
Dengan rasa penasaran yang besar, Raymond mencari club yang di maksud Adit. Pria itu sangatlah marah atas apa yang ia dengar, dan untuk memastikannya, Ray ingin mencari pria bernama Louis.
Namun, baru saja dia tiba di club yabg di maksud, club itu sudah rata dengan tanah dan tidak ada bangunan lagi yang berdiri di sana.
"Tidak biasanya club ini hancur. Apa pemiliknya bangkrut? Atau dia tidak lagi mendirikan club di sini? Tapi pindah kemana?" gumam Ray menerka-nerka.
Sebelum mendapatkan informasi mengenai Viona, Ray tidak akan pulang. Dengan tujuan yang ingin di capai, Raymond bertanya-tanya kepada setiap orang yang ada di sana. Dia mencari tahu mengenai ke pindahan pria bernama Louis.
Setelah mendapatkan informasinya, Ray segera meluncur ke tempat yang di tuju. Dan kini ia berada di depan rumah pria yang dimaksud orang-orang jika itu rumahnya Louis.
*****
"Siapa, ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Louis ketika mereka sedang berada di dalam rumah.
"Apa kau mengenal wanita bernama Lamuela Viona Saira?" tanya Ray langsung saja pada tujuannya saat ini.
Dahi Louis mengerut merasa mengenali nama itu, tapi ia tidak mungkin tahu jika tanpa melihat fotonya.
"Apa kau punya fotonya? Siapa tahu nama ini berbeda dengan orang yang saya ketahui."
Ray mengambil ponselnya dan mencari foto Viona. Kebetulan sekali ada foto saat mereka melakukan akad nikah. "Ini, kau mengenalnya?" Ray menyimpan ponselnya dan menunjukkan foto itu kepada Louis.
Sontak wajah Louis berubah saat melihat fotonya. Ternyata orang itu orang yang sama dengan wanita yang dulu ia jual kepada seseorang. Louis beralih menatap Ray.
"Ada kau menanyakan wanita ini? Dia sudah tidak lagi bekerja denganku."
"Jadi dia sungguh salah satu wanita malam? Begitu maksudmu?"
"Ya, dia salah satunya. Tapi dia sudah di beli oleh orang kaya dengan harga lima milyar."
"Siapa orang itu?" tanya Ray semakin di buat penasaran dan meyakini jika orang yang membelinya adalah ayahnya sendiri.
Louis masih diam enggan memberitahukannya.
"Jawab! Siapa yang telah membelinya!" sentak Ray menatap tajam penuh intimidasi. "Jika kau tidak menjawabnya, saya tidak akan segan-segan menghancurkan rumah ini!"
__ADS_1
"Ja-jangan! Dia ... Dia Bramantyo Christopher." Karena tidak ingin di hancurkan yang kedua kalinya. Louis mengakui siapa pria terakhir yang sudah membeli Viona.
Brak!
Ray menggebrak meja begitu murka mengetahui ayah nya lah yang sudah membeli Viona.
"Brengsek, jadi dia wanita simpanan ayah dan malah di jadikan istriku," gumam Ray dalam hati.
"Kau tahu tujuan dia membeli wanita itu!"
"Dia hanya bilang jika wanita itu miliknya setelah membelinya."
"Ba ji ngan!" Ray berdiri dan langsung pergi dari sana setelah mendapatkan informasi mengenai Viona. Rasa marahnya dan rasa bencinya kepada Viona semakin membuat Ray menggunung dan ingin memberikan pelajaran kepada Viona.
*****
Di rumah, Viona gelisah menunggu suaminya pulang. Sudah mau dini hari tapi Ray tak kunjung kembali. Hatinya tidak tenang dan gelisah takut jika Raymond termakan ucapannya Adit.
"Kenapa dia harus datang ke kehidupan ku lagi. Pria itu buat kacau segalanya. Ray, kaki kemana? Ini sudah jam satu malam tapi kamu belum pulang. Ray, jangan begini?" Viona mondar-mandir sesekali mengintip lewat jendela kaca menunggu mobil Raymond tiba.
Ray tiba di rumah dalam keadaan setengah mabuk. Langkahnya sempoyongan saat masuk tapi masih memiliki kesadarannya. Di saat itu pula Viona melangkah hendak beranjak ke dapur.
Namun, Viona begitu terkejut saat tangannya tiba-tiba di cekal. Tatapan Ray seakan mengintimidasi, raut wajahnya terlihat jelas sekali jika pria itu sangatlah marah. Hal itu pun membuat Viona takut. Viona mencoba melepaskan cekalan Ray yang semakin kuat saja.
"Mas lepaskan! Sakit!" Viona meringis kesakitan.
"Kenapa kau melakukan ini, hah? Apa tujuanmu mendekati keluargaku?" teriak Ray marah. Suaranya menggelegar di ruangan itu dan ia dengan kasar mendorong Viona dengan kasar.
"Apa maksudmu, Ray? Aku tidak mengerti." Viona meringis mendongak, ia tidak tahu maksud dari perkataan Ray menjurus kemana.
"Jangan pura-pura tidak tahu, sialan!" sentak Ray mencengkram lehernya Viona.
Viona terbelalak menahan tangan Ray yang ada di lehernya. Dia ikut berdiri saat tangan Ray menariknya berdiri.
"A-aku ti-tidak tahu. Le-lepaskan a-aku!" nafas Viona mulai sesak, matanya berembun dan ia menahan sakit.
__ADS_1
"Masih saja kau bilang tidak tahu. Baiklah, maka aku akan memberitahumu." Lalu Ray menarik tangan Viona dan menyeret paksa gadis itu.
"Kau mau bawa aku kemana? Lepaskan aku, Raymond!" Viona ketakutan kala tatapan itu begitu tajam seakan ingin membunuhnya.
Ray menghempaskan tangan Viona secara kasar dan mendorong tubuh gadis itu ke atas ranjang yang ada di kamar terdekat.
"Ka-kau mau apa?" tatapan Ray membuat Viona ketakutan. Sebisa mungkin gadis itu turun dari ranjang hendak melarikan diri.
"Apa yang kau inginkan dari keluargaku, hah? Uang, kepuasan, atau menginginkan ayahku atau diriku?" sentak Ray dengan raut wajah tak terbaca seraya melepaskan kancing baju yang ia kenakan.
Jiwanya sudah di penuhi amarah dan di kuasai hasrat akibat minuman memabukkan yang menyelimuti dirinya. Saat ini, pikiran Ray begitu kemelut dan ingin memberikan pelajaran kepada Viona. Saking marahnya atas apa yang ia ketahui membuat Ray gelap mata.
Viona berusaha kabur, tapi Ray segera mengungkung tubuh Viona.
"Ka-kau mau apa? Lepaskan aku, Ray!" Sebisa mungkin Viona melepaskan diri dari Raymond. Dia memberontak, tapi tenaganya kalah dengan tenaga Ray.
Bukannya melepaskan, Ray semakin kasar memperlakukan Viona dan berusaha menyentuh apapun yang ada di tubuh Viona. Viona terisak sambil meronta-ronta berusaha lepas dari kuasa suaminya.
"Kenapa kau memintaku melepaskan mu? Bukannya ini yang kau mau? Kepuasan dan uang, maka dari itu layani aku dan akan ku bayar kau, ******!" pekik Ray sambil menarik paksa baju tidur bermodel dress hingga terlepas dari bagian atasnya Viona.
Sekuat tenaga Viona mempertahankan pakaiannya meskipun Raymond semakin kasar memperlakukan dia.
"Jangan, Ray! Ku mohon jangan lakukan ini ..." lirih Viona sambil mencoba melepaskan tangan Ray yang bergerilya di kulit tubuhnya.
Viona sadar jika ini memang hak suaminya, tapi Viona tidak mau menyerahkan tubuhnya pada orang yang tidak menginginkan dia. Meskipun ia tahu jika Ray berhak atas dirinya, tapi Viona tidak mau di paksa begini.
"Jangan kenapa? Bukannya ini pekerjaanmu selama ini? Melayani setiap pria. Jadi layani aku dan aku akan memberikan kepuasan serta uang yang kau inginkan. Berapa? Lima milyar seperti Adit yang membelimu? Lima milyar seperti ayahku yang juga membeli mu? Maka aku akan membeli mu seharga sepuluh milyar!" Suara Ray memang terdengar santai, tapi begitu menakutkan di telinga Viona.
Ray mendaratkan bibirnya ke leher Viona. Wangi tubuh Viona membuatnya terhanyut dalam hasrat yang semakin menggebu. Pikiran yang diliputi amarah dan juga keadaan dalam setengah mabuk membuat Ray tak bisa mengontrol dirinya. Ray semakin menjadi dan memperdalam kecupannya di bibir Viona.
Tak sampai di situ, Ray terus berusaha melepaskan seluruh pakaiannya dan juga pakaian Viona. Viona terdiam dan hanya bisa terisak, bukan hanya hatinya yang tersakiti tapi juga fisiknya yang juga terluka atas perlakuan Raymond.
"Jangan Ray!" Di sisa tenaganya, Viona mencoba mendorong tubuh Ray yang sudah berhasil membuka segalanya.
Tanpa ampun, Ray menyatukan milik mereka secara paksa dan membuat Viona menjerit.
__ADS_1
"Ray, sakit!!"