
Waktu semakin berlalu, satu bulan sudah telah mereka lewati. Ray yang kian hari semakin betah tinggal di rumah baru dengan Viona, jarang sekali pulang ke rumah orangtuanya. Kebersamaan dengan Viona seakan memberikan warna dalam diri Raymond. Perhatian kecil yang Viona berikan mampu membuat Ray merasa di perhatikan dan di hargai sebagai seorang suami. Canda tawa pun sering tercipta diantara mereka meski terkadang selalu ada Elena yang harus. Ray perhatikan juga. Kini Ray tengah di landa kebingungan diantara dua hati. Mulut bilang cinta sama Elena, tapi hati bilang cinta sama Viona. Mulut merasa Elena wanita yang terbaik, tapi hati begitu nyaman dan merasa Vionalah yang terbaik.
"Kamu harus tentukan pilihan hatimu, Ray. Kau milih Elena atau Viona? Papa harap kamu tegas mengambil keputusan dan jangan sampai mengambil keputusan yang salah!" Bram memberikan pengertian sekaligus memberikan sebuah keyakinan untuk putranya agar memilih salah satu di antara dua wanita yang menjadi istrinya.
Ray diam memikirkan kemana hati dan cintanya berlabuh. "Ray bingung, Pah. Ray mencintai Elena tapi juga Ray menginginkan Viona ada di samping Ray. Kalau Ray memilih Elena, Ray akan kehilangan wanita sebaik Viona. Kalau Ray memilih Viona, Ray akan kehilangan cinta pertama Ray." Raymond mengusap wajahnya secara kasar bingung harus memilih siapa.
Bram menghelakan nafas, "Kamu harus tegas dong, jangan mentang-mentang Elena cinta pertamamu, kamu malah mengabaikan perasaan orang lain yang begitu tulus mencintaimu."
Ray mendongak, "mencintai? Siapa yang mencintai Ray selain Elena, Pah?"
"Bodoh, kau tidak bisa merasakan apapun tentang perasaan Viona padamu?" tanya Bram dan Ray menggelengkan kepalanya. "Papa meyakini Viona mencintaimu, Ray. Tapi dia tidak berani mengungkapkannya karena kau selalu saja membahas Elena dan selalu bilang cinta pada Elena. Tak sadarkah dirimu jika Viona selalu kelihatan sedih saat kamu dan Elena sedang bersama?"
"Aku tidak tahu," jawab Ray tidak pernah peka akan keadaan sekitarnya. "Masa sih Viona mencintaiku? Dia tidak bilang begitu, dia hanya bilang tidak mungkin mencintaiku."
"Cari tahu tentang perasaan Viona. Pergilah ke rumahmu. Mungkin saat ini Viona sedang merindukanmu. Kau sudah dua hari tidak pulang ke sana hanya karena Elena marah dan mencegah mu, dasar tidak tahu kenyataan."
"Baiklah, kali ini Ray akan pulang kesana. Tapi kalau ada apa-apa dengan Elena tolong hubungi Ray secepatnya!" Raymond pun berdiri dan meninggalkan ruangan kerja papanya.
Dan Bram, mendapatkan informasi dari orang yang ia sewa. "Apa yang kau dapatkan?"
"Baiklah, saya akan kesana setelah pekerjaan saya selesai. Kita bertemu di cafe xxx."
Namun, tanpa di sadari mereka berdua, ada telinga yang menguping dan dia terlihat marah. Siapa lagi kalau bukan Elena. Wanita itu segera berlari ke dapur pura-pura mengambil air minum.
"Sial, bisa-bisanya pria tua itu menghasut Raymond. Aku harus melakukan tindakan ini secepatnya. Ini semua gara-gara orang suruhan Cristin gagal menyingkirkan Bram."
Elena pernah merencanakan kecelakaan maut untuk mertuanya karena bagi dia, Bram merupakan ancaman. Namun, kecelakaan itu terjadi tapi yang ada di dalam mobilnya bukanlah Bram melainkan pegawainya. Dan karena tidak ingin polisi mengendus kejahatannya, Elena tidak mencari ulah dulu.
Elena segera mengambil gelas dan ia pun membanting gelasnya hingga pecah.
__ADS_1
Prang!
Elena pura-pura terjatuh dengan tangan kanan memegangi kepala dan tangan kiri memegangi perutnya. Raymond yang baru saja keluar dari ruangan papanya terkejut mendengar benda pecah dari dapur. Pun dengan Miranda yang baru keluar juga dari kamarnya sama-sama kaget.
Mereka berdua langsung beranjak ke dapur melihat apa yang sedang terjadi di dapur. Saat Ray sampai dapur, ia terkejut melihat Elena terduduk.
"Elena, kamu kenapa?" Ray panik dan segera membantu Elena bangun.
Kkwueekk ... kkwueekk ...
Elena muntah-muntah dan ia berlari ke wastafel untuk memuntahkan sesuatu yang tidak mungkin keluar.
"Elena, kau tidak apa-apa?" Miranda menghampiri dan mengusap punggung Elena.
"Aku tidak kenapa-kenapa, cuman akhir-akhir ini aku sering banget pusing, mual, dan juga badanku lemas, Mah." Elena mencoba bersandiwara lemas.
"Aku tidak tahu, Ray." Balas Elena terlihat lemas.
"Mual-mual? Apa jangan-jangan kamu hamil?" ujar Miranda menebak keadaan Elena saat ini.
Deg ....
Ray tertegun. "Ha-hamil?" ucap Ray terbata dan entah kenapa merasa ada yang berbeda. Antara percaya dan tidak, antara senang tapi juga sedih.
"Iya, hamil. Mual, pusing, dan lesu sebagian tanda dari orang-orang hamil. Kalau gitu kita akan periksa Elena ke dokter." Miranda begitu girang dan ia hendak menghubungi seseorang.
"Eh, jangan memanggil dokter ke sini, Mah." Cegah Elena karena takut ketahuan.
"Kenapa? Kamu harus di periksa."
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit langsung buat memastikan segalanya. 'Kan di rumah sakit alatnya sudah canggih dan jauh lebih meyakinkan," saran Elena agar mereka mau mengikuti sarannya.
"Ah, kamu benar. Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit. Biarkan ini semua bi Marni yang membereskannya."
Ray diam dengan pikiran berkecamuk. Sampai mamanya bersuara barulah dia tersadar. "Raymond buruan!" pekik Miranda menarik lengan putranya.
"Ah, iya, Mah."
*****
Kkwueekk ... kkwueekk ....
Di lain tempat pun seorang wanita sedang muntah-muntah dengan tubuh begitu lemas. Viona, dua hari belakangan ini tubuhnya begitu lemas dan seringkali muntah-muntah. Dia berkumur dan setelah selesai duduk di kursi meja makan.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa badanku rasanya lelah sekali, dan kenapa juga akhir-akhir ini aku sering muntah kayak gini?" gumam Viona todak mengerti keadaannya sekarang. Dia yang memang baru menginjak usia 19 tahun dan belum mengerti masalah ini, masih kebingungan menerka-nerka apa yang terjadi.
Viona melipatkan kedua tangannya di atas meja dan menelungkupkan wajahnya ke lipatan tangan. Tiba-tiba hatinya merasa sakit karena Raymond tak pulang sudah dua hari.
"Aku merindukanmu, Ray. Entah kenapa aku ingin kamu ada di sini hiks hiks hiks." Viona menangis seorang diri meratapi kehidupannya yang tidak biasa.
Setelah puas menangis, Viona menghapus air matanya dan ia mengambil ponselnya. Viona ingin menghubungi Ray, tapi ia menjadi teringan ke salah satu situs pencarian. Sekarang Viona sudah memiliki ponsel dan itu Ray yang membelikannya.
"Tanda-tanda mual, pusing, lelah, dan menginginkan sesuatu." Viona mengetikkan itu dan muncullah sebuah penjelasannya.
Wanita itu begitu serius membaca setiap huruf dan seketika dirinya terdiam saat semua tanda-tanda yang ia alami menjurus pada sesuatu yang membuatnya tercengang.
"Ha-hamil? Apa aku hamil? Semua tanda-tanda ini menunjukan bahwa aku sedang hamil." Viona semakin di buat lesu.
"Apa yang harus ku lakukan?"
__ADS_1