
"Pah, ini sudah pagi, tapi kenapa Raymond belum juga pulang? Pergi kemana anak kita? Di rumah barunya pun tidak ada." Dari kemarin siang, Miranda menunggu kabar putranya yang tak kunjung pulang. Ia pikir Ray berada di rumah setelah kepergiannya dari sana. Tapi, pas kembali Ray pun tak kunjung pulang dan di rumah Bram pun tidak ada.
"Papa juga tidak tahu ke mana mereka pergi. Setahu papa, Ray pulang karena ingin mengajak Viona jalan-jalan. Tapi sampai saat ini Ray tidak bisa dihubungi dan juga tidak tahu ke mana Viona pergi." Bram juga bingung, ia juga di buat heran karena Viona tiba-tiba saja menghilang.
Miranda terdiam merenungkan kejadian kemarin. "Kemarin Ray bilang ada kecelakaan. Ray juga bilang Viona. Apa putraku saat ini sedang bersama Gadis miskin itu? Ah, ini tidak mungkin terjadi. Tapi di rumah sakit mana wanita sialan itu berada?"
"Kalau wanita miskin itu Mama tidak peduli, tapi kalau Raymond Mama sangat mengkhawatirkannya."
"Tapi papa mengkhawatirkan Viona, dia tidak ada dan pergi entah kemana."
"Sudahlah, Pah. Ngapain mengkhawatirkan perempuan miskin itu? Tidak penting. Mau dia mati atau pun di makan serigala, di culik, atau di bunuh sekalipun Mama tidak peduli!" ujar Miranda begitu tegas dalam berkata. Dia seolah menyumpahkan Viona saking tidak sukanya pada gadis itu.
"Mah!" sentak Bram tidak terima akan ucapan istrinya. "Jangan bicara sembarangan, Viona itu menantu kita, istrinya Raymond. Jadi, Mama harus menerima itu semua seperti Mama yang juga menerima Elena."
"Papa itu kenapa sih selalu saja membela wanita miskin itu? Elena jauh lebih baik dari wanita tidak jelas asal usulnya itu. Elena lebih pintar, lebih cerdas, lebih bisa membuat keluarga kita bangga dengan keberhasilannya sebagai model, dan tentunya Elena jelas asal usulnya." Miranda tidak terima suaminya membela Viona. Sehingga pertengkaran pun terjadi karena mereka sama-sama memiliki keyakinan jika pilihan mereka yang terbaik untuk Viona.
"Tapi Viona wanita yang pas untuk bersanding dengan Raymond. Sampai kapanpun Papa tidak akan merestui hubungan Ray dengan Elena. Asal Mama tahu, Elena tidak sebaik yang kalian kira. Dia itu sudah berselingkuh di belakang Ray, Mah." Saking kesalnya, Bram sedikit mengungkap rahasia Elena yang selama ini di sembunyikan.
"Selingkuh? Hahaha, Papa ngaco. Tahu darimana Elena selingkuh? Dia itu wanita baik-baik dan tidak akan pernah menyelingkuhi putra kita. Aneh-aneh saja," ucap Miranda sambil berlalu pergi meninggalkan meja makan.
Bram menghelakan nafas panjang. Ini yang ia takutkan, tidak ada yang percaya. Semuanya menolak percaya pada kebenaran. Ray selalu menutup telinga saat dirinya memberitahukan Elena tidak sebaik yang mereka kira. Saking cintanya kepada Elena, Ray seakan buta dan tuli pada keadaan sekitar. Dan dengan terpaksa Bram menikahkan lagi Ray agar pria itu tidak merasa di khianati dan tidak larut dalam kesedihan saat semuanya terbongkar di depan mata.
"Semoga saja Viona mampu membuat Ray jatuh cinta dalam waktu dekat. Aku percaya mereka akan saling menyukai."
*****
Viona terbangun, tapi ia merasa tidak ada seseorang di sana. Matanya ia buka lebar dan terkejut tidak ada Ray di sekitar. Seketika Viona panik dan segera berdiri.
"Ray, kamu dimana?" pekik Viona mencari Raymond. Dia memperhatikan sekeliling tempat, hutan lebat dengan pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar.
__ADS_1
"Raymond, jangan bercanda, kamu dimana, Ray?" wajah Viona sudah panik dengan mata berkaca-kaca, ia takut di tinggalkan sendirian dan di buang begitu saja.
Viona berjalan mencari keberadaan Ray sendirian, bukannya diam di tempat malah nekad melakukan tindakan yang mungkin saja membuatnya dalam bahaya.
"Ray, kamu jahat ninggalin aku. Kamu dimana?" masih berteriak memanggil nama Raymond, bahkan air matanya sudah meluncur bebas.
Sedangkan orang yang di panggil, ia mendengar Viona memanggil namanya. Ray yang sedang mencari jalan keluar langsung menghampiri Viona.
"Aku di sini, Vi." Jawab Ray tak kalah keras agar Viona mendengar suaranya.
Dan benar saja, Viona mendengar teriakan Ray, kemudian dia menghampiri asal suara itu. "Raymond!" pekik Viona.
"Aku di sini."
Merasa suara lebih dekat, Viona berlari tanpa melihat apa yang ia injak. Tak sengaja kakinya terpeleset dan hendak jatuh ke tanah yang miring.
Grep ....
Dan tiba-tiba saja tangannya di gapai Ray. Pria itu segera menarik Viona sebelum jatuh ke bawah. Viona pun tertarik ke arah Ray dan menubruk dada bidangnya.
"Ray, aku takut." Viona memeluk erat tubuh Raymond dan menenggelamkan wajahnya di dada Ray.
"Kau itu bodoh, sudah tahu ini hutan masih saja keluyuran. Diam di gubuk bisa 'kan?" omel Ray.
"Aku pikir kau meninggalkanku sendiri di hutan ini, aku pikir kau membuang ku di sini, makanya aku mencarimu. Aku takut di makan binatang buas." Masih belum melepaskan pelukannya, Viona terisak kecil.
Ray menghelakan nafas berat. "Tidak mungkin ku membiarkanmu sendirian di sini. Bisa-bisa aku di bunuh papa kalau ketahuan membuang mu. Kau 'kan wanita kesayangan papa."
Deg.
__ADS_1
Ray sampai tertegun saat menyadari perkataannya.
"Sudahlah, kita pulang dari sini. Aku sudah menemukan jalan keluarnya."
Viona mengangguk dan melepas pelukannya. Ray pun menggandeng tangan Viona begitu erat. Dia memperhatikan pria ini begitu intens.
"Ray, bolehkah aku mengagumimu? Bolehkan aku merasa nyaman dengan mu? Entah kenapa perasaanku tiba-tiba saja nyaman berada di sisimu. Tapi aku takut jika perasaanku ini akan membuatku terluka. Aku tahu kau sudah memiliki istri, tapi apa salah jika aku juga mulai menginginkan posisi itu?" gumam Viona dalam hati.
"Eh! Tidak, kau tidak boleh. berpikiran yang tidak-tidak, Viona. Kau harus ingat jika pria ini bukan jodohmu, tapi jodoh orang lain. Kau tidak boleh menyukainya apalagi menginginkannya." Dalam hati, Viona kembali menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terlalu berharap pada keadaan dan tidak boleh juga memiliki perasaan.
Viona tahu rasanya jatuh cinta itu seperti apa, dia yang memang pernah merasakan rasa kagum pada seorang pria, rasa menyukai terhadap pria, tahu pasti apa yang saat ini ia rasakan. Namun, Viona sendiri harus membentengi dirinya agar tidak terlalu serius dalam menjalankan perannya sebagai istri kedua. Ya, meskipun Viona tahu tidak akan mungkin baginya mendapatkan hati seorang Raymond.
*****
"Akhirnya kita bisa keluar dari hutan. Kita selamat, Ray." ujar Viona tersenyum senang bisa melihat jalan yang semalam mereka lewati. Bahkan, mobilnya pun masih terparkir di sana.
"Ya, dan ini semua gara-gara kau!" ujar Ray menoleh memberikan tatapan mata kesal.
"Aku? Kenapa kau menyalahkan ku? Kau sendiri yang mengajakku lari ke dalam sana. 'Kan sudah ku bilang jangan masuk ke sana, tapi kau malah ngeyel tetap masuk." Viona tak habis pikir dengan pikiran pria yang ada di sampingnya. Tadi saja baik-baik saja dan perhatian, sekarang malah kembali ke mode awal, nyebelin.
"Karena kau aku harus lari ke hutan, karena kau kita mengalami semua ini, karena kau kita harus menginap di dalam hutan. Seandainya aku tidak menghampiri mu dan tidak menjemputmu pulang, mungkin kita tidak akan mengalami semua ini. Wajah babak belur, kulit di gigit nyamuk, tidur tidak nyaman, menyusahkan sekali." Cebik Ray terlihat kesal dan masuk ke dalam mobil membiarkan Viona mematung sendiri di luar. Ray menatap Viona dari dalam mobil.
"Kau tidak boleh memiliki perasaan apapun padanya, kau hanya mencintai Elena dan selamanya Elena istrimu. Kau harus ingat Ray, jika Viona adalah orang penghambat kebahagiaan mu."
Tiiid ....
"Mau masuk tidak?" pekik Ray mengeluarkan sedikit kepalanya melihat Viona.
Viona hanya bergerak tanpa bersuara. Hatinya kacau dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1