Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Perdebatan di pagi hari


__ADS_3

"Kau berbeda dengan Viona, Elsa. Viona tidak pernah sedikitpun mengeluh jika diperintah apapun oleh kita. Dia bahkan bekerja dan hasil uangnya kita ambil tidak pernah dia marah-marah sepertimu. Mau membantu kita, tidak pernah melawan, tidak pernah juga menentang selain kejadian kemarin." Ronald pun mulai membandingkan Elsa dan Viona, ia menyadari jika Viona anak yang baik dan selalu nurut apa kata mereka. Tapi, kejadian kemarin, dimana Ronald berniat menjadikan Viona gadis penebus utang membuat Viona menentang dan melawan.


"Ayah mulai membandingkan ku dengan anak pungut itu?" pekik Elsa enggan mendengar nama Viona dan tidak tidak suka dibandingkan dengannya. "Anak ayah di sini siapa? Aku atau Viona? Seharusnya Ayah lebih memikirkan perasaanku di bandingkan anak sialan itu. Kalau dia mau mengikuti semua perkataan kalian, itu memang hal yang wajar karena di harus balas budi atas apa yang kalian lakukan. Tapi aku, aku seharusnya kalian ratukan sebab akulah putri kalian." Dia bahkan berbicara begitu kencang dan membentak ayahnya.


"Diam!" pekik Natalie menutupi kedua telinga sakit mendengar pertengkaran suami dan anaknya. "Jangan ada lagi pembahasan mengenai Viona! Entah kemana anak sialan itu pergi, menyusahkan kita saja. Mana uang hasil sisa utangnya pun belum di terima oleh kita. Dan sekarang kalian beradu mulut membahas dia." Natalie menghelakan nafas kasar, "bikin berisik rumah saja." Natalie pun beranjak pergi.


"Ingat baik-baik Ayah, aku dan Viona berbeda. Jangan pernah sekalipun berani menyuruh ku mengerjakan semua ini, atau Ayah aku penjarakan." Elsa mengeluarkan sebuah ancaman sebab ia tidak terima dibandingkan.


"Hei, kau mengancam ayahmu?" Ronald tidak habis pikir Elsa bisa bertindak seperti itu kepadanya. Dia ayahnya, seharusnya Elsa bisa menurut apa kata dia tapi ini malah sebaliknya, selalu melawan dalam perkataan dan enggan mengikuti perintahnya.


"Anggap saja begitu," balas Elsa sambil berlalu pergi tak ingin lagi membahas masalah Viona. Baginya Viona hanyalah orang asing yang tidak boleh menjadi ratu dalam keluarganya.


"Sialan, anak itu sungguh keterlaluan berprilaku buruk padaku."


*****


Viona terbangun dari tidur nyenyak dan hangatnya. Dia membuka mata dan menguap. Tapi, dirinya tertegun saat menyadari sesuatu. Tangannya tidak sengaja menyentuh kulit wajah seseorang hingga membuatnya menoleh ke samping.


Viona tercengang dan menjauhkan tubuhnya dari Ray. "Astaga! Kenapa ada dia di sampingku?" Viona sendiri belum menyadari kesalahannya. Kesalahan dimana ia bermimpi masuk ke kamar yang seringkali ia tempat dan tidur di atas kasur. Namun, mata Viona terpejam tak menyadari bahwa ia sedang mengigau hingga berjalan pindah dari sofa ke kasur


"Apaan sih? Ganggu tidur saja." Ray pun terbangun kaget sebab pipinya kena tinju tangan Viona ketika menggeliat. Dia membuka mata dan menoleh kearah Viona.


"Ngapain kau di atas tempat tidurku, hah? Mau curi-curi kesempatan dalam kesempitan?" cebik Ray mendelik tajam.

__ADS_1


"Hei, seharusnya aku yang bertanya ngapain kau berada di atas sofa? Aku sudah bilang jangan dekat-dekat denganku?" Viona masih belum ngeh dan menyangka dia ada di sofa.


"Hei, sialan. Buka matamu lebar-lebar sekeliling tempat! Ini kasurku dan itu tempat tidurmu bodoh!" Saking kesalnya, Ray sampai memegang dagu Viona dan mengarahkan wajahnya ke tempat di mana sofa berada.


Barulah Viona sadar membolakan matanya. "Kok bisa?" pekik Viona memegang kepalanya. "Pasti kau 'kan yang memindahkanku ke sini? Hayo ngaku! Kau pasti mau macam-macam padaku dan beralasan tidak tahu." Viona memicingkan mata menatap curiga. Wajahnya masih muka bantal, rambutnya pun tergerai dan masih berantakan, tetapi itu terlihat menggemaskan dengan mulut ngomel-ngomel seperti ikan koi.


"Hei ... hei ... hei ... Enak saja kau menuduhku sembarangan!" ujar Ray menoyor dahi Viona. Dia bangun tapi pahanya masih terasa berat. "Lihat ini!" Ray menyibak selimutnya, Viona terbelalak dan menyingkirkan kakinya.


"Dasar kaki sialan, bisa-bisanya kau ada di atas paha pria preman ini. Enak sekali dia mendapatkan pelukanku." Viona menggerutu dalam hati.


"Bahkan kaki mu ada di atas tubuhku, berat sekali. Kau yang diam-diam mencuri kesempatan. Bilang jangan dekat-dekat dan jangan melewati batas tidur, tapi mau sendiri. Ck, bilang saja kau yang mau mencuri kesempatan." Kini giliran Ray yang memicingkan mata menatap curiga. Ray menekuk satu sikutnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Viona.


"E-enak saja. Kau yang curi kesempatan!" balas Viona merasa gugup di tatap dalam seperti itu. Ia mendorong wajah Ray kebelakang dan ingin kabur.


Keduanya sama-sama terbelalak penuh keterkejutan, tapi ada geleyar aneh yang mereka rasakan saat dua benda kenyal itu saking bersentuhan. Namun, keadaan itu tak lama karena Viona tersadar dan memekik terkejut.


"Akhhhh ... dasar kurang ajar, mesum, sialan, brengsek, beraninya kau mencuri ciuman pertamaku, hah. Aku benci di sentuh oleh mu. Seharusnya first kiss ku untuk suamiku, tapi kau malah mencurinya." Viona memekik memukuli dada Ray merasa tidak terima kecupan pertama dia jatuh pada Ray.


Ray mengerutkan keningnya, "first kiss? Itu artinya ini yang pertama bagi dia?"


"Hei ... enak saja kau mengatai ku mesum. Aku tidak sengaja mencurinya, lagian aku ini suami mu, bodoh!" balas Ray mencekal kedua tangan Viona. Gadis itu terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ray memperhatikannya, "segitu marahnya first kiss dia di curi orang?"


"Suami? Eh!" Viona baru sadar jika mereka sudah menikah, meski hanya pernikahan siri dan berlaku selama enam bulan."

__ADS_1


"Kau mendadak amnesia? Bodoh, otak dengkul, masa kemarin langsung lupa." Ray kembali menoyor kening Viona. Mereka tidak sadar jika keadaan keduanya begitu intim.


"Kau yang bodoh, bisa-bisanya aku terjebak dalam pernikahan sandiwara ini. Dan kau bodoh tidak menolak tawaran papamu."


"Sialan, kau mengatai ku bodoh?" Ray menggeram tidak suka dirinya di katai. Dan dia mencekal tangan Viona dengan erat. Tapi, wajah yang tadinya marah, mata yang tadinya memerah kini menatap Viona dengan tatapan yang sulit di artikan.


Viona tiba-tiba merasakan hawa yang berbeda, bulu kuduknya merinding bergidik ngeri. Dia memberontak ingin lepas tapi Ray tak melepaskan.


"Lepaskan aku!" pinta Viona memelas.


Ray tidak mendengarkan, matanya malah terhipnotis pada bibir mungil nan tipis berwarna merah ceri alami. Ada rasa yang menyeruak ke dalam hati bertekad mendekatkan diri.


"Eh, mau ngapain kamu?" Viona menjauhkan wajahnya kebelakang menghindari wajah Ray yang semakin mendekat.


Namun, tiba-tiba saja ....


Dor dor do dor ....


Pintu kamar Raymond di gedor seseorang. Ray tersadar dan mengumpat, "sial, hampir saja."


Viona segara turun dari ranjang dan berlari masuk kamar mandi.


"Raymond buka pintunya!"

__ADS_1


__ADS_2