Gadis 5 Milyar

Gadis 5 Milyar
Tidak mungkin terjadi


__ADS_3

"Raymond!" pekik Miranda semakin keras menggedor pintu kamar putranya. Rasa kesal yang ia rasakan ketika suaminya begitu membela Viona, membuat Miranda dilanda amarah. Rasa tidak terima atas ancaman yang kerap kali suaminya berikan, membuat Miranda dirundung kekesalan yang mendalam. Berhubung suaminya telah pergi bekerja, ia ingin melampiaskan kekesalannya kepada Viona.


Ray yang mendengar suara gedoran pintu mengusap kasar wajahnya. "Mama kenapa ganggu saja sih, hah?" gumam Ray tanpa sadar kesal karena kegiatan dia di ganggu secara tiba-tiba.


Ray beranjak turun dari kasur, melangkah menuju pintu. Lalu, ia pun membuka pintunya. "Ada apa, Mah?" tanya Raymond terlihat sekali kekesalan dari wajah tampannya.


Miranda memicingkan penuh curiga. Ia pun menelisik setiap penampilan putranya dari atas hingga bawah dan dari bawah balik lagi ke atas.


"Kenapa lama sekali membuka pintunya? Ngapain saja di dalam sana, hah? Sampai lupa bangun, lupa makan, lupa waktu, jam berapa ini? Sudah jam sepuluh siang." Miranda menatap horor putranya, ia juga begitu kepo tentang yang terjadi di dalam kamar. Apalagi jeritan semalam membuatnya penasaran dan ingin mengulik informasi yang ada.


"Ngapain lagi kalau bukan tidur. Lagian Mama yang ngapain gedor-gedor pintu kamar? Ganggu orang tidur saja," balas Ray menggerutu kesal.


Tapi, Miranda tidak mendengarkan. Dia malah masuk mencari Viona.


"Ngapain, Mah?" dahi Ray mengkerut.


"Mana wanita miskin itu? Mama mau kasih dia pelajaran." Tangan kanannya mengepal lalu di tempelkan ke telapak tangan dan di remas-remas.


"Lagi di kamar mandi." Dan, hal itu membuat Miranda menoleh menatap curiga.


"Mandi? Baru mandi? Kalian habis melakukan ..." seakan tidak terima gadis miskin itu menjadi istri putranya, apalagi main fisik, Miranda terbakar amarah. Dia tidak sudi memiliki menantu dan cucu dari wanita miskin tidak jelas asal usulnya.


"Melakukan apa? Ya, tidurlah. Ngapain lagi emangnya." Balas Ray asal-asalan seakan tidak ada masalah apapun. Memang benar jika mereka hanya tidur, itu yang Ray pikirkan.

__ADS_1


"Raymond!" pekik Miranda melotot seraya bertolak pinggang. "Jadi kau sudah melakukan penyatuan dengan wanita miskin itu?"


"Penyatuan?" nampak Ray kebingungan, tapi detik kemudian saya mengerti ke mana arah pembicaraan namanya. "Ya tidaklah. Mama pikir Ray mau menerima dia dalam hidupku? Tidak. Mama pikir Ray akan sudi menyentuh gadis miskin perusak rumah tanggaku? Tidak. Mama pikir Ray akan mudah luluh pada orang ketiga dalam pernikahan ku? Tentu saja tidak. Ray saja tidak suka dia apalagi menyentuhnya, bisa-bisa tubuh Ray gatal semua." Seakan lupa dengan kejadian semalam dan tadi, Ray begitu mudah berkata begitu. Perkataan yang mungkin saja menyakiti hati Viona, perkataan yang memang sedang di dengarkan oleh Viona, dan perkataan yang membuat Viona merasa terhina.


Viona mendengarkan di balik lemari kamar mandi yang ia buka sedikit. Hatinya teriris sakit mendengar setiap perkataan Raymond. Vio akui jika dirinya memang orang ketiga dalam rumah tangganya Ray, tapi ia melakukan itu terpaksa. Vio juga baru tahu kalau ternyata Rai sudah memiliki istri. Seandainya dia tahu duluan, mungkin Vio tidak akan menerima tawaran itu dan memilih di penjara seumur hidup.


Mata Viona berkaca-kaca dengan hati terasa sakit atas lontaran kata dari Ray untuknya. Ingin rasanya Vio berteriak bilang jika ini bukan kemauannya. Ingin bilang dia hanya mengikuti perintah Bram, ingin bilang kalau bukan karena utang, ia tidak mungkin mau menikah dini.


"Bagus, Mama pegang kata-kata mu. Jangan pernah tergoda oleh tampang polosnya dan tidak boleh termakan bujuk rayu wanita berbisa itu. Camkan itu!" telunjuk Miranda menunjuk wajah Ray, lalu ia berlalu dari sana di ikuti oleh tatapan Raymond.


"Tentu saja tidak akan, Mah. Ray jamin itu tidak mungkin terjadi."


Ceklek.


Dan terdengar pintu kamar mandi di buka. Ray menoleh, tetapi ia malah terdiam dalam keadaan tak bisa bergerak serta enggan mengalihkan perhatian tatapannya.


"Kalau bukan karena bajuku jatuh, mana mau menggunakan handuk saja di hadapan pria preman tampang ini."


Viona terpaksa keluar dalam keadaan seperti itu karena baju yang ia kenakan sudah basah terjatuh ke dalam air. Ia berjalan ke lemari pakaian milik Raymond. Lalu Viona menoleh, "aku pinjam baju kamu. Mana mungkin keluar dalam keadaan begini? Bajuku basah."


Tak ada suara yang keluar dari mulut Ray selain tatapan penuh kekaguman. "Gila, tubuh si miskin ini begitu indah. Semuanya begitu sempurna dan Elena pun kalah. Tidak, kau tidak boleh tergoda olehnya, Ray. Ingat, kau hanya boleh mengagumi istrimu saja, Elena." Ray menggelengkan kepala mencoba mengusir pikiran negatifnya.


"Raymond! Kau dengar aku tidak? Aku pinjam bajumu!" pekik Viona membuat Ray tersadar dari pikiran ngaconya.

__ADS_1


"Hah! Kau mau pinjam bajuku? Tidak boleh!" balas Ray mendekati Viona dan menghalangi gadis itu mengambil bajunya.


"Ya, sudah." Viona menghela nafas, ia sudah menduganya. Pasti Ray tidak akan membiarkan dia memakai pakaiannya. Daripada beradu mulut, Viona mengambil selimut yang ada di sofa dengan tubuhnya sedikit membungkuk. Hal itu membuat Ray sulit menelan ludahnya. "Sial, dia begitu sexy."


Viona menutupi tubuhnya menggunakan selimut, lalu melangkah keluar kamar dalam keadaan diam tak secerewet tadi.


"Hei, kau mau kemana?" Lagi-lagi Raymond mengejar, Tapi Viona tidak mendengarkan. Fokusnya hanya ingin cepat sampai ke kamar belakang. Kamar yang seharusnya ia gunakan dan tentunya banyak barang-barang milik dia di sana.


"Hei, gadis miskin. Kau mau kemana?"


"Ray, ngapain kau mengikuti dia?" tanya Miranda yang berada di ruang keluarga. Ray menoleh dan langkah kakinya terhenti.


"Tidak, hanya saja itu selimutku. Aku tidak suka milikku di pakai olehnya." Ray mencari sebuah alasan yang membuat Miranda mengangguk mengerti dan tidak banyak tanya lagi. Fokusnya kembali ke televisi.


"Oh, biarkan saja."


"Aneh sekali dia, tidak biasanya ceweret." Ray mulai mempertanyakan, padahal baru saja tadi malam dan tadi pagi mereka beradu mulut. Tapi Viona malah diam tak banyak bicara lagi.


Setibanya di dalam kamar, Viona mengunci pintu dan tubuhku luruh ke lantai. Ia menggigit bibirnya menahan Isak tangis.


Merasa hidup sendiri tak ada yang menginginkan dirinya, entah siapa orangtuanya, entah bagaimana nasib dia selanjutnya, dan bingung harus berbuat apa. Jika pergi, kemanapun dia pergi pasti akan di kejar utang dan takut bertemu ayahnya lagi atau Louis. Jika ia bertahan hingga enam bulan, pasti dirinya akan tersiksa lahir batin.


"Tuhan, izinkan aku bahagia sekali saja."

__ADS_1


*****



__ADS_2