Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Rebutan Selimut


__ADS_3

Malam hari pun tiba.


"Ingat ini baik-baik, berhubung papaku ada di sini aku mengizinkan dirimu berada dalam kamarku. Tapi, bukan berarti kau boleh tidur dalam satu ranjang denganku. Tidak sudi tempat tidur bagus ku ditiduri oleh wanita sepertimu. Bisa-bisanya aku akan gatal gara kuman yang ada di tubuhmu." Ray mengejek Viona seraya memberikan peringatan kepada gadis bermata bulat itu agar tidak tidur di atas kasurnya.


Mereka baru saja masuk ke dalam satu kamar yang sama setelah makan malam bersama dengan papa Bram dan juga mama Miranda. Ya, Miranda pun ikut ke sana mengikuti suaminya. Aneh bukan, padahal Bramantyo memiliki rumah megah dan mewah, tapi entah kenapa Papa Bram malah menginap di rumah yang diberikan kepada Viona sebagai mas kawin.


Mereka juga masih berada di depan pintu kamar dan sebelum tidur Ray memperingati Viona. Keduanya saling beradu mulut apalagi Ray, dia mau satu ranjang dengan Viona.


"Hei, kamu pikir aku juga mau tidur satu ranjang denganmu. Pria arogan tampang preman sepertimu itu bisa saja membunuhku di saat aku tidur. Lebih baik aku tidur di sofa daripada kena kamu kan pria seperti mu." Viona tidak akan lagi diam di saat Ray memperlakukannya kurang baik. Dia tidak akan mudah menangis lagi meskipun banyak hinaan ataupun perlakuan fisik yang ia dapatkan dari seseorang.


Hidupnya yang sudah keras membuat Viona harus kebal dalam menghadapi berbagai macam orang di sekitarnya. Termasuk Ray ataupun ibu mertua jahatnya.


Viona melangkah, tapi Ray menariknya.


"Apa kau bilang? Kau mengatai ku tampang preman? Tak bisa kau lihat jika tampang mu itu seperti singa, galak." ujar Ray tak sadar jika dia menarik tangan Viona dan membawanya ke hadapan nya dengan satu tangan melingkar erat di pinggang Viona.


"Iya, wajahmu memang terlihat seperti preman menyeramkan dan juga begitu kasar." Viona tidak takut am tidak akan diam saja. Dia akan melawan dalam beradu mulut.


"Kau!" Ray geram mengepalkan tangannya yang ada di hadapannya Viona.


"Apa? Mau memukul ku? Mau bilang sama papa? Atau mau membunuhku? Ayo, aku tidak takut. Kalau kau membunuhku, kau orang pertama yang akan ku hantui." Balas Viona mendongak menatap horor mata Ray.


"Mulutmu itu cerewet sekali. Lama-lama aku pusing dengar ocehan mu itu."

__ADS_1


"Terus, aku harus bilang wow gitu? Lepaskan!" pinta Viona menggerakkan tubuhnya agar Ray melepaskan.


"Apa? Lepas dariku begitu saja? Oh, tidak bisa." Raymond seakan melupakan perjanjian yang telah mereka sepakati tadi.


"Raymond, kau tidak ingat tentang surat perjanjian yang tadi kau berikan kepadaku? Tidak boleh ada kontak fisik di antara kita berdua. Tapi kau ..." Viona sengaja menggantung ucapannya dengan mata melihat dirinya sendiri yang berada dalam dekapan Raymond.


Pria itu melihatnya dan ia segera melepaskan rangkulannya dari pinggang Viona. "Sialan, kau mau menggodaku? Cuih, tidak akan mempan. Jauh-jauh sana dariku!"


"Ck, kau yang menarik tanganku kau juga yang menyalahkanku, dasar tambang preman." Balas Viona mengumpat sambil berlalu mengambil selimut di dalam lemari.


"Hei, kau mau ngapain?" Ray mendekatinya dan menarik selimut yang Viona ambil. Ia tidak rela jika barang-barang yang ada di kamarnya, bukan, tapi kamar yang seharusnya menjadi kamar mereka di gunakan oleh Viona. Ray mengklaim setiap barang dan kamar itu miliknya.


"Mau tidurlah, masa mau masak. Kembalikan selimutnya!" Viona hendak mengambil selimut itu dari tangan Ray. Namun, Ray Mendur dan enggan mengembalikannya.


"Apa? Kau menyuruhku telanjang, begitu? Enak saja." Viona terkejut. Mana mau dia tidur dalam keadaan tanpa busana. Bisa-bisa dia di garap sama pria di hadapannya.


"Hah! Hei, maksudku tidur tanpa mengenakan selimut."


"Bodoh sekali pikiranku ini, sampai bicara tanpa menggunakan benang sehelai pun. Bodoh, bisa-bisanya malah mengeluarkan kata seperti itu," ucap Raymond dalam hati merutuk ucapnya sendiri.


"Tapi aku paling tidak bisa tidur tanpa selimut, ayolah Raymond, berikan selimut itu padaku! Kau 'kan sudah ada bad cover, jadi tidak perlu lagi memerlukan selimut." Viona mencoba mengambil selimutnya. Ia mengejar Raymond karena pria itu hendak berlari menghindari.


"Saya bilang tidak ya, tidak! Kau itu harus ingat perjanjian kita, tidak boleh menggunakan barang yang kumiliki dan kau harus mengikuti semua perintahku! Mengerti!" Ray pun mengingatkan lagi pada perjanjian yang telah mereka sepakati tadi.

__ADS_1


"Tapi untuk kali ini aku todak mau, Raymond. Aku paling tidak bisa tidur tidak pakai selimut. Tubuhku suka kedinginan." Viona memang suka kedinginan, ia memang sering sekali pakai selimut. Jika malam hari mau tidur tidak di selimut, Viona selalu menggigil kedinginan.


Gadis bermata bulat itu mengejar Raymond. Dia berusaha menggapai selimutnya dan tidak mendengarkan perkataan Ray.


Raymond naik ke atas kasur, dan kala itu juga Viona menggapai selimutnya. Dia menarik tapi Ray mempertahankan.


"Aku mau pakai ini, Ray."


"Tidak bisa! Kau tidak boleh menggunakan barang milikku!" sentak Ray mau mengalah dan mereka saling tarik-menarik selimut.


Viona pun ikutan naik ke atas kasur karena Ray menarik dan mempertahankan selimutnya. Sehingga Viona ikut terseret naik sebab Ia juga mempertahankan keinginannya.


"Ayolah Raymond, tak bisakah kau memberikan satu selimut saja untukku? Hanya ini saja. Kau boleh mengambil semuanya tapi tidak dengan selimut yang satu ini. Kau boleh melarang aku menggunakan barang-barang mau yang lainnya tapi tidak dengan selimut ini. Aku membutuhkannya, Ray.


Karena Ray kesal sebab Fiona enggan memiliki perkataannya, dia menarik paksa selimut itu. Tapi, karena Viona juga enggan melepaskannya, gadis itu begitu kuat menggenggam erat selimut di tangannya. Tapi tetap saja kekuatan Raymond sangatlah besar sehingga bisa menarik tubuh Viona ke depan.


Alhasil, Viona terhenyak dan ingin jatuh ke depan. Ray pun ikutan terjengkang ke belakang dan malah melepaskan selimut itu ke atas hingga terbentang dan tubuh Viona terjatuh tepat di atas tubuh Ray. Selimutnya pun ikut terjatuh menutupi tubuh mereka berdua.


Untuk sesaat, keduanya terdiam saling pandang menatap satu sama lainnya dengan jantung yang tiba berdebar kencang. Ray, terus menatap Viona dan tanpa sadar memperhatikan wajah gadis itu. Pun dengan Viona yang terhipnotis oleh tatapan mata Raymond.


Ray memperhatikan mata bulat dengan bulu mata lentik alami, hidung mancung alami, bibir tipis nan merah yang juga alami. Jika di perhatikan oleh Ray, Viona sangat cantik dan benar-benar cantik.


Setelah beberapa saat saling mengagumi, mereka tersadar dan melotot. "Aakhhhhh ...."

__ADS_1


__ADS_2