
Ray memperhatikan kondisi rumah yang menjadi mas kawin pernikahan dia dan Viona. Rumah itu masih terlihat rapi dan bersih karena Ray selalu menyewa orang untuk membersihkannya setiap Minggu. Kadang, jika Ray rindu selalu mampir ke rumah itu dan menginap di sana sambil memeluk pakaian Viona.
Sejak kepergian Viona, Ray jarang menginap di sana dan hanya menginap di saat sedang rindu saja. Itupun hanya sebatas tidur tanpa melakukan kegiatan lain apalagi mencoba menggeledah rumahnya.
Raymon duduk di sofa sambil memperhatikan setiap sudut rumahnya. Banyak kenangan di sana dan Ray tidak ingin menghilangkan kenangan itu. Ia kembali teringat perkataan papanya tadi.
FLASHBACK
"Papa tahu Viona dimana? Lalu bagaimana keadaannya saat ini? Apa Viona baik-baik saja? Apa dia sudah menikah lagi atau belum?" Raymond begitu antusias mendengar papanya menyebutkan nama Viona dan ingin bertemu dengan gadis itu. Meskipun ia terkejut karena papanya mengajak dia bertemu Viona, tapi hal itu tidak membuatnya penting. Hal yang paling pending baginya adalah bertemu dan ingin memperbaiki sebuah hubungan yang baru.
Bram mengangguk mengiakan jika ia mengetahui keberadaan Viona. "Keadaannya saat ini sangatlah baik-baik saja dan juga terlihat sehat dan bahagia. Mungkin, jika nanti kamu bertemu dengannya, tolong jangan paksa dia untuk kembali padamu. Papa tidak ingin Viona kembali tersakiti dan tidak ingin berada dalam keadaan yang rumit." Bram mengingatkan hal itu sebelum Ray membuat keputusannya sendiri.
Wajah Raymond terlihat murung dan sedih. Padahal ia berharap jika Viona mau di ajak kembali dam membina rumah tangga yang baru. Ya, Ray menginginkan hal itu dan berjanji akan membahagiakan Viona.
"Ray akan melakukan sesuatu perkataan papa."
"Baiklah, kalau kamu mengerti. Kalau begitu, kita pergi hari ini juga sebelum malam tiba." Ajak Bram serius akan membawa Ray bertemu dengan Viona.
"Kalau mau pergi kemana?" tanya Miranda sempat mendengar suaminya pergi hati ini juga.
Bram dan Raymond saking lirik. Dan Bram pun mengangkat suaranya, "bertemu Viona. Kalau mama mau ikut kita akan pergi bersama sore ini juga."
"Viona? Papa sudah menemukannya? Kalau begitu mama juga mau ikut." Dengan sebuah kesepakatan, Ray dan Miranda akan pergi ikut dengan Bram saat sore nanti.
Flashback end.
Sebelum bertemu, Ray mampir dulu ke kediamannya yang dulu di tempati olehnya dan Viona.
"Vi, aku merindukanmu. Rindu ini begitu berat dan menyiksaku. Seandainya aku tahu kamu dimana, mungkin sedari dulu sudah ku usahakan untuk merebut hatimu kembali. Vi, kalau seandainya kita bertemu lagi? Apa kamu akan memaafkan ku dan mau rujuk denganku?" gumam Ray dalam hati.
Di saat sedang terpejam dengan kepala menyender ke kursi dan wajah menengadah ke atas, suara orang yang sering membersihkan rumahnya mengalihkan dirinya.
__ADS_1
"Den, maaf mengganggu sebentar," ucap pria itu tidak enak hati menganggu waktu istirahat majikannya.
"Iya, mang. Ada apa?" Raymond menegakkan duduknya dan menatap pria paruh bawa yang seringkali mengutus rumahnya.
"Maaf, den. Mamang sempat lupa memberikan ini." Pria itu memberikan sebuah amplop kecil berwarna putih.
"Mamang menemukannya di kamar belakang waktu pertama kali membersihkan rumah ini. Pas mau di kasih, mamang lupa dan malah ketumpuk dengan buku lainnya. Tadi pagi waktu membersihkannya lagi, mamang baru ingat. Mungkin ini sangat penting, den. Karena dari amplop itu tertulis dari sebuah klinik."
"Klinik?" Raymond mengambil kertas putih itu dan ia melihatnya. KLINIK KANDUNGAN.
Deg ....
Jantung Ray berdebar kencang.
"Mamang permisi dulu, Den." Orang itu kembali pergi dan kembali melakukan aktivitasnya lagi.
Mata Ray tertuju pada kertas putihnya dan ia segera membukanya. Lalu, Ray memperhatikan setiap kata yang tertulis di kertas itu.
"Vi-viona hamil?" dunia Ray seakan jungkir balik penuh kesedihan dan penyesalan yang mendalam. Ia tidak menyangka kalau hari itu istri keduanya sedang mengandung. Namun, karena ketidakpekaan nya membuat Ray harus kehilangan Viona. Air matanya menetes begitu saja.
"A-apa ini yang akan Viona beritahukan padaku? A-apa ini pembicaraan yang waktu itu di bilang penting?" Raymond mengusap kasar wajahnya dengan keadaan yang sangat kacau. "Ya Tuhan!"
*****
"Bi, tumben banget bibi masak banyak. Apa kita akan kedatangan tamu spesial?" tanya Viona melihat aneka macam makanan terhidang di atas meja. Ia tidak di biarkan melakukan pekerjaan apapun dan hanya di perbolehkan duduk memperhatikan saja.
"Bibi juga tidak tahu, Non. Hanya saja tuan meminta bibi memasak makanan buat malam ini. Mungkin buat non kali," jawab bi Marni asal karena ia juga tidak tahu pasti siapa yang akan datang bersama majikannya.
"Tapi ini terlalu banyak, bi." Meski heran, tapi Viona diam tak lagi banyak tanya. Dia terlihat kembali asik menikmati hidangan makanannya.
*****
__ADS_1
Sore pun tiba, Raymond sudah bersiap-siap dan terlihat sangat rapi nan tampan. Dia terlihat bersemangat dan juga raut wajahnya berbinar. Setelah mengetahui kehamilan Viona, Ray berharap jika anaknya masih ada dan ia sudah menghitung berapa bulan usia kandungannya Viona. Ray juga berjanji akan memperjuangkan Viona dan calon anaknya meski orang-orang menentang.
"Sudah siap?" tanya Bram pada Ray dan Miranda yang sudah menunggu dirinya turun.
"Sudah, Pah." Dan mereka pun berangkat bersama.
Di dalam perjalanan, Raymond sudah berdebar dan tubuhnya pun berkeringat dingin. Dia juga tidak memberitahukan perihal kehamilan Viona karena ia tahu papanya pasti sudah tahu.
Tidak berselang lama, mereka sampai di sebuah kompleks perumahan yang asri nan indah. Ray maupun Miranda baru mengetahui tempat itu dan sepertinya tempat yang baru.
"Jadi Viona tinggal di sini?" tanya Miranda kepada suaminya. Dia juga tidak mengetahui perihal keberadaan Viona.
Sedangkan di dalam, Viona mendengar suara mobil berhenti dan ia meyakini jika mobil itu adalah milik papanya. Viona hendak berdiri sambil memegangi perut besarnya.
"Biar bibi saja, Non. Non tunggu di sini saja," ucap bi Marni langsung beranjak mendekati pintu. Viona hanya mengangguk karena ia sedikit berat dengan pergerakannya.
Pintu itu terbuka, "Tuan, mari masuk." Bi Marni sempat kaget melihat majikannya lengkap datang ke sana. Namun, ia tidak banyak bertanya.
"Loh, bi Marni kerja di sini? Bukannya papa sudah memecatnya?" tanya Miranda terkejut.
Ray sudah tidak sabar menunggu pertemuan ini. Ia celingukan ke dalam dan langsung saja nyelonong masuk tanpa menunggu papanya.
"Ray!" Bram menggelengkan kepalanya. "Nanti papa jelaskan, sekarang kita masuk dulu."
Setibanya di dalam, Raymond melihat seorang wanita yang duduk membelakangi.
"Viona," panggil Raymond.
Viona terdiam, ia sampai menjatuhkan ponselnya ke pangkuan dia dan tubuhnya menegang. Viona menoleh dan mata mereka saling beradu pandang.
"Raymond!"
__ADS_1