
Bagaimana tidak terkejut jika Papanya memberikan sebuah kabar yang membuat ia tercengang. Menikah dalam kurun waktu secepat mungkin. Menikah dengan orang yang tidak sama sekali ia inginkan. Menikah dengan wanita yang tidak ia cintai. Apa ia akan menerimanya? Tentu saja tidak jika bukan karena terpaksa.
"Pak, silahkan duduk di sana." Bram mempersilahkan orang-orang duduk di tikar yang sudah ia sediakan. Bram juga tidak mendengarkan perkataan Ray ataupun Miranda.
"Pengantin wanitanya mana?" tanya pak penghulunya.
"Tunggu sebentar." Bram membalikkan badannya hendak menjemput dan ternyata Bi Marni sudah datang menuruni tangga bersama Viona.
Ray maupun Miranda mendongak. Ray terpana melihat wajah cantik Viona yang di rias sederhana. Namun, ia merasa kenal dengan orang itu.
"Perasaan pernah bertemu, tapi di mana?" setelah berpikir, akhirnya Ray mengingatnya.
"Kau ...!" tunjuk Ray membuat mereka yang ada di sana kaget dan langsung menoleh. Pun dengan Viona yang juga langsung mendongak.
"Kau 'kan ..." Viona pun sama kagetnya melihat pria yang ia tampar pada hari itu.
"Wah, jadi kalian sudah saling kenal? Papa senang. Ayo duduk!" Bram menuntun Viona duduk di tempat yang di pilihkan.
"Raymond tidak mau, Pah!" Ray menolak tegas dan hendak pergi.
"Jangan paksa anak kita, Pah," timpal Miranda yang juga tidak setuju Raymond menikah lagi dengan wanita miskin dan tidak jelas asal usulnya. Namun, Bram tidak mendengarkan.
"Kalau kamu menolak, jangan salahkan Papa menghancurkan dia!" ucap Bram bersuara tegas dan mengancam Ray. Hal itu membuat Ray terdiam memberhentikan langkahnya. Dia tidak bisa melawan jika sudah menyangkut Elena. Ray tahu jika papanya bukanlah pria yang hanya menggertak saja, tapi juga akan bertindak sesuai yang di inginkan.
Ray pasrah dan duduk di samping Viona dengan wajah menahan amarah.
"Saudara RAYMOND CHRISTOPHER bin BRAMANTYO CHRISTOPHER, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan lamuela Viona saira yang walinya saya wakilkan untuk menikahkannya dengan Anda dengan mas kawin satu set perhiasan dan rumah dibayar tunai." Ucap Lantang dan tegas pak penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Lauela Viona Saira dengan mas kawin tersebut TUNAI." Jawab Raymond tak kalah lantang dan juga tegas dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
__ADS_1
"Sah.."
"Sah.."
"Saaahhh ...."
Miranda menatap benci pada Viona. Dia tidak menyukai menantu keduanya yang ia pikir akan merebut seluruh harta. "Awas kamu, saya tidak akan membiarkan kamu hidup tenang. Saya pastikan Ray segera menceraikanmu."
*****
"Doakan aku supaya aku bisa menjadi istri yang baik buat suamiku, Pah." Viona melakukan sungkem meminta doa restu kepada Bramantyo yang kini sudah resmi menjadi mertuanya. Dia menunduk mencium tangan Bramantyo penuh rasa sopan dan khidmat.
"Papa mendoakan kalian semoga kalian bahagia selalu dan cepat-cepat diberikan momongan. Papa sudah tidak sabar ingin memiliki cucu."
Ray menggerutu, "sampai kapan pun aku tidak akan menyentuh wanita ini. Enak saja dia mau mengandung anakku, tidak akan ku biarkan itu terjadi. Lihat saja, apa yang akan ku lakukan kepada dia."
"Ck, enak saja wanita miskin ini mau mengandung cucuku. Lihat saja, tak akan ku biarkan itu terjadi," batin Miranda menatap tidak suka wanita yang sedang menunduk di hadapan suaminya.
Lalu, Viona menggeser tubuhnya ke hadapan Miranda. Tapi, Miranda malah berdiri enggan menerima uluran tangan Viona
"Mah!" Bramantyo memanggil istrinya tapi tidak didengarkan. Ia menatap Viona.
"Jangan dengarkan istri papa, yang penting kalian sudah menikah dan buktikan kepada Mama kalau kalian layak mendapatkan Restu." Bram merasa tidak enak hati melihat perlakuan istrinya.
Setelah selesai acara, semua orang sudah pergi dari sana. Tinggal Viona, Bramantyo, Raymond. Sisanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Miranda enggan berlama-lama di sana meski rumah minimalis itu akan menjadi tempat tinggal baru untuk Raymond dan Viona.
"Sudah, 'kan? Sekarang aku mau pergi. Malas sekali berada di sini." Ray juga siap pergi, tetapi papanya mencegah.
"Ku jangan pergi kemana-mana, Ray. Sekarang Kamu akan tinggal di sini selama waktu yang di tentukan."
"Pah!" Ray terbelalak, "kenapa harus di sini? Ray tidak mau tinggal dengan wanita seperti dia." Tunjuk Ray pada Viona.
__ADS_1
Viona menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia pun sedih dan juga enggan tinggal bersama, tetapi ia tidak bisa karena semuanya atas perintah Bram. Jika dia menolak, Bram mengancam akan memberikannya kepada Louis lagi. Dan itu yang ia takutkan. Maka dari itu, Viona lebih baik mengikuti perintah Bram. Ia bagaikan buah simalakama, maju kena mundur kena, dan pada akhirnya ia terima dan hadapi kisahnya.
"Enak sekali aku di usir dari rumah Papa dan malah disuruh tinggal di sini."
"Mau atau pun tidak, kamu harus tinggal di sini. Suka ataupun tidak, sekarang kamu dan Fiona akan tinggal dalam satu atap yang sama. Tidak ada penolakan atau pun bantahan! Papa tidak suka penolakan!" balas Bramantyo tak kalah tegas.
Hingga datanglah orang-orang yang disuruh Bram membawa perlengkapan Ray.
"Apa-apa ini?" di buat terkejut melihat ada koper datang ke sana.
"Sesuai yang papa minta, mulai hari ini dan seterusnya, kamu akan tinggal di sini bersama Viona! Jika kamu menolaknya ...."
"Iya, iya, iya. Aku mengerti kemana arah pembicaraan Papa!"
"Bagus, Papa harap kalian segera membuatkan Papa cucu." Lalu, Bramantyo berlalu dari sana.
Setelah melihat Papanya pergi menaiki mobilnya. Ray meluapkan emosi kepada Viona.
"Ini semua gara-gara kau, sialan. Kau pembawa sial untukku. Akkhh ... brengsek, kau ... " tunjuk Ray menatap benci.
"Jangan harap bisa berdekatan denganku dan jangan harap jika aku akan menyentuhmu. Tidak sudi."
Viona mendongak, "kamu pikir aku mau di sentuh pria kasar dan arogan sepertimu? Aku pun tidak mau. Kamu pikir aku juga mau menikah denganmu? Aku pun tidak sudi. Kalau bukan terpaksa atas perintah papamu, aku mana mau menikah denganmu." Balas Viona mencebik kesal.
"Hei, kalau bukan karena mu yang sudah hadir dalam hidupku, papa todak mungkin sampai menikahkan kita. Entah apa yang kau perbuat sampai papa begitu ke menikahkanku denganmu."
"Aku tidak melakukan apa pun." Lalu, Viona berdiri dan ingin pergi dari sana. Ia malas berdebat dengan Ray.
"Mau kemana kau? Dengarkan aku," ucap Ray menarik tangan Viona sampai gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menerima pernikahan ini. Sampai kapanpun istriku hanya Elena."
__ADS_1
Deg ...
"I-istri?!"