
Waktu pun berlalu pergi berubah pagi, pertengkaran yang terjadi semalam membuat Ray terdiam dan berakhir mengalah membiarkan Viona menggunakan selimutnya. Meskipun tidak rela, tapi setelah kejadian yang memalukan membuatnya enggan berurusan lagi dengan Viona. Alhasil, Ray membiarkannya dan tidur di atas kasur sendirian.
Tapi, anehnya sesaat sebelum bangun, ia merasa sesak dan berat di bagian perutnya. Ray mencoba membuka mata, lalu mengerjapkan matanya. Tangannya menutup mulut yang menguap dan juga ia menggeliat.
"Kenapa rasanya sesak dan berat sekali perutku ini?" gumam Rey sambil mengucek mata. Karena penasaran, ia melirik ke samping dan seketika dirinya terhenyak melihat Viona tidur di atas ranjangnya dalam posisi memeluk dia dan kakinya menindih pahanya.
"Astaga! Kenapa dia bisa tidur di ranjang ku? Sejak kapan dia pindah ke sini?" Ray memperhatikan sofa yang Viona gunakan buat tidur, selimut yang di sebutkan semalam masih ada di atas sofa. Ia pun kembali memperhatikan Viona, dan anehnya kenapa sekarang mereka ada dalam selimut yang sama. Posisi intim pula.
Ray ingin menyingkirkan tubuh Viona tapi terdiam saat mendengar Viona bergumam.
"Jangan, jangan lakukan itu padaku. Ku mohon jangan jual aku!" Dalam tidurnya Viona bermimpi kembali di tangkap oleh Louis dan akan di jual lagi. Wajahnya pun terlihat pucat dengan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
Ray mengerutkan kening tidak mengerti dengan keadaan Viona saat ini. Namun, ia penasaran atas kata yang terucap. Jangan jual aku.
"Maksudnya? Jual aku?" Ray menerka-nerka, tapi ia tidak ingin Viona terus berada di sampingnya dan hendak kembali mendorong tubuh gadis itu.
Namun, lagi-lagi dia terdiam sejenak memperhatikan wajah Viona yang begitu dekat dengannya. Helaan nafas menerka kulit lehernya. Merinding, satu kata yang Ray ucapkan salah hati. Sejenak, ia menikmati pelukan hangat yang Viona berikan di saat gadis itu memeluk dirinya. Aneh, Ray tidak menolak dan malah menikmatinya. Hangat, ia merasakan kehangatan yang berbeda dari Viona meski hanya pelukan saja. Ada sesuatu yang ia rasakan tapi sulit di ungkapkannya. Entahlah, Ray tidak mengerti dan juga bingung dengan keadaannya sendiri.
Anehnya lagi, Ray malah kembali mengantuk dan memejamkan mata. Ia malah tertidur lagi dalam kehangatan yang tercipta tanpa sengaja. Entah bagaimana bisa Viona ada di atas kasur, ia sendiri bingung. Entah apa yang akan terjadi nanti ketika Viona bangun dan menyadari tingkahnya.
__ADS_1
Sedangkan di meja makan, Miranda menggerutu kesal karena Ray maupun Viona tak kunjung turun. Pikirannya sudah berpikiran negatif mengingat mereka ada dalam satu kamar. Apalagi semalam Miranda mau pun Bram mendengar jeritan dari dalam kamar Ray. Tentu saja keduanya berpikir jika sedang terjadi adu kenikmatan yang menyebabkan Viona menjerit kesakitan.
"Sialan, jam segini mereka berdua belum juga turun. Apa jeritan di kamar sungguh buat pikiranku berkelana. Ini tidak bisa di biarkan, tidak boleh putraku itu bersentuhan dengan wanita miskin dan tidak jelas asal usulnya. Tidak akan ku biarkan dia tenang dalam lingkaran pernikahan ini. Menantuku tetap Elena, model cantik yang sedang naik daun."
Dengan kesalnya, Miranda menekan-nekan sendok ke piring. Papa Bram memperhatikan tingkah istrinya itu.
"Kau kenapa, mah? Kesal dengan siapa? Raymond yang tak kunjung turun juga? Atau tidak bisa tidur selain di rumah kita?" tanya Papa Bram heran atas tingkah istrinya.
"Mama kesal karena papa membawa wanita miskin itu kedalam keluarga kita. Dia siapa sampai papa ngotot menjadikannya istri Raymond? Sebegitu pentingnya wanita itu sampai papa menyiapkan rumah ini, dan perhiasan mahal hanya untuk wanita yang tidak jelas asal usulnya." Miranda mencebik menunjukan ketidaksukaannya terhadap Viona.
"Dia bukan siapa-siapa, mah. Hanya saja papa yakin kalau Viona anak baik dan pastinya bisa membuat Raymond bahagia." Keyakinannya begitu kuat akan hal itu. Serta menurutnya Viona gadis yang pas untuk Raymond dibandingkan istri pertama Ray. Wanita pilihan anaknya, tetapi tidak pernah ia sukai tingkahnya. Ada hal yang di sembunyikan Elena, cuman sampai saat ini Bram masih mencari tahu informasi mengenai Elena. Ada satu hal yang Bram ketahui, tapi belum bisa nya.
Bram berdiri dari duduknya setelah selesai menghabiskan satu piring nasi goreng buatan Miranda. "Papa yakin tidak seperti yang Mama pikirkan. Papa pergi dulu, hari ini kita pulang dan jangan coba-coba mengusik rumah tangga Ray. Biarkan dia yang mengurus rumah tangganya dan biarkan mereka berdua tinggal di sini. Sementara, jangan ada Elena diantara keduanya. Jika Mama membuat keributan, jangan salahkan Papa menarik seluruh uang belanja yang papa berikan."
Miranda mendengus sebal dan semakin tidak menyukai Viona. "Sial, gara-gara gadis miskin itu suamiku jadi pelit dan seringkali mengancam ku. kita lihat saja nanti akan kupastikan Dia menderita berada di keluarga Bramantyo."
"Paham?" ucap Bram meminta jawaban istrinya.
"Iya, paham."
__ADS_1
*****
Kediaman Ronald.
Semenjak kepergian Viona, rumah mereka seringkali berantakan dan sering terjadi percekcokan antara Natalie dan Elsa. Di tambah Ronald yang kerap kali membandingkan membuat suasana menjadi riuh tak terkendali.
"Bisa tidak kau membantu ibu mengerjakan tugas rumah? Ibu capek harus mengerjakan semuanya sendirian. Menyewa pembantu saja kita tidak mampu, sedangkan kau pun tidak bisa membantu. Ibu pusing sering kali melihat rumah berantakan gara-gara kalian!" sentak Natalie seraya bertolak pinggang berdiri di hadapan suaminya yang sedang duduk anteng di sofa, dan sesekali melirik Elsa yang tengah mengecat kukunya.
"Ayolah Bu, jangan terus menerus marah-marah gak jelas seperti ini. Ini tugasmu dan mau tidak mau kau harus membereskan segala isi rumah termasuk menyiapkan ku makanan. Suruh juga Elsa membantumu, gampang bukan?" ucap Ronald seraya memakan kacang dan membuang sembarangan kulit kacangnya.
"Kenapa bawa-bawa aku? Ibu saja yang membereskan. Ayah juga bisa membantu ibu, Jangan cuma ingin enaknya saja. Diam di rumah terus menerus, tidak kerja bisanya mabuk-mabukan ngabisin duit orang, mau apa-apa minta Elsa. Enak sekali hidup kalian." Elsa membalasnya dengan kata-kata tak kalah menyakitkan. Dia kesal jika orangtuanya menyuruh.
"Jadi kau keberatan uang hasil kerja puluhan dolar itu kau bagi pada ibu maupun ayah?" seru Natalie.
"Tentunya rugi, aku yang bekerja tapi kalian yang menikmatinya. Jadi, kalau kalian mau uang jangan sekalipun menyuruhku melakukan apapun." Inilah hasil didikan Ronald maupun Natalie, sikap dan sifat Elsa begitu kurang ajar terhadap keluarganya.
"Kau berbeda dengan Viona."
"Apa maksud Ayah membandingkan ku dengan si anak pungut itu?"
__ADS_1