
"Raymond!" Viona terkejut sekaligus merasa berdebar menyadari dan melihat orang yang selama ini masih berada di dalam hatinya. Ya, Viona tidak bisa melupakan Raymond meski orang itu sudah lama tidak bertemu dengannya. Namun, cinta Viona tetap untuk Ray, orang pertama dan pria pertama yang sudah banyak mengajarinya banyak hal. Pria calon ayah dari anaknya.
Ia perlahan berdiri dengan tatapan masih tertuju kepada Raymond. Pun dengan Raymond yang juga menatap lekat wajah Viona yang kian bertambah semakin cantik dan berisi.
Miranda yang baru melihat sempat terkejut menyadari perut Viona besar. Dia menoleh menatap suaminya seakan minta penjelasan mengenai segalanya. Bram mengerti dan ia pun berkata, "saat Viona pergi meninggalkan rumah dan berencana menjauhi kita, saat itu dia sedang mengandung dan usia kandungannya baru satu bulan. Papa tidak mungkin membiarkan Viona terlantar begitu saja di saat ada calon cucu papa dalam diri Viona. Maka dari itu papa membawa dia ke sini dan membelikan rumah ini untuk ia tinggali. Tadinya papa todak akan mempertemukan Raymond dan Viona, cuman papa tidak bisa melihat kesedihan diantara keduanya. Ray yang tersiksa dan berubah, Viona yang sering kali terlihat melamun dan kata bi Marni sering mengigau nama Raymond, pada akhirnya mereka papa pertemukan," tutur Bram menjelaskan sesuatu kepada istrinya.
Miranda diam dan ia menyadari kesalahannya karena pada hari itu dirinya malah membiarkan Viona pergi. Padahal, wanita hamil itu masih saja berbuat baik padanya dan begitu terlihat menghormatinya.
"Seandainya pada hari itu aku tahu yang sebenarnya, mungkin aku tidak akan melakukan hal yang membuat Raymond tersiksa dan menderita." Miranda menatap lembut wanita yang sedang mematung saling bertatapan dengan putranya.
Langkah Raymond mendekati Viona dan tidak terasa kini mereka saling berhadapan dengan jarak begitu dekat. Viona sendiri tidak menyadari lebih tepatnya terlalu fokus hingga tidak menyadari kalau Ray sudah ada di hadapannya.
Grep ..
Raymond langsung memeluk Viona dengan perut buncit sebagai penghalang dada mereka. Namun, hal itu tidak membuat Raymond terganggu dan malah mengelus perut Viona.
"Maaf karena aku tidak ada di saat kamu mengandung dan maaf karena waktu itu aku kurang peka terhadap kamu. Maafkan aku Viona, maaf." Raymond menekuk erat tubuh Viona dan ia mengecup lama kening Viona.
Wanita hamil itu diam mematung tak percaya kalau ini nyata bukan halusinasinya. Dia bahkan masih dalam diam sangat syok karena Raymond memeluknya. Namun, pikirannya kembali mengingat pada kejadian dulu yang dimana Raymond terlihat bahagia bersama istri pertamanya.
Viona mendorong tubuh Ray dan ia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. "Maaf, seharusnya kamu tidak boleh sembarangan memeluk wanita lain. Nanti istrimu marah." Viona tidak mau merusak kebahagiaan Raymond dan tidak mau lagi kembali diantara pernikahan mereka. Ia juga tidak di beritahu oleh Bram mengenai kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Vi, aku ..." Ray hendak berkata Aku sudah cerai dengan Elena. Namun, mamanya malah bersuara memotong perkataannya.
"Tidak ada yang akan marah karena Raymond tidak lagi bersama Elena," ujar Miranda seakan tahu kemana arah pembicaraannya Viona.
Viona menoleh dan ia cukup terkejut ada Miranda, mantan mertuanya dulu. "Ma, nyo-nyonya!"
"Panggil Mama dengan sebutan mama!" pinta Miranda mendekati Viona dan mengusap pundak Viona. Miranda menatap lekat wajahnya Viona yang jika di amati begitu mirip rekannya dulu.
Viona tertegun dan ia juga merasa tidak mengerti kenapa Miranda bersikap baik hingga tutur katanya pun terkesan lembut.
"Lebih baik kita makan saja dulu, nanti kita jelaskan semuanya secara baik-baik dan tentunya setelah makan malam." Bram bersuara mengalihkan pembicaraan mereka.
"Nyonya, Tuan, mari. Makanannya sudah siap," ujar bi Marni mempersilahkan majikannya menuju meja makan.
*****
"Makan yang banyak ya, biar kamu dan calon cucu mama sehat." Miranda begitu perhatian sekali dan ia juga memberikan ikan ke piring Viona.
"Aku suapi ya, kamu diam saja," timpal Raymond sudah siap memisahkan daging ikan dari durinya.
"Eh, tidak usah repot-repot. Biar aku sendiri!" ujar Viona menolak di suapi Raymond. Namun, ia tidak menolak ikan yang di berikan Miranda karena memang ia suka ikan dan saat ini sering banget makan ikan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Ayo buka mulutnya, aaa!" Ray memaksa dan berharap Viona mau membuka mulutnya dan memakan nasi yang ia sodorkan.
Awalnya Viona menolak, tapi karena banyak paksaan dari setiap sisi, jadinya Viona menerima suapan demi suapan yang Raymond berikan.
Bi Marni yang sedang menuangkan makanan tersenyum. Ia terharu melihat keluarga Tuannya begitu perhatian pada wanita malang itu. Bi Marni tahu kalau Viona seringkali mengeluh dan sering meminta untuk bertemu Raymond dan ingin makan di suapi. Kini, keinginan kecil itu terpenuhi.
Viona menatap lekat wajah tampan Raymond yang nampak semakin tampan dimatanya. "Kenapa rasa ini masih ada setelah sekian lama berpisah? Tuhan, kenapa sulit sekali melupakannya."
Beberapa saat menikmati makan malam, mereka kini tengah duduk di kursi tamu. Tangan Viona tidak lepas dari genggaman Miranda yang sedang duduk di sampingnya.
"Mama minta maaf atas segala perbuatan yang Mama lakukan pada mu. Mama menyesal dan mama sungguh minta maaf. Apa kamu mau memaafkan mama?" tanya Miranda menatap serius bola mata indah Viona.
"Mah, tidak ada yang perlu dimaafkan karena mama tidaklah salah. Seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan tidak akan membiarkan anaknya salah memilih pendamping, aku mengerti itu. Lagian, disini aku yang salah karena hadir secara tiba-tiba dalam rumahtangga Raymond."
"Tidak, kamu tidak salah apapun dan semua ini sebuah takdir," sahut Raymond sambil berdiri dan berjongkok di hadapannya Viona. Ia berlutut dengan tangan menggapai tangannya Viona.
"Justru aku yang tidak pernah peka dan tidak pernah mengerti kalau Tuhan telah menciptakan seorang wanita yang akan menjadi pendamping ku. Kehadiranmu menyadarkan ku arti cinta yang sesungguhnya, kehadiranmu mampu membuat ku merasa di cintai dan aku tidak menyesal jamu hadir dalam kehidupanku. Justru, aku sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan mu dalam kehidupanku. Vi, mungkin aku yang salah karena terlambat menyadari perasaanku."
Viona melepaskan tangan Raymond. "Kami bicara apa, Ray? Jangan aneh-aneh, deh. Kamu harus ingat jika ada istri dan calon anak yang harus kamu perhatikan. Aku bukan istrimu lagi, Ray."
"Siapa bilang kamu bukan istriku? Tidak ada kata talak diantara kita, dan tidak pernah terucap kata cerai dari mulutku karena aku tidak akan pernah menceraikanmu. Malahan, pernikahan kita sudah resmi secara agama dan negara." Raymond berkata serius dan tidak main-main dalam keadaan seperti ini. Pun dengan Miranda dan Bram yang memperhatikan cara Raymond meluluhkan Viona kembali.
__ADS_1
Miranda sendiri tidak akan melarang Raymond memilih Viona.
"Apa? Ko bisa?" pekik Viona terkejut tidak mengerti.