Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Kedekatan yang tidak terasa


__ADS_3

Satu tamparan keras membuat pipi Viona merah. Dan tamparan itu membuat dirinya terjatuh ke tanah. Ray mendengar jeritan Viona terkejut dan ia memutar tubuhnya kemudian menendang wajah ketiga pria yang menghadangnya.


"Kurang ajar, Viona!" Ray membentak sambil berlari ke arah Viona menerjang bos ketiga preman itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ray berjongkok membangunkan Viona.


"Aku tidak apa-apa, tapi mereka mau merampok kita, Ray." Viona bilang nggak apa-apa tapi nyatanya mimpi dia merah.


"Sialan, habisi dia!" bentaknya bosnya berapi-api.


"Vio, kamu pergi saja dari sini! Cepetan!" Ray menyuruh Viona pergi, ia merasa keadaan semakin panas dan sepertinya orang itu tidak akan menyerah sampai mendapatkan apa yang mereka mau.


"Tidak Ray, aku akan tetap di sini sama kamu." Tentu saja Fiona tidak mungkin meninggalkan suaminya begitu saja di saat orang-orang berniat menyakiti mereka


Tapi, Ray tidak bisa berlama-lama diam karena keempat orang tadi kembali menyerangnya.


"Akan ku habisi kau!"


"Baik kita lihat saja nanti," ujar Ray dengan dingin. Tatapannya berubah tajam, terlihat aura membunuh dari diri Raymond.


Sang penyerang terus menyerang Ray penuh emosi. Mereka mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawan Raymond.


Sebuah pukulun kencang mendarat di pipi Ray dan terjangan pun mendarat di perut Ray sampai membuatnya tersungkur. Ray meringis saat memegang sudut bibirnya, ia mengusap darahnya dengan ibu jari.


"Raymond!" teriak Viona sudah mengambil barang-barang berharga yang ada di dalam mobil dan memasukkannya ke dalam tas baju miliknya.


"Kau tidak apa-apa, Ray?" tanya Viona berteriak penuh ke khawatiran sambil berlari ke arah Raymond.


"Kenapa kau masih di sini? Buruan pergi!"


"Aku tidak akan pergi tanpamu, Ray. Ayo kita lari! Mereka akan terus mengejar kita sampai mendapatkan apa yang mereka inginkan."


"Rampas tas itu!"


Di saat itu, Ray bangun dan menggenggam tangan Viona kemudian lari dari sana tanpa memperdulikan kendaraan mewahnya. Yang ia khawatirkan saat ini adalah Viona, takut jika mereka menyakiti Viona lagi.


Viona dan Raymond berlari masuk ke arah perkebunan bagian dalam sehingga penglihatan terlihat gelap akibat tumbuhan.


"Ray ini kita lari kemana? Ini mah ke arah hutan."

__ADS_1


"Kalau kita lari ke timur kita akan tertangkap oleh mereka dan kemungkinan mereka akan menyakitimu. Mungkin aku bisa bela diri, tapi aku tidak ingin nyawa kamu dalam bahaya, jadi sekarang ikut aku lari." Ray menggandeng tangan Viona sembari sedikit berlari.


"Tapi kita lari kehutan. Kalau kita tidak tahu jalan pulang bagaimana, Ray? Ini sudah malam dan aku takut ada hewan buas atau apa kita tersesat. Dan kenapa tidak lari ke timur menyusuri jalan agar kita bertemu para penduduk."


"Aku melupakan hal itu saking paniknya."


"Cari mereka!" suara para perampok masih terdengar mengikuti. Ray dan Viona pun mendengarnya.


"Percaya sama aku kalau kita akan keluar dari sini," ucap Ray meyakinkan sampai masuk ke dalam perkebunan. Semakin dalam semakin gelap, semakin minim pencahayaan, dan suara para perampok pun tidak kedengaran lagi.


"Ray, aku takut. Hari semakin gelap." Viona memeluk erat lengan Ray dan menelusupkan wajahnya ke lengan saking takut gelap.


"Sabar, kita pasti menemukan jalan keluarnya." Ray merangkul pundak Viona dan mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan. Dirinya juga panik dan juga takut ada binatang buas.


Ray mengambil ponselnya hendak menyalakan senter, tapi ponselnya mati. "Sial, ponselnya mati. Apa kamu punya ponsel?" tanya Ray menunduk. Viona mendongak dan ia menggerakkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak punya barang canggih itu." Viona berkata jujur karena memang ia tidak memilikinya.


Ray menghela nafas berat, "ya sudah, kita jalan terus dan kamu jangan jauh dariku." Viona hanya mengangguk sebab ia tidak ingin terpisah karena takut.


Di tengah jalan, Viona merasa lelah. Dia berjongkok sebentar. "Ray, aku lelah, kita istirahat dulu ya." Raymond pun mengangguk dan ikut berjongkok di samping Viona.


"Kapan kita menemukan jalan keluarnya? Aku takut di hutan gini."


"Sebentar lagi." Padahal, Ray juga tidaklah tahu arah ke luar dari perkebunan itu.Mungkin saja mereka tersesat semakin jauh dari pemukiman. Untuk sesaat mereka terdiam di bawah langit malam cahaya bulan.


Viona merasa lelah, perlahan matanya terpejam dan tanpa sadar memeluk perut Raymond mencari kehangatan.


Ray menunduk memperhatikan Viona. Tangan kanannya merangkul pundak Viona dan mengusap-usap pundaknya. Dia memperhatikan wajah damai Viona dalam lelapnya, dia juga mengusap lembut pipi Viona yang merah akibat tamparan.


"Baru saja tadi terkena musibah, sekarang kau kena tamparan." Ray menghela nafas berat.


Gerimis mulai turun, di musim penghujan ini sering kali hujan tiba-tiba turun. Ia celingukan mencari tempat yang nyaman buat mereka berteduh, dan berharap menemukan tempat buat istirahat.


Dan Tuhan begitu baik, netral matanya menemu kan sebuah gubuk jauh dari sana tapi sepertinya bisa dijadikan tempat berteduh sementara waktu.


"Viona bangun, ada gubuk di sekitar sini. Kita berteduh di sana saja." Ray mencoba membangunkan Viona secara lembut. Dia menepuk halus pipi Viona bahkan mengusapnya.


"Hmmmm, iya." Viona bangun dan mengucek matanya. "Ada apa? Apa sudah keluar dari hutan?" tanya Viona masih dalam keadaan mengantuk.

__ADS_1


"Belum, tapi ada gubuk. Kita istirahat di sana saja dulu. Sudah sudah turun, ayo kita berteduh!" Ray berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya. Viona mendongak lalu menerima uluran tangan dari Ray. Lalu mereka berdua berjalan ke arah gubuk.


Gubuk yang terbuat dari bambu beratap tumpukan jerami dan masih beralas tanah. Mereka berteduh di sana.


"Setidaknya ini bisa menghalangi kita di saat hujan turun," ucap Ray duduk di samping Viona.


"Iya, dan aku juga berharap segera menemukan jalan keluar," balas Viona memeluk kedua lututnya. Terlihat tubuhnya menggigil kedinginan.


"Dingin banget," gumam Viona sembari mempererat pelukan di kedua lututnya.


Ray mencari sesuatu dan ia menemukan kayu bakar dan bekas orang menyalakan api. Ray mengumpulkan ranting yang tak jauh dari sana. Viona memperhatikannya tanpa bertanya. Tangan Ray merogoh saku celana dan mengambil korek api. Lalu, Ray menyalakan api agar membantu menghangatkan tubuh mereka berdua.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Ray menatap Viona.


"Iya, jauh lebih baik."


Lalu, Ray kembali duduk di dekat Viona, tapi kali ini jaraknya berada sedikit di belakang Viona. Dia melepaskan kemeja yang ia kenakan hingga menyisakan kaos hitam berlengan pendek. Lalu, tanpa di duga memasangkan kemejanya ke bagian depan tubuh Viona.


Gadis itu terhenyak dan menoleh, "Ray!"


"Kamu lebih membutuhkannya dari pada aku."


"Makasih, Ray." Viona memang sangat kedinginan, ia paling tidak bisa terkena angin malam lama-lama. Apalagi kalau tidur harus di selimut. Jadi dia tidak menolak saat Ray memberikan kemejanya.


Huachiim ... huachiim ....


Viona mulai bersin-bersin dan masih kedinginan.


"Pasti ini efek dari cuaca hari ini." Ray ragu memeluk Viona. Tapi melihat Viona yang terus menggigil menjadi tidak tega dan ia memeluk Viona dari belakang.


Vio terhenyak.


"Mungkin ini sedikit membantu memberikan kehangatan kepada tubuhmu agar tidak terus bersin."


Viona menoleh kesamping dan sedikit mendongak, ia menatap wajah Ray yang menatap arah api unggun.


Merasa di perhatikan, Ray pun menoleh sehingga mata mereka saling berpandang-pandangan. Untuk sesaat mereka diam menikmati kehangatan yang tercipta di bawah langit malam.


"Tidurlah, ini sudah sangat malam. Jangan takut, ada aku disini untukmu." Tatapan Ray begitu teduh dan suaranya pun begitu lembut. Viona mengangguk, dan ia menyenderkan kepalanya ke pundak Raymond. Matanya penahan mulai terpejam.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, jika keadaan saat ini membuat mereka semakin dekat.


__ADS_2