Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Ketakutan Viona


__ADS_3

"Kamu ngapain kesini? Pergi dari sini!" Viona mengusir pria itu. Tapi, pria itu malah tersenyum menyeringai.


"Tidak akan sayang. Aku sengaja datang kesini di saat semua orang sedang tidak ada. Aku sengaja memantau mu dari jauh dan ingin mengajakmu pergi lagi, mana mungkin diriku pergi dari sini." Pria itu mengangkat tangannya hendak mengusap pipi Viona.


Viona menepis tangan pria itu dan berkata, "pergi dari sini, Tuan Adit! Pergi!" ya, pria itu adalah Adit, orang yang menginginkan Viona dari awal.


Setelah mengetahui Viona bekerja dengan Raymond, Adit me cari tahu dan membuntuti kemana Ray pergi. Dia pun mengetahui tempat tinggal Viona dan mencari cara untuk mendekatinya di saat semua orang tidak ada. Bahkan, Adit juga mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Viona dan Ray. Setelah tahu, Adit meyakini jika Ray belum menyentuh Viona dan ia berencana datang ke rumahnya.


"Aku bilang tidak akan sebelum kau ku dapatkan."


"Dasar gila!" ujar Viona melangkah masuk sembari ingin menutup pintunya, tapi malah di dorong masuk kedalam rumah oleh pria itu dan dia menutup pintu rumahnya kemudian menguncinya.


Viona terbelalak terkejut. "Ka-kamu mau nga- ngapain, Tuan Adit? pergi dari sini!" pekik Viona takut dan ia berusaha membuka pintu rumahnya.


Adit menyeringai menatap nakal wanita yang sedang ketakutan di hadapannya. Semakin Viona menolak, semakin Adit di buat penasaran dan ingin berusaha menaklukannya.


"Kembalikan kuncinya!" pekik Viona ingin mengambil kunci rumah yang di pegang oleh Adit.


"Kamu mau ini?" Adit mengangkat tangannya menunjukan kunci yang ia pegang. "Tidak akan bisa kau dapatkan sebelum aku mendapatkan apa yang ku mau." Dan adit menyembunyikan kuncinya ke dalam saku celana.


Viona menatap tajam pria kurang ajar di hadapannya. Tangannya terkepal kuat menahan amarah.


"Kembalikan Adit!" sentak Viona penuh penekanan dan juga takut jika pria kurang ajar itu berbuat hal nekat.


*****


Ray mengantarkan Elena ke rumah orangtuanya. Bahkan mereka sedang makan malam bersama padahal jam sudah pukul sembilan malam. Ini semua Miranda yang menyambut baik menantu kesayangannya.


"Ray, habis dari sini kau pulang ke rumah Viona. Kasihan dia sendirian di sana. Mana tempatnya sedikit jauh dari pemukiman dan juga berjarak dari tetangga, papa khawatir jika ada hal yang tak terduga." Bram mengingatkan Ray pada istri keduanya. Ia terlalu cuek pada Elena dan tidak mau bicara padanya.


"Pah, disini ada Elena. Bisakah papa tidak membahas wanita miskin itu!" ujar Miranda merasa tidak enak hati kepada Elena.


"Papa tidak peduli dengan hal itu. Ray juga harus adil, dari tadi pagi hingga malam bersama Elena dan sekarang waktunya bersama Viona. Jangan ada penolakan ataupun bantahan jika kalian ingin tetap aman!" ancam Bram menatap tajam Istrinya.


Miranda langsung terdiam, ia tahu ancaman apa yang akan Bram lakukan jika mencampuri urusan Viona. Pernah berniat sesuka hati dan semua uangnya di ambil semuanya oleh Bram.

__ADS_1


"Kenapa sih harus ada dia di antara kita? Aku aja mampu hamil kenapa harus mencari wanita lain?" Elena berkata sinis, tapi Ray malah diam tak berkata apa-apa. Karena sejujurnya ia memang memikirkan Viona dari tadi pagi. Kalau bukan karena Elena, mungkin Ray sudah menghabiskan waktu bersama.


"Ray, cepat pulang!"


"Ray," ucap Elena begitu lirih. Ray menatap Elena, tapi tak sedikitpun hatinya tersentuh. Dan ia malah mengangguk memilih mengikuti perkataan papanya.


"Baik, Pah." Dan Ray pun meninggalkan meja makan dan segera meluncur ke rumah keduanya.


*****


Kediaman Viona.


"Kembalikan Adit!" sentak Viona.


"Kalau saya tidak mau bagaimana? Apa yang akan kau lakukan sayang?" ucap Adit tersenyum menakutkan, matanya pun meneliti setiap penampilan Viona yang hanya mengenakan piyama tidur selutut berwarna merah yang begitu kontras dengan warna putihnya.


Viona semakin di buat ketakutan. Adit ingin menyentuh pipi Viona namun di tepis dan di dorong secara kasar agar pria itu menjauh darinya.


"Pergi kamu!"


Adit jatuh kelantai dan itu membuat dia menggeram kesal tak terima.


"Aku datang baik-baik tapi kau malah berlaku kasar padaku. Aku tidak akan melepaskanmu lagi Viona. Samapi kapanpun kau akan menjadi milikku dan menjadi teman ranjang ku!" pekik Adit sambil berdiri dan mencengkram bahu Viona.


Viona mencoba melepaskan diri dari Adit dan ia menerjang perut Adit. Pria itu semakin murka saja. Dia menarik pergelangan tangan Viona dan mencekalnya dengan kuat lalu membalikkan tubuh Viona hingga kini ai berada di belakang Viona dan mengunci tangan Viona kebelakang.


"Lepasin brengsek!" Viona berontak berusaha melepaskan kunciannya tapi ia tidak bisa.


"Tidak akan, sayang. Malam ini aku ingin kamu menjadi milikku sayang. Aku tidak mau kamu pergi dariku. Dan si Raymond bodoh itu bukan orang yang pantas memilikimu," bisiknya di telinga Viona sambil tangan satunya mengusap leher jenjang Viona.


Viona semakin di buat panik, dan matanya berembun. "Dan kau pikir kau yang berhak memiliki ku? Tidak, Raymond yang berhak karena dia suamiku!"


"Hahaha suami? Suami siri yang ternyata sudah memiliki istri yang teramat ia cintai. Buktinya Raymond mengabiskan waktu bersama istri sahnya di bandingkan denganmu." Adit menghirup aroma wangi leher Viona.


Wanita itu semakin ketakutan dan ia terus memberontak. Adit semakin gencar ingin mendapatkan Viona dan membalikkan badannya Viona mencoba mengecup bibir wanita itu.

__ADS_1


Viona berusaha keras lepas, ia pun kembali menendang perut Adit dan mendorong tubuhnya. Lalu, Viona mencari laci dan mengambil kunci cadangan berusaha untuk membuka kuncinya.


Tapi, baru saja Viona berhasil membukanya, Adit lebih dulu menarik Viona dan memanggul tubuh wanita mungil itu seperti karung beras.


"Lepaskan aku! Tolong! Raymond tolong aku!" pekik Viona Sudah menangis ketakutan di saat tubuhnya dihempaskan secara kasar ke atas ranjang yang tak jauh dari kamar yang ada di sana.


"Jangan lakukan ini! Aku mohon!" Viona beringsut menghindar. Adit memaksa dan mengunci pergelangan tangan Viona ke atas kepalanya.


*****


Ray baru saja tiba, ia mengerutkan keningnya kalau melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. "Mobil siapa ini?" perasaannya tiba-tiba tidak karuan. Ray segera masuk dan membuka pintu secara kasar.


Rumahnya berantakan, "apa yang terjadi? Viona!"


"Tolong ... Raymond tolong aku! Aku tidak mau! Lepaskan aku!" jerit Viona terdengar memilukan. Ray terhenyak dan segera mencari asal suaranya.


Dia segera membuka pintu. Darahnya mendidih, tangan mengepal, rahangnya mengeras, sorot matanya terlihat murka.


Adit dan Viona menoleh. Viona menatap sedih dalam keadaan kacau.


"Ray."


"Baji ngan kau sialan!" pekik Ray menerjang tubuh Adit dan memukulinya secara membabi buta.


Viona segera beringsut mengambil selimut untuk menutupi bagian tubuhnya yang hampir telan jang. Viona menangis sesenggukan dengan tubuh yang gemetar.


"Kau suah berani menyentuh istriku!"


Bug... bug... bug...


"Hiks hiks hiks, Ray."


Rey menoleh, hatinya teriris sakit dan semakin marah melihat tanda merah di leher Viona.


"Adit, kau baji ngan!" Ray mengambil pas bunga kecil dan melemparkannya ke kepala Adit.

__ADS_1


Prang....


__ADS_2