Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Melakukan pemeriksaan.


__ADS_3

Setelah mengetahui tanda-tanda kehamilan dalam dirinya, Viona segera memesan taksi online dan menuju apotik terdekat. Dia juga mencari tahu segala hal tentang cara memeriksa dan mengetahui hamil atau tidaknya. Cara pertama yang akan Viona lakukan adalah membeli alat tes kehamilan dan memakainya terlebih dulu. Jika hasilnya positif, maka Viona akan berangkat sendiri ke bidan terdekat untuk memeriksa keadaan dirinya lagi.


"Pak, tolong berhenti di apotik yang ada di jalan xxx." Viona pun meminta sopir taksi memberhentikan mereka di salah satu toko obat terdekat.


"Baik, Bu."


Dan tak lama kemudian mereka sampai di tempat yang di tuju.


"Pak, tunggu sebentar ya, aku hanya akan membeli sesuatu, tidak lama." Lagi-lagi Viona meminta sopir taksinya mengikuti kemauan dia.


"Siap, Bu. Saya akan tunggu di sini."


Viona turun dari mobil, kemudian dia mulai memesan beberapa alat yang ia inginkan. Lalu kembali lagi ke taksi yang terparkir di depan toko itu. Tapi, ia yang juga penasaran belum masuk ke dalam.


"Hmmm, apa aku tes di toilet umum saja, ya?" Viona melihat arah toilet umum yang ada di sekitar sana. "Aku penasaran, sekalian kalau hasilnya keluar mau langsung ke rumah sakit saja," gumam Viona dalam hatinya.


"Ada apa, Bu?" tanya sopir melihat heran karena penumpangnya masih diam mematung di luar.


"Saya ke toilet sebentar, Pak. Tunggu dulu ya." Viona pun berlalu dari sana menuju toilet.


"Oalah, hanya mau ke toilet saja pakai melamun segala. Ada-ada saja anak itu."


Banyak yang bilang air kencing lebih bagus di periksa saat setelah bangun tidur, tapi berhubung Viona penasaran tentang hasilnya, maka ia mengetesnya sekarang.


Di dalam toilet, jantung Viona berdebar menunggu hasilnya keluar. Perlahan tangannya mulai mengarahkan alat yang ia pegang ke air yang sudah ia tampung terlebih dulu. Hingga alat itu pun mulai menyentuh airnya dan Viona membiarkannya selama beberapa detik.


Perlahan air itu naik dan mulai menunjukkan satu garis merah, kemudian mulai naik lagi semakin atas.


Deg ... deg ... deg ... deg ....


Jantung Viona semakin berdebar kencang tatkala samar-samar garis kedua mulai terlihat. Tangannya gemetar menyaksikan sendiri jika alat itu menunjukkan garis dua, meski garis yang keduanya masih malu-malu nampak.


Viona menarik alatnya dari air itu, dan membiarkannya selama mungkin.

__ADS_1


"Ya Tuhan, secepat ini kau memberikanku penggantinya. Alat ini menunjukkan hasil positif."


Tes ....


Satu tetes air mata meluncur bebas tanpa bisa di cegah lagi. Bahagia sudah pasti, gembira sangat, dan sangat tidak menyangka jika dalam kurun waktu dekat ini ia di berikan kepercayaan.


Viona segera menghapus air matanya, membuang airnya, dan segera menghampiri mobil taksinya. Dengan tergesa, Viona masuk kedalam taksi dan meminta supirnya jalan.


"Pak jalan! Tapi aku mau me bidan terdekat dulu, ya." pinta Viona.


"Siap, Bu."


"Apa Raymond akan senang mengetahui aku hamil? Apa dia akan menerima anak ini? Kalau Ray tidak mau bagaimana?" ia menunduk menyembunyikan raut wajah sedihnya. Sedih karena takut jika semuanya tidak sesuai kenyataan.


*****


Bidan


Viona sudah berbaring menunggu dokter memeriksa perutnya. Bu bidannya pun duduk di dekat Viona.


"Apakah Anda mengalami mual, atau pusing?"


"Iya, sudah tiga hari ini saya mengalami hal itu semua," jawab Viona berkata jujur karena itu yang sering ia alamai dan Dokter itu mengangguk mengerti. Karena ada sebagian orang yang tidak mengalami gejala-gejala mual, pusing ataupun ngidam yang lainnya.


Lalu, Dokternya mengambil alat pemeriksaaan berupa alat Ultrasonografi 2D.


Ultrasonografi 2D merupakan jenis USG kehamilan standar yang biasanya juga dilakukan ketika awal kehamilan. Jenis USG ini hanya menampilkan gambar dalam warna hitam putih.


Dokter itu begitu teliti dengan gambar yang tertera di layarnya. Dia menyunggingkan senyuman dengan hasilnya.


"Bisa nona lihat ini, titik hitam ini merupakan Zigot yang nantinya akan menjadi embrio," tutur bidannya menyuruh mereka yang ada di sana memperhatikan laptop yang terhubung dengan alat canggih tersebut.


Viona memperhatikannya, "Jadi intinya saya ini beneran positif hamil?!" celetuk Viona menebak apa yang terjadi.

__ADS_1


"Iya, Nona Viona positif hamil dan usianya baru empat Minggu," tutur Bidan membuat Viona terkejut sekaligus merasa senang.


"Jadi saya beneran hamil, Dok?" sahut Viona terkejut sekaligus bahagia dan juga sudah berkaca-kaca tidak percaya jika kini dalam perutnya sudah hadir calon bayi.


"Benar nona."


"Yang sehat, ya, sayang. Mama sayang kamu dan kita akan segera memberitahukan Papa mu." gumam Viona dalam hati sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar ini. Ia berharap Ray juga bahagia.


*****


Setelah melakukan pemeriksaan, Viona mencoba menghubungi Ray, tapi panggilannya tidak tersambung karena ponsel Ray tidak aktif. Viona juga mengirimkan pesan singkat berharap Raymond membacanya.


Di dalam taksi, Viona gelisah ingin segera bertemu Ray. Dia tidak sabar ingin memberitahukan perihal kehamilannya. "Apa aku ke rumah Papa saja? Aku ingin tahu Ray sedang apa. Ya, lebih baik aku ke sana saja."


"Pak, kita ke alamat xxxx, ya."


"Baik, Bu."


*****


Kediaman Bram.


Viona sudah sampai di depan rumah mertuanya. Ia segera membayar taksi dan sedikit berlari ingin melihat suaminya dan tidak sabar ingin memberitahukan kalau dia hamil. Namun, baru saja hendak menekan bel, Viona mendengar pembicaraan mereka karena pintunya terbuka dan sangat jelas memperlihatkan tiga orang yang terlihat sangat bahagia. Dia tertegun dengan raut wajah murung dan hati yang terasa sesak.


"Selamat ya, Elena. Mama senang akhirnya kamu hamil juga. Itu artinya keluarga kita akan punya penerus keluarga." Miranda kegirangan dan ia memeluk Elena penuh rasa haru.


Ray tersenyum tak menyangka bahwa Elena akan hamil. "Mungkin kejadian di hotel itu mampu membuat Elena mengandung. Tidak menyangka hanya sekali sentuh saja bisa langsung jadi begini." Ada rasa haru mendengar istrinya hamil. Sesuatu yang sedari dulu Ray inginkan kini terwujud dari dalam Elena. Dia sampai melupakan keberadaan Viona yang juga sedang membutuhkan dirinya. Dan tanpa Ray sadari kalau Elena berhasil mengelabui semua Keluarganya termasuk kepercayaan Ray.


"Aku juga sangat senang, Mah. Aku tidak menyangka akan mengandung secepat ini." Elena tersenyum mengusap perut kosongnya. "Cristin memang pintar, dia pandai mencari dokter yang mau bekerja sama dan membuat semua orang percaya kalau aku hamil beneran." Elena sempat mengirimkan pesan pada Cristin untuk mencari dokter yang akan memberikan informasi palsu.


"Bagaimana, Ray. Apa kamu senang kalau Elena hamil?"


"Aku sangat senang, Mah. Ray tidak menyangka akan di berikan keturunan dalam waktu cepat ini." Ray tersenyum menatap Elena. Lalu, pria itu berjongkok di hadapan Elena dan mengusap perutnya. "Terima kasih, Elena. Kamu mau mengorbankan karir kamu demi rumah tangga kita. Aku mencintaimu."

__ADS_1


Deg ....


"Hamil, jadi Elena sedang hamil. Ini alasan Ray tidak pulang ke rumah karena sedang berbahagia bersama istrinya."


__ADS_2