
Waktu semakin terus berlalu meninggalkan banyak kenangan. Sepasang suami istri yang dilanda kebahagiaan itu kini tengah menikmati hari-hari mereka sebagai orang tua.
Viona sudah melahirkan beberapa hari yang lalu. Sekarang mereka sedang mengerumuni bayi mungil nan tampan bernama Abimanyu Raymond Cristopher. Nama yang diambil dari marga keluarganya dan nama Ray sendiri. Nama itu juga hasil dari pemikiran Ray dan orangtuanya.
Viona begitu bahagia bisa mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga barunya. Keluarga yang ia impikan sejak dulu. Keluarga yang menyayanginya dan memberikan dia kasih sayang yang tulus.
Tak pernah terbayang oleh Viona jika kini ia mendapatkan segalanya. Cinta, kasih sayang, dan orang-orang yang mau menemani dia termasuk Raymond.
"Sayang, lihat deh. Wajahnya begitu mirip dengan kamu. Matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya mirip kamu. Tidak ada kemiripan dariku," ujar Viona terlihat kesal karena satupun tidak ada menurun ke putranya.
"Tentu saja akan mirip aku karena dia memang anakku dan pastinya akulah yang paling semangat membuatnya meski awalnya terpaksa." Tanpa canggung dan tanpa malu-malu Raymond bicara tanpa di saring.
"Issh, jangan ingatkan itu lagi. Hari itu aku paling benci sama kamu. Bisa-bisanya memaksaku tanpa mau mendengarkan aku dulu."
"Tapi kamu juga merasakan enaknya."
"Ish, nyebelin." Viona cemberut kesal.
__ADS_1
"Abi ... Oma datang!" pekik Miranda begitu melengking membuat balita tampan itu terkejut.
"Mama, Abinya kaget." Ray menegur mamanya.
"Hehehe maaf, habisnya mama semangat ingin sekali melihat cucu mama yang tampan ini." Miranda meletakkan barang bawaannya dan segera mengambil alih Abimanyu yang ada dalam gendongan Raymond.
"Oma kangen sayang, Oma tidak bisa tidur ingin selalu dekat kamu. Gemesin banget sih." Miranda sampai mengecup pipi bayi mungil itu saking gemas dan sayangnya pada sang cucu.
Semenjak kehadiran Abimanyu, Miranda jadi sering berkunjung ke rumah Raymond. Rumah yang dulu menjadi maskawin untuk Viona. Dan rumah yang baru pun masih ada.
"Saking terburu-buru ingin bertemu cucu sampai melupakan suaminya sendiri," ujar Papa Bram mendengus kesal sambil menenteng mainan anak-anak.
"Ini tidak seberapa, masih ada lagi. Mang bawa masuk!" ujar Bram kepada supir.
Lagi-lagi Viona do buat geleng kepala karena Bram membawa mobil aki yang bisa di cas dan bisa maju.
"Wow, anak baru usia lima hari sudah banyak sekali mainannya." Raymond pun menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau orangtuanya begitu memanjakan sang putra. Melihat bagaimana mamanya membawa setiap barang mainan membuat Ray merasa jika mamanya sudah sangat menyayangi putranya dan juga menyayangi Viona.
__ADS_1
"Selagi kami mampu dan ada waktu, papa maupun mama akan datang setiap hari dan juga akan membelikan apa yang anak-anak mu mau."
"Papa benar, hanya kalianlah penerus perusahaan dan pastinya kalian serta cucu buyut kita yang akan menjadi penerus perusahaan. Maka dari itu, mama dan papa pasti melakukan apapun demi cucu-cucunya," timpal Miranda.
Tidak ada yang bisa Ray ataupun Viona katakan selain merasa bahagia atas kasih sayang orangtuanya terhadap Abimanyu.
Orangtua yang sudah menjadi Oma dan opa itu nampak bahagia sambil membawa main cucunya.
Ray dan Viona yang juga duduk di depan mereka menatap bahagia. Ray merangkul pundak istrinya seraya berkata, "tak pernah terbesit di benakku jika aku akan jatuh cinta secepat ini padamu. Kini, kebahagiaan ku terasa lengkap dengan hadirnya kalian di sisiku. Terima kasih Viona, sudah hadir dalam hidupku memberi warna yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku mencintaimu sekarang, esok, dan selamanya."
Viona terharu dan ia menyenderkan kepalanya ke pundak Raymond. "Terima kasih juga karena kamu sudah mau menerimaku dan sudah mencintaiku. Tidak ada pria yang aku cinta selain dirimu saja. Sekarang, esok, lusa hingga selamanya aku akan mencintaimu dengan caraku dan akan tetap ada di sampingmu sampai ajal tiba. Tetaplah bersama kami hingga maut memisahkan kita."
Raymond tersenyum dan ia mengecup pucuk kepala istrinya sambil menatap sang putra yabg tengah di ajak main cilukba oleh orangtuanya. "Aku mencintaimu, gadis lima milyar ku, selamanya."
"Dari lima milyar berakhir pelaminan dan kebahagiaan. Terima kasih Tuhan, engkau telah memberikan kebahagiaan dan memberikan orang-orang yang begitu menyayangi ku. Akan ku jaga mereka semampuku. Terima kasih juga Raymond, kamulah pertama dan satu-satunya untukku. Aku mencintaimu.
Tidak ada lagi keinginan lain selain hidup bersama-sama hingga menua. Tidak ada lagi hal yang membahagiakan selain berkumpul dengan orang yang kita cintai dan kita sayangi. Meski terkadang ujian rumahtangga akan ada, tapi mereka akan berusaha untuk menyelesaikan segalanya dengan cara mereka sendiri.
__ADS_1
TAMAT ....