Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Perampokan


__ADS_3

Tibalah mereka di salah satu tempat makan. Sesuai janji yan Ray katakan, dia akan mengajak Viona makan. Terlihat sekali wanita yang duduk di hadapannya ini tidak sabar menunggu hidangan makanan.


Tangan kanannya menopang dagu dan tangan kirinya mengetuk-ketuk meja. "Lama banget makanannya datang," ucap Viona mengeluh tidak sabar menunggu.


"Tunggu saja dulu, nanti juga datang kalau sudah selesai di masak."


"Tapi aku beneran gak sabar banget mau makan. Emangnya kamu gak merasakan kelaparan kayak aku. Kamu sih enak, pagi-pagi udah makan dan bisa jajan apa pun yang kamu inginkan. Sedangkan aku, mau makan pun susah, mau jajan pun susah. Emang nasib ku itu menyedihkan." Helaan nafas berat Viona keluarkan dengan raut wajah terlihat sedih dan bibir manyun.


"Ya, ya, aku tahu itu." Ray malas berdebat ia juga salah tidak tegas saat mamanya menyita setiap makanan yang ada di atas meja. Ray pikir Viona akan makan sesuai yang di katakan mamanya, tapi pengakuan Viona membuatnya tersentil jika ia tidak becus dalam memberikan nafkah.


Dan makanan yang di pesan pun tiba. Wajah Viona menjadi sumringah hanya melihat makanannya saja.


"Akhirnya datang juga, makasih ya, Mbak." Ucap Viona tersenyum ramah.


"Sama-sama, Mbak." Lalu pelayan itu pergi.


Dan Viona langsung saja menyantap hidangan makanan yang ada di sana dengan tergesa. Rasa lapar yang ia rasa membuatnya tidak peduli pada sekitar. Tak peduli pada keadaan yang sibuk melahap kepiting saus tiram.


Ray menatap bengong seraya menggelengkan kepala melihat Viona begitu lahap. "Dia beneran kelaparan? Apa di rumah sakit tadi belum makan? Seharusnya 'kan di kasih makan meski hanya sebatas bubur." Ray keheranan dan tidak habis pikir melihat cara makan Viona yang begitu cuek, pipinya pun sampai penuh mengunyah.


"Kau kelihatan seperti beberapa hari tidak makan?"


Viona mendongak, "iya, aku sangat kelaparan."


Ray membiarkan Viona makan sesuka hatinya, dia pun ikut makan dan juga mereka menghabiskan makanan yang dipesan hingga ludes tak tersisa.


"Ah, akhirnya kenyang juga." Viona menyenderkan punggungnya ke kursi dan mengusap perutnya. Tangannya pun sudah bersih.


Ray mengelap bibirnya dengan tissue, tapi mata tertuju kepada Viona. "Dia bahkan tidak ada jaim-jaimnya," ucap Ray dalam hati.


"Berhubung semua makanan di sini aku yang bayar, kau harus membayarnya juga."


"Kok gitu? Aku bayar pakai apa?" Viona terkejut, ia pikir makanan yang barusan ia makan semuanya gratis, tapi nyatanya Raymon malah perhitungan. Jika saja ia tahu Ray akan perhitungan, dia tidak akan memakan semuanya.


"Mana ku tahu, itu urusanmu." Ray berdiri dan meninggalkan tempat itu. Ia tersenyum tipis.


"Ray, kok gitu sih? Aku bayar pakai apa? Kamu pelit, masa membiarkan aku yang bayar semuanya?" Viona panik dan ia berdiri mengejar Raymond.


"Ray," ucap Viona merengek manja.


"Kamu bayar milikmu dan aku bayar makanan yang aku bayar. Enak saja mau aku yang bayarkan semuanya." Ray menengok kesamping memperhatikan raut wajah kesal Viona yang entah sejak kapan terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Tapi aku minta uangnya dulu." Viona menengadahkan telapak tangannya dan menatap Ray dengan tatapan memelas. "Aku minta uang, dong. 'Kan kamu masih menjadi suamiku."


"Sudahlah, mending kita pergi saja dari sini." Ray melanjutkan langkahnya.


"Tapi itu makanannya 'kan belum di bayar."


"Sudah, tadi di bayar saat kau ke toilet." Ray berkata jujur jika makanan yang ia pesan memang sudah dibayar.


"Seriusan?" tanya Viona memastikan sembari mengekori Ray dari belakang.


"Iya," balas Ray sambil membuka pintu mobilnya. "Ayo masuk! Kita pulang."


Dan Viona segera berlari masuk ke dalam mobil. "Makasih Ray, akhirnya aku tidak jadi cuci piring," ucap Viona tersenyum senang dan ia pun duduk anteng menatap depan. Ray melirik sebentar sampai mobilnya melaju meninggalkan tempat.


Hari makin malam dan suasana makin mencekam. Air hujan juga kembali turun ke bumi mengguyur kota N. Tak terasa sudah jam 8 malam tapi jalan dan suasana terasa sepi. Mungkin karena ujan terus mengguyur sehingga membuat suasana terasa berbeda.


Dan anehnya mobil yang di kendarai mereka tiba-tiba saja mogok.


"Lah, kenapa berhenti di tempat sepi?" Ray terkejut sebab ia merasa mobilnya baik-baik saja tidak bermasalah.


"Mungkin kau lupa isi bensin kali," celetuk Raymond dan langsung menoleh. Ia pun mengecek bahan bakarnya.


"Ini tempat sepi dan tidak ada penjual bensin di sini. Jauh dari penghuni rumah, jauh dari keramaian, dan hanya ada jalanan sepi saja," ujar Viona.


"Kamu tunggu di sini sebentar dan jangan kemana-mana!" Ray hendak turun tapi tangannya di cekal.


"Kamu mau kemana? Aku takut sendirian, Ray. Jangan aneh-aneh, deh."


"Sebentar saja, mau cek tukang bensin di sekitar sini. Di belakang sana ada warung tukang eceran bensin. Kamu tunggu di sini, dan jangan keluar! Ok!" Ray segera keluar dan berlari ke arah barat untuk membeli bahan bakar.


"Ray, cepat kembali!" pekik Viona.


"Iya."


Dan Viona pun menunggu seorang diri di dalam mobil. Sudah beberapa menit, Ray masih tak kunjung datang.


"Kemana perginya Raymond? Lama sekali." Saking kesalnya, Viona ke luar mobil dan menunggu di luar, ia juga mondar mandir gak jelas tidak tenang dengan keadaan sekitar.


Bruuuum ... bruuuum ... bruuuum....


Dua motor mendekati Viona, mereka berempat dan juga memutari mobil Viona.

__ADS_1


"Wow, ada cewek cantik di sini. Kaya juga, lumayan barang-barang berharga miliknya bisa kita ambil." pekik salah seorang pria yang ada di atas motor.


Mereka memberhentikan motornya tapi orang-orang masih berada di atas motor.


"Siapa kalian? Pergi dari sini!" pekik Viona ketakutan. Baru saja dia mengalami hal yang tak terduga, sekarang akan mengalaminya lagi. Seakan tak habis pikir dengan jalan Tuhan, mengapa dirinya selalu saja mendapatkan ujian?


"Tidak akan, nona. Kita geledah barang berharganya!" ujar pria yang ada di atas motor. Dan mereka berempat turun hendak membuka mobil. Viona mencoba menghalangi melindungi barang-barang berharga suaminya.


"Jangan sentuh barang suamiku!" sentak Viona, "pergi kalian semuanya!"


"Minggir kau!" salah satu dari mereka mendorong Viona menjauhkannya dari mobil.


Di saat tubuh itu hendak tersungkur, seseorang merangkul perutnya hingga tak jadi jatuh. Viona mendongak, "Ray."


"Mau apa kalian menggeledah mobilku? Kalian perampok?" ujar Ray menatap bengis mereka semuanya.


"Wow, rupanya pemilik mobil datang. Kalian hajar dia biar saya yang mengamankan barang-barang berharganya!" titah salah satu pria dari keempat orang.


"Baik, Bos." Dan ketiga orang itu menghadang Raymond. Ray segera mundur mengambil ancang-ancang untuk menjauh dan mencari tempat luas buat berkelahi.


Dengan gesit Raymond bisa menghindar, kemudian dia menendang perut sang penjahat hingga tersungkur.


Ray memasang kuda-kuda, dan memperhatikan pergerakan ketiganya. Satu lawan tiga, sungguh pertarungan yang tidak seimbang. Tapi Ray tidak menyerah.


Bugh bugh bugh


Pukulan demi pukulan Ray layangkan. Menepis, mengelak, menendang dan meninju ia lakukan demi melindungi diri.


Sedangkan Viona mencari sesuatu untuk memukul pria yang hendak mencuri mobil dan barang berharga mereka. Dia melihat kayu dan segera mengambilnya.


Lalu, Viona memukulkan kayu itu ke pundak pria yang akan masuk ke mobil.


Bugh


Pria itu menoleh dengan sorot mata tajam penuh amarah. Sayangnya pukulan yang Viona berikan tidak mempan oleh pria itu.


"Kurang ajar, beraninya kau memukul ku!" sentak pria itu hendak menangkap Viona. Viona memukulkan lagi kayunya tapi pria itu menangkap dan membuang kayunya.


"Beraninya kau menyakiti ku, sialan! Rasakan ini!"


Plak ....

__ADS_1


__ADS_2