Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Hinaan Dari Mertua


__ADS_3

Tentu saja Viona tertegun karena pikiran Miranda tepat sasaran. Bisa dibilang dirinya dibayar oleh sejumlah uang yang jumlahnya sangatlah banyak. Bisa di bilang juga dirinya menjual diri demi bayar utang yang di tinggalkan oleh orangtuanya, orang tua angkat.


"Mah, kok Mama bisa berpikiran seperti itu?" tanya Raymond mencerna perkataan mamanya. Dia pun mulai berpikir apa benar jika Viona ini melakukan sesuatu sehingga Papanya begitu kekeh ingin menikahkan dia dengan Viona. Hal yang tidak wajar pun mulai Raymond pikirkan.


"Coba saja kamu pikir, tidak mungkin papa kamu begitu saja menikahkan wanita miskin ini dengan anaknya sendiri jika tidak ada hal yang wanita ini lakukan kepada papa." Miranda menatap benci pada Viona dan memicingkan mata memperhatikan setiap penampilan gadis itu.


Sebenarnya Jika dilihat dari wajah, kulit, serta bentuk tubuh, meski Fiona masih terbilang muda dan berumur belasan tahun, Dia memiliki bentuk tubuh yang terlihat bagus, wajah cantik dengan mata bulatnya meski ada beberapa bekas jerawat, dan juga memiliki kulit putih bersih putih susu. Hal itu pun diakui oleh Miranda jikalau Viona dan Elena terlihat jauh berbeda. Sekalipun Elena suka berdandan dan memiliki tinggi tubuh yang ideal juga, Tapi kelihatannya tubuh yang dimiliki Elena seperti hasil operasi untuk membentuk setiap lekuk tubuhnya.


"Aku tidak melakukan apapun, sungguh. Aku juga tidak tahu kenapa Papa Bram tiba-tiba memintaku menikah dengan Raymond. Tapi, Papa bilang kalau pernikahan ini hanyalah pernikahan sementara sampai waktu yang di tentukan. Aku sungguh tidak tahu maksud dari perkataan Papa itu apa." Viona memberitahukan perihal pembicaraan dia dengan Bram waktu itu. Ini yang mereka bicarakan, tetapi Viona juga menyembunyikan tentang masalah uang yang dikeluarkan untuk menebus dirinya.


"Ck, jangan harap pernikahan ini ada selamanya. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjadikanmu istriku yang sesungguhnya. Kau hanya akan menjadi bayanganku saja dan hanya seorang istri figuran!" balas Ray begitu menegaskan setiap kata yang ia ucapkan. Kemudian Ray beranjak dari sana dan berjalan ke arah keluar rumah. Entah mau kemana pria itu pergi, Viona maupun Miranda tidak tahu.


Viona menatap punggung Ray hingga pria itu hilang di balik pintu. Sedangkan Nyonya Miranda Masih berdiri menatap Viona. Ia melipat kedua tangan di dadanya dan berjalan ke arah Viona. Tatapan tidak sukanya pun begitu kental tertuju kepada gadis bermata bulat.

__ADS_1


"Hei, gadis miskin. Apa yang membuat suamiku begitu ngotot memilihmu menjadi istri kedua untuk putraku Raymond? Jampi-jampi Apa yang kau berikan sehingga suamiku begitu luluh sehingga kau menjadi bagian dari keluarga kita?" ucap Miranda sambil menunjuk wajah Viona dan matanya memperhatikan penampilan gadis itu dari atas hingga bawah, dan dari bawah naik ke atas.


Viona yang menyadari tatapan itu, pun ikut melihat penampilannya yang memang terlihat biasa saja. Hanya pakaian lusuh milik ia sendiri.


"Apa karena kau tidak berguna suamiku memilih mu? Tapi tidak akan ku biarkan kau berlama-lama menjadi istrinya Raymond. Hanya Elena yang berhak menjadi istri satu-satunya putraku yang tampan rupawan itu. Dan kau ..." Miranda mencengkram dagu Viona. "Kau hanya akan menjadi pembantu di rumah ini. Dan sekalipun rumah ini dibelikan oleh suamiku sebagai atas mas kawin, sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan kau mengambil milik keluarga kita!" sambung Miranda begitu tegas menekankan setiap katanya dan melepaskan tangan dia yang ada di dagu Viona, sambil mendorong dagunya.


"Maaf Tante ..."


"Nyonya! Saya bukan tante mu dan kau harus panggil saya nyonya. Mungkin di hadapan suami saya tahu masih bisa menyebut saya Mama tapi di belakang suami saya kalau itu harus menyebut saya nyonya!"


"Bagus, kau sadar juga anak miskin. Dan kau tidak boleh tidur di salah satu kamar yang ada di rumah ini. Tempatmu di bagian belakang rumah!"


"Aku tahu Nyonya," balas Viona sambil menunduk. Sebab Ray sudah menempatkan ia di belakang rumah, jad dirinya akan tidur di dana.

__ADS_1


"Nyaut terus, dasar miskin." Miranda pun berlalu pergi dari sana karena tidak ingin berlama-lama dengan orang yang membuatnya naik darah.


Viona menghelakan nafas berat, perlahan tubuhnya merosot ke lantai dan terduduk lesu. Bohong jika ia tidak merasa sakit atas setiap hinaan yang ia dapatkan barusan. Bohong jika dia tidak sedih mendapatkan segala perlakuan kurang baik. Lagi-lagi dirinya harus menghadapi serangkaian peristiwa yang membuat ia menderita. Kini jiwa raganya, pikiran dan batinnya akan tertekan oleh keadaan. Namun, ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tegar di hadapan mereka yang memperlakukannya sedemikian rupa.


"Kisah hidupku baru akan di mulai, rumah tangga penuh kepalsuan, dan di kelilingi orang-orang yang memperlakukanku kurang baik, kini akan aku hadapi." Viona mendongak mengerjapkan matanya agar cairan bening yang menumpuk di bola mata tidak menetes membasahi pipi.


Lalu, Viona berdiri berjalan menuju kamar belakang. Ia menyusuri setiap ruangan yang ada di sana, melewati ruang tamu, ruang makan, dapur, hingga berada di bagian kamar belakang tepat berada di dekat gudang penyimpanan setiap barang.


Rasa lelahnya atas kegiatan hari ini, Viona membersihkan dirinya dan setelah selesai, Viona mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur busa tanpa alas. Lalu, Viona merebahkan tubuhnya berharap setelah ia bangun bisa kembali segar. Tidak di pungkiri jika dia kelelahan dan juga merasakan kantuk karena hampir semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan pernikahannya ini.


Mata bulat dengan bulu mata lentik itu perlahan mulai terpejam seiring kantuk yang menyerang. Namun, baru saja beberapa detik memejamkan mata, suara pria begitu menggelegar memanggil namanya.


"Viona ... kemari kau! Viona ... Viona ...! Buruan kemari!"

__ADS_1


Viona mendengus kesal dan bangun, "apaan sih ganggu orang lagi tidur saja. Gak capek apa dari tadi ngomel-ngomel terus?" gumam Viona sambil beranjak bangun dengan mata kantuk dan tubuh yang lelah.


"Viona ...!"


__ADS_2