Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Kenyataan yang mengejutkan


__ADS_3

Elena dan Miranda terlonjak kaget mendengar sebuah pengakuan Raymond yang mengatakan jika dia cinta sama Viona. Hal itu membuat Elena tidak terima atas apa yang Ray katakan, pun dengan Miranda yang diam mematung menyaksikan putranya begitu terlihat sedih. Tidak pernah sedikitpun Miranda melihat sebuah kesedihan dalam diri Raymond selama ini. Baru kali ini dirinya menyaksikan putranya begitu terpukul kehilangan seseorang.


"Apa Raymond begitu mencintai Viona sampai dia menangis hanya karena kehilangannya? Apa yang wanita lakukan sampai putraku begitu terlihat seperti orang gila dengan baju berantakan, wajah kacau dan mata sembab. Ray, kamu tidak pernah begini sebelumnya," ucap Miranda dalam hati merasa tidak tega melihat putranya begini.


Elena mengepalkan tangannya dan berkata, "apa-apaan ini?" Dia menarik tubuh Raymond agar terlepas dari pelukan papanya dan Elena menatap tajam pada Ray.


"Kau bilang cinta terhadap wanita itu? Kamu keterlaluan, Raymond!" pekik Elena ingin menampar wajah Ray, tapi tangannya di cekal oleh Bram dan di hempaskan secara kasar sampai tubuh Elena terjatuh.


"Elena!" pekik Miranda cepat-cepat berjongkok. "Papa apa ..."


"Diam kau Miranda!" sentak Bram terlihat marah. Ray tidak melakukan apapun hanya diam tanpa mau menolong dan hatinya seakan batu tidak lagi memikirkan Elena. Dia hanya memperhatikan semuanya.


Miranda terlonjak kaget suaminya tiba-tiba membentak dia. Ini tidak biasanya dan baru kali ini Miranda melihat suaminya begitu marah.


"Jangan sekalipun kau menunjukan ketidaksukaan terhadap apa yang Ray lakukan. Semuanya terlihat menjijikan! Saya tidak ingin ada lagi menantu seperti dirimu, Elena. Pergi dari sini dan jangan pernah sekalipun kau injakkan kakimu di rumahku!" pekik Bram menarik lengan Elena dan ingin membawanya keluar.


"Pah, apa yang kau lakukan? Kenapa malah Elena yang Papa usir? Seharusnya wanita yang papa benci dan usir!" ujar Elena memberontak tidak mau di usir begitu saja.


"Iya, Pah. Salah Elena apa sampai papa mau mengusirnya? Dia itu sedang hamil cucu kita," timpal Miranda membela Elena dan berusaha menghalangi suaminya membawa Elena.


"Dia tidak hamil, Mah. Kehamilan dia itu palsu semuanya palsu. Cintanya palsu, tampangnya palsu, dan juga apa yang dia lakukan semuanya palsu!" seru Bram menggema.


Deg ...


Elena dan Ray tertegun. Elena tiba-tiba kaget dan menerka-nerka apa ayah mertuanya tahu sesuatu atau tidak.


"Pah, maksudnya apa? Ray tidak mengerti?" barulah Raymond bersuara meski suaranya terdengar serak.


Bram menoleh menatap putranya, "kau ingin tahu apa yang telah wanita yang kau cintai lakukan? Dia ..." tunjuk Bram tepat di wajah Elena. "Telah menipu kita, Elena tidak hamil dan tidak mungkin hamil karena dia tidak memiliki rahim."

__ADS_1


Duarr ...


Bagai tersambar petir di siang bolong mengetahui perkataan Bram. Pun dengan Miranda yang terhenyak dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Papa jangan menuduhku yang tidak-tidak!" seru Elena mulai panik karena kebohongannya mulai di ketahui.


"Menuduh mu? Untuk apa? Tidak ada gunanya saya menuduh mu. Kau memang tidak bisa hamil dan tidak mungkin hamil. Apa selama pernikahan dengan Raymond kau pernah di sentuh anakku? Saya rasa tidak. Apa kehamilan ini nyata? Tidak, karena kau merekayasa semuanya, Elena! Kehamilan mu palsu dan kau tidak pernah mencintai anakku karena dirimu seorang lesbi, Elena!" pekik Bram menambah keterkejutan bagi Miranda dan juga Ray.


Deg ...


"Le-lesbi!" ujar Miranda dan Ray bersamaan tidak menyangka bahwa Elena seperti itu.


"Bohong! Kau berbohong, Papa. Mana mungkin diriku seperti itu, ini semua fitnah!" pekik Elena semakin panik.


"Saya tidak bohong karena saya punya bukti. Bawa dia masuk!" ujar Bram pada seseorang dan muncullah seorang pria membawa dua orang wanita dengan tangan di borgol.


Deg ....


"Cristin, jelaskan yang sejujurnya agar masa tahanan mu diringankan!" titah Bram. Elena menggelengkan kepalanya melototkan mata supaya Cristin tidak mengungkapkan segalanya.


"Sa-saya dan Elena memiliki hubungan dan kami sudah menjalin kasih selama tiga tahun ini. Sa-saya juga menyuruh Elena untuk menjebak Raymond dan mengakui sedang hamil hanya untuk mempertahankan warisan Anda agar tidak jatuh kepada anak dari orang lain."


"Apa! Ja-jadi Elena beneran tidak mengandung dan dia seorang penyuka sesama?" pekik Miranda kecewa dan murka. Cristin mengangguk dan sambil menunduk.


Ray semakin di buat lesu, ia tidak menyangka selama ini di bohongi sedemian rupa. Cinta, kepercayaan, dan juga dalam segala hal. Tiba-tiba ia jijik melihat Elena. Namun, hatinya malah teriris perih karena selama ini mengabaikan Viona dan malah sering bermesraan di depan Viona meski lewat ponsel hingga ia mengabaikan Viona.


Tubuh Ray lemas dan ia terduduk lesu di sofa. "Aku salah, salah memilih wanita dan sekarang aku harus kehilangan wanita yang mencintaiku dan telah menyerahkan segalanya untukku. Aku salah, Pah, Mah, aku salah hiks hiks." Ray kembali menangis menyembunyikan wajahnya di telapak tangan seraya menunduk terisak pilu.


"Cristin kau berbohong, mana mungkin aku seperti itu." Elena masih saja mengelak. Namun, tiba-tiba Bram melemparkan semua bukti tentang Elena ke hadapannya hingga bukti itu berserakan. Miranda menunduk memperhatikan foto-foto itu. Banyak sekali pengkhianatan yang Elena lakukan terhadap putranya. Banyak juga potret mesra Elena dengan Cristin. Hatinya panas, dadanya bergemuruh marah.

__ADS_1


"Tidak perlu mengelak karena saya sudah muak dengan sandiwara yang kau lakukan. Ini lah alasan saya tidak pernah merestui pernikahan Ray dan Elena. Inilah alasan mengapa Papa menikahkan Ray dengan Viona karena papa merasa Elena bukanlah wanita yang tepat!"


Plak ... plak ....


Miranda menampar keras wajah Elena saking murkanya sebagai seorang ibu. "Saya sudah percaya padamu tapi nyatanya kepercayaan saya kau manfaatkan. Saya menyesal telah mendukung penuh kau dengan Raymond dan saya menyesal telah begitu mempercayai mu."


"Bohong! Ini semua bohong!" pekik Elena sudah terpojok pun masih saja tidak mengakuinya.


"Bawa wanita penipu ini dan penjarakan dia!" ujar Bram dingin memanggil beberapa anak buahnya untuk menyeret Elena.


Elena panik dan ia hendak lari. Namun, tangannya segera di cekal oleh dua orang yang ingin menangkapnya.


"Lepaskan! Saya tidak mau di penjara! Saya ini seorang model, kalian semua harus menanggung akibatnya. Lepaskan!" Elena berteriak memberontak enggan di tangkap. Tapi dia tidak bisa apa-apa karena dua orang yang menyeretnya begitu kuat.


Miranda terduduk lesu dan ia menatap putranya dengan tatapan sedih. Apalagi Ray terisak dalam penyesalan membuat hati seorang ibu terenyuh nyeri.


"Ray," lirih Miranda mengusap bahu putranya. Raymond menoleh pada mamanya.


"Ray bodoh, Mah. Ray bodoh percaya sama Elena. Dan sekarang Ray harus kehilangan Viona, orang yang ternyata mencintaiku. Ray sadar kalau Ray juga cinta sama Viona, dia baik, Mah. Dia memperlakukan Ray hormat dan tidak pernah sekalipun membantah, Viona pergi, Mah. Viona pergi setelah membuat Ray merasakan arti seorang suami yang sesungguhnya. Tolong bawa Viona lagi ke sini, Mah. Pah, tolong bawa Viona pada Ray. Aku tidak peduli dengan Elena, aku hanya ingin Viona lagi." Raymond menunduk seraya menangkupkan kedua telapak tangannya menangis tersedu.


Miranda pun ikut terisak memeluk putranya. "Maafkan Mama Ray, waktu itu mama malah menyuruh dia pergi dan tidak mencegahnya pergi. Seandainya mama tahu Elena seperti ini, Mama tidak akan membiarkan Viona pergi." Miranda terpejam merasa bersalah pada putranya.


Pun dengan Bram yang juga diam berdiri sambil mendongak memejamkan mata menahan air mata. "Kamu harus menerima kenyataan jika Viona sudah pergi."


"Tidak! Viona akan kembali padaku! Aku tidak akan membiarkan Viona pergi!" pekik Ray langsung berdiri dan ia berlari ke luar untuk mencarinya lagi tanpa memperdulikan keadaannya.


"Ray tunggu!" pekik Miranda, "Pah." Bram menggelengkan kepalanya seakan memberitahu jika dia juga tidak tahu keberadaan Viona.


*****

__ADS_1



__ADS_2