
"Kamu masih menjadi istriku karena tidak ada kata talak dariku. Sekalipun kita berpisah selama berbulan-bulan, tapi nyatanya aku tidak pernah menceraikanmu dan kamu masih tetap menjadi istriku, sampai kapanpun itu." Raymond serius dan ia terus menatap Viona seakan memberikan sebuah kejelasan mengenai hubungan mereka berdua.
Dia tidak bohong karena memang belum ada kata talak terucap dari bibirnya untuk Viona. Di saat Viona pergi, Ray diam-diam malah mengesahkan pernikahan mereka agar tercacat di negara. Ia meyakini jika mereka akan di pertemukan lagi dan kini keyakinan dan kepercayaannya membuahkan hasil. Ya, Ray menemukan Viona dalam keadaan hamil anaknya.
"Kok bisa?" Viona di buat terkejut mendengar penuturan Raymond. Setahunya ia telah pergi dan berpikir kalau kepergiannya akan membuat perceraian tercipta diantara mereka. Namun, apa yang Viona dengar barusan sungguh di luar dugaan. "Mana mungkin kita belum bercerai, aku telah pergi darimu dan di hari itu juga kita resmi bercerai, bukan?" nampak raut wajah kebingungan dari dalam diri Viona dan bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi?
"Nak, Raymond benar. Kalian tidak pernah bercerai satu sama lain. Ray tidak menceraikanmu sebab dia ingin kamu tetap menjadi istrinya. Malahan, Raymond mengajukan surat permohonan pengesahan pernikahan kalian ke pengadilan guna memperjelas hubungan laju dan Raymond. Dari dulu kaku masih menjadi istri Ray dan sekarang status mu jelas sebagai istri sah Raymond," tutur Bram memperjelas dan juga mengetahui segalanya.
"Papa juga tahu? Kok Mama tidak di kasih tahu?" tanya Miranda sedikit kecewa karena tidak tahu apapun selain Ray menikahi Viona secara siri.
"Papa tahu karena aku yang memberi tahu." Lalu, Raymond kembali menatap Viona masih dalam posisi berlutut di hadapan wanita hamil itu sambil kedua tangannya menggenggam tangan Viona.
Tidak ada keraguan lagi dalam diri Ray untuk memiliki Viona selamanya. Rasa cinta yang hadir tanpa di duga menyadarkan Raymond jika Viona sangatlah berarti untuknya. Tidak ada lagi kata bingung dalam dirinya karena hati dan pikirannya begitu yakin kalau dia sangat mencintai Viona tanpa peduli siapapun dia.
"Viona, apa kamu mau memaafkan ku dan menjalin rumahtangga untuk membesarkan anak kita bersama-sama?" tanya Raymond begitu serius menatap mata Viona. Ia berharap Viona mau menerimanya lagi.
Viona diam memikirkan perasaannya terlebih dulu. Namun, karena sebuah cinta yang ia miliki dan memang tidak pernah membenci Ray maupun yang lainnya, Viona mencoba berkata sejujur mungkin.
"Pikirkanlah demi anak yang sedang kamu kandung, Viona. Dia butuh sosok ayah dan juga kalian butuh pria yang akan menjadi pelindung buat kalian. Mama tahu kalau kamu masih sakit hati atau masih marah, tapi mama mohon beri Ray kesempatan untuk membuktikan keseriusannya dalam membahagiakan kalian." Miranda ikut memohon dan menatap Viona dengan tatapan memelas. Ia akan melakukan apapun demi kebahagiaan putranya. Dan ia sadar jika Viona lah kebahagiaan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Selama ini Miranda memperhatikan perubahan Ray yang begitu berbeda. Itu artinya putranya sungguh-sungguh mencintai Viona dan menginginkan Viona. Terlebih dari apa yang ia lihat ketika Viona hamil besar, itu menandakan jika Ray memang sudah terjatuh kedalam pesonanya Viona hingga hubungan mereka sampai ke tahap lebih serius.
Viona nampak menghirup udara dan membuangnya secara perlahan. "Jujur, sebenarnya aku merasa kecewa dan merasa takut untuk kembali lagi denganmu, tapi aku sadar kalau selama ini aku tidak bisa melupakanmu dan tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ray, aku akan memberikan kamu kesempatan dan aku berharap kamu membuktikan apa yang kamu ucapkan barusan." Keputusan pun Viona ambil setelah memikirkannya. Demi anaknya, demi cinta, dan demi masa depan mereka, tidak ada salahnya Viona memberikan kesempatan kedua untuk Raymond. Ia menyadari satu hal, jika semua yang terjadi padanya adalah sebuah takdir dari Tuhan.
Raymond, Miranda, Bram dan Bi Marni yang ada di sana tersenyum lega sekaligus senang mendengar perkataan Viona. Raymond langsung memeluk Viona dan matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih, terima kasih sudah mau memberikan aku kesempatan kedua. Aku berjanji dan akan ku buktikan kalau aku bersungguh-sungguh ingin membahagiakan kalian. Aku mencintai, Viona. Aku mencintaimu. Maaf baru sekarang mengungkapkan perasaanku. Tak apa, yang penting kamu mau memaafkan ku." Pelukan erat serta kecupan di setiap wajah Viona Ray berikan saking bahagianya.
"Ray," ujar Viona tersipu malu karena Ray tidak melihat situasi sekitarnya.
Miranda menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Raymond. Namun, hatinya ikut bahagia melihat putranya bahagia. Tak ada lagi keraguan dalam diri Miranda untuk tidak merestui mereka.
Di tempat yang berbeda.
"Ini semua gara-gara kamu yang tidak bisa mencari pekerjaan tetap! Lihatlah, sekarang hidup kita semakin kacau dan juga miskin. Semua karena kau Ronald!" sentak Natalie memarahi suaminya.
"Aku saja yang kalian salahkan, kalau bukan karena keadaan kalian yang seringkali meminta barang mewah, mana mungkin aku bermain sejauh ini sampai menjaminkan rumah kita." balas Ronald tidak ingin di salahkan atas kekalahannya bermain judi.
"Sudah tahu judi itu bikin melarat masih saja Ayah melakukannya. Sekarang kita mau tinggal dimana? Rumah tidak ada, harta habis, dan aku juga sedang tidak bekerja," timpal Elsa terduduk lesu di jalan karena kelelahan.
__ADS_1
Ronald kalah main judi dan rumah yang ia jaminkan ternyata dimiliki orang lain karena dia yang kalah bermain. Lalu, orang itu mengusir Ronald dan keluarganya dan kini mereka kebingungan mencari tempat tinggal.
"Kamu sih, seandainya punya uang tidak kamu hambur-hamburkan dan tidak kamu berikan kepada kekasihmu itu, mungkin kita masih bisa memiliki uangnya dan tidak kena tipu. Katanya pintar tapi otak tidak dipakai," ujar Natalie menyalahkan Elsa yang tidak mempercayai orangtuanya untuk mengelola uang hasil kerja Elsa.
"Ibu pikir aku percaya sama ibu? Tidak. Aku tahu kalau ibu itu matre dan bisa saja uang ku juga akan habis," sergah Elsa tanpa memiliki sopan santun membalas ucapan ibunya.
"Diam! Kalian bisanya saling menyalahkan. Pikirkan baik-baik tentang keadaan kita saat ini. Kemana kita akan pergi jika tempat kita bernaung sudah hilang?" sahut Ronald kebingungan.
"Mana kita tahu," balas Natalie dan Elsa yang sedang duduk di pinggir jalan karena kelelahan jalan kaki.
"Masa kita mau tinggal di kolong jembatan?"
"Tidak sudi!" balas Elsa dan Natalie secara bersamaan enggan menjadi gelandangan.
Ronald menghela nafas kasar. Tiba-tiba ia teringat dengan Viona. "Bagaimana kabar Viona? Apa dia juga hidup seperti kita? Tak tentu arah dan tidak memiliki tempat tinggal. Satu dia hidup senang dari uang hasil melayani para pria hidung belang?" gumam Ronald, tapi masih bisa di dengar mereka.
"Viona, kita cari dia dan kita bisa numpang hidup dengannya. Pasti saat ini uangnya banyak dari hasil jual diri," tutur Elsa.
"Ah, ide bagus. Tapi kemana kita mencarinya?"
__ADS_1