aku, biarkan putra Anda sendiri yang menyuruhku pergi. Aku sudah pergi sesuai yang Anda katakan tapi Ray malah menarik ku lagi ke rumah ini."
"Tidak ada yang boleh pergi dari sini!" sahut Bram secara tiba-tiba. Mereka menoleh membuat Miranda kesal, lagi-lagi suaminya ikut campur.
"Papa apaan sih ikut campur urusan orang?"
"Mama juga apa-apaan ikut campur dalam rumahtangga Raymond? Biarkan mereka menjalani semuanya dan jangan ikut campur dalam urusan mereka. Ingat, jika mama ikut campur jangan salahkan Papa menyetop seluruh pemasukan buat mama. Dan papa pastikan itu terjadi." Bram paling tahu jika istrinya paling tidak bisa sampai tidak memiliki uang. Maka dari itu ia gunakan cara itu agar membuat istrinya dia.
"Ishh, ini semua gara-gara kau gadis miskin!" lalu, Miranda pergi begitu saja dari sana.
"Baik, Pah." Ray menurut, tidak biasanya dia menolak.
"Ayo?" Ajak Ray. Viona menatap papa Bram dan Bram mengangguk mempersilahkan masuk. Viona pun dengan ragu melangkah masuk ke dalam mengikuti Raymond.
*****
Tidak terasa waktu semakin berlalu, sudah satu bulan lamanya mereka tinggal di dalam satu atap yang sama dan masih dalam keadaan tidur terpisah. Tapi, ada sedikit perbedaan yang terasa, mereka semakin dekat dan seringkali mengobrol.
Seperti yang terjadi di pagi hari ini. Viona tengah mempersiapkan sarapan untuk Ray sebagai rasa terima kasih karena sudah memperlakukannya baik dan tidak lagi sekasar dulu. Dia memasak cumi asam manis, nasi putih hangat dan ayam goreng kremes serta aneka sambal dan lalapan.
Dengan lihainya Viona mengolah berbagai macam olahan menjadi makanan yang menggugah selera. Raymond yang baru saja selesai mandi menghirup aroma wangi masakan di dapur.
Dia segera turun ke bawah untuk melihat apa yang sedang di masak oleh Viona. Rambut yang masih basah membuat pria berusia 28 tahun itu terlihat segar dan juga tampan mempesona. Kaos hitam di padukan celana Chino coklat selutut membuat penampilan Ray terlihat seperti anak muda berusia 20 tahunan. Ya, meskipun usianya sudah mau kepala tiga, tapi Ray terlihat seperti usia 20 tahun, awet muda 'kan?
Pria itu berdiri tak jauh dari sana memperhatikan Viona "Masak apa?" tanya Ray tiba-tiba.
__ADS_1
Sontak Viona menoleh terkejut sebab Raymond berada di sampingnya. Dia menjauhkan wajahnya kala menghirup aroma wangi dari parfum yang di pakai Raymond menyeruak ke indra penciumannya seolah menenangkan jiwa dan ingin menghirup dalam aroma wanginya. Menenangkan, satu kata saat menghirup wangi di tubuh Ray.
"Ma-masak buat kamu." Viona sungguh gugup, ia melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh lagi. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang tat kala berada di samping Ray.
Ray mengangguk tapi, ia malah berkata dingin. "Siapa yang menyuruhmu memasak? Tamu siapa yang akan kau suguhkan hidangan sebanyak ini?"
Eh..
Viona kembali tersentak, ia mematung apakah dirinya keterlaluan memasak makanan sebanyak ini? seketika dia menunduk merasa jika dirinya bersalah telah lancang dan tanpa bertanya dulu pada Raymond. "Ma-maaf. Aku hanya ingin menyiapkan makanan sebagai tanda terima kasih karena kau sudah memperlakukan ku baik."
Raymond mengerutkan keningnya, lalu sudut bibirnya terangkat menggelengkan kepala. Ingin rasanya dia tertawa melihat raut wajah bersalah Viona. Padahal ia hanya bercanda dalam berucap, tapi Viona malah terlihat serius. "Menggemaskan sekali," batin Ray sembari melihat wajah imut Viona.
"Lalu kenapa kamu tidak meminta izinku dulu? lancang sekali membuatkan makanan sebanyak ini?" Ingin sekali Raymond tertawa terbahak. Tapi, ia ingin tahu bagaimana Viona menjawab. Diapun memasang wajah dinginnya.
"Ka-kau marah? Maaf." Viona mematikan kompor nya. Bukan karena belum selesai melainkan sudah beres memasak.
"Duh, aku sih masak tanpa minta izin dulu. Jadi dia marah 'kan."
"Tentu saja." Balasnya dingin, sedetik kemudian Ray tertawa terbahak tak bisa lagi menahan tawanya. "Hahahaha kau menggemaskan sekali sih. Wajahmu terlihat lucu." Raymond mencubit gemas pipi Vioana.
"Sakit Raymond" pekik Viona mengusap pipinya memberenggut kesal mencebikkan bibirnya.
Benar saja, pipi Viona terlihat memerah. Ray merasa bersalah "Maaf, kekencangan ya?" Dengan lembut, Raymond mengusap pipi Viona merasa bersalah telah mencubitnya.
Eh...
Viona tentu kaget dengan perlakuan Raymond. Sontak ia mendongak menatap mata Viona. Jantungnya semakin berdebar-debar. Keduanya sama-sama saling memandang. Dan entah kenapa Viona tidak beranjak menghindari seakan terhipnotis oleh pandangan sejuk adem dari mata Raymond.
Entah kenapa Raymond tak bisa menahan untuk memberikan sebuah kecupan di dahi Viona sampai ia nekat mengikis jarak seraya memandang penuh lekat wanita di depannya. Dengan sangat lembut, bibirnya menempel di kening Viona sambil memejamkan mata.
Deg.
"Perasaan apa ini?" gumam Ray dalam hati.
__ADS_1