Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Pasrah Pada keadaan


__ADS_3

"Bi, apa keputusan ku ini benar? Aku takut jika nanti salah langkah. Tapi aku juga tidak bisa begitu saja diam di saat Om Bram meminta uang yang telah di keluarkan. Aku tidak sanggup membayarnya, bi." Ujar Viona meminta pendapat kepada bi Marni.


Dari tadi dirinya kebingungan sekaligus juga berpikir apakah keputusannya salah atau benar.


"Bibi tidak bisa memberikan pendapat, non. Bibi juga tidak tahu jika Tuan bakalan membicarakan hal ini. Tapi, menurut bibi, non terima saja tawaran Tuan demi diri non sendiri. Setidaknya non memiliki keluarga yang menyayangi non." Bi Marni sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa karena ini mutlak keputusan majikannya. Dia tidak bisa membantu Viona, tapi jika berdoa demi kebahagiaan Viona, selalu ia panjatkan.


"Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Bi. Siapa tahu keluarganya tidak menerima aku, siapa tahu anaknya tidak menginginkan aku. Tapi, aku sudah terlanjur mengiakan keinginan Om Bram." Helaan nafas berat Viona keluarkan dari mulutnya. Ia begitu pasrah pada keadaan Jang membuatnya rumit.


Ia pikir bakalan bebas dari jerat utang, tapi nyatanya dirinya kembali terlilit utang budi atas kebaikan Bram padanya.


Seringkali dirinya berdoa meminta sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya, tapi Tuhan belum memberikan dia kebahagiaan itu.


Seringkali dirinya berharap menemukan orang yang tepat yang mau menjadi suaminya, tapi kali ini ia terpaksa harus menerima pernikahan dadakan ini. Pernikahan yang mungkin tidak ada rasa cinta di dalamnya. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Viona hanya bisa menyerahkan segalanya kepada Tuhannya.


*****


Kediaman Bram.


Ruang keluarga.


"Apa? Papa minta Raymond menikah lagi dengan gadis tidak tahu asal-usulnya? Ini kabar buruk." Miranda memekik terkejut mendengar Ray menceritakan permintaan suaminya. "Papa kamu itu gimana, sih, Ray. Sudah memiliki menantu cantik, pintar, dan juga bisa di banggakan sebagai model terkenal masih saja mencari perempuan untuk kau jadikan istri. Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran papamu ini."


"Ray juga tidak mengerti, Mi. Papa bilang hanya ingin punya cucu dariku Tapi kenapa harus mengambil jalan menikah lagi? Ray tidak mau itu, Mi. Tapi Ray juga tidak bisa menolak karena Elena malah pergi begitu saja menggapai cita-citanya." Raymond menghela nafas berat, ia menyenderkan punggungnya ke kursi dan tangan kirinya berada di atas jidat.


"Malas sekali harus menikah lagi. Aku hanya mencintai Elena, sampai kapanpun Elena yang terbaik bagiku."


"Mama juga tidak setuju, Elena menantu idaman yang memang sangatlah setara dengan kita. Kita tidak tahu siapa gadis itu dan dari mana asalnya. Bisa saja wanita itu hanya ingin mengincar harta kita saja dan berhasil merayu papa. Makanya papa ngotot menginginkan kamu menikah lagi." Miranda ikut duduk di samping Ray dan memikirkan cara agar nanti pernikahan Ray bisa batal.


"Siapapun dia, aku tidak akan sudi menyentuhnya." Belum juga melihat wajah calon istrinya, belum juga mengenal, belum juga merasakan hidup bersama sudah bilang tidak sudi dan tidak mungkin.


"Bagus itu, jangan sampai kamu menyentuh dua ataupun jatuh cinta kepadanya. Mama tidak akan setuju. Hmmm, kapan pernikahannya di laksanakan?" Sebelum tahu babat, bibit, bobotnya, Miranda tidak akan begitu saja menyetujui putranya. Bagi dia, derajat harus setara dengan keluarganya. Sekalipun tidak memiliki derajat, minimal harus memiliki sebuah kelebihan yang bisa dibanggakan dan bisa dipamerkan ke setiap orang.

__ADS_1


"Mana ku tahu."


******


Keesokan harinya.


Pagi-pagi Bram sudah datang ke apartemen menjemput Viona.


"Sesuai yang kita janjikan, kamu harus menuruti semua keinginan saya. Dan hari ini juga kamu akan menikah dengan putra saya. Jadi, jangan memanggil saya sebutan Om lagi! Panggil Papa seperti anak Saya memanggil papa." Bram berdiri memberikan peringatan kepada Viona agar mengganti panggilannya.


Viona yang sudah terlihat rapi mengenakan dress, mengangguk. Ia sudah pasrah tidak bisa lagi kabur atau lari. Dia berpikir kemanapun dirinya lari, pasti akan terus dikejar sampai dapat. Daripada berlari menjauhi mending menghadapi segala macam masalah. Dia juga sudah berdoa meminta keputusan yang tepat, dan inilah keputusannya menerima apa yang tawarkan. Dia sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya yang seringkali semakin kacau dan dikejar-kejar utang yang kini mengejarnya.


"Iya, Om. Eh, Papa."


Bram tersenyum, lalu meminta Bi Marni membawa koper milik Viona.


"Setelah kamu menikah dengan anak saya, kamu tidak akan tinggal di sini lagi. Tapi di rumah yang telah saya sediakan."


"Tapi ..."


"Tidak ada kata tapi selain mengikuti ucapan ku!"


Viona menunduk pasrah.


*****


"Sebenarnya kita akan kemana, sih? Kenapa juga Papa menyuruh kita alamat yang berbeda. Ngapain?"


"Mana Ray tahu, mah. Kita ikuti saja keinginan Papa. Percuma menolak jika Papamu tetap kekeh dengan keinginannya sendiri."


Bram meminta Miranda dan juga orang datang ke suatu tempat hari ini juga. Awalnya Ray tidak mau karena disibukan oleh kerjaannya mewakili Papanya sebagai wakil direktur. Tapi, karena ancaman papanya yang akan menghancurkan karir Elena membuat Ray mengikuti meski dengan terpaksa.

__ADS_1


Setelah beberapa lamanya melewati jalanan dan bangunan, Ray sampai di depan rumah minimalis modern dua tingkat, dari halaman depan terlihat sebuah taman indah dan ada beberapa pohon mangga pendek yang sedang berbuah lebat.


"Kamu yakin ini alamatnya?" tanya Miranda sambil memperhatikan bangunan rumah asing baginya.


"Dari share lokasi yang Papa berikan sih, ini." Lalu, Ray membuka pintu dan turun mobil. Karena penasaran, Miranda pun ikut turun dan berjalan secara beriringan masuk ke dalam rumah.


"Akhirnya kalian datang juga." Bram tersenyum menyambut putranya dan istrinya.


"Papa ngapain nyuruh kita ke sini? Ray banyak kerjaan, Pah." Tanya Raymond mendengus kesal.


"Iya, nih. Gak bilang-bilang akan ada apanya di sini."


"Nanti juga kalian akan tahu." Kemudian, Bram meminta Ray duduk dulu. Pun dengan dia yang juga ikut duduk sambil menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan penghulu dan para saksi.


*****


Di dalam Kamar.


Viona gelisah tidak menentu, hatinya was-was dan jantungnya berdebar-debar. "Ini adalah pernikahan pertama untuknya. Namun, ya harus mengalami hal yang di luar kendalinya. Viona juga sudah mengenakan gaun indah yang begitu cocok dengan tubuh dan wajah cantiknya.


"Bi, aku takut." Tak di pungkiri jika Viona takut menjalani harinya. Tapi, ia sudah terlanjur menyetujui dan tidak bisa diundur lagi.


"Kamu yang sabar ya, non. Bibi akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Semoga nanti kamu mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya." Bi Marni tidak bisa membantu selain berdoa demi kebahagiaan Viona. Beberapa hari tinggal dengan gadis itu, sudah membuat dia menyayangi Viona. Tapi, Marni tidak bisa membantunya karena dia sendiri tidak kuasa melawan majikannya.


"Ya sudah, sekarang kita ke luar, ya." Bi Marni mengajak Viona keluar kamar. Viona menghela nafas meski langkahnya terasa berat.


*****


"Pah, ini ada apa sih?" Ray memperhatikan orang-orang yang sudah hadir di sana.


"Hari ini juga kamu akan menikah dengan Viona."

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2