
Apartemen.
Viona sudah terlihat segar dan juga rapi mengenakan pakaian yang sesuai usianya. Seperti biasa, Viona akan ke dapur dan menjalankan tugasnya sebagai wanita, memasak makanan untuk mereka hari ini
"Bi, boleh aku bantu?" tanya Viona menghampiri bi Marni yang sedang mengiris beberapa bahan masakan.
"Eh, non. Tidak usah, non Vio duduk saja. Biar bibi yang memasak buat non makan." Bi Marni tidak membiarkan Viona ngantuk barang-barang yang sedang ia kerjakan.
"Bibi tidak usah khawatir, aku bisa kok. Lebih baik bibi saja yang duduk Vio yang mengerjakan ini semuanya. Pasti bibi capek perjalanan ke sini, biar aku saja yang memasak." Viona tidak ingin merepotkan orang lain meskipun orang itu ditugaskan untuk menemani dan melayaninya.
Dia juga mengambil pisau yang ada di tangan Marni dan menyimpannya. Lalu, Viona merangkul pundak Marni dan mengajaknya duduk di kursi dekat meja makan.
"Non, bibi ..."
"Vio marah, loh, bi. Kali ini saja biarkan aku yang melayani bibi. Bibi sudah capek belanja, sudah capek melakukan perjalanan ke sini, maka biarkan Vio yang melayani bibi." Viona menggiring Marni untuk duduk di kursi.
Dia tetap memaksa wanita paruh baya itu untuk diam tidak melakukan apapun.
"Non, ini sudah menjadi tugas bibi, seharusnya bibi yang memasak." Bi Marni kembali berdiri tidak enak harus membiarkan Viona bekerja. Dia di bayar tuannya untuk melayani Viona dalam segala hal.
Viona kembali mendudukan Marni. "Biar aku saja, ok. Bibi diam di sini dan biarkan aku yang memasak."
Lalu Viona mengambil alih bahan masakan yang tadi Marni iris. Dengan cekatan, cari lentik dan putihnya begitu lihai menggunakan pisau dapur layaknya koki handal.
Marni yang tadinya meragukan kemampuan Viona menjadi diam seribu bahasa, ia tercengang melihat betapa hebatnya Viona dalam mengolah. Buru-buru Marni merekam aksi itu hingga untuk di laporkan ke tuannya.
"Non, sudah berapa lama bisa masak?" tanya Marni begitu penasaran gadis remaja seusia Viona sudah mahir dalam merangkai berbagai macam masakan. Jika mengingat jaman sekarang, anak-anak tidak akan mungkin mudah bisa memasak ataupun menggunakan pisau dapur secekatan itu.
__ADS_1
"Bisa di bilang dari kecil, bi. Mungkin sejak aku sekolah sadar," balas Viona menoleh sambil tersenyum. Ia kembali lanjutkan kegiatannya memasak nasi goreng cumi ala Viona. Dia senang karena ada teman bicara dan tentunya tidak merasa sendirian lagi
Marni sedari tadi terus merekam kegiatan Viona secara diam-diam agar Gadis itu tidak mengetahuinya. Lalu, Marni mengirimkan video nya ke majikan dia.
*****
Kediaman Bram
"Apa? Papa gak salah menyuruhku menikah lagi? Tidak, Ray tidak mau, Pah. Sampai kapanpun Ray hanya akan menikah dengan Elena. Meskipun tidak memiliki anak, Ray akan tetap mencintai Elena." Ray tak menyangka Papanya menyuruh dia menikah lagi di saat usia pernikahannya baru saja berusia 6 bulan. Padahal, Ray begitu mencintai Elena sejak awal pertemuan mereka. Sekalipun Elena sibuk bekerja dan jarang pulang, Ray selalu setia menunggu istrinya pulang.
"Apa kamu tidak ingin memiliki anak? Usiamu sudah dua puluh delapan tahun, Ray. Sudah matang memiliki anak. Papa sudah tua, papa tidak mungkin menunggu istrimu hamil jika usia papa saja sudah setengah abad. Papa tidak tahu kapan papa di panggil, maka dari itu, sebelum papa di panggil yang maha kuasa, papa ingin melihat kamu memiliki anak dan ingin bermain dengan cucu papa."
Bukan Bram tidak menghargai pilihan putranya, tapi ia merasa ada yang janggal dengan menantunya. Namun, Bram belum mengetahui pasti apa yang membuatnya janggal. Di tambah, dia merindukan sosok bayi mungil hadir dalam kehidupan mereka.
"Tapi tidak harus menikah lagi. Ray akan membujuk Elena agar mau mengandung anak Ray. Dan jika Elena mau, jangan paksa Ray buat menikahi wanita pilihan Papa!" Tentu saja Raymond tidak menyetujui hal ini. Dia akan tetap mempertahankan pernikahan mereka tanpa adanya orang ketiga.
Raymond beranjak berdiri ingin meninggalkan ruangan kerja papanya. Namun, makanya terhenti ketika Papanya bersuara lagi.
"Baik, Ray terima syarat dari Papa. Tapi Ray yakin kalau Elena akan mau mengandung anakku." Lalu, Raymond keluar dari sana.
Sesaat setelah Ray keluar, ponsel Bram berbunyi ada pesan masuk. Ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan. Ternyata Marni, asisten rumah tangga yang ia tugaskan untuk menemani Viona.
Bram membuka rekaman Video itu, ia menonton hingga selesai. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya.
"Rupanya dia pandai memasak, cara memakai berbagai macam alat dapur mengingatkanku pada seseorang." Gumam Bram dalam hati.
*****
__ADS_1
"Papa benar-benar sudah gila, masa anaknya di suruh menikah lagi. Enak saja nyuruh Ray mengkhianati Elena." Langkah Ray tergesa-gesa menuju parkiran mobil. Ia segera pergi ke suatu tempat.
*****
Apartemen
"Hmmm, masakan mu enak sekali. Ternyata bibi kalah jauh." Bi Marni mengakui masakan Viona sangatlah luar biasa. Lidahnya tidak bisa berhenti terus menikmati hidangan lezat di atas meja.
Viona tersenyum, "bibi bisa aja. Aku masih belajar masak, bi. Masakan ku kalah enak dengan masakan bibi." Dia merendah, tidak sombong atas pujian seseorang dan tentunya selalu merasa jika apapun yang ia lakukan masih terbilang amatiran.
"Bibi tidak bohong, non. Masakan non Viona sangatlah enak. Buktinya bibi nambah terus menerus," kata bi Marni sambil menyuapkan satu sendok makanan kedalam mulutnya.
"Syukurlah kalau memang bibi suka. Kadang aku suka bingung dengan selera lidah mereka." Viona pun kembali menghabiskan makanannya.
Bi Marni sudah selesai makan, ia mengambil gelas berisi air minum dan meminumnya.
"Non, boleh bibi tanya sesuatu?" tanya Marni setelah menyimpan gelasnya ke atas meja.
"Boleh selagi aku bisa menjawabnya." Viona gadis yang mudah akrab pada siapa saja. Saat bertemu dengan bi Marni pun, Viona langsung banyak bicara. Anaknya yang asik dan terlihat sekali ceria membuat siapapun nyaman di dekatnya. Hanya saja, tak banyak rekan yang ia miliki.
"Kalau boleh bikin tahu siapa orang tua non Viona?" dengan hati-hati Marni menanyakan masalah pribadi gadis bermata bulat itu. Ia melihat wajah murung dari raut mukanya.
"Kalau non tidak bisa menjawabnya tidak perlu, kok, non." Marni tidak enak hati, apalagi melihat kesedihan Viona membuatnya meyakini ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya aku juga tidak tahu orangtua kandung ku ada di mana. Aku hanya tahu orang tuaku bernama Ronald dan Natalie. Tapi ternyata mereka hanyalah orangtua angkat ku." Tanpa ada yang ditutupi, Viona menceritakan kisah hidupnya.
Sudah banyak air mata yang ia keluarkan, sudah banyak luka yang ia dapatkan, dan sudah banyak pula cacian yang ia terima dari keluarga angkatnya.
__ADS_1
Viona menangis sesenggukan dalam pelukan Bu Marni. Gadis itu menceritakan kisah hidupnya, beban semua yang ia tanggung kini terasa lebih ringan setelah mengeluarkan segalanya. Mungkin benar kata orang, terkadang kita butuh cerita masalah kita agar sedikit meringankan beban pikiran kita.
"Ternyata kisah gadis ini begitu pilu."