Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Ketagihan berlayar


__ADS_3

Cahaya matahari menyeruak masuk melewati jendela kaca yang masuk langsung menyoroti wajah Viona.


Mungkin karena kelelahan telah melewati sesi panas saat malam hari sampai beberapa ronde dan berakhir pada pagi-pagi buta membuat Viona begitu lelap dan sinar matahari pun tidak mampu membangunkannya.


Ceklek.


Ray keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk yang terlilit di pinggangnya sambil menggosok rambut yang basah menggunakan handuk kecil.


Pria yang baru saja merasakan surga dunia kenikmatan tiada tara itu mengembangkan senyumannya ketika melihat wajah wanita cantik yang sudah resmi ia miliki. Untuk sekian kalinya Ray melakukan hubungan dalam keadaan sadar. Mungkin waktu pertama kalinya, ia dalam keadaan mabuk. Tapi kali ini dirinya sadar melakukan hingga beberapa kali.


Ray duduk di tepi ranjang, bola matanya masih memperhatikan wanita di sampingnya. Tangannya terulur mengusap lembut pipi wanita yang sudah ia sentuh. Hangat, itulah yang Ray rasakan saat ini.


Setelah apa yang mereka lewati tadi malam membuat perasaan Ray berbeda. Dan itu ia rasakan saat pertama kalinya merasakan surga dunia dari Viona. Gadis kecil dengan perbedaan usia 10 tahun.


Bibirnya mengecup lembut kening Viona, hatinya berkata menghangat dan terus ingin di sisi wanita ini. Ray sedikit menjauhkan wajahnya bibirnya mendekati telinga.


"Vi, bangun! Ini udah siang!" bisiknya lembut tepat di telinga Viona.


"Aku masih capek, Ray." gumam Viona masih terpejam dan memeluk guling.


Ray tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin mengganggu Viona dan memilih memakai pakaian. Lalu, keluar kamar.


Mata Viona perlahan terbuka, sebenarnya dia tidak tidur dan sudah bangun saat cahaya matahari masuk menyilaukan matanya. Namun, karena Viona malu dan tidak berani menatap Ray, Viona bilang lelah.


Wajahnya memerah malu mengingat kejadian yang memabukan diantara mereka berdua. Perasaannya bercampur aduk menjadi satu dan ia mencoba menetralisir jantungnya yang berdegup kencang.


Seketika ia menggigit bibir bawahnya saat satu kekhawatiran hinggap ke dirinya. Dia memejamkan mata dengan hati yang gelisah.


"Kita sudah melakukannya dengan sadar, tapi aku takut kamu meninggalkanku, Ray. Aku tidak ingin berpisah denganmu." Viona sudah menyerahkan segalanya pada Ray dan perasaannya semakin hari semakin menjadi. Tapi ia hanya bisa memendamnya dalam hati tanpa berani mengungkapkannya. Ia takut mendapatkan penolakan dan membuatnya patah hati berkali-kali. Apalagi Ray memiliki istri selain dia dan itu membuat Viona semakin minder.


Viona bangun, ia pun beranjak turun sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia beranjak ke kamar mandi membersihkan dirinya


*****


Ray mencoba menyiapkan makanan buat mereka berdua. Dia mencari bahan-bahan masakan yang ada di dalam lemari.

__ADS_1


"Masak apa, ya?" Ray kebingungan mencari bahan yang akan ia masak. Karena tidak bisa memasak apapun selain merebus mie instan dan telur, Ray pun hanya memasak itu saja.


Beberapa lama berkutat di dapur, Ray berhasil menyiapkan dua mangkuk mie rebus telur. Ia pun menghidangkannya ke atas meja. Dia kembali ke kamar atas ingin membangunkan Viona.


*****


Kediaman Bram.


"Pah, Ray menginap di rumah itu. Kasihan Elena tidur sendirian."


Bram yang sedang sarapan pun menjadi tidak berselera jika sudah bicara soal Elena. "Lebih kasihan Viona tidur sendiri di rumah cukup luas. Elena masih ada kita dan dia juga tidak perlu dikasihani."


"Kenapa Papa malah mendukung Ray dengan pelakor itu, Pah. Ray itu suamiku yang seharusnya memprioritaskan istrinya, bukan orang lain." Elena protes.


"Lalu apa kamu juga sudah memprioritaskan Ray sebelum karirmu dan orang-orang yang dekat denganmu? Tidak bukan?" Bram membalas.


"Pah, yang di katakan Elena itu ada benarnya juga. Ngapain Ray memprioritaskan wanita ja Lang itu?" timpal Miranda.


"Bukan Viona yang ja Lang, tapi Elena." Bram berdiri seraya menyindir menantunya. "Dia tidak sebaik yang kita kira, dia mengkhianati Ray di belakangnya."


"A-apa maksud papa? Papa jangan fitnah gitu. Aku tidak pernah mengkhianati Ray." Elena gelagapan dan mendadak panik. Ia takut rahasianya terbongkar. "Mah, papa jahat menuduhku," sambung Elena mengeluarkan air mata buayanya.


"Mungkin papa belum bisa membuktikan kejanggalan yang papa pikirkan, tapi suatu hari nanti kejanggalan itu akan di ketahui." Bram pun pergi dari sana.


"Brengsek, apa yang di ketahui oleh pria tua itu? Jangan sampai dia mengacaukan rencana ku. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu kepada dia agar tidak menghalangi setiap jalan yang ku tempuh," batin Elena menggerutu.


"Sayang, kamu jangan dengarkan papanya Ray. Dia itu sepertinya sudah kena hasut wanita itu. Kami harus yakin kalau Ray hanya mencintaimu. Mama yakin mereka tidak memiliki hubungan apa pun. Elena mengangguk seraya menghapus air matanya.


*****


Dugaan Miranda salah, Ray justru semakin di buat tak berdaya saat melihat Viona sedang berdiri di dekat lemari baju mencari baju yang akan dikenakannya.


Viona terhenyak saat tangan Ray membantu mengambil kemeja yang ada di bagian atas.


"Ray!" Viona langsung menghindar dan menunduk malu.

__ADS_1


"Kenapa, hmmmm? Mau menghindar dariku?" tanya Ray mendekati Viona dan memepetkan tubuhnya ke depan tubuh Viona. Kejadian semalam membuat Ray ketagihan dan melihat Viona masih mengenakan handuk membuat sesuatu kembali berdiri.


Viona menegang dan hendak mendorong dada Ray. Namun, tangannya Ray pegang.


"Ray, ka-kamu mau apa?"


Ray malah mendekatkan wajahnya ke leher Viona menghirup aroma wangi dalam tubuh Viona. "Mengulang yang semalam."


Entahlah, aku tidak bisa menghindari Viona begitu saja. seperti ada magnet yang menarik untuk semakin dekat kepadanya dan ingin mengulang lagi kegiatan semalam.


"Ray," lirihnya menahan tangan Ray yang sudah berada di salah satu aset berharga miliknya. Tangan Ray sudah berada di salah satu dadanya.


"Jangan menolak ku, Viona. Aku suamimu, aku menginginkanmu," titah Ray sayu sudah mulai memanas. Miliknya pun sudah menegang, sekujur tubuhnya sudah menegang ingin segera menuntaskan hasrat yang hadir merasuk seluruh jiwanya.


Viona tahu ini adalah salah satu kewajibannya sebagai seorang istri. Diapun memasrahkan segenap jiwa dan raganya untuk suami. Suami yang kini sudah merasuk ke relung hati, suami yang kini ia cintai. Ya, Viona mencintai Ray. Ternyata tidaklah sulit menyukai pria tampan itu.


"Kenapa menunduk? Tatap aku Viona!" pinta Ray sambil tangannya merangkul pinggang Viona.


Viona menggeleng tidak berani, "Malu."


Ray tersenyum gemas memperhatikan wajah malu-malu istrinya. Tangannya naik memegang dagu Viona dan mendongakkan wajah cantik itu agar sejajar dengan wajahnya.


Karena sudah tidak sabar untuk menyentuh bibir itu, bibir manis yang membuatnya candu, Ray perlahan menempelkan bibirnya dan bibir Viona. Awalnya hanya sebuah kecupan daja, namun lama-kelamaan menjadi sebuah luma tan, hingga sesa pan.


Viona memejamkan mata menikmati setiap kecupan lembut dari Ray. Namun, dirinya kian menegang di saat kecupan itu kian menggebu dengan tangan mengusap punggung melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya.


Ray melepaskan pangutan keduanya, ia menghirup udara dalam-dalam kemudian kembali melu mat bibir Viona secara menggebu seraya tangan mulai bergerilya. Tapi Viona menahannya.


"Kenapa?" tanya Ray diam sejenak menatap dalam penuh sayu dengan sorot mata sudah berkabut menahan hasrat yang kian semakin menggebu.


"Aku takut, Ray," jawab Viona bersemu merah dengan napas memburu dan tatapan sedih.


"Takut kenapa, Vi?"


"Aku takut kamu meninggalkanku," ucap Viona mengungkapkan ketakutan yang ia rasa.

__ADS_1


"Tidak akan pernah," balas Ray sambil kembali beraksi. Ia tidak sepenuhnya sadar saat bicara seperti itu. Hasrat yang ia rasakan menguasainya dan berkata sekenanya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Ray kembali menyergap bibir Viona. Kali ini dia tidak akan membiarkan Viona protes. Mereka pun kembali berlayar dalam lautan cinta penuh gairah.


__ADS_2