
Isak tangis Viona masih terdengar jelas. Tak pernah sedikitpun terbayang olehnya akan mendapatkan perlakuan besar seperti ini. Kehormatannya, fisiknya, hatinya, semua terluka oleh sikap Raymond barusan.
Dunianya terasa hancur dalam sekejap mata that kala Ray mengambil paksa kehormatannya. Mungkin jika Ray meminta secara baik-baik Viona menerima, tapi dengan cara begini Viona merasa menyesal.
Di tempat tidur setelah pertengkaran dan pertempuran mereka dalam emosi juga ego yang sama, Ray memeluk Viona sambil mengecup bahu yang terbuka dan pucuk kepalanya berkali-kali.
Dia terluka mendengar isak tangis Viona begitu menyayat hati. Tidak ada air mata, tapi penyesalan di dalam tatapannya menunjukkan segalanya.
Ray menyesal telah melakukan tindakan bodoh dan termakan omongan Adit serta Louis. Ia juga tidak menyangka jika Viona bukanlah wanita malam seperti yang Adit ucapkan. Lalu, apa maksud dari perkataan pita itu jika mereka pernah menghabiskan malam bersama? Seakan semuanya mulai terpecahkan, kini Ray menyadari sesuatu jika Adi masih menginginkan Viona dan tahu kalau ternyata Viona seorang gadis.
Lalu papanya, kenapa sampai membeli Viona? Apa papanya ingin menyelamatkan Viona dari jerat dunia malam?
"Viona, maafkan aku. Aku khilaf." Ray mendekap erat tubuh Viona dan larut dalam penyesalan.
Sementara Viona tengah membelakangi Ray. Berbanding terbalik dengan Raymond, dia malah masih menangis walaupun dalam diam, tapi air matanya masih mengalir banyak.
Viona sangat terpukul dengan tuduhan serta perlakuan kasar dari suaminya.
"Hiks hiks hiks," isak Viona mencoba sepelan mungkin.
Ray semakin memeluk erat tubuh Viona merasa bersalah. Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan atas segalanya.
"Maaf, maaf."
"Ka-kamu pikir dengan kata maaf bisa mengembalikan segalanya? Tidak, Ray." masih dalam isak tangis, Viona mencoba bicara.
"Kau yang bilang tidak akan ada kontak fisik, tapi kenapa kau lakukan ini padaku, kenapa? Hiks hiks." ujar Viona masih membelakangi Ray.
__ADS_1
Ray tidak berkata apapun selain diam mendekap erat tubuh Viona. Rasa bersalahnya begitu besar dan tak tahu harus berkata apa lagi. Dia salah telah menuduh Viona sekeji itu. Mereka pun masih dalam keadaan tak berpakaian.
"Hanya karena aku di beli oleh papamu kau menuduhku sebagai wanita malam. Hanya karena mendengar perkataan orang lain kau memperlakukanku seperti ini? Puas kamu! Puas sudah buat aku tidak memiliki harga diri lagi. Semuanya sudah hilang, apa yang akan ku katakan pada suamiku kelak? Kau bahkan akan menceraikan ku bukan?"
Sakit, hati Viona teramat sangat sakit mengingat hari itu. Padahal, jika mereka bercerai ada sesuatu berharga yang Viona miliki untuk suaminya nanti. Tapi semuanya hancur sudah, tak dapat yang ia banggakan lagi.
Hati Ray seakan teriris pisau, ia melupakan perjanjian itu dan kini dirinyalah yang lebih dulu melanggar peraturan perjanjiannya. Dan Ray terhenyak mendengar Viona berkata apa yang akan di berikan kepada suaminya kelak. Dia itu membuat dada Ray tiba-tiba merasa sesak. Itu artinya Viona menginginkan pergi, dan Ray tersadar jika 3 bulan lagi mereka akan bercerai mengakhiri hubungan antara keduanya.
Namun, ada satu hal yang membuat Ray semakin erat memeluk tubuhnya Viona. Ia seakan tidak ingin mengakhiri hubungan mereka.
Viona melepaskan tangan Ray dari tubuhnya secara kasar. Ia bangun dalam keadaan kacau dan menarik selimut menutupi tubuh polosnya.
"Viona," ujar Ray menatap sedih penuh penyesalan.
Viona tidak mendengarkan, dia mencoba berdiri dengan bagian inti terasa perih. Vio menggigit bibirnya tat kala rasa tak mengenakan di bawah sana membuatnya meringis sakit. Vio memejamkan mata dan kembali mencoba berdiri.
Ray yang melihat pergerakan Viona segera mengambil handuk yang tak jauh dari sana dan melilitkan handuknya ke pinggang menutupi bagian inti miliknya.
Dia mendekati Viona dan hendak membantunya. Namun, tangan Viona terangkat menandakan jika dia tidak ingin Ray mendekatinya.
"Cukup! Tidak perlu kau bicara lagi. Semua sudah jelas bukan? Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau dengan alasan wanita malam." Viona melangkah terseok-seok ke luar dari kamar itu.
Ray mengejarnya, "bukan begitu maksudku, Vi." Namun, Viona enggan memberikan suara dan ia masuk ke kamar yang ada di bagian belakang dapur. Tempat istirahat dia yang sesungguhnya.
"Viona dengarkan aku dulu, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku khilaf, Viona. Maaf."
Viona menutup kedua telinganya dan terduduk di pintu kamarnya. Dia terisak kecil dalam keadaan kacau. Bukan ia tidak rela memberikannya, tapi ia lebih kecewa karena Ray memaksanya dan menuduh dia menggoda papanya Ray.
__ADS_1
Viona memeluk kedua lututnya dan mencengkram erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya ia tenggelam kan di balik lipatan tangan dan menangis seorang diri.
"Hiks hiks, mengapa ini harus terjadi? Apa yang harus aku lakukan kedepannya?"
*****
Langkah Ray begitu lemas, ia kembali ke kamar yang menjadi saksi ke brutalnya menggagahi Viona. Mata Ray tertuju pada sprei warna putih. Terlihat sangat jelas bercak darah di atas sana.
"Viona masih gadis. Bodoh!" Ray mengusap wajahnya secara kasar dan terduduk di tepi ranjang. Dia menyesal karena sudah termakan omongan orang. Namun, dari perlakuannya dia akhirnya tahu jika ternyata Viona wanita baik-baik. Ada rasa bangga dalam diri Ray mengetahui orang pertama yang menyentuh Viona adalah dirinya. Ini juga pengalaman pertama bagi Ray dalam melakukan penyatuan.
*****
Sedangkan di belahan dunia lainnya, seorang wanita tengah diam berusaha menikmati sentuhan pria yang sedang menjamah tubuhnya.
"Kalau bukan karena terpaksa, aku tidak mau melayani pria ini. Rasanya jijik sekali di sentuh oleh pria. Oh sayang, Cristin. Aku minta maaf telah mengkhianati mu," gumam Elena dalam hati.
"Kau menikmatinya, Baby? Punyamu sungguh luar biasa." ucap pria itu sambil menengadah memaju mundurkan pinggulnya.
"Hmmm." Elena hanya berdehem.
"Saya janji akan membuat karir mu melambung tinggi. Saya akan membuat kau memenangkan model ini." Pria itu meracau sambil terus mempercepat pergerakannya.
"Di sentuh Ray aku tidak mau, tapi di sentuh pria ini malah kubiarkan. Setiap orang yang ada di balik ke sukses ku boleh menggunakan tubuhku. Tapi cintaku sayangku hanya untuk Cristin seorang."
Sampai permainannya berakhir meninggalkan pria itu dalam keadaan terkapar lemah. Elena segera pergi dan menemui kekasihnya.
Pas sudah sampai depan apartemen Cristin, Elena masuk dan ia langsung tidur di ranjang Cristin.
__ADS_1
"Kau sudah selesai?" tanya Cristin, asisten pribadinya sekaligus kekasih gelapnya.
"Sudah, tinggal bermain bersama mu sayang. Aku rindu sentuhan mu," gumam Elena menyambar bibir kekasihnya. Dan mereka berhubungan sesuai yang mereka lakukan.