Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Ada apa dengan diriku?


__ADS_3

"Ray, kamu mau pesan makanan apa? Ini kayaknya sangat enak. Kita pesan oseng tauge dan udang, ya." Elena memilih berbagai macam makanan dan menawarkanya ke Raymond.


Sedangkan Ray, dia malam bengong dengan pikirannya sendiri. "Kenapa Elena pulang tidak mengabari ku? Berarti kini dia sudah siap menerima tawaran papa? Kenapa aku merasa tidak ingin kebersamaan ini cepat berlalu? Apa yang terjadi padaku?"


"Ray, kau dengar aku?" Elena menggerakkan tangannya ke hadapan wajah Ray, tapi pria itu masih melamun dengan pikirannya sendiri.


"Raymond!" pekik Elena menggerakkan bahu Ray. Barulah pria itu tersadar dari lamunannya dan menoleh.


"Hah, iya?"


"Kau itu kenapa sih dari tadi melamun terus? Kamu mendengarkan aku tidak sih?" Elena merajuk dan memberenggut kesal.


"Apa? Kamu mau pesan makanan? Ayo pilih." Ray pun membuka menu makanannya dan melihat makanan apa saya yang akan di balas.


"Aku sudah malas. Kita gak jadi makan saja." Elena melipatkan kedua tangannya di dada.


Ray mendongak, "kenapa! Tadi kau minta beli makanan di luar."


"Sudah tidak berselera makan. Dari tadi kau diam terus. Melamin apa sih?" tanya Elena menatap curiga.


"Hah, ti-tidak. Aku tidak melamun. Hmmm, kenapa kau pulang tidak memberitahuku? Katanya pekerjaanmu 6 bulan lagi." Ray mengalihkan pembicaraannya agar Elena tidak bertanya yang tidak-tidak.


"Sudah selesai, semuanya begitu cepat tanpa hambatan. Makanya pulang dan tentunya rindu kamu." Elena begitu centil menatap Ray. Di saat itu, ponsel Elena berdering.


"Bentar, Ray." Elena melihatnya dan ia segera mengangkatnya. Namun, dia beranjak menjauhi Ray.


Ray menatap heran. "Siapa yang sedang bicara dengan Elena? Kenapa dia harus menghindari ku segala? Apa itu rekan kerjanya?" pikiran aneh pun bermunculan di benak Raymond. Hingga handphone nya berbunyi. "Mama."


Elena melirik Ray, "ada apa Cristin? Aku sedang bersama suamiku."


"Kenapa kau pulang tidak memberitahuku dulu? Kita bisa menghabiskan waktu sebelum kau pulang."


"Bukankah kita sering bertemu meski bukan di luar kota. Nanti kita ketemu lagi, hari ini tidak bisa karena sedang bersama Raymond." Elena berbisik seraya melirik Ray yang sedang mengaduk minumnya.


"Aku sudahi dulu, nanti ku sambung lagi."

__ADS_1


Tut.


Elena pun kembali menghampiri Ray. "Tadi asisten ku yang menelpon. Katanya ada yang harus di urus."


Ray mengangguk tak ingin banyak tanya. "Tapi mama menelpon, katanya kita pulang hari ini juga. Ada yang ingin di bicarakan oleh papa."


"Tumben mereka menyuruh pulang? Biasanya juga suka cuek tanpa mau memperdulikan kita." Elena heran.


"Mana ku tahu, lebih baik kita pulang saja dan makan di rumah." Ray lebih dulu berdiri dan dan di ikuti oleh Elena.


Elena segera menggandeng tangan Ray dan bergelayut manja. "Nanti dulu, sayang. Mending kita mampir dulu ke ..." Elena membisikkan sesuatu ke telinga Ray. "Hotel," ucap Elena dengan gaya sensual.


Ray terkejut dan langsung menoleh kearah Elena. "Ngapain?"


"Ish, masa kamu gak ngerti. Mending kamu ikut aku dulu, yuk?" Elena menarik tangan Ray dan memaksanya.


"Tapi Elena, kata Mama..."


"Kali ini saja, sayang. Kamu sudah tidak cinta lagi? Kamu sudah tidak mau denganku lagi? Makanya kamu menolak." Elena mode marah dan tentunya sangat terlihat merajuk.


Elena tersenyum senang dan kembali melingkarkan tangannya ke lengan Ray. "Saatnya akan di mulai."


*****


"Kita pulang saja daripada main ke hotel. Aku malas, Elena." Ray menolak turun dari mobil. Enggan sekali ia turun dan hati kecilnya menolak ikut.


"Ray katanya kamu cinta sama aku. Ayo, ini saatnya kita buktikan kepada papa kamu kalau aku bisa hamil dan pernikahan kita akan tetap langgeng. Atau kamu memang tidak mencintaiku lagi setelah kehadiran wanita itu?" Elena terus memicingkan mata curiga penuh intimidasi.


"Ha, ma-mana mungkin aku menyukai dia." Mulut berkata tidak tapi merasa tidak nyaman. "Ada apa denganku?"


"Jangan bohong kamu, buktinya kamu malah gelagapan saat aku tanya. Jangan-jangan kau sudah mulai menyukainya?" Elena menggeram dan marah. Dia langsung turun dari mobil sambil membanting pintu mobil.


"Elena tunggu!" Ray pun ikut turun dan mengajar istrinya. Dia mencekal tangan Elena menghalangi wanita itu kabur darinya.


"Bukan begitu maksudku, Elena. Aku gelagapan karena takut kamu marah. Kau 'kan tahu jika sedari dulu aku hanya mencintaimu. Jangan marah lagi, ya. Sekarang kita masuk saja dan aku akan ikut apapun yang akan kau lakukan." Daripada istrinya marah, Raymond lebih baik mengikuti keinginan Elena. Atas rasa cinta juga yang membuatnya begitu tunduk pada wanita yang ia rangkul.

__ADS_1


"Kami tidak bohong kan kalau kamu masih mencintaiku?"


"Iya, ngapain juga bohong. Sudah ayo!" Ray merangkul pinggang Elena dan membawanya masuk lobi hotel.


Elena menyeringai. "Yes, akhirnya dia masuk jebakan juga. Cristin, kota akan bertemu lagi."


*****


Kediaman Viona.


Sebagai seorang istri, hati Viona mendadak resah dan gelisah. Tak biasanya ia terus kepikiran pada suaminya. Tapi kali ini hatinya begitu risau tak tentu arah. Dia ingin sekali bertemu dan bertanya mengenai keadaannya.


"Ya Tuhan, ada apa denganku ini? Kenapa rasanya hatiku begitu gelisah dan kacau tidak menentu. Ray, kami dimana? Apa saat ini kamu baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, Ray." Viona mondar mandir tak jelas sembari melihat ke arah pintu yang terbuka. Ia berharap suaminya pulang lagi ke sana.


Namun, yang ia lihat bukanlah mobil suaminya, melainkan mobil papa mertuanya. Viona langsung mendekati. "Pah."


Bram menoleh. "Viona, kebetulan sekali kamu menyambut papa. Papa ke sini mau menanyakan tentang Raymond. Apa dia ada di sini? Papa hubungi dia no nya tidak aktif lagi. Padahal dia bilang sedang dalam perjalanan pulang."


Viona mengerutkan keningnya, "tidak ada, Pah. Ray tadi pergi dengan Elena dan belum kembali lagi. Viona tidak tahu kemana mereka pergi. Mungkin sedang melepas rindu." Dan si saat berkata itu, hatinya mendadak sakit.


"Kemana mereka? Ray juga begitu saja percaya pada orang. Dia begitu buta akan cinta."


*****


Sedangkan yang di bicarakan, "Ini minuman buat kamu, Ray." Elena memberikan satu minuman jus kesukaan Ray yang ia pesan di restoran Nyang ada di sana.


Ray tersenyum dan mengambil minumannya. Dan ia pun langsung meneguk jus itu setengahnya. Lalu, ia menyimpan gelasnya ke atas meja.


"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Elena duduk di pangkuan Ray dan meraba pipinya.


"Ya, suka. Minumannya memang sangat enak." Balas Ray terpejam.


Elena menyeringai dan mengecup pipi Ray. Ray malah merasa ngantuk, ia membuka matanya dan saat itu Elena menyerang Ray. Tapi, baru saja melakukan kecupan, Ray sudah tertidur.


"Akhirnya kamu tidur juga. Kalau bukan karena masa depanku, aku mana .mau menikah denganmu, Raymond. Jika bukan karena skandal yang ku miliki, mana mungkin aku mau menikah denganmu. Sekalipun kau tampan, aku tidak menyukaimu. Justru aku malah tertarik kepada wanita itu."

__ADS_1


Elena mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Sudah, tinggal kerjakan yang lainnya."


__ADS_2