
Entah kemana langkah kaki membawa pergi, entah kemana tujuannya saat ini, entah kemana ia berteduh mencari tempat tinggal, dan entah kemana ia harus pulang. Tak ada sanak saudara yang ia miliki selain mereka-mereka yang keji.
Air hujan mengguyur kota N seakan menjadi saksi kesedihan Viona. Langit pun ikut menangis, awan pun ikut menyaksikan betapa sedihnya seorang Viona.
Langkah gontai seraya menjinjing ransel berisi pakaian, Viona melangkah seorang diri dengan derai air mata berbalut air hujan. Ya, hujan menutupi tetes demi tetes air asin yang keluar dari matanya, hujan juga menutup isak tangis seorang Viona.
Jika boleh meminta, Viona hanya ingin dipertemukan dengan orang-orang yang benar-benar menginginkannya dan bahagia walau sekejap saja. Jika boleh meminta Viona tidak ingin dilahirkan jika pada akhirnya ia dibuang.
Dunia seakan kejam pada gadis berusia delapan belas tahun ini. Siksaan lahir batin ia rasakan secara bertubi-tubi hingga sebuah pernikahan dini pun ia alami. Dan lebih menyakitkannya lagi, suami yang seharusnya menjadi tempat berlindung nyatanya tidak menginginkan dia dan sudah menikah pula.
"Biarlah waktu menjawab semuanya. Jika aku di takdirkan begini, aku terima dengan hati yang ikhlas. Dan jika memang hidupku harus berakhir dalam lingkaran orang-orang kejam, aku rela asalkan izinkan aku bahagia sekali saja. Tapi, hanya satu yang tidak ingin aku temui, yaitu bertemu mereka yang menginginkan jasa pelayanan tubuh."
Viona menghelakan nafas berat seraya melangkah pelan tak tentu arah.
*****
"Ray, sebaiknya kau pulang dan temani Viona di rumah, atau ajak dia jalan-jalan ke manapun yang kau inginkan. Biarkan di sini papa yang mengurus. Papa masih bisa menghandle semua pekerjaan dan juga masih sanggup mengurus perusahaan." Bukan Bram tidak ingin putranya berada di kantor, tapi Iya jauh lebih tidak ingin membiarkan Viona sendirian di rumah apalagi gadis itu belum tahu daerah sekitar sana. Takutnya, Viona keluar dan nyasar. Apalagi mengingat istrinya begitu tidak menyukai Viona, semakin membuat Bram tidak tenang takut jika istrinya melakukan tindakan hal yang tidak diinginkan.
Ray yang sedang duduk membaca dokumen pun mendadak kesal. Ia mendongak menatap wajah papanya. "Tidak bisakah Papa membiarkan meraih tenang sehari saja tanpa membahas wanita itu? Ray tidak mau dengannya, Pah. Sudah untung aku mengikuti perintah papa menikahi dia, tapi jangan paksa aku untuk tetap terus berada di dekatnya."
__ADS_1
"Ray kamu sudah janji sama papa akan mengikuti semua perkataan papa. Kau tidak ingat perjanjian kita? Perjanjian jika kamu tidak akan menolak asalkan karir istrimu baik-baik saja." Bram mengingatkan kembali perjanjian mereka.
Ray mengeram kesal, tangannya terkepal kuat menahan amarahnya. Ingin sekali ia memukul pepatahnya, tapi Ray tidak berani mengingat orang yang ada di hadapannya adalah pria yang harusnya ia hormati. Dia berdiri penuh emosi.
"Ok, baiklah. Ray akan pulang sekarang juga sesuai yang Papa inginkan. Tapi jangan pernah sekalipun Papa mengusik Elena. Jika Papa mengusiknya, jangan salahkan Ray menyakiti wanita sialan itu!" ujar Ray emosi dan mengeluarkan suara sentakan. Lalu Ray pergi begitu saja tanpa pamitan dulu dengan wajah sudah sangat kesal.
Bram memperhatikan pergerakan putranya sehingga tubuh tinggi Ray hilang di balik pintu.
"Seandainya kamu tahu kalau Elena tidak sebaik yang kamu tahu. Elena pergi mengejar mimpinya bukan hanya sekedar kerjaan, tapi wanita itu memiliki alasan lain, Ray. Alasan yang mungkin saja membuatmu tidak percaya siapa dia. Tapi, papa belum bisa memberitahukan semua ini kepada kamu sebelum cintamu teralihkan kepada Viona. Jika kamu sudah nyaman dan jatuh cinta padanya, seberapa besar pun Elena menghianatimu kau tidak akan sakit hati."
Seorang ayah tidak mungkin membiarkan putranya memilih orang yang salah. Cukup dulu ia mengizinkan Ray menikahi wanita pilihannya dan kali ini, dirinya tidak akan membiarkan Ray jatuh kedua kalinya. Maka dari itu, Bram memilih Viona menjadi istri Raymond demi masa depan putranya sendiri.
*****
Dalam perjalanan, Ray menggerutu kesal. "Sialan, kenapa gadis itu begitu menyusahkan ku. Dia bisa membuat papa begitu menyukainya. Bisa-bisanya Papa selalu membela dia dan menyuruhku dekat dengannya." Dan di saat itu pula ponselnya berdering. Ray menekan earphone yang ada di telinganya sehingga sambungan pun tersambung.
"Halo sayang," sapa wanita di sebrang telpon.
"Halo juga sayang. Kenapa sulit sekali menghubungimu, Elena? Kamu sekarang begitu sibuk dan sulit ku hubungi. Emangnya kau tidak merindukanku?" Tak ada jeda sedikitpun, Ray terus mencerca Elena dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1
"Bukan aku tidak ingin menghubungimu, Ray. Aku sangat sibuk dan jarang sekali pegang ponsel. Ini saja lagi istirahat dari pemotretan dan kebetulan aku sedang merindukanmu. Makanya menghubungimu."
"Sibuk sekali sampai lupa waktu. Sudah kukatakan jangan mengambil job itu. Aku masih mampu menghubungimu tapi kau, kau malah pergi tanpa izin dariku."
"Sudahlah, jangan bahas ini dulu. Aku malas mendengarnya. Ini mimpiku, ini keinginanku, ini adalah dunia yang ingin aku kejar, dan seharusnya kau mendukung penuh atas keinginan ku." Terdengar helaan nafas kasar dan juga kekesalan dari suaranya Elena.
"Tak bisakah kau cepat pulang dan mengikuti keinginanku, Elena?" Ray prustasi sebab Elena sulit sekali untuk di ajak serius dalam pernikahannya. Dia yang selalu mengalah karena terlalu mencintai Elena. Namun, Elena tidak pernah satu kali pun mengerti keinginan Raymond.
"Sorry, Ray. Aku harus kerja lagi. Dan aku minta kau jangan pernah tergoda oleh wanita murahan itu. Jangan coba-coba menyentuh dia apalagi menyukainya!" sebuah peringatan pun Elena layangkan penuh penegasan. Lalu, Elena terlebih dulu mematikan sambungan teleponnya.
"Halo, Elena. Halo!"
Bug ....
Ray memukul stir mobil saking kesal istrinya mengabaikan dia. "Sial, lagi-lagi sulit di ajak. Sampai kapan kamu akan begini terus? Menolak keinginan suami bahkan tidak pernah sekalipun menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dari awal menikah kau suami saja memiliki alasan untuk tidak ingat aku sentuh. Sebenarnya kau mencintaiku atau tidak, Elena?" gumam Ray mempertanyakan mengenai hubungan pernikahannya.
Ray terus melajukan mobilnya membelah jalan di bawah guyuran hujan. Di saat itu pula, matanya memicingkan mata menatap ke depan pada orang yang sedang di ganggu.
"Viona!"
__ADS_1