
Setelah mendengar penjelasan papanya mengenai Viona. Ray merasa bersalah telah melakukan hal yang membuat wanita itu tersiksa. Terkadang, dia seringkali berprilaku kasar pada Viona dan sering tidak adil. Bahkan tuduhannya kemarin sangat menyakiti hati istri keduanya. Dan sekarang tercipta jarak diantara mereka berdua. Padahal, Ray sudah merasa nyaman bersama Viona. Kebersamaannya selama tiga bulan membuat Ray merasa di perhatikan meski keperluan pakaian dia sendiri yang menyiapkan dengan alasan tidak boleh masuk ke kamar pribadinya.
Sepanjang pulang, hati Ray berdesir kala mengingat wajah cantik Viona dan senyumannya yang selalu tulus terpancar indah di bibirnya.
"Vi, aku tidak menyangka jika kehidupan mu begitu menderita. Maafkan aku yang tidak tahu masa lalu mu dan sempat menuduh mu yang tidak-tidak. Aku sungguh tidak tahu."
Ray tidak jadi bekerja dan ingin segera menemui Viona dan mengucapkan kata maaf. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi kedepannya dan yang ia fikirkan saat ini adalah memeluk Viona.
Setibanya di dalam pekarangan rumah, Ray memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobil. Ia begitu tergesa melangkah dan masuk ke dalam rumah.
Sedangkan orang yang ada di dalam tinggal Viona dan Elena.
"Cepat pijitin kakiku! Kau itu hanya numpang di sini dan kau hanya akan menjadi babu di rumah ini. Enak sekali kau mau menempati posisi ku sebagai istri Raymond." Elena mendorong Viona agar duduk di lantai dan kakinya segera ia tumpangkan ke lengan Viona.
"Buruan!"
Viona menarik nafas dalam-dalam mencoba bersabar. "Iya," jawab Vio sambil tangan lentiknya mulai memijat kaki Elena.
Namun, Elena terus menatap Viona dengan tatapan yang sulit di artikan. "Cantik juga, jauh lebih cantik di bandingkan kekasihku."
Dan terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Baik Viona maupun Elena mendengarnya dan Elena segera berdiri untuk melihat Raymond memberikan kejutan kepada pria itu.
Viona pun berdiri memperhatikan mereka dengan wajah yang murung.
Saat Ray membuka pintu, Elena langsung memeluk Raymond seakan menyambut kedatangan pria itu. Pun dengan Ray yang hampir terhunyung ke belakang dan juga membalas pelukannya yang ia kira Viona. Mata Ray terpejam, tetapi ada yang berbeda dan hatinya yang tidak merasa bergetar dan aroma parfumnya pun beda.
Viona mematung menyaksikan sendiri bagaimana orang yang sudah berhasil membuatnya tersentuh luar dalam terlihat menikmati pelukan wanita lain. Hatinya sakit, dadanya terasa sesak.
"Kenapa berbeda? Ini bukan Viona." Gumam Ray membuka mata dan seketika matanya tertuju pada wanita muda yang sedang berdiri menatapnya.
Deg ....
"Viona!"
__ADS_1
Viona buru-buru berlalu dari sana karena matanya tak kuasa ingin menangis merasakan sesak di dada.
Ray pun segera melepaskan rangkulannya dan melihat Siapa orang yang ia peluk.
"Elena! Kau ..."
"Sayang, aku pulang. Surprise buatmu, pekerjaanku sudah selesai dan aku datang untukmu." Elena tersenyum merentangkan tangannya dan kembali memeluk Ray.
Raymond mematung di buat terkejut, entah kenapa ia merasa kurang menyukai adanya Elena dan malah pikirannya tertuju kepada Viona.
"Kapan kau pulang?" tanya Ray melepaskan pelukannya Elena dan berjalan masuk sembari melonggarkan dasinya.
"Tadi pagi, tapi langsung ke sini saat menghubungi Mama. Ah, aku senang akhirnya kita punya rumah sendiri, Ray. Mama bilang ini rumah buat aku dan kita akan tinggal di sini. Itu artinya kita akan bebas melakukan apapun. Ayo, kita ke kamar!" ajar Elena menarik tangan Raymond.
Tapi, Ray malah enggan ke kamarnya. "Nanti saja, aku lapar ingin makan." Ray malah beranjak ke dapur mencari sosok Viona yang baru ia lihat setelah beberapa hari.
Lain halnya dengan Viona yang berada di kamarnya. Ia menggigit bibirnya menahan tangis yang sedari tadi di tahan. Tubuhnya ia hempaskan ke atas kasur dan memeluk kedua lututnya.
"Kenapa, kenapa rasa ini ada di saat kau sudah memiliki cinta? Kenapa, kenapa hatiku sakit melihatmu bersama wanita lain. Padahal ku tahu dia istrimu, tapi nyatanya aku tidak sanggup Ray. Salahkan jika aku mencintaimu? Seluruh jiwa dan ragaku serta kehormatan ku sudah kamu dapatkan. Aku tak sanggup melihatmu dengannya."
Tok .. tok .. tok ...
"Viona buka pintunya, tolong siapkan makanan untukku! Aku lapar, Vi." ujar Ray meminta Viona ke luar kamar.
"Kenapa kamu malah minta makan sama dia sih? Kita bisa membeli makanan di luar. Ayo, sudah lama kita tidak pernah makan berdua." Elena menarik tangan Raymond agar mau mengikutinya.
"Tapi ..."
"Ayolah, Ray. Aku mohon." Elena memelas agar Ray mau menerima tawaran dia.
Viona bisa mendengar percakapan keduanya dan ia segera menghapus air matanya.
Ray melihat pintu kamar, ia berharap Viona keluar. Namun, harapan gagal karena Viona tak kunjung ke luar juga. Ray pun pasrah mengangguk karena memang dirinya belum makan.
__ADS_1
Merasa tidak ada suara lagi, Viona membuka pintunya dan memperhatikan Ray dan Elena.
"Aku hanya tidak ingin semakin terperangkap oleh perasaanku sendiri. Lebih baik kita saling menghindari agar aku bisa me lupakan mu."
*****
Kediaman Bram.
"Akhirnya menantuku kembali juga. Sebentar lagi gadis miskin itu akan di singkirkan dari keluarga kita." Miranda tersenyum senang karena bisa membawa Elena kembali pulang.
Beberapa hari yang lalu, dia menghubungi Elena dan bilang jika Ray mulai tergoda oleh wanita miskin itu.
"Mama yang benar?"
"Mama yang benar?"
"Mama benar Elena. Perempuan itu semakin gencar mendekati Raymond. Malahan, dia juga ingin mendekati suami Mama. Apalagi yang akan wanita itu lakukan selain menguasai harta milik keluarga kita. Kalau kau ingin kebagian hartanya Papa Bram, kau harus pulang dan kamu harus segera hamil. Lalu, kamu harus menyingkirkan wanita itu dari kehidupan Ray selama-lamanya.Jika kamu menolak jangan salahkan Mama menghancurkan karir kamu!"
Begitulah kiranya pembicaraan mereka. Dan pada akhirnya Elena memilih pulang karena memang kerjanya sudah selesai. Bilang pada Ray enam bulan, tapi nyatanya kerjaannya selesai selama dua bulan saja. Sisanya ia gunakan untuk bersenang-senang.
"Kenapa mama senyum-senyum sendiri?" tanya papa Bram baru memasuki rumah.
"Eh, papa udah pulang?" Miranda terkejut dan dia langsung berdiri.
"Hmmm, kenapa mama senyum-senyum sendiri?" Bram kembali bertanya.
"Itu loh, Pah. Mama senang karena Elena pulang dan sekarang sedang berada di ruangnya Ray."
"Apa?! Elena sudah pulang?" Bram terkejut, dan yang membuatnya kaget kenapa wanita itu harus ke rumah itu? Ini bisa membuta kekacauan diantara hubungan Ray dan Viona.
"Kok papa kaget gitu? Gak senang menantunya pulang? Dia itu model terkenal." Miranda tak habis pikir, ia aneh karena suaminya menolak tegas hubungan Ray dan Elena.
"Kalau iya kenapa? Suruh wanita itu tinggal di sini!"
__ADS_1
"Pah, kok gitu?"
"Cepat hubungi mereka Miranda!"