Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Datang ke Kantor Ray


__ADS_3

"Vi, hari ini aku tidak akan pulang. Kemungkinan akan menginap di kantor mengingat banyak kerjaan yang harus ku kerjakan," ucap Raymond saat sedang sarapan bersama.


Viona yang tengah berdiri hendak menuangkan makanan ke piring terhenti. Ia menoleh ke arah Ray. "Kenapa tidak di bawa saja pekerjaannya ke sini?" Ada ketidak rekaan dalam diri Viona mendengar Ray akan menginap di kantor. Meskipun mereka berdua tidur terpisah, tapi kebersamaan yang membuat mereka dekat membuat Viona merasa nyaman dan tidak ingin di tinggal sendirian.


Viona memberikan piring yang sudah terisi penuh ke hadapan Raymond.


"Tidak bisa, aku juga harus bertemu dengan klien ku dan membahas semua tentang kerjasama yang sedang akan kami bahas. Jadi, kemungkinan malam baru selesai. Berhubung jarak rumah ke kantor cukup jauh, aku akan menginap di kantor saja. Kau tidak apa-apa 'kan ku tinggal sendirian?" tanya Ray seraya mengambil piring yang Viona sodorkan.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja nanti kau makan malamnya bagaimana? Apa aku kirimkan makanan buat kamu. Nanti aku datang ke sana sekitar jam tujuh malam." Viona menawarkan diri buat memasak dan memberikan makanan buat Ray.


"Boleh, nanti kau datang saja ke kantor ku. Kalau malam tidak akan ada orang yang tahu karena semua karyawan sudah pulang sore hari."


Viona mengangguk mengerti, ia tidak mungkin berharap lebih di saat Ray memiliki istri. Dan baru saja hatinya sedih, Raymond menerima panggilan telpon. Siapa lagi kalau bukan Elena.


Ray melirik Viona, ada rasa tidak nyaman saat melihat wajah Viona menunduk murung.


"Halo," ucap begitu lembut.


"Halo sayang, kamu lagi apa? Aku kangen kamu, Ray.”


"Mau sarapan, kalau kamu rindu pulang kesini. Aku masih setia menunggumu." Ray menunduk tersenyum dan itu membuat Viona merasa tersayat perih.


"Kenapa aku tidak suka Ray bicara mesra dengan istri pertamanya. Seharusnya kamu sadar, Viona. Kau itu hanya sampingan dan tidak mungkin bisa menggantikan Elena di hatinya Raymond. Kau harus hilangkan perasaan ini, kau tidak boleh menyukai suami orang. Kau tidak boleh!" Viona terus meyakinkan hatinya agar tidak terlalu berharap kepada Raymond. Dia juga meyakinkan dirinya jika Ray tidak mungkin memiliki perasaan seperti dia yang memiliki perasaan.


Dengan lesu, Viona menyiapkan makanan ke dalam mulutnya sambil mendengar perbincangan Raymond dan istrinya. Sesak, itu yang Viona rasakan.


"Baiklah, aku tunggu kepulangan mu. Dan dua Minggu lagi aku akan ke sana. Ada proyek di sana dan ini kesempatan kita bisa bertemu denganmu. Ku harap kau tidak menghindari ku Elena."


Deg ....


Viona di buat tertegun. "Bertemu, Ray dan Elena akan bertemu. Pasti dia akan menghabiskan waktu bersama."


"Tidak akan, Ray. Mana mungkin aku menghindari mu. Ku sudahi dulu, ya. Banyak kerjaan yang harus ku kerjakan."


"Elena bi ..." belum juga Ray selesai bicara, ponsel Elena lebih dulu di matikan.


"Kebiasaan suka mematikan sembarangan. Untuk cinta, kalau tidak sudah ku biarkan kau." Gumam Ray tanpa sadar membuat Viona tersenyum miris.

__ADS_1


"Jadi kau akan bertemu Elena?" celetuk Viona.


Eh, Ray mendongak.


"Iya, kenapa?" Ray sampai lupa ada Viona.


"Tidak apa-apa, pasti kalian saling mencintai sampai begitu mesra sekali," ucap Viona tersenyum menyembunyikan hati yang tengah merasa tidak nyaman.


"Tentunya, sampai kapan pun Elena yang ku cinta."


Viona mengangguk, dan selera makannya menjadi tidak enak. Lalu, dia berdiri membereskan piring yang ia gunakan.


"Loh, makanan mu belum habis?" Ray melihat piring Viona bawa masih banyak makanan tersisa.


"Aku sudah kenyang. Makanan ini mau aku kasih ke ayam tetangga."


Meski heran melihat Viona makan sedikit, tapi Ray tidak memperdulikannya lagi. Dia pun berdiri, "baiklah, terserah kau saja. Aku berangkat kerja dulu. Dan jangan lupa nanti malam bawa makanan ke kantor!"


"Hmmm." Viona membalasnya hanya deheman saja. Ray pun pergi sampai dia hilang tak terlihat lagi.


Viona menghela nafas berat dengan tubuh lemas. Dia mencoba menggapai kursi dan duduk dengan rasa sesak di dada.


*****


"Apa katanya?" tanya seorang wanita memeluk Elena dari belakang.


"Dia akan datang ke sini menemui ku." Elena membalikkan badannya dan menghadap wanita yang sedang menatapnya. "Tapi kau tenang saja, sekalipun dia datang aku tidak akan membiarkan dia terlalu menyentuhku. Jijik sekali tubuhku di sentuh olehnya. Jika bukan karena ingin menjaga reputasi ku sebagai model, aku tidak akan mungkin mau menikah dengan pria itu. Dia bukan tipeku dan kaulah tipu yang aku sukai, sayang."


"Oh honey, kau memang yang terbaik. Aku sungguh mencintaimu. Ingat ya, kau tidak boleh melakukan tindakan yang membuat ku marah. Awas, hanya aku yang berhak menyentuhmu!" dia memberikan peringatan kepada Elena dengan tatapan yang begitu tajam


"Tentu saja tidak akan karena aku hanya mencintaimu," balas Elena memeluk wanita itu.


*****


Waktu semakin sore, semua karyawan sudah mulai meninggalkan tempat kerja menyisakan orang-orang yang hanya lembur saja. Termasuk Raymond yang tengah berbincang-bincang dengan rekan kerjanya membicarakan pembangunan apartemen yang sedang mereka kerjakan.


"Tempatnya cukup strategis dan juga bagus. Ini terletak di tengah kota. Dekat ke kantor, dekat ke kampus, dan juga dekat ke tempat ramai. Semakin banyak orang di sekitar, semakin mereka tertarik untuk membeli apartemen di sana. Apalagi orang-orang kantor biasanya menginginkan tempat yang dekat dengan tempat kerjanya." Jelas seorang pria, klien dari Ray.

__ADS_1


"Ide yang bagus, jika ada di tengah bundaran mampu menarik perhatian orang-orang. Baiklah, saya setuju dengan kerjasama ini." Ray menyetujuinya dan tentunya ia sudah membaca seluruh dokumen tentang pembangunan itu. Keduanya akan sama-sama untung jika mereka mewujudkan pembangunan ini.


"Terima kasih Anda sudah menerima tawaran saja. Semoga dengan kerjasama ini perusahaan kita semakin lancar dan semakin sukses," ucap pria itu mengulurkan tangannya.


Ray menerima uluran tangannya dan tersenyum. "Senang bekerjasama dengan Anda Tuan Adit."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Pria bernama Adit itu berdiri dan mengambil tas kerjanya setelah mereka membereskan semuanya.


"Mari saya antar, Tuan." Ray juga ikut berdiri dan mengantarkan kliennya ke depan.


Sedangkan di rumah, Viona sedang bersiap ke kantor suaminya. Dia sudah mengenakan pakaian rapi, dress selutut dengan rambut tergerai dan bando berhias kupu-kupu menghiasi kepalanya. Dengan penampilan yang seperti itu, Viona terlihat manis, cantik dan terlihat fresh. Apalagi bajunya begitu pas dan begitu cocok di kenakan oleh Viona.


"Semoga saya Ray suka," gumam Viona tersenyum memperhatikan rantang makanan yang ia bawa. Lalu, dia beranjak pergi menggunakan taksi online yang ia pesan.


Dalam perjalanan, jantung Viona terus berdebar kencang tak sabar ingin memberikan makanan yang di minta Ray. Ya, sebelum memasak, Ray meminta di masakan makanan kesukaannya. Dengan senang hati, Viona memasakkannya.


Setelah lama di perjalanan, Viona sampai di tempat kerja Raymond. Ray bilang sudah tidak ada orang dan hanya ada beberapa saja. Tidak akan ada yang curiga jiga Viona datang ke sana.


Dengan langkah yang sedikit berlari, Viona menghampiri ruangan Raymond yang ada di lantai paling atas. Dan senyum manis terus terlukis indah di sudut bibirnya. Lift pun terbuka dan ia sampai di lantai atas.


Namun, langkah Viona terhenti saat melihat satu sosok yang dulu ingin ia hindari. Senyumannya pun hilang berubah menjadi sebuah kepanikan.


"Di-dia!" tubuh Viona gemetar takut dan ia mencengkram erat rantang makanan yang ia bawa.


Ray dan Adit berjalan mendekati Lift, tapi mata Adit tertuju pada gadis cantik yang ada di hadapannya.


"Viona."


Ray terperangah kala Adit menyebut nama Viona. Dan Ray melihat ke depan sehingga dia juga bisa melihat Viona di sana.


Viona menunduk menyembunyikan wajahnya dari Adit.


"Viona kau di sini?" tanya Adit.


"Kau kenal dia?" tanya Ray penasaran.


"Dia ...."

__ADS_1


*****



__ADS_2