
Miranda sedikit berlari menghampiri Ray. Dia memperhatikan penampilan putranya dan begitu khawatir takut terjadi apa-apa kepada Ray.
"Raymond kau kenapa? Baju mu merah, apa ini darah? Kamu terluka di mana, Nak? Kamu kecelakaan?" cerca Miranda bernada khawatir dan panik.
"Ray tidak apa-apa, dan bukan aku yang kecelakaan." Ray melepaskan tangan mamanya yang ada di pundak. Lalu, ia melangkah masuk ingin segera membersihkan diri kemudian kembali lagi ke rumah sakit.
"Terus siapa yang kecelakaan?" tanya Miranda penasaran.
Miranda mengekori Ray dari belakang. "Jawab dulu Mama, Ray. Siapa yang kecelakaan?" pertanyaan yang sama Miranda lontarkan saking penasaran kepada orang.
Ray memberhentikan langkahnya tepat satu kaki menaiki satu tangga. Ia menoleh, "Viona." Lalu, Ray kembali menaiki tangga dengan tergesa.
"Viona? Wanita ja lang itu yang kecelakaan? Baguslah, biarkan dia mati agar tidak menjadi benalu lagi dalam keluarga kaya ini." Miranda merasa senang dan ia tidak lagi penasaran. Niatnya kembali ke niat awal ingin jalan-jalan ke mall bersama rekan sosialitanya.
Waktu semakin sore, Ray sudah selesai membersihkan diri dan juga sudah selesai berpakaian rapi. Kaos hitam berlengan pendek di padukan dengan jeans hitam serta arloji mahal melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ray menuruni tangga. Tujuannya tetap rumah sakit dan merasa harus kesana untuk melihat keadaan Viona.
Sedangkan Viona, dia turun dari brangkar. Ia bosan serta ingin bertanya kepada dokter mengenai kepulangannya. Viona sudah merasa lebih baik meski kadang dirinya merasa pusing. Tapi, ia tidak mau berlama-lama di sana dan tidak ingin menambah biaya rumah sakit. Vio tahu kalau Ray tidak mungkin mau membayarnya dan juga tidak mungkin memiliki simpati padanya.
"Aku harus segera pergi dari sini, aku tidak mau berlama-lama di sini. Aku juga tidak ingin menyusahkan orang." Tangan Viona hendak menggapai gagang pintu, tapi sudah di buka duluan dari luar.
"Kau mau kemana?" tanya Ray tepat berada di hadapan Viona. Ia juga memicingkan mata menatap tajam.
"Mau menanyakan kepada dokter tentang kepulangan ku." Viona hendak berjalan tapi tangannya di cekal.
__ADS_1
"Kau belum boleh pulang sebelum keadaanmu baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, Raymond. Percuma juga lama-lama di sini karena aku tidak punya uang untuk membayar biayanya. Lepas!" Viona melepaskan tangan Ray secara kasar.
"Kau tidak menghiraukan keberadaan ku?" celetuk Ray membuat Viona mendongak terkejut.
"Percuma ada kamu tapi kamu bukan ada untukku. Kita hanya orang asing yang di paksa kenal dan harus berakhir dalam pernikahan kilat. Ingat kah kamu pada perjanjian yang kamu tulis?" dan Viona pun mengungkit itu. Ia tidak mau semakin dekat dengan Raymond di saat tidak ada pria satu pun yang pernah dekat dengannya. Ia takut jika kedekatan dia berujung hal tak terduga dan malah membuatnya tak bisa melepaskan Raymond. Viona sadar jika pesona Ray memnag kuat dan hal itu ia akui sejak pertama kali melihatnya. Vio juga tahu jika keberadaannya tidak di inginkan orang-orang termasuk Keluarga Raymond. Itulah sebabnya Vio ingin cepat keluar dan pergi lagi. Mengenai utangnya, Vio rela di penjara.
Seakan tertusuk duri, tiba-tiba Ray merasa sesak. "Ya, aku ingat. Dan itu akan tetap berakhir setelah kepulangan istriku. Aku datang kesini bukan karena peduli padamu, tapi karena kau sudah menolongku maka dari itu aku berhak mengobati lukamu hingga sembuh." Lebih tepatnya membiayai segala macam pengobatan. Ray tadinya mau minta maaf dan berterima kasih menjadi gengsi dan enggan mengakui jika ia mengkhawatirkan Viona.
"Ya sudah, bayar saja setelah itu tidak perlu mendekatiku lagi. Kita jaga jarak!" Viona kembali melangkah, tapi kepalanya terasa nyut-nyutan. Mungkin obat biusnya sudah hilang hingga kini merasa nyeri.
"Ssttt aw," ringis Vio sembari memegang bagian belakang kepalanya.
Ray menghelakan nafas berat, "makanya kalau belum sembuh benar jangan banyak bergerak. Bandel sih." Dan Ray menarik paksa tangan Viona untuk membawanya masuk ke dalam lagi. Lalu ia dengan kasar mendorong bahu Viona agar gadis itu duduk di brangkar.
Viona memalingkan wajahnya enggan melihat tatapan mata itu. "Paham."
Krubukk ....
"Eh!" Vio melototkan mata dan memegang perutnya. Malu, itulah yang Vio rasakan saat ini. "Sialan bisa-bisanya perutku berbunyi di situasi begini."
Ray mengerutkan keningnya tersenyum simpul. "Rupanya cacing-cacing di perutmu sudah meminta makan. Pasti kau kelaparan 'kan?"
"Sudah tahu nanya. Aku pasti kelaparan karena kau maupun ibumu tidak memberikan aku makan apalagi meninggalkan uang sepeserpun," ucap Viona menyindir keras Raymond dan Mamanya. Dia berkata yang sejujur-jujurnya karena memang Vio belum makan sedikitpun.
__ADS_1
"Hei, kau menyalahkan ku? Kau sendiri yang tidak mengambil makanan saat mamaku tidak ada." Ray tidak menerima di tuduh tidak memberikan makan. Ia mau memberikan makanan tapi malah di ambil kembali oleh mamanya.
"Mau makan gimana kalau mama kamu menyembunyikan semuanya. Makanan yang aku masak pun semuanya sudah tersedia di sana tanpa ada bahan-bahan tambahan lainnya." Viona membela diri. Pada saat ke dapur, semua bahan belanjaan yang Bram belikan tiba-tiba menghilang dan hanya ada masakan mentah di atas meja. Entah di bawa kemana semua makanannya, entah di sembunyikan di mana, Viona tidaklah tahu.
"Ok, ok, mungkin mamaku yang mengambil. Kalau begitu, kita makan di luar setelah kau keluar dari sini." Lalu Ray menekan tombol darurat. Viona diam tidak membalas lagi.
Tak lama kemudian, masuk dokter. Dokter itu pun memeriksa keadaan Viona dan mengatakan jika semuanya sudah baik-baik saja.
"Anda sudah bisa pulang, tapi pastikan luka jahitannya jangan terkena debu. Untuk perbannya, ganti tiga kali satu hari dan obat lukanya teteskan agar cepat kering. Kali bisa, bagian lukanya di jemur di bawah paparan sinar matahari agar cepat kering." Panjang lebar dokter menjelaskan tentang cara merawat jahitannya.
"Baik, Dok. Terima kasih sudah membantu ku." Viona tersenyum ramah, Ray memutar mata jengah. "tebar pesona," batin Ray.
*****
Keadaan di dalam mobil begitu hening. Tidak ada yang bersuara atau pun memulai pembicaraan. Hari pun mulai gelap, dan Viona diam memandang lurus ke depan memperhatikan suasana malam. Ray sesekali melirik ke Viona, ia penasaran mengenai kejadian tadi siang. Karena rasa penasarannya semakin tinggi, akhirnya Ray bersuara.
"Kenapa kau ada di luar? Hendak pergi kemana kau ini?"
Viona melirik, "kau ingin tahu? Apa kau akan percaya jika aku berkeliaran di luar sana karena diusir oleh mamamu?"
"Di usir? Aku tidak percaya itu."
"Ya sudah," balas Viona kembali menatap ke depan. Dia sudah tahu reaksi Ray akan seperti apa. Lebih baik dia diam tidak banyak bicara.
******
__ADS_1