Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Surat Perjanjian


__ADS_3

"Iya, ada apa?" balas Vio tak kalah keras sambil berjalan sedikit berlari menghampiri Raymond.


Raymond tiba-tiba melemparkan sebuah dokumen ke tubuhnya Viona yang entah apa isinya.


Pluk ....


Viona memperhatikannya, ia berjongkok mengambil map itu dan langsung memperhatikannya. "Apa ini?" tanya Viona belum membuka dan membacanya. Tapi karena penasaran, Viona hendak mau membuka.


"Buka dan tandatangani!" titah Ray berlalu duduk di sofa dengan kedua tangan merentang berada di penyangga kursi. Matanya menatap fokus gadis itu.


Lalu Viona berjalan hendak duduk, tetapi di cegah oleh Ray.


"Siapa yang nyuruh mu duduk di sofa?" ucap Ray dingin.


Viona mendongak, "tidak ada, hanya saja aku yang mau duduk. Masa bacanya sambil berdiri? 'kan tidak enak sekali."


"Tidak boleh duduk di sofa! Duduk di lantai saja!" balas Raymond begitu tegas. Viona menghela nafas.


"Baiklah," sahut Viona mengalah. Kemudian, ia pun duduk di lantai, dokumennya ia simpan ke atas meja, lalu mulai mulai membaca.


"Surat kontrak perjanjian pernikahan," ucap Viona sambil terkejut melotot. Dia melirik Ray lalu kembali melanjutkan bacaannya.


"Satu, pihak kedua harus mengikuti semua yang di katakan pihak pertama."


"Dua, pihak kedua tidak boleh melakukan kegiatan yang membuta pihak pertama marah."


"Tiga, pihak kedua tidak berhak mengambil seluruh harta milik pihak pertama, dan jika itu terjadi maka pihak pertama akan di kenakan denda sebesar lima milyar dan di penjara selama 10 tahun."


"Empat, pihak kedua tidak boleh ikut campur dengan urusan pribadi pihak pertama begitupun sebaliknya."


"Lima, selama masa pernikahan tidak boleh ada yang saling jatuh cinta."


"Enam, pihak pertama maupun pihak kedua harus menyetujui jika setelah enam bulan pernikahan harus bercerai."


"Tujuh, selama menikah dilarang adanya kontak fisik."


Viona begitu serius membaca setiap deretan huruf mengenai perjanjian. Sesekali matanya melotot, memicingkan mata, dan kadang ekspresi wajah kesal.

__ADS_1


"Apa-apa ini? Masa semuanya merugikan aku?" Viona mulai protes karena hampir semua isi di dalamnya tidak ada yang membuat Viona senang.


"Tidak ada penolakan, itu semua sudah murni keputusan pihak pertama dan tidak bisa di ganggu gugat."


"Cepat tandatangan!"


Viona mendengus, "baiklah, tapi jika kau yang melanggar duluan, aku yang akan menuntut mu. Dan satu lagi, tidak boleh melewati batas dapur dan tidak boleh kau menyentuhku."


"Emangnya siapa yang akan menyentuhmu? Saya tidak sudi! Buruan tandatangan!" sentak Ray melotot.


"Baguslah jika kau tidak sudi." Lalu, Viona mengambil pena dan menandatangani kontrak perjanjian nya.


"Nah, gitu dong, dari tadi kayak gini." Ray mengambil dokumennya.


"Pergi sana! Saya malas melihat wajah jelek mu itu," sambung Ray sambil berdiri.


Viona pun berdiri, dan ia melangkah pergi menuju kamarnya untuk melanjutkan kegiatan tidurnya.


Siapa yang tidak bahagia di hari pernikahannya, hari sakral yang menyatukan dua belahan jiwa dalam mahligai pernikahan. Tetapi untuk bahagia rasanya itu cukup berat untuk Viona gapai. Menikah dengan orang asing yang baru saja ia kenal, baru tahu namanya, dan baru pertama kali bertemu.


Apalagi setelah mengetahui jika pria yang menikahinya sudah menikah, membuat Viona berpikir tidak mudah menggapai kebahagiaan dan cinta dalam pernikahan poligami. Tapi, meskipun begitu, Viona harus tetap menjalankan perannya sebagai istri, cuman untuk masalah ranjang sepertinya mereka tidak akan mungkin bersatu.


"Viona, di depan ada papa. Jangan pernah bilang macam-macam kepada papa atau ku habisi kamu. Jika papa bertanya jawab dengan senyuman saja, awas!" ucap Ray memperingati sambil menunjuk wajah Viona. Lalu pria itu kembali ke depan saat mendengar panggilan papanya.


"Raymond ... Ray."


"Iya, Pah." balas Ray menghampiri sesekali menengok ke belakang melihat pergerakan Viona.


"Itu bahan-bahan makanan coba kau turunkan. Pasti di sini belum ada bahan masakan ataupun peralatan dapur lainnya. Papa sengaja membelinya buat keperluan kalian."


Ray melihat sopir papanya menurunkan banyak belanjaan dari mobil. "Papa akan pulang lagi 'kan?" tanya Ray berharap jika Papanya pulang kediaman Bramantyo.


"Tentu saja tidak. Papa akan menginap di sini, khusus malam ini."


"Apa?" pupus sudah harapan Rei tidur terpisah dan keluar rumah.


Papa Bram memperhatikan penampilan Raymond yang sudah rapi. Kau mau pergi? Malam-malam begini? Ini malam pertama mu, Ray. Kau harus diam di rumah dan jangan meninggalkan istrimu."

__ADS_1


"Ayolah, Pah."


"Raymond!" ucap papa Bram begitu tegas. Ray menghela nafas, "baiklah."


Dan datanglah Viona tersenyum menyambut mertuanya. "Selamat malam, Pah."


"Malam Vio. Bagaimana, apa Raymond memperlakukanmu sangat baik? Dia tidak macam-macam bukan? Dia tidak kasar 'kan?" cerca papa Bram menanyakan kelakuan putranya.


Viona melirik Ray, dan Ray melototkan matanya seakan memberikan sebuah kode agar Viona menjawab yang baik-baik saja.


"Hmmm tentu, tentu saja Ray memperlakukanku sangat baik. Bahkan, dia menempatkan ku di kamar yang sangat besar dan bagus untuk kami huni berdua, iya 'kan Ray?" balas Viona kembali bertanya kepada Raymond.


"Hehe iya, Pah. Kamar Ray 'kan kamar Viona juga, iya 'kan?" sambung Ray kembali bertanya mengenai pendapat pada Viona.


"Tentu, saking milik berdua Ray sampai menyusun setiap dekorasi kamar. Dari kasur, lemari hingga selimut." Sindir Viona mendelik jengah.


Papa Bram mengerut keningnya, "segitunya?"


"Pak ini mau di bawa kemana?" sahut sopir membawa beberapa jinjing plastik.


"Eh, biar ku bantu, Pak." Viona segera menggapai plastik nya.


Tidak perlu, Non. Biar saya saja."


"Tidak apa-apa, Bapak ambil yang lainnya saja. Biar ini aku yang bantu bawa ke dalam. Kebetulan aku mau memasak buat makan malam kita. Eh, papa datang membawa bahan masakannya, baik sekali. Gak kayak Ray." sindir Viona mencebik pelan.


"Hei, kenapa bawa-bawa aku?" Ray protes.


"Sudah-sudah! Vio bawa saja bahan masakannya. Dan Pak, kau ambil yang lain saja." Barulah setelah di perintahkan sopir itu mau memberikan jinjingan yang ia bawa.


Lalu, Viona beranjak ke dapur melewati Raymond. Dia menatap Ray sebentar dan kembali fokus ke jalan.


"Ray, papa harap kau memperlakukan Viona dengan baik. Jangan pernah berani bermacam-macam padanya atau kau sendiri yang akan papa hukum." Bram memberikan ancaman lagi agar putranya mau menuruti keinginan dia.


"Iya, iya, Ray paham." Balas Ray mendengus kesal karena papanya begitu membela Viona.


"Entah apa yang telah wanita itu lakukan sampai membuat Papa begitu melindunginya. Malah anaknya sendiri selalu diancam jika ketahuan macam-macam kepadanya."

__ADS_1


Ray tidak tahu saja jika papanya mengetahui sesuatu mengenai istrinya. Tapi, Bramantyo tidak langsung memberitahukan karena dia tahu jika Ray tidak akan mudah percaya pada omongan siapapun selain melihat bukti secara nyata di depan matanya. Maka dari itu, sebisa mungkin Bram mendekatkan Viona dengan Ray.


__ADS_2