
Waktu semakin siang, Viona merasa bosan berdiam diri terus. Tidak ada kegiatan lain lagi selain rebahan, main ponsel, dan menonton TV.
"Kangen Lyla," gumam Viona menghilangkan nafas berat. Lyla adalah anak kecil yang ada tak jauh dari rumahnya. Setiap hari Viona sering bermain dengan Lyla di saat tidak ada rekan-rekan seusianya yang mau menjadi temannya.
Bi Marni melihat Viona yang gelisah menghubungi tuannya.
Marni : "Tuan, non Viona kelihatan seperti bosan di sini. Apa boleh jika saya mengajak non Viona jalan-jalan?"
*****
Bram yang sedang memperhatikan kerjaannya teralihkan pada suara gawainya. Dia mengambilnya dan membaca pesan dari Marni.
Bram : "Bawa saja keluar, ajak jalan-jalan kemanapun dia mau. Nanti sopir yang akan menemani kalian."
Setelahnya, Bram kembali menyimpan ponselnya. Namun, gawai itu kembali berbunyi. Kali ini yang menelpon.
"Halo," ucap Bram setelah menekan tombol hijaunya.
..........
"Apa? Ok, baiklah. Saya akan kesana. Kau tunggu di kantor!" Dengan tergesa, Bram membereskan pekerjaan dia yang ada di ruangan kerjanya. Ada hal yang membuatnya tercengang, maka dari itu Bram akan datang ke kantor.
Lalu, pria berusia 50 tahun itu segera beranjak pergi dari sana.
Pas sedang ada di luar, Miranda menghampiri. "Pah, Mama minta uang, dong. Uang Mama tinggal sedikit lagi." Miranda menengadahkan tangan ke hadapan Bram.
Bram memperhatikan tangan itu, "nanti saja. Sekarang Papa mau ke kantor dulu." Dan Bram pun berlalu membiarkan Miranda menggeram kesal.
"Sialan, minta uang saja sangatlah sulit."
*****
Apartemen
"Non, apa non Vio bosan?" tanya Marni mendekati Viona dan duduk di bawah.
Viona tercengang, dan ia segera turun dari kursi dan duduk juga di bawah bareng Marni. Kali ini Marni yang tertegun melihat kesopanan Viona. Menghargai orang lain.
"Lumayan, bi. Tapi aku tidak tahu harus kemana. 'Kan tidak tahu tempat ini." Sekalipun dirinya tinggal di negara yang sama, ia tidak pernah jalan-jalan keluar ataupun bermain lama di luar. Bermain pun hanya sekitaran rumah, sekolah, dan tidak jauh dari dua tempat itu. Untuk jalan-jalan, Viona belum pernah karena sedari kecil ia tidak pernah di ajak ataupun ikut jalan-jalan.
__ADS_1
"Tenang, ada sopir yang akan menemani kita. Kalau non Vio mau, ayo kita jalan-jalan. Tuan Bram sudah mengizinkan."
"Sungguh?" Nampak mata Viona berbinar-binar mendengar akan jalan-jalan. Marni mengangguk dan tersenyum.
Viona langsung berdiri, "aku siapa-siapa dulu, Bu." Dengan hari yang riang dan wajah yang ceria, Viona begitu antusias mengganti bajunya. Ia merasa jika sudah menyangkut Bram terasa aman.
"Anak itu terlihat antusias sekali, apa dia tidak pernah jalan-jalan sampai riang segitunya? Tapi, dia anak yang ceria dan juga ramah."
*****
"Bi kita akan jalan-jalan kemana?" tanya Vio sambil memperhatikan keindahan kota Nevada. Matanya tak lepas menatap bangunan megah yang ada di sepanjang jalan. Mereka sedang berada di jalan.
"Ke salah satu tempat wisata yang ada di sini." Bi Marni tersenyum memperhatikan tingkah Viona seperti anak kecil.
"Baik, bi. Vio ikut kata bibi saja." Balas Vio sambil merangkul lengan Bi Marni. Gadis itu merasa nyaman berada di dekat pembantunya keluarga Bram. Vio merasa Marni merupakan orang baik, jadi mudah baginya akrab dengan Marni.
Marni memang membawa Viona jalan-jalan, ia mengikuti saran dari tuannya mengajak Viona ke berbagai tempat. Tak di pungkiri oleh Marni jika Viona sangatlah menyukai perjalanan ini. Setiap tempat, Viona mengabadikannya di ponsel. Bertingkah ceria, tertawa gembira, dan terlihat sekali bahagia.
"Bi, Vio lapar." Rengek gadis bermata bulat menegang perutnya. Hampir satu hari jalan-jalan, Viona merasakan perutnya keroncongan minta di isi.
"Ya sudah, kita cari cafe terdekat saja." Lalu, Viona dan Bu Marni berjalan beriringan mencari tempat makan.
"Bi, kayaknya itu enak. Aku mau itu boleh 'kan?" Viona menunjuk salah satu penjual minuman cappucino dan aneka sosis bakar.
"Tentu saja boleh. Ayo." Marni mempersilahkan Viona untuk mengantri. "Non, bibi tunggu di sana, ya?" Marni menunjuk salah satu meja yang sudah di sediakan oleh penjual makanan yang ada di sana.
"Iya, bi." Viona mengangguk, kini ia mengantri sendirian dan menunggu giliran.
Setelah mendapatkan pesanannya, Viona segera mengambil pesanan dia. Dia pun membayarnya dan hendak berjalan mendekati bi Marni.
Namun, entah dia yang tidak melihat pergerakan orang-orang yang ramai, tubuhnya tidak sengaja menabrak seseorang.
Dug ....
Makanan yang ia bawa tak sengaja jatuh dan minumannya membasahi baju orang itu.
"Kalau jalan lihat-lihat dong!" pria itu menggeram kesal seraya mengibas-ngibaskan bajunya.
Viona menatap sedih makanannya terbuang sia-sia. Namun, ia juga kaget karena minuman yang ia bawa membasahi baju orang lain.
__ADS_1
"Astagaa! maaf, maaf," ucap Viona kaget, dia meminta maaf, mengelap baju pria itu menggunakan syal miliknya.
"Kau bisa jalan gak sih? Jalan tuh pakai mata!" bentaknya lagi sambil mendorong tubuh Viona agar menjauh darinya dan tidak menyentuh tubuhnya.
Viona mendongak menatap mata pria itu dengan tajam. Ia tidak suka cara pria itu membentaknya.
"Yang harusnya jalan pakai mata tuh Anda!" jawab Viona kesal.
"Saya jalan pakai kaki, bukan pakai mata, nona!" balas pria itu tak mau kalah.
"Hei, jalan emang pakai kaki. Tapi, mata Anda yang harus lihat-lihat! Kalau jalan jangan sambil main handphone! Kau lihat, makanan ku tumpah gara-gara kamu," ucap Viona dengan sengit menyayangkan makanannya.
Dan perdebatan Viona dan orang itu mengalihkan perhatian orang termasuk Bi Marni. Marni terbelalak mengetahui anak majikannya ada di sini.
Orang yang menabrak Viona adalah Raymond. Saat itu Ray fokus pada benda pipih di tangannya, membalas pesan dari sang istri. Ia dan Elena hendak menemui Elena yang ada tak jauh dari sana.
"Den Raymond!" bi Marni hendak mendekati.
"Kau yang salah ngalangin jalan gue." Raymond berapi-api, dia tidak terima di salahkan. Menurutnya wanita itu yang salah karena sudah menabrak dia.
"Anda yang salah, Om? Sudah salah, gak mau kalah, nyolot lagi!" balas Viona sengit, "itu makanannya tumpah gara-gara kau, Om. Pokoknya aku tidak mau tahu, Om harus ganti rugi!" Viona tidak ingin rugi, ia menengadahkan tangannya meminta ganti.
"Saya tidak sudi!" sentak Ray melotot marah.
"Den," panggil bi Marni.
Raymond menoleh, ia terbelalak ada pembantu rumahnya di sini. "Ngapain bibi di sini?" tanya Ray kebingungan.
"Bibi ..." Viona kebingungan, ia menatap silih berganti Bi Marni dan pria itu.
"Gak penting mengurusi kalian, minggir!" Ray tidak ingin berlama-lama di sana. Ia sedang ingin segera menemui istrinya.
"Eiits, om gak bisa pergi gitu saja. Ganti makanan ku, Om! Aku belinya pakai uang bukan pakai daun." Viona mencegah Ray pergi sebelum makanannya di ganti.
"Ganti? Berapa yang harus saya ganti? Sekalipun saya harus membeli dirimu, saya mampu. Ck, dasar trik murahan." Ray mencebik menilai rendah Viona.
Wajah Viona yang tadinya biasa menjadi merah menahan kesal, dan ....
Plak ....
__ADS_1
"Aku tidak semurahan itu sampai harus kau beli. Aku bukan pela cur!" sentak Viona lalu pergi dari sana berlari menahan tangis.